Di zaman kita ini, kejahatan berkuasa, kesesatan sangat agresif, dan kompromi ada di mana-mana di udara. Kita berada di dunia yang jahat ini dan di zaman yang sesat ini entah kita suka atau tidak, dan kita harus mengalahkannya atau hal-hal itu akan mengalahkan kita. Kesesatan akhir zaman adalah seperti sungai besar yang deras menyapu segala sesuatu di dalam arusnya, dan gereja-gereja Perjanjian Baru yang Alkitabiah adalah seperti sebuah perahu. Jika kita tidak dengan usaha keras mendayung ke hulu – melalui hal-hal seperti pertobatan yang sejati, hidup Kristiani yang serius dan terpisah dari dunia, dan khotbah-khotbah yang tidak berkompromi – kita akan terbawa oleh arus. Tidak ada netralitas, tidak ada relaksasi, tidak ada pensiun. Jika kamu capek bekerja dan menurunkan dayung separasi dan nasihat-nasihat saleh, kamu akan segera bergerak sesuai dengan arus. Selama 20 tahun terakhir, banyak gereja-gereja Baptis fundamental telah berhenti mendayung. Ketika hal itu terjadi pertama kali, semua orang senang. Tentu ada beberapa jiwa yang khawatir tentang perubahan yang terjadi dan mereka membuat semua orang tidak nyaman pada awalnya dengan keluhan-keluhan mereka, tetapi karena gembala sidang tidak khawatir dan menekankan bahwa “tidak ada yang berubah,” semua orang rileks dan orang-orang kuno yang masih mau mendayung diperingatkan agar tidak memiliki “mata yang kritis” atau untuk tidak “menembaki” pelayan Tuhan. Jika mereka tidak menenangkan diri dan menikmati perjalanan mengikuti arus, mereka segera mendapatkan bahwa mereka tidak lagi diterima dan mereka pergi untuk mencari perahu kecil lain di suatu tempat yang masih mendayung ke arah hulu…Dengan “para pengeluh” hilang, akhirnya gereja tersebut dapat menikmati suasana baru. Sepertinya ini adalah solusi win-win. Daripada mendayung dengan sekuat tenaga dan menjadikan diri sangat capek, mereka dapat rileks dan menikmati pemandangan, dan tidak ada lagi seorang pengkhotbah yang akan meneriaki mereka untuk mendayung lebih kuat. Mereka sangat senang dan merasa ingin nge-rock. Mereka tidak lagi tanggung-tanggung dan main-main dengan sekedar “mengadaptasi” CCM. Mereka mengeluarkan rock band, menyetel gitar bass, mengencangkan peralatan drum, meningkatkan amplitudo loud speaker, menyajikan tim penyembahan (memastikan bahwa minimal satu dari anggotanya adalah seorang wanita atraktif yang berbusana sesensual yang diperbolehkan oleh gembala), dan membiarkan pujian meledak agar mereka semua dapat “merasakan Allah” melalui penyembahan yang sejati. Kini mereka dapat menikmati hidup daripada diikat oleh aturan dan dibatasi oleh separasi. Mereka memperhatikan bahwa ke arah manapun mereka memandang ada banyak perahu lain yang dengan senang mengikuti arus. Tentunya semua orang itu tidak mungkin salah. Ya, di situ ada perahunya Rick Warren yang besar. Wow, mereka nge-rock hebat! Dan ada perahu Franklin Graham. Dia terlihat bahagia! Bayangkan pengkhotbah-pengkhotbah dulu yang suka mendayung sering memperingatkan tentang ayahnya, Billy Graham. Sungguh menggelikan. Akhirnya, orang-orang di perahu itu mendapatkan bahwa mereka adalah bagian dari mayoritas dan tidak lagi menjadi bahan tertawaan perahu-perahu lain. Lalu mereka memperhatikan bahwa ada banyak cabang-cabang di sungai itu, dan mereka semua terlihat menarik, walaupun hutan belantara di tepi-tepi sungai itu terlihat gelap dan menakutkan; dan untuk sesaat – tetapi pasti itu hanyalah tipuan imajinasi – sepertinya ada monster-monster yang bergerak di bawah air yang gelap itu. Tetapi tidak, gembala baru kita (anak dari pendiri) memberitahu kita bahwa semua cabang-cabang itu baik-baik saja dan kita memiliki banyak sekali kebebasan. Allah berpikiran luas dan mengasihi semua cabang itu. Ada cabang emerging dan cabang meditasi dan cabang hedonisme Kristen dan cabang Bapa-Bapa Gereja dan banyak lagi yang pernah mereka lihat sebagai sesuatu yang berbahaya tetapi kini mereka dapat melihat bahwa semua itu cabang Kristiani yang baik-baik saja. Satu hal yang selalu diulangi oleh orang-orang adalah kini hidup terasa begitu menyenangkan dan mereka tidak perlu mendayung. Sungguh enak akhirnya dapat membuat keputusan sendiri dan tidak perlu dibatasi oleh teriakan-teriakan pengkhotbah yang fanatik. Mereka kini begitu bersemangat karena rock band, begitu tenggelam dalam “penyembahan,” begitu sibuk menyelidiki cabang-cabang yang berbeda-beda, sehingga mereka tidak menyadai bahwa sungai itu kini mengalir lebih cepat dan pemandangan mulai berubah. Kini ada bagian jeram yang berbatu-batu. Mereka mulai merasa sedikit tidak nyaman, dan ada yang menyarankan bahwa mungkin mereka kini perlu mendayung sedikit lagi, tetapi hal ini dianggap sebagai sikap Farisi. Bahkan ada yang berkomentar, “Apa berikutnya kamu mau mengundang David Cloud, si hyper-legalis dan penyerang pengkhotbah lain itu?” Semua orang tertawa. Tetapi, bagaimanapun juga kini sudah terlambat. Mereka sudah melaju terlalu kencang. Sungai itu kini menguasai mereka. Tidak ada tempat berbalik. Lalu mereka mendengar sesuatu di kejauhan, semacam bunyi deru, dan semakin lama semakin nyaring. Semakin nyaring. Dan akhirnya mereka melihatnya. Air itu bergejolak dan berbuih-buih menuruni air terjun yang besar. Mereka kini tidak berdaya, dalam genggaman sesuatu yang terlalu kuat untuk dilawan. Waktu untuk berbalik sudah lewat, dan mereka meluncur menuruni air terjun dan hancur di bebatuan di bawahnya. Tetapi sebelum mereka terjun, gembala sidang mereka yang cool itu berteriak, “Tetapi yang kita lakukan hanyalah berhenti mendayung!!!” Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng (2 Timotius 4:3-4).
EDITOR: Dr. David Cloud dalam artikel ini memperingatkan tentang bahaya kompromi yang dihadapi oleh setiap gereja Baptis Independen yang Alkitabiah. Hal ini terutama dimulai dalam bidang musik. Kompromi hampir tidak pernah terjadi sekaligus, tetapi perlahan. Berhenti menyerang kesesatan secara aktif sudah merupakan suatu kompromi. Setiap orang Kristen perlu memastikan dirinya berada di gereja yang Alkitabiah. Lalu, setelah berada di gereja yang Alkitabiah, dia perlu memastikan gerejanya tidak berkompromi. Ini adalah pekerjaan yang melelahkan memang dan ibarat mendayung. “Karena itu harus lebih teliti kita memperhatikan apa yang telah kita dengar, supaya kita jangan hanyut dibawa arus” (Ibrani 2:1).
Tuesday, 26 April 2011
Wednesday, 20 October 2010
Penganiayaan Terhadap Jemaat Baptis
Penganiayaan Terhadap Kaum Baptis
Gereja Orthodoks Rusia telah memiliki sejarah yang panjang dalam penganiayaan terhadap kaum Baptist di Rusia. Sejak 20 Agustus 1867 ketika seorang Baptist Jerman yang bernama Martin Kalweit membaptis selam Nikita Voroin di sebuah sungai kecil dekat sungai Kura di Kaukasus sebelah selatan Rusia. Penganiayaan gereja Orthodok Rusia terhadap kaum Baptis semakin nyata.
Akhirnya pada tahun 1879 ‘sekte’ Baptis diakui secara hukum namun toleransi sebenarnya tidak terjadi, karena gereja Orhodoks takut dengan penginjilan yang agresif dan misi yang dilakukan kaum Baptis. Sebelum 1917 ketika sebagian besar kekaisaran jatuh ke tangan Komunis, gereja Orthodok adalah gereja negara dan mereka memakai kepolisian untuk menganiaya kaum Baptis. Ada seorang pemimpin Baptis menulis hal ini mengenai hari-hari penganiayaan pada masa itu. “ini adalah masa-masa yang sulit, mengerikan, dianiaya, diusir, dipenjara, dipukul adalah hal-hal yang dialami orang-orang percaya yang terus menerus terjadi bagi mereka yang sungguh-sungguh percaya. Di dalam rasa takut yang terus menerus ditangkap polisi mereka tetap mengadakan pertemuan jemaat di hutan, di bawah tanah, di kuburan, di rumah-rumah.
Tulisan mengenai penderitaan saudara Baptis kita di rezim Komunis semakin banyak dikumpulkan. Tempat penyimpanan arsip KGB (agen rahasia Rusia) dibuka oleh Georgi Vins tahun 1995 dan ia pun menyelidiki rahasia yang selama ini disimpan ayahnya Rev. Peter Yakuvlech Vins. Ia menemukan file ayahnya yang terdiri dari 450 halaman, ia dapatkan bahwa ayahnya ditembak mati pada tanggal 26 Agust 1937.
Pada tahun 1996 David L. Cummins mendapat kehormatan untuk bertemu dengan Rev. Vladimir Zinchenko, gembala dari gereja Baptis yang tidak terdaftar di Moskow. Ia menceritakan pengalamanya dipenjarakan dua kali baru-baru ini. Vladimir Zinchenko lahir pada tanggal 13 Juni 1950 dari keluarga Kristen Baptis yang taat. Di awal tahun 1960, ayahnya P.S. Zinchenko adalah salah seorang pemimpin Baptis yang mewakili kaum Baptis dan Georgi Vins bertemu dengan Nikita Khrushchev, pemimpin Uni Soviet. Namun usaha mereka tidak berhasil untuk memperjuangkan kebebasan beragama di negara tersebut.
Ibu Vladimir, Vera adalah seorang wanita Kristen yang taat dan luar biasa. Dalam bimbingan rohani yang baik akhirnya pada tanggal 20 Juni 1963, Vladimir mengakui imanya di depan publik dengan dibaptis selam. Enam tahun kemudia Vladimir ditangkap dan dipenjara karena memimpin pujian disebuah kebaktian di dalam hutan. Ia dituduh bersalah dan dikirim ke camp pengasingan Ukraina, tidak jauh dari perbatasan Rumania. KGB berusaha mencuci otaknya namun tidak berhasil. Saudara Vladimir, Paul juga dipenjarakan karena imannya. Pada tamggal 2 september 1972, Vladimir pun dibebaskan.
Setelah dibebaskan ia pun semakin giat melayani Tuhan dan menikah lalu melanjutkan studinya. Pada tangaal 10 Agustus 1980, ia ditahbiskan menjadi gembala disebuah gereja local tempat ia dulu melayani. Namun pencaobaan kembali datang, tanggal 24 Februari 1984 ia ditangkap KGB dan dipenjarakan. Ia dibawa ke penjara Matroska disebelah utara Moskow. Istrinya yang setia dan 2 anak perempuanya yang masih kecil diberi kesempatan mengunjungi setahun satu kali. Pada tahun 1987, Valdimir dibebaskan, namun ia diberitahu bahwa ia tidak boleh tinggal di Moskow lagi. Dalam waktu 72 jam ia harus segera meninggalkan Moskow.
