PERBEDAAN KALVINIS DENGAN NON-KALVINIS
Bagian 1: Jika manusia harus beriman agar selamat, apakah berarti ia punya andil dalam keselamatan?
Oleh Dr. Steven E. Liauw
Ketika mendiskusikan mengenai masalah Kalvinisme, banyak terjadi salah pengertian dan debat kusir, karena tidak mengerti inti perbedaan satu pandangan dengan lainnya. Akibatnya, kedua belah pihak ngotot pada posisinya masing-masing, dan saling menyalahkan, bahkan tanpa benar-benar mengerti apa yang dimaksud oleh pihak lawan. Tentu, ini diperparah ketika suatu istilah dipakai dengan dua pengertian yang berbeda, sehingga diskusi tidak pernah mencapai titik temu. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui, di mana letak perbedaan yang sebenarnya, antara seorang Kalvinis dengan seorang non-Kalvinis. Seri ini akan membahas satu-persatu, perbedaan-perbedaan krusial antara Kalvinis dengan non-Kalvinis. Ada cukup banyak perbedaan, tetapi saya akan fokus kepada satu perbedaan di setiap seri.
Pertama-tama, sebelum membahas perbedaan, kita perlu melihat dulu, tentang persamaan mereka. Kalvinis maupun non-Kalvinis (yang Alkitabiah) percaya Alkitab sebagai Firman Allah dan standar kebenaran. Keduanya percaya bahwa keselamatan didasarkan pada karya pengorbanan Yesus Kristus di atas kayu salib, menggantikan manusia. Keduanya percaya bahwa keselamatan hanyalah karena kasih karunia, tanpa ada jasa atau usaha manusia di dalamnya.
Mungkin di sinilah Kalvinis mulai protes, dan menegaskan bahwa non-Kalvinis sedikit banyak mengandalkan jasa/usaha manusia untuk masuk Surga. Tetapi, itu tidak benar. Semua orang yang Alkitabiah akan mengatakan bahwa keselamatan tidaklah tergantung pada jasa/usaha manusia. Letak perbedaan sebenarnya adalah: KALVINIS MENGANGGAP IMAN PERCAYA SEBAGAI SUATU JASA/USAHA, SEDANGKAN NON-KALVINIS MENGATAKAN BAHWA IMAN PERCAYA BUKANLAH USAHA.
Inilah salah satu poin perbedaan mendasar antara Kalvinis dengan non-Kalvinis. Bagi orang-orang Alkitabiah, keselamatan adalah karena kasih karunia, oleh iman (Ef. 2:8). Artinya, tidak ada suatu apapun dalam diri manusia yang membuat dia pantas diselamatkan. Keselamatan adalah sepenuhnya kasih karunia. Tuhan menyelamatkan manusia bukan karena dia baik (manusia sudah bobrok dalam dosa), bukan karena dia hebat, bukan karena dia memiliki suatu hal yang menarik, bahkan bukan karena dia memiliki iman. Iman bukan dasar dari keselamatan. Kasih karunia adalah dasar dari keselamatan. Allah menyelamatkan manusia, semata-mata karena Ia berbelas kasihan, dan menaruh kasih kepada manusia.
Namun demikian, Alkitab juga tegas mengatakan, bahwa keselamatan itu adalah oleh iman. Artinya, iman adalah syarat dari keselamatan. Tuhan memutuskan untuk memberi keselamatan kepada manusia atas dasar kasih karunia, tetapi Tuhan menuntut syarat, yaitu iman. Harus dibedakan apa itu DASAR dan apa itu SYARAT.