Oleh karena kesulitan ekonomi, Uni Soviet, Mikhail Gorbachev dalam pertemuanya dengan presiden George Bush meminta bantuan, namun Bush menolak. Bush meminta Uni Soviet terbuka dan mengijinkan kebebasan beragama di negara tersebut. Oleh karena kesulitan ekonomi akhirnya pemimpin Komunis tersebut menyerah pada permintaan Bush. Akhinrnya Vladimir Zinchenko bebas untuk kembali pada kawanan dombanya dan mengembalakan mereka. Kedua anak mereka sekarang sedang belajar dan melayani di Amerika dan Tuhan memberkati mereka dengan anak ketiga.
Pada saat ini kebebasan beragama sedang dalam keadaan buruk. Di Indonesia diskriminasi terhadap kaum Baptis semakin meningkat, oleh sebab itu kita harus terus berdoa agar Tuhan memberi kekuatan kepada kita untuk berjuang. Tunas jemaat yang terus didirikan di seluruh daerah kiranya semakin bertumbuh dan semangat, mumpung kesempatan kita melayani masih ada.
Gereja Orthodoks Rusia telah memiliki sejarah yang panjang dalam penganiayaan terhadap kaum Baptist di Rusia. Sejak 20 Agustus 1867 ketika seorang Baptist Jerman yang bernama Martin Kalweit membaptis selam Nikita Voroin di sebuah sungai kecil dekat sungai Kura di Kaukasus sebelah selatan Rusia. Penganiayaan gereja Orthodok Rusia terhadap kaum Baptis semakin nyata.
Akhirnya pada tahun 1879 ‘sekte’ Baptis diakui secara hukum namun toleransi sebenarnya tidak terjadi, karena gereja Orhodoks takut dengan penginjilan yang agresif dan misi yang dilakukan kaum Baptis. Sebelum 1917 ketika sebagian besar kekaisaran jatuh ke tangan Komunis, gereja Orthodok adalah gereja negara dan mereka memakai kepolisian untuk menganiaya kaum Baptis. Ada seorang pemimpin Baptis menulis hal ini mengenai hari-hari penganiayaan pada masa itu. “ini adalah masa-masa yang sulit, mengerikan, dianiaya, diusir, dipenjara, dipukul adalah hal-hal yang dialami orang-orang percaya yang terus menerus terjadi bagi mereka yang sungguh-sungguh percaya. Di dalam rasa takut yang terus menerus ditangkap polisi mereka tetap mengadakan pertemuan jemaat di hutan, di bawah tanah, di kuburan, di rumah-rumah.
Tulisan mengenai penderitaan saudara Baptis kita di rezim Komunis semakin banyak dikumpulkan. Tempat penyimpanan arsip KGB (agen rahasia Rusia) dibuka oleh Georgi Vins tahun 1995 dan ia pun menyelidiki rahasia yang selama ini disimpan ayahnya Rev. Peter Yakuvlech Vins. Ia menemukan file ayahnya yang terdiri dari 450 halaman, ia dapatkan bahwa ayahnya ditembak mati pada tanggal 26 Agust 1937.
Pada tahun 1996 David L. Cummins mendapat kehormatan untuk bertemu dengan Rev. Vladimir Zinchenko, gembala dari gereja Baptis yang tidak terdaftar di Moskow. Ia menceritakan pengalamanya dipenjarakan dua kali baru-baru ini. Vladimir Zinchenko lahir pada tanggal 13 Juni 1950 dari keluarga Kristen Baptis yang taat. Di awal tahun 1960, ayahnya P.S. Zinchenko adalah salah seorang pemimpin Baptis yang mewakili kaum Baptis dan Georgi Vins bertemu dengan Nikita Khrushchev, pemimpin Uni Soviet. Namun usaha mereka tidak berhasil untuk memperjuangkan kebebasan beragama di negara tersebut.
Ibu Vladimir, Vera adalah seorang wanita Kristen yang taat dan luar biasa. Dalam bimbingan rohani yang baik akhirnya pada tanggal 20 Juni 1963, Vladimir mengakui imanya di depan publik dengan dibaptis selam. Enam tahun kemudia Vladimir ditangkap dan dipenjara karena memimpin pujian disebuah kebaktian di dalam hutan. Ia dituduh bersalah dan dikirim ke camp pengasingan Ukraina, tidak jauh dari perbatasan Rumania. KGB berusaha mencuci otaknya namun tidak berhasil. Saudara Vladimir, Paul juga dipenjarakan karena imannya. Pada tamggal 2 september 1972, Vladimir pun dibebaskan.
Setelah dibebaskan ia pun semakin giat melayani Tuhan dan menikah lalu melanjutkan studinya. Pada tangaal 10 Agustus 1980, ia ditahbiskan menjadi gembala disebuah gereja local tempat ia dulu melayani. Namun pencaobaan kembali datang, tanggal 24 Februari 1984 ia ditangkap KGB dan dipenjarakan. Ia dibawa ke penjara Matroska disebelah utara Moskow. Istrinya yang setia dan 2 anak perempuanya yang masih kecil diberi kesempatan mengunjungi setahun satu kali. Pada tahun 1987, Valdimir dibebaskan, namun ia diberitahu bahwa ia tidak boleh tinggal di Moskow lagi. Dalam waktu 72 jam ia harus segera meninggalkan Moskow.
Oleh karena kesulitan ekonomi, Uni Soviet, Mikhail Gorbachev dalam pertemuanya dengan presiden George Bush meminta bantuan, namun Bush menolak. Bush meminta Uni Soviet terbuka dan mengijinkan kebebasan beragama di negara tersebut. Oleh karena kesulitan ekonomi akhirnya pemimpin Komunis tersebut menyerah pada permintaan Bush. Akhinrnya Vladimir Zinchenko bebas untuk kembali pada kawanan dombanya dan mengembalakan mereka. Kedua anak mereka sekarang sedang belajar dan melayani di Amerika dan Tuhan memberkati mereka dengan anak ketiga.
Pada saat ini kebebasan beragama sedang dalam keadaan buruk. Di Indonesia diskriminasi terhadap kaum Baptis semakin meningkat, oleh sebab itu kita harus terus berdoa agar Tuhan memberi kekuatan kepada kita untuk berjuang. Tunas jemaat yang terus didirikan di seluruh daerah kiranya semakin bertumbuh dan semangat, mumpung kesempatan kita melayani masih ada.
Gembala Protestan jadi Penginjil Baptis
Gembala Protestan Jadi Penginjil Baptist
Dilahirkan di tahun 1783, Gottlob Bruckner menjadi seorang missionary Baptis yang luar biasa. Kisah ini akan memberikan pelajaran bagi siapapun yang membacanya. Gottlob dilahirkan diwilayah pertanian di selatan kota Berlin, Jerman. Gottlob dibesarkan di keluarga yang rajin membaca Alkitab dan setiap hari renungan harian menjadi aktivitas keluarga. Pada usia 20 tahun anak muda ini meninggalkan rumah untuk mencari nafkah ke kota Berlin. Di kota Jerman ini ia bertemu dengan seorang pengkhotbah dan membawanya kepada hal-hal yang ingin Allah lakukan dalam hidupnya. Di kota inilah akhirnya ia bertobat dan percaya pada Juruslamat.
Gottlob akhirnya mengetahui pelayanan William Carey di India dan berpikir bahwa Allah mnghendakinya menjadi missionary. Kebetulan temanya seorang gembala membuka sekolah pelatihan missionary dan Gottlob pun mendaftarkan diri dan belajar selama 18 bulan lalu dikirim ke Belanda untuk mengikuti pelatihan lanjutan. Dan ia belajar di sana selama tiga tahun termasuk mempelajari bahasa Belanda.
Tahun 1811 sebuah kelompok misi di bentuk di Belanda, namun kondisi politik di bawah pemerintahan kaisar Napoleon tidak memungkinkan orang-orang untuk keluar negeri. Namun gottlob kembali ke Jerman dan belajar selama setahun di sana. Akhirnya Gottlob bersama dua orang temanya dikirim ke Inggris hanya dengan membawa satu tas kecil pakaian. Selama kurang lebih satu tahun belajar Gottlob pun ditahbiskan di Inggris.
Perang hampir berakhir, oleh karena Inggris mengambil alih Indonesia dari Belanda di masa perang Napoleon dan peti pakaian Gottlob dikirim melalui kapal untuk menuju Indonesia, namun kapal yang membawa pakaian Gottlob terbakar dan ia pun kehilangan barang-barang duniawinya. Tahun 1814 bulan Januari, Gottlob dan temanya beralayar menuju Indonesia, kapal mereka nyaris tengelam oleh karena badai yang dahsyat. Setelah sampai di Jakarta, Gottlob seorang diri langsung berangkat menuju sebelah utara Jawa. Dua kali kapal mereka diserang bajak laut sehingga membuatnya sedikit letih menghadapi semua itu. Setelah kapal berlabuh, Gottlob harus mendaki gunung yang penuh Harimau dan menuju kota Semarang. Tibalah ia disebuah gereja Belanda yang telah disiapkan sejak zaman dulu. Jemaat gereja tersebut adalah orang Belanda dan Indonesia yang hanya sekedar formalitas datang ke gereja namun tidak disertai pertobatan. Gottlob pun akhirnya berkenalan dengan seorang anak perempuan gembala Belanda dan mereka akhirnya menikah dan dikaruniai 8 orang anak.
Ketika Rev. Gottlob sedang mengunjungi kota-kota lain, ia bertemu sebuah keluarga misionari dari gereja Baptist Inggris mereka adalah Rev. Thomas Trowt. Rev. Gottlob akhirnya berteman baik dengan Rev. Thomas. Suatu saat mereka berdiskusi sangat panjang tentang baptisan yang benar. Namun pada tanggal 31 Maret 1816 Rev. Gottlob mengumumkan pada jemaatnya; “Saya berencana untuk dibaptis, sekarang saya percaya bahwa Alkitab mengajarkan baptisan secara selam dan dilakukan pada orang yang sudah bertobat dan percaya bukan sebelum.” Pada hari minggu setelah pengumuman itu ia pun segera dibaptis selam dan jemaatnya pun memecatnya menjadi gembala mereka. Keputusan yang sulit diterima bagi Rev. Gottlob mengingat ia sudah berkeluarga dan memiliki 8 orang anak. Namun kebenaran tetaplah kebenaran yang harus dijunjung tingi.
Enam bulan kemudian Rev.Thomas Trowt meninggal dunia karena demam dan Belanda mengambil alih Indonesia dari Inggris, hal ini mengakibatkan tidak ada missionary Inggris yang bias masuk Indonesia. Namun karena Rev. Gottlob adalah keturunan Jerman, ia pun dapat tetap tinggal di Indonesia. Rev. Thomas Trowt meninggalkan pekerjaanya yaitu terjemahan kitab PB ke bahasa Jawa dan Rev. Gottlob yang melanjutkanya. Suatu hari ia menerima sepucuk surat dari William Carey yang mengundangnya membawa hasil terjemahanya untuk dikaji ulang. William Word, di tunjuk oleh British Mission Society untuk mencetak Alkitab. Tahun 1828 bersama dengan 2 anak laki-lakinya ia berangkat ke India dan kurang lebih 3 tahun ia berada di India dan satu anaknya meninggal dunia karena demam.
Ketika tugasnya selesai ia pun naik kapal dengan membawa 2000 Alkitab PB dalam bahasa Jawa, 20.000 traktat, kertas-kertas dalam jumlah yang banyak untuk dicetak dan satu set huruf cetak jawa. Kapal mereka hamper tengelam karena badai dan topan, namun mereka terus berdoa dan Tuhan mendengar doa mereka. Setibanya dirumah ia harus menerima kenyataan semua Alkitab dan traktatnya ditahan, hanya disisakan beberapa kitab saja. Namun ia tidak putus asa melainkan berusaha mencetaknya lagi dan mengirimkan sebuah cetakan PB pada raja-raja di Belanda dan Prusia. Hasil yang ia lakukan membuat pemerintah Belanda di Indonesia menyetujui kebebasan beragama.
Hingga akhir hayatnya Rev. Gottlob melihat sedikit saja hasil pelayanannya. Ia meninggal ditahun 1857 dan tidak ada seorang Baptist pun yang membantunya menyebarkan Injil di Indonesia. Namun hari ini kita melihat cukup banyak gereja Baptis tumbuh di pulau Jawa. Seorang Baptist dipakai Allah untuk menyiapkan jalan bagi penginjil-penginjil dimasa mendatang. Jangan pernah menyerah dan kecewa melihat hasil pelayanan Anda, namun tetaplah setia kerjakan sampai kelak Tuhan datang menjemput.
Hal yang paling penting untuk diperhatikan dan dikagumi dari Rev. Gottlob adalah keberaniannya untuk mengikut kebenaran. Walaupun ia harus menderita dipecat dari gerejanya demi kebenaran dan berusaha memelihara keluarganya, tentu ini bukan hal yang mudah. Banyak orang hari ini selalu kuatir akan masalah kehidupan dan tidak berani mengambil keputusan untuk ikut kebenaran. Disatu sisi mereka nampak seolah-olah hamba Tuhan yang terhormat dan memiliki banyak jemaat yang memujanya. Celakanya lagi mereka berusaha membangun gerejanya besar-besar agar kelihatan megah dan jemaatnya mampu dan kaya. Padahal mereka terus menyesatkan banyak orang dengan berkata; “manusia masuk surga kerena dipilih, membaptis bayi, membaptis orang sakit, membaptis percik dll. Sesungguhnya kata Paulus mereka melayani perut mereka.
Dilahirkan di tahun 1783, Gottlob Bruckner menjadi seorang missionary Baptis yang luar biasa. Kisah ini akan memberikan pelajaran bagi siapapun yang membacanya. Gottlob dilahirkan diwilayah pertanian di selatan kota Berlin, Jerman. Gottlob dibesarkan di keluarga yang rajin membaca Alkitab dan setiap hari renungan harian menjadi aktivitas keluarga. Pada usia 20 tahun anak muda ini meninggalkan rumah untuk mencari nafkah ke kota Berlin. Di kota Jerman ini ia bertemu dengan seorang pengkhotbah dan membawanya kepada hal-hal yang ingin Allah lakukan dalam hidupnya. Di kota inilah akhirnya ia bertobat dan percaya pada Juruslamat.
Gottlob akhirnya mengetahui pelayanan William Carey di India dan berpikir bahwa Allah mnghendakinya menjadi missionary. Kebetulan temanya seorang gembala membuka sekolah pelatihan missionary dan Gottlob pun mendaftarkan diri dan belajar selama 18 bulan lalu dikirim ke Belanda untuk mengikuti pelatihan lanjutan. Dan ia belajar di sana selama tiga tahun termasuk mempelajari bahasa Belanda.
Tahun 1811 sebuah kelompok misi di bentuk di Belanda, namun kondisi politik di bawah pemerintahan kaisar Napoleon tidak memungkinkan orang-orang untuk keluar negeri. Namun gottlob kembali ke Jerman dan belajar selama setahun di sana. Akhirnya Gottlob bersama dua orang temanya dikirim ke Inggris hanya dengan membawa satu tas kecil pakaian. Selama kurang lebih satu tahun belajar Gottlob pun ditahbiskan di Inggris.
Perang hampir berakhir, oleh karena Inggris mengambil alih Indonesia dari Belanda di masa perang Napoleon dan peti pakaian Gottlob dikirim melalui kapal untuk menuju Indonesia, namun kapal yang membawa pakaian Gottlob terbakar dan ia pun kehilangan barang-barang duniawinya. Tahun 1814 bulan Januari, Gottlob dan temanya beralayar menuju Indonesia, kapal mereka nyaris tengelam oleh karena badai yang dahsyat. Setelah sampai di Jakarta, Gottlob seorang diri langsung berangkat menuju sebelah utara Jawa. Dua kali kapal mereka diserang bajak laut sehingga membuatnya sedikit letih menghadapi semua itu. Setelah kapal berlabuh, Gottlob harus mendaki gunung yang penuh Harimau dan menuju kota Semarang. Tibalah ia disebuah gereja Belanda yang telah disiapkan sejak zaman dulu. Jemaat gereja tersebut adalah orang Belanda dan Indonesia yang hanya sekedar formalitas datang ke gereja namun tidak disertai pertobatan. Gottlob pun akhirnya berkenalan dengan seorang anak perempuan gembala Belanda dan mereka akhirnya menikah dan dikaruniai 8 orang anak.
Ketika Rev. Gottlob sedang mengunjungi kota-kota lain, ia bertemu sebuah keluarga misionari dari gereja Baptist Inggris mereka adalah Rev. Thomas Trowt. Rev. Gottlob akhirnya berteman baik dengan Rev. Thomas. Suatu saat mereka berdiskusi sangat panjang tentang baptisan yang benar. Namun pada tanggal 31 Maret 1816 Rev. Gottlob mengumumkan pada jemaatnya; “Saya berencana untuk dibaptis, sekarang saya percaya bahwa Alkitab mengajarkan baptisan secara selam dan dilakukan pada orang yang sudah bertobat dan percaya bukan sebelum.” Pada hari minggu setelah pengumuman itu ia pun segera dibaptis selam dan jemaatnya pun memecatnya menjadi gembala mereka. Keputusan yang sulit diterima bagi Rev. Gottlob mengingat ia sudah berkeluarga dan memiliki 8 orang anak. Namun kebenaran tetaplah kebenaran yang harus dijunjung tingi.
Enam bulan kemudian Rev.Thomas Trowt meninggal dunia karena demam dan Belanda mengambil alih Indonesia dari Inggris, hal ini mengakibatkan tidak ada missionary Inggris yang bias masuk Indonesia. Namun karena Rev. Gottlob adalah keturunan Jerman, ia pun dapat tetap tinggal di Indonesia. Rev. Thomas Trowt meninggalkan pekerjaanya yaitu terjemahan kitab PB ke bahasa Jawa dan Rev. Gottlob yang melanjutkanya. Suatu hari ia menerima sepucuk surat dari William Carey yang mengundangnya membawa hasil terjemahanya untuk dikaji ulang. William Word, di tunjuk oleh British Mission Society untuk mencetak Alkitab. Tahun 1828 bersama dengan 2 anak laki-lakinya ia berangkat ke India dan kurang lebih 3 tahun ia berada di India dan satu anaknya meninggal dunia karena demam.
Ketika tugasnya selesai ia pun naik kapal dengan membawa 2000 Alkitab PB dalam bahasa Jawa, 20.000 traktat, kertas-kertas dalam jumlah yang banyak untuk dicetak dan satu set huruf cetak jawa. Kapal mereka hamper tengelam karena badai dan topan, namun mereka terus berdoa dan Tuhan mendengar doa mereka. Setibanya dirumah ia harus menerima kenyataan semua Alkitab dan traktatnya ditahan, hanya disisakan beberapa kitab saja. Namun ia tidak putus asa melainkan berusaha mencetaknya lagi dan mengirimkan sebuah cetakan PB pada raja-raja di Belanda dan Prusia. Hasil yang ia lakukan membuat pemerintah Belanda di Indonesia menyetujui kebebasan beragama.
Hingga akhir hayatnya Rev. Gottlob melihat sedikit saja hasil pelayanannya. Ia meninggal ditahun 1857 dan tidak ada seorang Baptist pun yang membantunya menyebarkan Injil di Indonesia. Namun hari ini kita melihat cukup banyak gereja Baptis tumbuh di pulau Jawa. Seorang Baptist dipakai Allah untuk menyiapkan jalan bagi penginjil-penginjil dimasa mendatang. Jangan pernah menyerah dan kecewa melihat hasil pelayanan Anda, namun tetaplah setia kerjakan sampai kelak Tuhan datang menjemput.
Hal yang paling penting untuk diperhatikan dan dikagumi dari Rev. Gottlob adalah keberaniannya untuk mengikut kebenaran. Walaupun ia harus menderita dipecat dari gerejanya demi kebenaran dan berusaha memelihara keluarganya, tentu ini bukan hal yang mudah. Banyak orang hari ini selalu kuatir akan masalah kehidupan dan tidak berani mengambil keputusan untuk ikut kebenaran. Disatu sisi mereka nampak seolah-olah hamba Tuhan yang terhormat dan memiliki banyak jemaat yang memujanya. Celakanya lagi mereka berusaha membangun gerejanya besar-besar agar kelihatan megah dan jemaatnya mampu dan kaya. Padahal mereka terus menyesatkan banyak orang dengan berkata; “manusia masuk surga kerena dipilih, membaptis bayi, membaptis orang sakit, membaptis percik dll. Sesungguhnya kata Paulus mereka melayani perut mereka.
Tuesday, 17 March 2009
PERBEDAAN KALVINIS DENGAN NON-KALVINIS
PERBEDAAN KALVINIS DENGAN NON-KALVINIS
Bagian 1: Jika manusia harus beriman agar selamat, apakah berarti ia punya andil dalam keselamatan?
Oleh Dr. Steven E. Liauw
Ketika mendiskusikan mengenai masalah Kalvinisme, banyak terjadi salah pengertian dan debat kusir, karena tidak mengerti inti perbedaan satu pandangan dengan lainnya. Akibatnya, kedua belah pihak ngotot pada posisinya masing-masing, dan saling menyalahkan, bahkan tanpa benar-benar mengerti apa yang dimaksud oleh pihak lawan. Tentu, ini diperparah ketika suatu istilah dipakai dengan dua pengertian yang berbeda, sehingga diskusi tidak pernah mencapai titik temu. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui, di mana letak perbedaan yang sebenarnya, antara seorang Kalvinis dengan seorang non-Kalvinis. Seri ini akan membahas satu-persatu, perbedaan-perbedaan krusial antara Kalvinis dengan non-Kalvinis. Ada cukup banyak perbedaan, tetapi saya akan fokus kepada satu perbedaan di setiap seri.
Pertama-tama, sebelum membahas perbedaan, kita perlu melihat dulu, tentang persamaan mereka. Kalvinis maupun non-Kalvinis (yang Alkitabiah) percaya Alkitab sebagai Firman Allah dan standar kebenaran. Keduanya percaya bahwa keselamatan didasarkan pada karya pengorbanan Yesus Kristus di atas kayu salib, menggantikan manusia. Keduanya percaya bahwa keselamatan hanyalah karena kasih karunia, tanpa ada jasa atau usaha manusia di dalamnya.
Mungkin di sinilah Kalvinis mulai protes, dan menegaskan bahwa non-Kalvinis sedikit banyak mengandalkan jasa/usaha manusia untuk masuk Surga. Tetapi, itu tidak benar. Semua orang yang Alkitabiah akan mengatakan bahwa keselamatan tidaklah tergantung pada jasa/usaha manusia. Letak perbedaan sebenarnya adalah: KALVINIS MENGANGGAP IMAN PERCAYA SEBAGAI SUATU JASA/USAHA, SEDANGKAN NON-KALVINIS MENGATAKAN BAHWA IMAN PERCAYA BUKANLAH USAHA.
Inilah salah satu poin perbedaan mendasar antara Kalvinis dengan non-Kalvinis. Bagi orang-orang Alkitabiah, keselamatan adalah karena kasih karunia, oleh iman (Ef. 2:8). Artinya, tidak ada suatu apapun dalam diri manusia yang membuat dia pantas diselamatkan. Keselamatan adalah sepenuhnya kasih karunia. Tuhan menyelamatkan manusia bukan karena dia baik (manusia sudah bobrok dalam dosa), bukan karena dia hebat, bukan karena dia memiliki suatu hal yang menarik, bahkan bukan karena dia memiliki iman. Iman bukan dasar dari keselamatan. Kasih karunia adalah dasar dari keselamatan. Allah menyelamatkan manusia, semata-mata karena Ia berbelas kasihan, dan menaruh kasih kepada manusia.
Namun demikian, Alkitab juga tegas mengatakan, bahwa keselamatan itu adalah oleh iman. Artinya, iman adalah syarat dari keselamatan. Tuhan memutuskan untuk memberi keselamatan kepada manusia atas dasar kasih karunia, tetapi Tuhan menuntut syarat, yaitu iman. Harus dibedakan apa itu DASAR dan apa itu SYARAT.
ILUSTRASI: Ada seorang yang kaya dan baik hati, tinggal di rumahnya yang megah. Dia lalu melihat bahwa ada sejumlah anak-anak gelandangan yang tidak memiliki rumah, setiap hari tidur di bawah jembatan tidak jauh dari rumahnya. Ia lalu berbelas kasihan kepada mereka dan memutuskan untuk memberikan tempat tinggal yang layak kepada mereka. Ia memanggil mereka, lalu berkata: barangsiapa yang mencuci mobil saya, akan saya berikan tempat tinggal yang layak. Nah, di sini kita melihat, bahwa bagi seorang gelandangan yang mendapat rumah, DASAR kebahagiaannya adalah belas kasihan dari si orang kaya. Tetapi, SYARATnya adalah mencuci mobilnya. Mencuci mobil bukanlah alasan mengapa orang kaya itu mau memberikan rumah kepada anak gelandangan. Toh, mencuci mobil tidak sebanding dengan harga rumah yang akan dia berikan. Orang kaya itu sudah memiliki ALASAN/DASAR untuk memberi rumah, barulah ia mengajukan SYARAT bagi para gelandangan. ALASANnya adalah belas kasihannya, SYARAT yang dia ajukan adalah “mencuci mobilnya.” Jadi, DASAR berbeda dengan SYARAT.
Nah, kembali ke realita, Allah menyelamatkan manusia dengan DASAR kasih karuniaNya (ini adalah alasan Allah), dengan syarat manusia itu harus beriman/percaya. Efesus 2:8 menyatakan hal ini: “Sebab KARENA (alasan) kasih karunia kamu diselamatkan OLEH (syarat/cara) iman…”
Mungkin ada yang berkata: “Nah, bukankah seperti dalam ilustrasi tadi, jika ada SYARAT mencuci mobil, maka berarti perlu andil/usaha untuk mendapatkan kasih karunia itu.” Benar! Kalau syaratnya adalah “mencuci mobil,” maka ada usaha manusia. Bahkan, syarat apapun yang diajukan, mengimplikasikan adanya usaha manusia, kecuali satu syarat: percaya/beriman atau menerima.(1)
Tetapi, disinilah letak perbedaan Kalvinis dan non-Kalvinis. Kalvinis bersikukuh, bahwa jika manusia diharuskan untuk menerima kasih karunia agar selamat, maka artinya manusia memiliki andil dalam keselamatan. Manusia lalu bisa menyombongkan diri, bahwa adalah karena jasa-jasanya ia selamat. Oleh karena itu, DALAM THEOLOGI KALVINIS, IMAN BUKAN SYARAT KESELAMATAN, IMAN ADALAH HASIL DARI KESELAMATAN! Menurut Kalvinis, manusia tidak menerima kasih karunia, barulah ia lahir baru, justru ia bisa menerima/percaya karena ia sudah dilahirbarukan. Sebagai contoh, Piper mengatakan: “Kami tidak berpikir bahwa iman mendahului…..kelahiran kembali. Iman adalah bukti Allah telah melahirkan kita secara baru.”(2) MacArthur menegaskan bahwa “Regenerasi secara logis harus memulai iman.” (3) Sproul menambahkan: “Regenerasi (kelahiran kembali) bukanlah buah atau hasil dari iman. Sebaliknya, regenerasi mendahului iman, sebagai suatu syarat bagi iman.” (4)
Jadi, urutan Kalvinis terbalik dibandingkan dengan urutan Alkitab. Kalvinis mengatakan: lahir baru dulu (selamat) barulah beriman/menerima. Sedangkan Alkitab mengatakan: “Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya” (Yoh. 1:12). Jadi, menurut Alkitab, menerima dulu (percaya dulu), barulah menjadi anak Allah (dilahirbarukan). Menurut Kalvinis, lahir baru adalah syarat iman. Menurut Alkitab, iman adalah syarat lahir baru. Efesus 2:8 sudah membuktikan hal ini. Ayat-ayat lain mengukuhkan hal ini: Kisah Rasul 3:19 (bertobat dulu baru dosa dihapus), Kisah Rasul 16:31 (percaya dulu, baru dosa dihapus/selamat).(5)
Tetapi kita harus kembali kepada: mengapakah Kalvinis membuat urutan yang sedemikan aneh? Dari mana mereka mendapat ide bahwa manusia lahir baru dulu, barulah beriman? Ini semua berakar dari dua konsep mereka yang salah, yaitu:
1. Bahwa manusia tidak bisa beriman/percaya tanpa lahir baru (Poin ini akan secara mendalam dibahas di seri lain).
2. Bahwa jika manusia harus beriman/menerima kasih karunia untuk keselamatannya, maka itu sama dengan keselamatan karena usaha. Poin nomor dua ini yang menjadi pokok pembahasan kita di artikel ini.
Seorang Kalvinis yang pernah berdiskusi dengan saya menyatakannya seperti demikian: “Jika saya dapat memilih untuk menerima atau menolak kasih karunia Allah, maka ketika saya masuk Surga, saya dapat menyombongkan diri, bahwa saya telah memilih untuk menerima.” Untuk memperkuat pandangannya, Kalvinis menyerang orang-orang Alkitabiah. Kalvinis berkata bahwa jika harus percaya dulu, baru selamat, maka berarti manusia menyelamatkan dirinya sendiri. Tetapi benarkah konsep ini? Sepertinya hanya Kalvinis yang berpikir demikian. Coba kita lihat dalam skenario hidup.
Ilustrasi: Ada seorang yang sangat miskin sekali. Dia tidak memiliki apa-apa, bahkan makan pun sulit. Tambahan lagi, dia tidak memiliki keterampilan apapun yang dapat dibanggakan. Suatu hari, seorang yang sangat kaya, memutuskan untuk memberikan kepada si miskin ini, suatu harta yang besar jumlahnya. Si miskin tidak perlu melakukan apapun, selain dari menerima hadiah itu. Hadiah itu gratis! Jika si miskin menerima harta tersebut, dapatkah ia berbangga, bahwa dia kini kaya karena usahanya? Dapatkah ia menyombongkan diri kepada teman-temannya bahwa ia berjasa atas kekayaan yang kini ia nikmati? Bisakah dia berdalih: “Saya hebat, karena saya memilih untuk menerima?” Dapatkah dia berkata bahwa karena dia menerima hadiah itu, dia sendirilah yang telah membuat dirinya kaya? Teman-temannya yang berpikiran waras tentu akan berseru: “Tinggal menerima saja, itu sih bukan hebat! Itu terima bersih namanya!” Tidak seorangpun yang belum terkontaminasi Kalvinisme, akan berpikir bahwa si miskin ini memiliki jasa dalam hal itu. Juga tidak ada yang akan berkata bahwa ia menjadi kaya karena usahanya. Semua akan mengatakan bahwa dia menjadi kaya karena kasih karunia dari sang orang kaya!
Demikian juga, tidak ada satu orangpun yang waras, yang belum terkontaminasi oleh Kalvinisme, akan mengatakan bahwa tindakan percaya/beriman merupakan jasa manusia dalam keselamatan. IMAN BUKANLAH USAHA/JASA! Tetapi Kalvinisme, secara sistematis menuduh bahwa kita yang mengajarkan “iman” sebagai syarat keselamatan, adalah orang-orang yang mengandalkan “usaha sendiri” atau “kehebatan sendiri” untuk masuk Surga. Tidak demikian bung! Secara logis, jika seseorang memberikan hadiah, memang harus diterima, dan tindakan menerima itu bukanlah suatu usaha atau jasa pihak penerima. Kalau ada orang-orang yang menolak hadiah tersebut, bukan berarti ada kehebatan di pihak orang-orang yang menerima, melainkan adanya kebodohan di pihak orang-orang yang menolak.
Jadi kita lihat, bahwa theologi Kalvinis, yang menyamakan iman dengan usaha, tidak sesuai dengan logika. Tetapi, logika bukanlah standar tertinggi kita. Lebih parah lagi, theologi Kalvinis ini menyalahi Alkitab. Alkitab dengan tegas menyatakan bahwa iman berbeda dengan usaha. Salah satu perikop yang jelas sekali dalam hal ini adalah Roma 4:1-6.
“Jadi apakah akan kita katakan tentang Abraham, bapa leluhur jasmani kita? Sebab jikalau Abraham dibenarkan karena perbuatannya, maka ia beroleh dasar untuk bermegah, tetapi tidak di hadapan Allah. Sebab apakah dikatakan nas Kitab Suci? “Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” Kalau ada orang yang bekerja, upahnya tidak diperhitungkan sebagai hadiah, tetapi sebagai haknya. Tetapi kalau ada orang yang tidak bekerja, namun percaya kepada Dia yang membenarkan orang durhaka, imannya diperhitungkan menjadi kebenaran. Seperti juga Daud menyebut berbahagia orang yang dibenarkan Allah bukan berdasarkan perbuatannya:” (Roma 4:1-6)
Dari ayat-ayat di atas, jelas sekali bahwa Alkitab membedakan antara PEKERJAAN atau USAHA dengan IMAN! Iman bukanlah usaha! Alkitab tegas dalam hal ini! Jadi, jika kita mengatakan bahwa “anda perlu percaya Yesus untuk lahir baru,” itu tidaklah mengajarkan keselamatan berdasarkan usaha/jasa sendiri.
Siapapun yang membaca Alkitab tanpa pernah dipengaruhi oleh Kalvinisme sebelumnya, tidak akan berkesimpulan bahwa “lahir baru” mendahului “iman.” TIDAK ADA SATU AYAT PUN YANG MENGAJARKAN LAHIR BARU DULU BARU BERIMAN. Sebaliknya, untuk mempertahankan theologi mereka, Kalvinis membuat berbagai skema yang rumit. Untuk mengakomodasi Roma 4:1-6, sebagian Kalvinis menyatakan bahwa pembenaran adalah setelah percaya, tetapi lahir baru adalah sebelum percaya.
Jadi, urutan keselamatan Kalvinis:
1. Dilahirbarukan secara pasif oleh Tuhan (Regenerasi)
2. Menjadi percaya atau beriman atau menerima
3. Dibenarkan (Justification)
Urutan demikian sungguh tidak masuk akal, karena memisahkan regenerasi dengan pembenaran. Dalam skema Kalvinis, “iman” hanyalah formalitas belaka. “Iman” hanyalah suatu buah dari keselamatan itu sendiri, sama seperti pekerjaan baik adalah buah dari keselamatan. Kalau Kalvinis benar, maka “iman” bukanlah syarat atau alasan pembenaran, karena iman itu sendiri adalah efek dari kelahiran kembali.
Artinya, secara logis Kalvinis mengajarkan:
1. Orang lahir baru dulu, baru beriman
2. Orang menjadi anak Allah dulu (lahir ke dalam keluarga Allah), baru beriman
3. Orang memiliki hidup dulu (lahir baru), baru beriman
Sebaliknya, banyak sekali ayat-ayat Alkitab yang bertentangan dengan urutan tersebut:
1. Yoh. 6:47 berkata “barangsiapa percaya, ia mempunyai hidup yang kekal” BUKAN “barangsiapa memiliki hidup menjadi percaya.”
2. Yoh. 1:12 berkata menyatakan bahwa yang menerima Yesus menjadi anak-anak Allah, BUKAN bahwa anak-anak Allah menjadi menerima Yesus.
3. Kis. 16:31 menyatakan bahwa percaya kepada Tuhan Yesus Kristus akan membawa selamat, BUKAN selamat dulu lalu akan menjadi percaya.
4. Yoh. 20:31 menyatakan “oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya,” BUKAN memperoleh hidup agar bisa beriman. Ayat ini juga menegaskan iman sebagai SYARAT keselamatan.
5. Roma 10:13-14, percaya dulu, kemudian bisa berseru kepada Tuhan (dalam iman), lalu diselamatkan. BUKAN lahir baru dulu baru percaya.
6. 1 Kor. 4:15, orang-orang Korintus lahir baru, melalui percaya INJIL yang diberitakan Paulus. BUKAN lahir baru lalu menjadi percaya INJIL.
Dengan demikian, dapat diambil kesimpulan, bahwa:
1. Kalvinis menganggap bahwa jika iman dijadikan syarat keselamatan, itu sama saja dengan menyelamatkan diri sendiri. Iman dianggap sebagai suatu jasa atau usaha dari pihak manusia.
2. Kalvinis menganggap bahwa orang lahir baru dulu, barulah ia menjadi percaya. Iman adalah buah dari keselamatan/regenerasi.
3. Alkitab menyatakan bahwa iman adalah syarat keselamatan, kasih karunia adalah dasar keselamatan.
4. Alkitab menyatakan bahwa keselamatan oleh iman, bukanlah keselamatan oleh usaha manusia. Iman berbeda dengan usaha. Iman tidak dapat dianggap sebagai suatu jasa.
5. Alkitab menegaskan bahwa iman mendahului keselamatan, mendahului kelahiran kembali, mendahului hidup kekal, mendahului pembenaran, mendahului adopsi menjadi anak Allah.
Endnotes
(1) Saya jadikan ketiganya satu, karena memang ketiganya merujuk kepada hal yang sama. Dalam Alkitab, beriman sama dengan percaya. Keduanya adalah syarat keselamatan. Dalam Yoh. 1:12, menerima Yesus juga adalah syarat keselamatan. Artinya, beriman dan percaya pada Yesus sama dengan menerima Yesus. Dengan kata lain, iman adalah sarana untuk menerima Yesus. Kita menerima Yesus dengan cara beriman kepadaNya. Istilah “bertobat” juga satu paket dengan beriman atau menerima Yesus.
(2) John MacArthur, Faith Works (Dallas, Texas: Word Publishing, 1993), 62.
(3) John MacArthur, The Gospel According to Jesus (Grand Rapids, Michigan: Zondervan Publishing House, 1988), 172-173.
(4) R.C. Sproul, Chosen by God (Wheaton, Illinois: Tyndale Publishing House, 1986), 13.
(5) Kalvinis sering mencoba untuk menjelaskan kesulitan mereka demikian: bahwa orang lahir baru dulu, baru beriman, baru dibenarkan (diselamatkan). Tetapi ini adalah usaha menjaring angin. Adakah orang yang lahir baru, tetapi tidak selamat? Proses kelahiran kembali sudah merupakan proses keselamatan. Jadi, tetap saja menurut Kalvinis: selamat dulu, barulah beriman.
From: http://graphe-ministry.org/
Bagian 1: Jika manusia harus beriman agar selamat, apakah berarti ia punya andil dalam keselamatan?
Oleh Dr. Steven E. Liauw
Ketika mendiskusikan mengenai masalah Kalvinisme, banyak terjadi salah pengertian dan debat kusir, karena tidak mengerti inti perbedaan satu pandangan dengan lainnya. Akibatnya, kedua belah pihak ngotot pada posisinya masing-masing, dan saling menyalahkan, bahkan tanpa benar-benar mengerti apa yang dimaksud oleh pihak lawan. Tentu, ini diperparah ketika suatu istilah dipakai dengan dua pengertian yang berbeda, sehingga diskusi tidak pernah mencapai titik temu. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui, di mana letak perbedaan yang sebenarnya, antara seorang Kalvinis dengan seorang non-Kalvinis. Seri ini akan membahas satu-persatu, perbedaan-perbedaan krusial antara Kalvinis dengan non-Kalvinis. Ada cukup banyak perbedaan, tetapi saya akan fokus kepada satu perbedaan di setiap seri.
Pertama-tama, sebelum membahas perbedaan, kita perlu melihat dulu, tentang persamaan mereka. Kalvinis maupun non-Kalvinis (yang Alkitabiah) percaya Alkitab sebagai Firman Allah dan standar kebenaran. Keduanya percaya bahwa keselamatan didasarkan pada karya pengorbanan Yesus Kristus di atas kayu salib, menggantikan manusia. Keduanya percaya bahwa keselamatan hanyalah karena kasih karunia, tanpa ada jasa atau usaha manusia di dalamnya.
Mungkin di sinilah Kalvinis mulai protes, dan menegaskan bahwa non-Kalvinis sedikit banyak mengandalkan jasa/usaha manusia untuk masuk Surga. Tetapi, itu tidak benar. Semua orang yang Alkitabiah akan mengatakan bahwa keselamatan tidaklah tergantung pada jasa/usaha manusia. Letak perbedaan sebenarnya adalah: KALVINIS MENGANGGAP IMAN PERCAYA SEBAGAI SUATU JASA/USAHA, SEDANGKAN NON-KALVINIS MENGATAKAN BAHWA IMAN PERCAYA BUKANLAH USAHA.
Inilah salah satu poin perbedaan mendasar antara Kalvinis dengan non-Kalvinis. Bagi orang-orang Alkitabiah, keselamatan adalah karena kasih karunia, oleh iman (Ef. 2:8). Artinya, tidak ada suatu apapun dalam diri manusia yang membuat dia pantas diselamatkan. Keselamatan adalah sepenuhnya kasih karunia. Tuhan menyelamatkan manusia bukan karena dia baik (manusia sudah bobrok dalam dosa), bukan karena dia hebat, bukan karena dia memiliki suatu hal yang menarik, bahkan bukan karena dia memiliki iman. Iman bukan dasar dari keselamatan. Kasih karunia adalah dasar dari keselamatan. Allah menyelamatkan manusia, semata-mata karena Ia berbelas kasihan, dan menaruh kasih kepada manusia.
Namun demikian, Alkitab juga tegas mengatakan, bahwa keselamatan itu adalah oleh iman. Artinya, iman adalah syarat dari keselamatan. Tuhan memutuskan untuk memberi keselamatan kepada manusia atas dasar kasih karunia, tetapi Tuhan menuntut syarat, yaitu iman. Harus dibedakan apa itu DASAR dan apa itu SYARAT.
ILUSTRASI: Ada seorang yang kaya dan baik hati, tinggal di rumahnya yang megah. Dia lalu melihat bahwa ada sejumlah anak-anak gelandangan yang tidak memiliki rumah, setiap hari tidur di bawah jembatan tidak jauh dari rumahnya. Ia lalu berbelas kasihan kepada mereka dan memutuskan untuk memberikan tempat tinggal yang layak kepada mereka. Ia memanggil mereka, lalu berkata: barangsiapa yang mencuci mobil saya, akan saya berikan tempat tinggal yang layak. Nah, di sini kita melihat, bahwa bagi seorang gelandangan yang mendapat rumah, DASAR kebahagiaannya adalah belas kasihan dari si orang kaya. Tetapi, SYARATnya adalah mencuci mobilnya. Mencuci mobil bukanlah alasan mengapa orang kaya itu mau memberikan rumah kepada anak gelandangan. Toh, mencuci mobil tidak sebanding dengan harga rumah yang akan dia berikan. Orang kaya itu sudah memiliki ALASAN/DASAR untuk memberi rumah, barulah ia mengajukan SYARAT bagi para gelandangan. ALASANnya adalah belas kasihannya, SYARAT yang dia ajukan adalah “mencuci mobilnya.” Jadi, DASAR berbeda dengan SYARAT.
Nah, kembali ke realita, Allah menyelamatkan manusia dengan DASAR kasih karuniaNya (ini adalah alasan Allah), dengan syarat manusia itu harus beriman/percaya. Efesus 2:8 menyatakan hal ini: “Sebab KARENA (alasan) kasih karunia kamu diselamatkan OLEH (syarat/cara) iman…”
Mungkin ada yang berkata: “Nah, bukankah seperti dalam ilustrasi tadi, jika ada SYARAT mencuci mobil, maka berarti perlu andil/usaha untuk mendapatkan kasih karunia itu.” Benar! Kalau syaratnya adalah “mencuci mobil,” maka ada usaha manusia. Bahkan, syarat apapun yang diajukan, mengimplikasikan adanya usaha manusia, kecuali satu syarat: percaya/beriman atau menerima.(1)
Tetapi, disinilah letak perbedaan Kalvinis dan non-Kalvinis. Kalvinis bersikukuh, bahwa jika manusia diharuskan untuk menerima kasih karunia agar selamat, maka artinya manusia memiliki andil dalam keselamatan. Manusia lalu bisa menyombongkan diri, bahwa adalah karena jasa-jasanya ia selamat. Oleh karena itu, DALAM THEOLOGI KALVINIS, IMAN BUKAN SYARAT KESELAMATAN, IMAN ADALAH HASIL DARI KESELAMATAN! Menurut Kalvinis, manusia tidak menerima kasih karunia, barulah ia lahir baru, justru ia bisa menerima/percaya karena ia sudah dilahirbarukan. Sebagai contoh, Piper mengatakan: “Kami tidak berpikir bahwa iman mendahului…..kelahiran kembali. Iman adalah bukti Allah telah melahirkan kita secara baru.”(2) MacArthur menegaskan bahwa “Regenerasi secara logis harus memulai iman.” (3) Sproul menambahkan: “Regenerasi (kelahiran kembali) bukanlah buah atau hasil dari iman. Sebaliknya, regenerasi mendahului iman, sebagai suatu syarat bagi iman.” (4)
Jadi, urutan Kalvinis terbalik dibandingkan dengan urutan Alkitab. Kalvinis mengatakan: lahir baru dulu (selamat) barulah beriman/menerima. Sedangkan Alkitab mengatakan: “Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya” (Yoh. 1:12). Jadi, menurut Alkitab, menerima dulu (percaya dulu), barulah menjadi anak Allah (dilahirbarukan). Menurut Kalvinis, lahir baru adalah syarat iman. Menurut Alkitab, iman adalah syarat lahir baru. Efesus 2:8 sudah membuktikan hal ini. Ayat-ayat lain mengukuhkan hal ini: Kisah Rasul 3:19 (bertobat dulu baru dosa dihapus), Kisah Rasul 16:31 (percaya dulu, baru dosa dihapus/selamat).(5)
Tetapi kita harus kembali kepada: mengapakah Kalvinis membuat urutan yang sedemikan aneh? Dari mana mereka mendapat ide bahwa manusia lahir baru dulu, barulah beriman? Ini semua berakar dari dua konsep mereka yang salah, yaitu:
1. Bahwa manusia tidak bisa beriman/percaya tanpa lahir baru (Poin ini akan secara mendalam dibahas di seri lain).
2. Bahwa jika manusia harus beriman/menerima kasih karunia untuk keselamatannya, maka itu sama dengan keselamatan karena usaha. Poin nomor dua ini yang menjadi pokok pembahasan kita di artikel ini.
Seorang Kalvinis yang pernah berdiskusi dengan saya menyatakannya seperti demikian: “Jika saya dapat memilih untuk menerima atau menolak kasih karunia Allah, maka ketika saya masuk Surga, saya dapat menyombongkan diri, bahwa saya telah memilih untuk menerima.” Untuk memperkuat pandangannya, Kalvinis menyerang orang-orang Alkitabiah. Kalvinis berkata bahwa jika harus percaya dulu, baru selamat, maka berarti manusia menyelamatkan dirinya sendiri. Tetapi benarkah konsep ini? Sepertinya hanya Kalvinis yang berpikir demikian. Coba kita lihat dalam skenario hidup.
Ilustrasi: Ada seorang yang sangat miskin sekali. Dia tidak memiliki apa-apa, bahkan makan pun sulit. Tambahan lagi, dia tidak memiliki keterampilan apapun yang dapat dibanggakan. Suatu hari, seorang yang sangat kaya, memutuskan untuk memberikan kepada si miskin ini, suatu harta yang besar jumlahnya. Si miskin tidak perlu melakukan apapun, selain dari menerima hadiah itu. Hadiah itu gratis! Jika si miskin menerima harta tersebut, dapatkah ia berbangga, bahwa dia kini kaya karena usahanya? Dapatkah ia menyombongkan diri kepada teman-temannya bahwa ia berjasa atas kekayaan yang kini ia nikmati? Bisakah dia berdalih: “Saya hebat, karena saya memilih untuk menerima?” Dapatkah dia berkata bahwa karena dia menerima hadiah itu, dia sendirilah yang telah membuat dirinya kaya? Teman-temannya yang berpikiran waras tentu akan berseru: “Tinggal menerima saja, itu sih bukan hebat! Itu terima bersih namanya!” Tidak seorangpun yang belum terkontaminasi Kalvinisme, akan berpikir bahwa si miskin ini memiliki jasa dalam hal itu. Juga tidak ada yang akan berkata bahwa ia menjadi kaya karena usahanya. Semua akan mengatakan bahwa dia menjadi kaya karena kasih karunia dari sang orang kaya!
Demikian juga, tidak ada satu orangpun yang waras, yang belum terkontaminasi oleh Kalvinisme, akan mengatakan bahwa tindakan percaya/beriman merupakan jasa manusia dalam keselamatan. IMAN BUKANLAH USAHA/JASA! Tetapi Kalvinisme, secara sistematis menuduh bahwa kita yang mengajarkan “iman” sebagai syarat keselamatan, adalah orang-orang yang mengandalkan “usaha sendiri” atau “kehebatan sendiri” untuk masuk Surga. Tidak demikian bung! Secara logis, jika seseorang memberikan hadiah, memang harus diterima, dan tindakan menerima itu bukanlah suatu usaha atau jasa pihak penerima. Kalau ada orang-orang yang menolak hadiah tersebut, bukan berarti ada kehebatan di pihak orang-orang yang menerima, melainkan adanya kebodohan di pihak orang-orang yang menolak.
Jadi kita lihat, bahwa theologi Kalvinis, yang menyamakan iman dengan usaha, tidak sesuai dengan logika. Tetapi, logika bukanlah standar tertinggi kita. Lebih parah lagi, theologi Kalvinis ini menyalahi Alkitab. Alkitab dengan tegas menyatakan bahwa iman berbeda dengan usaha. Salah satu perikop yang jelas sekali dalam hal ini adalah Roma 4:1-6.
“Jadi apakah akan kita katakan tentang Abraham, bapa leluhur jasmani kita? Sebab jikalau Abraham dibenarkan karena perbuatannya, maka ia beroleh dasar untuk bermegah, tetapi tidak di hadapan Allah. Sebab apakah dikatakan nas Kitab Suci? “Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” Kalau ada orang yang bekerja, upahnya tidak diperhitungkan sebagai hadiah, tetapi sebagai haknya. Tetapi kalau ada orang yang tidak bekerja, namun percaya kepada Dia yang membenarkan orang durhaka, imannya diperhitungkan menjadi kebenaran. Seperti juga Daud menyebut berbahagia orang yang dibenarkan Allah bukan berdasarkan perbuatannya:” (Roma 4:1-6)
Dari ayat-ayat di atas, jelas sekali bahwa Alkitab membedakan antara PEKERJAAN atau USAHA dengan IMAN! Iman bukanlah usaha! Alkitab tegas dalam hal ini! Jadi, jika kita mengatakan bahwa “anda perlu percaya Yesus untuk lahir baru,” itu tidaklah mengajarkan keselamatan berdasarkan usaha/jasa sendiri.
Siapapun yang membaca Alkitab tanpa pernah dipengaruhi oleh Kalvinisme sebelumnya, tidak akan berkesimpulan bahwa “lahir baru” mendahului “iman.” TIDAK ADA SATU AYAT PUN YANG MENGAJARKAN LAHIR BARU DULU BARU BERIMAN. Sebaliknya, untuk mempertahankan theologi mereka, Kalvinis membuat berbagai skema yang rumit. Untuk mengakomodasi Roma 4:1-6, sebagian Kalvinis menyatakan bahwa pembenaran adalah setelah percaya, tetapi lahir baru adalah sebelum percaya.
Jadi, urutan keselamatan Kalvinis:
1. Dilahirbarukan secara pasif oleh Tuhan (Regenerasi)
2. Menjadi percaya atau beriman atau menerima
3. Dibenarkan (Justification)
Urutan demikian sungguh tidak masuk akal, karena memisahkan regenerasi dengan pembenaran. Dalam skema Kalvinis, “iman” hanyalah formalitas belaka. “Iman” hanyalah suatu buah dari keselamatan itu sendiri, sama seperti pekerjaan baik adalah buah dari keselamatan. Kalau Kalvinis benar, maka “iman” bukanlah syarat atau alasan pembenaran, karena iman itu sendiri adalah efek dari kelahiran kembali.
Artinya, secara logis Kalvinis mengajarkan:
1. Orang lahir baru dulu, baru beriman
2. Orang menjadi anak Allah dulu (lahir ke dalam keluarga Allah), baru beriman
3. Orang memiliki hidup dulu (lahir baru), baru beriman
Sebaliknya, banyak sekali ayat-ayat Alkitab yang bertentangan dengan urutan tersebut:
1. Yoh. 6:47 berkata “barangsiapa percaya, ia mempunyai hidup yang kekal” BUKAN “barangsiapa memiliki hidup menjadi percaya.”
2. Yoh. 1:12 berkata menyatakan bahwa yang menerima Yesus menjadi anak-anak Allah, BUKAN bahwa anak-anak Allah menjadi menerima Yesus.
3. Kis. 16:31 menyatakan bahwa percaya kepada Tuhan Yesus Kristus akan membawa selamat, BUKAN selamat dulu lalu akan menjadi percaya.
4. Yoh. 20:31 menyatakan “oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya,” BUKAN memperoleh hidup agar bisa beriman. Ayat ini juga menegaskan iman sebagai SYARAT keselamatan.
5. Roma 10:13-14, percaya dulu, kemudian bisa berseru kepada Tuhan (dalam iman), lalu diselamatkan. BUKAN lahir baru dulu baru percaya.
6. 1 Kor. 4:15, orang-orang Korintus lahir baru, melalui percaya INJIL yang diberitakan Paulus. BUKAN lahir baru lalu menjadi percaya INJIL.
Dengan demikian, dapat diambil kesimpulan, bahwa:
1. Kalvinis menganggap bahwa jika iman dijadikan syarat keselamatan, itu sama saja dengan menyelamatkan diri sendiri. Iman dianggap sebagai suatu jasa atau usaha dari pihak manusia.
2. Kalvinis menganggap bahwa orang lahir baru dulu, barulah ia menjadi percaya. Iman adalah buah dari keselamatan/regenerasi.
3. Alkitab menyatakan bahwa iman adalah syarat keselamatan, kasih karunia adalah dasar keselamatan.
4. Alkitab menyatakan bahwa keselamatan oleh iman, bukanlah keselamatan oleh usaha manusia. Iman berbeda dengan usaha. Iman tidak dapat dianggap sebagai suatu jasa.
5. Alkitab menegaskan bahwa iman mendahului keselamatan, mendahului kelahiran kembali, mendahului hidup kekal, mendahului pembenaran, mendahului adopsi menjadi anak Allah.
Endnotes
(1) Saya jadikan ketiganya satu, karena memang ketiganya merujuk kepada hal yang sama. Dalam Alkitab, beriman sama dengan percaya. Keduanya adalah syarat keselamatan. Dalam Yoh. 1:12, menerima Yesus juga adalah syarat keselamatan. Artinya, beriman dan percaya pada Yesus sama dengan menerima Yesus. Dengan kata lain, iman adalah sarana untuk menerima Yesus. Kita menerima Yesus dengan cara beriman kepadaNya. Istilah “bertobat” juga satu paket dengan beriman atau menerima Yesus.
(2) John MacArthur, Faith Works (Dallas, Texas: Word Publishing, 1993), 62.
(3) John MacArthur, The Gospel According to Jesus (Grand Rapids, Michigan: Zondervan Publishing House, 1988), 172-173.
(4) R.C. Sproul, Chosen by God (Wheaton, Illinois: Tyndale Publishing House, 1986), 13.
(5) Kalvinis sering mencoba untuk menjelaskan kesulitan mereka demikian: bahwa orang lahir baru dulu, baru beriman, baru dibenarkan (diselamatkan). Tetapi ini adalah usaha menjaring angin. Adakah orang yang lahir baru, tetapi tidak selamat? Proses kelahiran kembali sudah merupakan proses keselamatan. Jadi, tetap saja menurut Kalvinis: selamat dulu, barulah beriman.
From: http://graphe-ministry.org/
Thursday, 5 March 2009
Seorang Imam Yahudi Yang Bertobat.
Seorang Imam Yahudi Yang Bertobat.
Joseph Samuel Christian Frederick dilahirkan di Jerman oleh orang tua Yahudi di tahun 1771. Sebagaimana taat istiadat Yahudi, ia disunat pada hari kedelapan dan menerima nama Joseph Samuel. Ia di didik secara pribadi oleh seorang guru yang mengajarkan Hukum Taurat kepadanya. Ia sangat cepat menyerap pelajaran sehingga pada umur 16 tahun ia telah mampu membaca Pentateuch dalam bahasa Yunani. Ia meneruskan pendidikanya di kantor seorang rabbi dan akhirnya ia menjadi pemimpin Sinagoge pada usianya yang baru 21 tahun.
Karena tidak puas dengan kehidupanya di rumah, dia pun melakukan perjalanan ke berbagai tempat di Jerman. Sekalipun ia diajar untuk membenci kekristenan, ia akhirnya menjadi akrab dengan seorang Kristen. Orang Kristen inilah yang menanamkan konsep-konsep kekristenan di dalam benak Joseph. Ia pun menetap di Weimar dan kerja menjadi pembuat sepatu selama 3 tahun. Di masa inilah ia banyak membaca Perjanjian Baru dan kitab Yahudi. Setelah semuanya ia baca akhirnya ia menarik kesimpulan bahwa Yesus kristus adalah Masias dan ia pun dibaptis menjadi seorang Protestan.
Ia tertarik dengan kelompok Moravia dan menghadiri pertemuan mereka. Suatu hari ketika pulang dari pertemuan Moravia, salah satu temanya menanyakan apakah ia mau menjadi seorang missionary. Joseph pun menjawab mau dan bersedia menjadi missionary. Di Februari 1800, ia masuk ke seminary Saxony yaitu suatu tempat pelatihan bagi orang muda yang menjadi misionari.
Setelah menyelesaikan pendidikanya ia pun diutus untuk pergi ke London Missionary Society. Di sini ia dilatih untuk pergi ke Afrika. Ketika ia menantikan waktu keberangkatanya, ia mengunjungi saudara-saudara yahudinya di Sinagoge-sinagoge, dengan maksud untuk menjelaskan kekristenan epada mereka. London Missionary Society mengetahui hal ini dan mengizinkanya untuk melayani orang-orang Yahudi. Sekalipun ia memberitakan Injil pada banyak orang Yahudi namun tidak banyak yang bertobat.
Tanggal 23 Juli ia meninggalkan keluarganya di New York. Bekerjasama dengan rekan-rekanya ia mendirikan sebuah gereja dan ia ditahbiskan menjadi gembala di sana. Tahun 1825 ia mulai ragu-ragu mengenai cara pemaptisan dan orang yang menerima baptisan. setelah bergumul sekitar 2 tahun, ia menemukan bahwa sebenarnya baptisan yang benar adalah diselam dan bayi tidak memenuhi syarat menerima baptisan. tanggal 28 Agustus 1827, ia dibaptis selam oleh Rev. Maclay di New York dan sejak saat itu ia telah menjdai seorang Baptist.
Selama 43 tahun terakhir dimana masa hidupnya, Joseph melakukan perjalanan tahunan selama 4 hingga 6 bulan dan berkhotbah setiap tahun seabnyak 300 kali. Ia juga menulis buku mengenai pertobatan orang-orang Yahudi, mengenai baptisan dan paskah, termasuk Alkitab Yahudi Vander Hougt’s. Kumpulan surat-suratnya dinamakan Joseph & Benyamin yang isinya mengenai kontroversi antara Yahudi dan Kristen.
Ia menulis, “ Aku telah mengirimkan surat-surat ini untuk Benyamin, saudaraku yang mewakili saudara Yahudiku. Sekarang aku telah menjadi tua dan berjanggut putih dan tidak bisa mengharap memiliki waktu yang banyak untuk melayani Tuhan. Saya telah menyiapkan surat-surat untuk orang-orang dengan segala daya upayaku dan sekarang dengan rendah hati saya serahkan kepada orang-orang, supaya setelah saya mati dan kembali ke Bapa-ku yaitu Abraham, Ishak dan Yakub di kerajaan Surga, maka lewat surat-suratku berita Injil Yesus Kristus dapat diberitakan. Yesus Kristus adalah Mesias yang disalibkan penebus dan Juruslamat orang percaya.”
Joseph Samuel Christian Frederick dilahirkan di Jerman oleh orang tua Yahudi di tahun 1771. Sebagaimana taat istiadat Yahudi, ia disunat pada hari kedelapan dan menerima nama Joseph Samuel. Ia di didik secara pribadi oleh seorang guru yang mengajarkan Hukum Taurat kepadanya. Ia sangat cepat menyerap pelajaran sehingga pada umur 16 tahun ia telah mampu membaca Pentateuch dalam bahasa Yunani. Ia meneruskan pendidikanya di kantor seorang rabbi dan akhirnya ia menjadi pemimpin Sinagoge pada usianya yang baru 21 tahun.
Karena tidak puas dengan kehidupanya di rumah, dia pun melakukan perjalanan ke berbagai tempat di Jerman. Sekalipun ia diajar untuk membenci kekristenan, ia akhirnya menjadi akrab dengan seorang Kristen. Orang Kristen inilah yang menanamkan konsep-konsep kekristenan di dalam benak Joseph. Ia pun menetap di Weimar dan kerja menjadi pembuat sepatu selama 3 tahun. Di masa inilah ia banyak membaca Perjanjian Baru dan kitab Yahudi. Setelah semuanya ia baca akhirnya ia menarik kesimpulan bahwa Yesus kristus adalah Masias dan ia pun dibaptis menjadi seorang Protestan.
Ia tertarik dengan kelompok Moravia dan menghadiri pertemuan mereka. Suatu hari ketika pulang dari pertemuan Moravia, salah satu temanya menanyakan apakah ia mau menjadi seorang missionary. Joseph pun menjawab mau dan bersedia menjadi missionary. Di Februari 1800, ia masuk ke seminary Saxony yaitu suatu tempat pelatihan bagi orang muda yang menjadi misionari.
Setelah menyelesaikan pendidikanya ia pun diutus untuk pergi ke London Missionary Society. Di sini ia dilatih untuk pergi ke Afrika. Ketika ia menantikan waktu keberangkatanya, ia mengunjungi saudara-saudara yahudinya di Sinagoge-sinagoge, dengan maksud untuk menjelaskan kekristenan epada mereka. London Missionary Society mengetahui hal ini dan mengizinkanya untuk melayani orang-orang Yahudi. Sekalipun ia memberitakan Injil pada banyak orang Yahudi namun tidak banyak yang bertobat.
Tanggal 23 Juli ia meninggalkan keluarganya di New York. Bekerjasama dengan rekan-rekanya ia mendirikan sebuah gereja dan ia ditahbiskan menjadi gembala di sana. Tahun 1825 ia mulai ragu-ragu mengenai cara pemaptisan dan orang yang menerima baptisan. setelah bergumul sekitar 2 tahun, ia menemukan bahwa sebenarnya baptisan yang benar adalah diselam dan bayi tidak memenuhi syarat menerima baptisan. tanggal 28 Agustus 1827, ia dibaptis selam oleh Rev. Maclay di New York dan sejak saat itu ia telah menjdai seorang Baptist.
Selama 43 tahun terakhir dimana masa hidupnya, Joseph melakukan perjalanan tahunan selama 4 hingga 6 bulan dan berkhotbah setiap tahun seabnyak 300 kali. Ia juga menulis buku mengenai pertobatan orang-orang Yahudi, mengenai baptisan dan paskah, termasuk Alkitab Yahudi Vander Hougt’s. Kumpulan surat-suratnya dinamakan Joseph & Benyamin yang isinya mengenai kontroversi antara Yahudi dan Kristen.
Ia menulis, “ Aku telah mengirimkan surat-surat ini untuk Benyamin, saudaraku yang mewakili saudara Yahudiku. Sekarang aku telah menjadi tua dan berjanggut putih dan tidak bisa mengharap memiliki waktu yang banyak untuk melayani Tuhan. Saya telah menyiapkan surat-surat untuk orang-orang dengan segala daya upayaku dan sekarang dengan rendah hati saya serahkan kepada orang-orang, supaya setelah saya mati dan kembali ke Bapa-ku yaitu Abraham, Ishak dan Yakub di kerajaan Surga, maka lewat surat-suratku berita Injil Yesus Kristus dapat diberitakan. Yesus Kristus adalah Mesias yang disalibkan penebus dan Juruslamat orang percaya.”
Wanita Baptist Yang Menjawab Panggilan Allah
Wanita Baptist Yang Menjawab Panggilan Allah
Pahlawan iman kita kali ini adalah Lavina Mead, ia dilahirkan di New Lisbon, Wisconsin tanggal 26 April 1859. Sepuluh tahun kemudian ia mendengar jemaat Baptis menyanyikan sebuah lagu, “tangisan dari Macedonia” ia lalu bertanya kepada ibunya apa arti lagu itu. Ketika pesan lagu itu dijelaskan oleh ibunya kepadanya, ia pun menjawab “Aku akan ke Macedonia.” Sejak saat itu ia memusatkan pikiranya untuk pelayanan padahal pada saat itu ia adalah anak gadis yang kecil yang tidak pernah menyangka bahwa kemauannya menjawab panggilan Allah membuat ia keliling dunia di masa yang akan datang.
Lavina sekolah menengah atas di Pillsbury academy di Owatonna, Minnesota. Setelah lulus ia menjagi guru dan mengajar selama sepuluh tahun di daerah barat daya Minnesota. Tahun 1886 ia mengajukan diri untuk menjadi missionary. Lavina terpilih dan januari tahun 1887 ia pun berlayar ke Ingole, India. Namun sayang, panas terik dan iklim dia India membuat ia demam dan kesehatanya terganggu. Dokter bersikeras mengganjurkan Lavina segera pulang ke Amerika untuk berobat, gadis ini pun kecewa dan pulang ke Amerika. Namun ia tidak segera putus asa, setelah kesehatanya pulih Lavina segera mendaftarkan diri ke Training Institue di Minneapolis untuk mempersiapkan diri agar lebih baik sebelum terjun kembali ke palayanan. Selama waktu itulah ia banyak melakukan penginjilan dan berbicara di gereja-gereja dalam kelompok anak remaja perempuan. Ketika ia menyelesaikan pelatihannya dan kesehatanya benar-benar pulih, ia pun ditunjuk pelayanan ke daerah yang lebih sejuk yaitu Jepang.
Tahun 1890, bersama dengan Nellie Fife dan L. Adele Philips, ia memulai pelayanan di Osaka, Jepang. Lavina perlu waktu 15 bulan untuk menguasai bahasa Jepang. Setelah itu ia ditinggal sendiri dalam pelayananya di Jepang. Ia menerapkan penginjilan dari pintu ke pintu dan membentuk suatu kelompok yang bernama “Wanita Alkitab.” Pada masa itu orang asing dilarang untuk melakukan perjalanan ke tempat lain selain dari kota tempat dimana mereka tinggal. Lavina melakukan strategi penginjilan dengan melakukan penggiriman “Wanita Alkitab” untuk ke luar kota, sehingga banyak wanita Jepang bisa mendengar Injil.
Dari usahanya inilah akhirnya Lavina berhasil mendirikan sekolah bagi wanita-wanita muda. Tanggal 29 Januari 1896, sebuah bangunan baru didirikan dan ketika sekolah ini dimulai hanya terdiri dari 15 murid. Namun waktu berlalu sehingga jumlah murid bertambah dan pengaruh Injil meluas. Pendidikan hanyalah alat bagi Lavina untuk memperluas berita Injil dan memenangkan jiwa. Setelah pelayanan di Osaka mulai berkembang, Lavina pergi ke Sendai untuk memperluas berita Injil.
Tahun 1908, ia kembali ke Osaka, kota kedua terbesar di Jepang. Disana ia mendirikan Womens Bible Training School. Kemudian meneruskan pelayanan disana selama 18 tahun. Wanita-wanita muda yang lulus dari sekolah ini ada yang menjadi guru, penginjil maupun istri gembala. Lavina juga membangun asrama baru bagi para missionary sehingga pelayanan di Osaka semakin berkembang. Karena usaha-usahanya dalam pelayanan membuat ia lelah dan fisiknya mulai lemah, tanggal 27 Mei 1926 ia kembali ke Amerika karena tidak mau menjadi beban di sana.
Pahlawan iman kita kali ini adalah Lavina Mead, ia dilahirkan di New Lisbon, Wisconsin tanggal 26 April 1859. Sepuluh tahun kemudian ia mendengar jemaat Baptis menyanyikan sebuah lagu, “tangisan dari Macedonia” ia lalu bertanya kepada ibunya apa arti lagu itu. Ketika pesan lagu itu dijelaskan oleh ibunya kepadanya, ia pun menjawab “Aku akan ke Macedonia.” Sejak saat itu ia memusatkan pikiranya untuk pelayanan padahal pada saat itu ia adalah anak gadis yang kecil yang tidak pernah menyangka bahwa kemauannya menjawab panggilan Allah membuat ia keliling dunia di masa yang akan datang.
Lavina sekolah menengah atas di Pillsbury academy di Owatonna, Minnesota. Setelah lulus ia menjagi guru dan mengajar selama sepuluh tahun di daerah barat daya Minnesota. Tahun 1886 ia mengajukan diri untuk menjadi missionary. Lavina terpilih dan januari tahun 1887 ia pun berlayar ke Ingole, India. Namun sayang, panas terik dan iklim dia India membuat ia demam dan kesehatanya terganggu. Dokter bersikeras mengganjurkan Lavina segera pulang ke Amerika untuk berobat, gadis ini pun kecewa dan pulang ke Amerika. Namun ia tidak segera putus asa, setelah kesehatanya pulih Lavina segera mendaftarkan diri ke Training Institue di Minneapolis untuk mempersiapkan diri agar lebih baik sebelum terjun kembali ke palayanan. Selama waktu itulah ia banyak melakukan penginjilan dan berbicara di gereja-gereja dalam kelompok anak remaja perempuan. Ketika ia menyelesaikan pelatihannya dan kesehatanya benar-benar pulih, ia pun ditunjuk pelayanan ke daerah yang lebih sejuk yaitu Jepang.
Tahun 1890, bersama dengan Nellie Fife dan L. Adele Philips, ia memulai pelayanan di Osaka, Jepang. Lavina perlu waktu 15 bulan untuk menguasai bahasa Jepang. Setelah itu ia ditinggal sendiri dalam pelayananya di Jepang. Ia menerapkan penginjilan dari pintu ke pintu dan membentuk suatu kelompok yang bernama “Wanita Alkitab.” Pada masa itu orang asing dilarang untuk melakukan perjalanan ke tempat lain selain dari kota tempat dimana mereka tinggal. Lavina melakukan strategi penginjilan dengan melakukan penggiriman “Wanita Alkitab” untuk ke luar kota, sehingga banyak wanita Jepang bisa mendengar Injil.
Dari usahanya inilah akhirnya Lavina berhasil mendirikan sekolah bagi wanita-wanita muda. Tanggal 29 Januari 1896, sebuah bangunan baru didirikan dan ketika sekolah ini dimulai hanya terdiri dari 15 murid. Namun waktu berlalu sehingga jumlah murid bertambah dan pengaruh Injil meluas. Pendidikan hanyalah alat bagi Lavina untuk memperluas berita Injil dan memenangkan jiwa. Setelah pelayanan di Osaka mulai berkembang, Lavina pergi ke Sendai untuk memperluas berita Injil.
Tahun 1908, ia kembali ke Osaka, kota kedua terbesar di Jepang. Disana ia mendirikan Womens Bible Training School. Kemudian meneruskan pelayanan disana selama 18 tahun. Wanita-wanita muda yang lulus dari sekolah ini ada yang menjadi guru, penginjil maupun istri gembala. Lavina juga membangun asrama baru bagi para missionary sehingga pelayanan di Osaka semakin berkembang. Karena usaha-usahanya dalam pelayanan membuat ia lelah dan fisiknya mulai lemah, tanggal 27 Mei 1926 ia kembali ke Amerika karena tidak mau menjadi beban di sana.
George Blaurock 1491-1529 AD.
George Blaurock 1491-1529 AD.
Blaurock terlahir dengan nama Georg Cajacob di desa Bonaduz, Swiss sekitar tahun 1491. tahun 1516 ia menjadi seorang imam Katolik di Trins dan dua tahun kemudian mengundurkan diri. Tahun 1524 ia tertarik mempelajari lebih banyak mengenai reformasi Swiss. Blaurock adalah seorang yang pemberani, dialah yang meminta Grebel untuk membaptiskan dia dan setelah itu ia membaptis orang-orang percaya yang lain di Januari 1525.
Setelah ia bergabung dengan sekelompok orang yang berani membela kebenaran firman Tuhan. Blaurock dan rekan-rekannya yang lain berulang kali dipenjarakan dan disiksa. Tercatat tanggal 30 Januari 1525, Blaurock, Felix Manz dan 24 orang percaya lain yang barusan dibaptis di Zollikon dan satu orang yang belum dibaptis ditangkap dan dipenjara di biara Agustinian di Zurich. Tanggal 16 Maret ditahun yang sama ia ditangkap lagi dan diberi peringatan dan didenda lalu dibebaskan. Pada masa itu Zwingly mengumumkan bahwa ia telah mengalakan kelompok anabaptis, dan pemerintah Zurich mendukungnya.
Bulan Juli 1525 Blaurock dan Manz mendapatkan masalah lagi karena berkhotbah dan membaptis orang di Chur. Manz dikirim paksa ke Zurich dan Blaurock berhasil dibebaskan teman-teman mereka. Setelah itu ia berusaha lagi berkhotbah di sebuah desa di Henwil, seperti biasa ia pun ditangkap dan dipenjarakan lagi. Tahun 1527 di bulan Januari rekan sepelayanannya, Manz dibunuh dengan cara ditengelamkan Zwingly. George Blaurock pun mendapatkan hukuman didera tanpa ada proses pengadilan, ia ditelanjangi sebagian dan dipukul punggungnya hingga berdarah-darah di gerbang Niederdorf.
Tanggal 21 April adalah keempat kalinya ia ditangkap dan diasingkan, akhirnya Blaurock memutuskan untuk meninggalkan Swiss dan tidak kembali lagi. Blaurock menuju Austria dan di sana ia bertemu dengan sebuah gereja anabaptis yang telah kehilangan gembalanya, Michael Kurschner yang dihukum mati dengan cara dibakar tanggal 2 Juni 1529. Blaurock diminta jemaat untuk mengembalakan gereja itu. Blaurock pun menyetujuinya dan di dalam masa pengembalaanya banyak jiwa yang bertobat dan dibaptis.
Namun pemerintah Innsbruck tidak tinggal diam,14 Agustus 1529, Blaurock dan Hans Langegger, seorang pianis gereja dibawa ke pengadilan dan disiksa. Pihak pemerintah meminta nama-nama orang anbaptis dan menghitung jumlah mereka. Tiga minggu kemudian, tanggal 6 September 1529, Blaurock dan Langegger diikat di sebuah tiang dan dibakar hidup-hidup di Klausen, Italy.
Alasan ia dihukum mati adalah karena ia telah dianggap penghianat iman Katolik dan meninggalkan jabatan sebagai seorang imam. Di buku “Martir Mirror” tercatat tuduhan-tuduhan gereja Roma Katolik membakar Blaurock, yaitu:
karena ia telah meninggalkan pelayanannya sebagai imam, tidak meneruskan praktek baptisan bayi danberkhotbah tentang cara pembaptisan selam, karena menentang misa kudus dan pengakuan dosa sebagaimana yang ditentukan imam, karena tidak menizinkan orang menyembah bunda Maria, oleh karena semua itu ia dihukum mati dan menjadi seorang pahlawan iman. Diperjalanannya menuju tempat ia dieksekusi, ia dengan tulus menyapa orang-orang dan memberitakan Injil pada mereka.
Warisan yang ia tinggalkan adalah khotbahnya dan dua lagu yang isinya:
aku ingin menyanyikan puji-pujian di hatiku kepada nama-Mu yang kudus dan untuk selamanya mengumandangkan anugerah yang telah kuterima. Aku mohon kepada-Mu, Allahku demi semua anak-anakMu jagalah mereka semua selamanya dari musuh-musuh jiwa mereka. Aku tidak membangun dengan daging karena itu akan berlalu namum aku meletakan keyakinanku pada firman-Mu… akhir perjalanan telah tiba. Pujilah Tuhan! Mampukan kami untuk memikul salib ke tempat tujuan kami dan berikanlah belas kasihanMu agar kami bisa menyerahkan jiwa-jiwa kami ke dalam tangan-Mu.
Sekalipun Blaurock bukan seorang amper yang terkenal, namun ia memberikan kontribusi yang besar di dalam gerakan Anabaptis di masa reformasi. Dialah yang pertama kali meminta Grebel membaptis dia dan bergabung dengan Manz dan Grebel dalam membawa berita Injil kebenaran di antara saudara-saudarnya di daerah Swiss sampai ke desa-desa yang ada. Blaurock berperan besar atas terbentuknya jemaat Anabaptis di Zollikon. Tidak dapat disangkal lagi, komitmennya yang tak tergoyahkan terhadap iman anabaptis dan semangatnya dalam memberitakan Injil kebenaran
Apakah semangat Anda bertambah hari demi hari dalam memberitakan Injil-Nya ? Atau Anda digoyahkan dan dibutakan dengan berbagai kenikmatan hidup di dunia ini sehingga Anda lupa bahwa kedatangan Tuhan Yesus semakin dekat ?
Blaurock terlahir dengan nama Georg Cajacob di desa Bonaduz, Swiss sekitar tahun 1491. tahun 1516 ia menjadi seorang imam Katolik di Trins dan dua tahun kemudian mengundurkan diri. Tahun 1524 ia tertarik mempelajari lebih banyak mengenai reformasi Swiss. Blaurock adalah seorang yang pemberani, dialah yang meminta Grebel untuk membaptiskan dia dan setelah itu ia membaptis orang-orang percaya yang lain di Januari 1525.
Setelah ia bergabung dengan sekelompok orang yang berani membela kebenaran firman Tuhan. Blaurock dan rekan-rekannya yang lain berulang kali dipenjarakan dan disiksa. Tercatat tanggal 30 Januari 1525, Blaurock, Felix Manz dan 24 orang percaya lain yang barusan dibaptis di Zollikon dan satu orang yang belum dibaptis ditangkap dan dipenjara di biara Agustinian di Zurich. Tanggal 16 Maret ditahun yang sama ia ditangkap lagi dan diberi peringatan dan didenda lalu dibebaskan. Pada masa itu Zwingly mengumumkan bahwa ia telah mengalakan kelompok anabaptis, dan pemerintah Zurich mendukungnya.
Bulan Juli 1525 Blaurock dan Manz mendapatkan masalah lagi karena berkhotbah dan membaptis orang di Chur. Manz dikirim paksa ke Zurich dan Blaurock berhasil dibebaskan teman-teman mereka. Setelah itu ia berusaha lagi berkhotbah di sebuah desa di Henwil, seperti biasa ia pun ditangkap dan dipenjarakan lagi. Tahun 1527 di bulan Januari rekan sepelayanannya, Manz dibunuh dengan cara ditengelamkan Zwingly. George Blaurock pun mendapatkan hukuman didera tanpa ada proses pengadilan, ia ditelanjangi sebagian dan dipukul punggungnya hingga berdarah-darah di gerbang Niederdorf.
Tanggal 21 April adalah keempat kalinya ia ditangkap dan diasingkan, akhirnya Blaurock memutuskan untuk meninggalkan Swiss dan tidak kembali lagi. Blaurock menuju Austria dan di sana ia bertemu dengan sebuah gereja anabaptis yang telah kehilangan gembalanya, Michael Kurschner yang dihukum mati dengan cara dibakar tanggal 2 Juni 1529. Blaurock diminta jemaat untuk mengembalakan gereja itu. Blaurock pun menyetujuinya dan di dalam masa pengembalaanya banyak jiwa yang bertobat dan dibaptis.
Namun pemerintah Innsbruck tidak tinggal diam,14 Agustus 1529, Blaurock dan Hans Langegger, seorang pianis gereja dibawa ke pengadilan dan disiksa. Pihak pemerintah meminta nama-nama orang anbaptis dan menghitung jumlah mereka. Tiga minggu kemudian, tanggal 6 September 1529, Blaurock dan Langegger diikat di sebuah tiang dan dibakar hidup-hidup di Klausen, Italy.
Alasan ia dihukum mati adalah karena ia telah dianggap penghianat iman Katolik dan meninggalkan jabatan sebagai seorang imam. Di buku “Martir Mirror” tercatat tuduhan-tuduhan gereja Roma Katolik membakar Blaurock, yaitu:
karena ia telah meninggalkan pelayanannya sebagai imam, tidak meneruskan praktek baptisan bayi danberkhotbah tentang cara pembaptisan selam, karena menentang misa kudus dan pengakuan dosa sebagaimana yang ditentukan imam, karena tidak menizinkan orang menyembah bunda Maria, oleh karena semua itu ia dihukum mati dan menjadi seorang pahlawan iman. Diperjalanannya menuju tempat ia dieksekusi, ia dengan tulus menyapa orang-orang dan memberitakan Injil pada mereka.
Warisan yang ia tinggalkan adalah khotbahnya dan dua lagu yang isinya:
aku ingin menyanyikan puji-pujian di hatiku kepada nama-Mu yang kudus dan untuk selamanya mengumandangkan anugerah yang telah kuterima. Aku mohon kepada-Mu, Allahku demi semua anak-anakMu jagalah mereka semua selamanya dari musuh-musuh jiwa mereka. Aku tidak membangun dengan daging karena itu akan berlalu namum aku meletakan keyakinanku pada firman-Mu… akhir perjalanan telah tiba. Pujilah Tuhan! Mampukan kami untuk memikul salib ke tempat tujuan kami dan berikanlah belas kasihanMu agar kami bisa menyerahkan jiwa-jiwa kami ke dalam tangan-Mu.
Sekalipun Blaurock bukan seorang amper yang terkenal, namun ia memberikan kontribusi yang besar di dalam gerakan Anabaptis di masa reformasi. Dialah yang pertama kali meminta Grebel membaptis dia dan bergabung dengan Manz dan Grebel dalam membawa berita Injil kebenaran di antara saudara-saudarnya di daerah Swiss sampai ke desa-desa yang ada. Blaurock berperan besar atas terbentuknya jemaat Anabaptis di Zollikon. Tidak dapat disangkal lagi, komitmennya yang tak tergoyahkan terhadap iman anabaptis dan semangatnya dalam memberitakan Injil kebenaran
Apakah semangat Anda bertambah hari demi hari dalam memberitakan Injil-Nya ? Atau Anda digoyahkan dan dibutakan dengan berbagai kenikmatan hidup di dunia ini sehingga Anda lupa bahwa kedatangan Tuhan Yesus semakin dekat ?
Subscribe to:
Comments (Atom)