ILUSTRASI: Ada seorang yang kaya dan baik hati, tinggal di rumahnya yang megah. Dia lalu melihat bahwa ada sejumlah anak-anak gelandangan yang tidak memiliki rumah, setiap hari tidur di bawah jembatan tidak jauh dari rumahnya. Ia lalu berbelas kasihan kepada mereka dan memutuskan untuk memberikan tempat tinggal yang layak kepada mereka. Ia memanggil mereka, lalu berkata: barangsiapa yang mencuci mobil saya, akan saya berikan tempat tinggal yang layak. Nah, di sini kita melihat, bahwa bagi seorang gelandangan yang mendapat rumah, DASAR kebahagiaannya adalah belas kasihan dari si orang kaya. Tetapi, SYARATnya adalah mencuci mobilnya. Mencuci mobil bukanlah alasan mengapa orang kaya itu mau memberikan rumah kepada anak gelandangan. Toh, mencuci mobil tidak sebanding dengan harga rumah yang akan dia berikan. Orang kaya itu sudah memiliki ALASAN/DASAR untuk memberi rumah, barulah ia mengajukan SYARAT bagi para gelandangan. ALASANnya adalah belas kasihannya, SYARAT yang dia ajukan adalah “mencuci mobilnya.” Jadi, DASAR berbeda dengan SYARAT.
Nah, kembali ke realita, Allah menyelamatkan manusia dengan DASAR kasih karuniaNya (ini adalah alasan Allah), dengan syarat manusia itu harus beriman/percaya. Efesus 2:8 menyatakan hal ini: “Sebab KARENA (alasan) kasih karunia kamu diselamatkan OLEH (syarat/cara) iman…”
Mungkin ada yang berkata: “Nah, bukankah seperti dalam ilustrasi tadi, jika ada SYARAT mencuci mobil, maka berarti perlu andil/usaha untuk mendapatkan kasih karunia itu.” Benar! Kalau syaratnya adalah “mencuci mobil,” maka ada usaha manusia. Bahkan, syarat apapun yang diajukan, mengimplikasikan adanya usaha manusia, kecuali satu syarat: percaya/beriman atau menerima.(1)
Tetapi, disinilah letak perbedaan Kalvinis dan non-Kalvinis. Kalvinis bersikukuh, bahwa jika manusia diharuskan untuk menerima kasih karunia agar selamat, maka artinya manusia memiliki andil dalam keselamatan. Manusia lalu bisa menyombongkan diri, bahwa adalah karena jasa-jasanya ia selamat. Oleh karena itu, DALAM THEOLOGI KALVINIS, IMAN BUKAN SYARAT KESELAMATAN, IMAN ADALAH HASIL DARI KESELAMATAN! Menurut Kalvinis, manusia tidak menerima kasih karunia, barulah ia lahir baru, justru ia bisa menerima/percaya karena ia sudah dilahirbarukan. Sebagai contoh, Piper mengatakan: “Kami tidak berpikir bahwa iman mendahului…..kelahiran kembali. Iman adalah bukti Allah telah melahirkan kita secara baru.”(2) MacArthur menegaskan bahwa “Regenerasi secara logis harus memulai iman.” (3) Sproul menambahkan: “Regenerasi (kelahiran kembali) bukanlah buah atau hasil dari iman. Sebaliknya, regenerasi mendahului iman, sebagai suatu syarat bagi iman.” (4)
Jadi, urutan Kalvinis terbalik dibandingkan dengan urutan Alkitab. Kalvinis mengatakan: lahir baru dulu (selamat) barulah beriman/menerima. Sedangkan Alkitab mengatakan: “Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya” (Yoh. 1:12). Jadi, menurut Alkitab, menerima dulu (percaya dulu), barulah menjadi anak Allah (dilahirbarukan). Menurut Kalvinis, lahir baru adalah syarat iman. Menurut Alkitab, iman adalah syarat lahir baru. Efesus 2:8 sudah membuktikan hal ini. Ayat-ayat lain mengukuhkan hal ini: Kisah Rasul 3:19 (bertobat dulu baru dosa dihapus), Kisah Rasul 16:31 (percaya dulu, baru dosa dihapus/selamat).(5)
Tetapi kita harus kembali kepada: mengapakah Kalvinis membuat urutan yang sedemikan aneh? Dari mana mereka mendapat ide bahwa manusia lahir baru dulu, barulah beriman? Ini semua berakar dari dua konsep mereka yang salah, yaitu:
1. Bahwa manusia tidak bisa beriman/percaya tanpa lahir baru (Poin ini akan secara mendalam dibahas di seri lain).
2. Bahwa jika manusia harus beriman/menerima kasih karunia untuk keselamatannya, maka itu sama dengan keselamatan karena usaha. Poin nomor dua ini yang menjadi pokok pembahasan kita di artikel ini.
Seorang Kalvinis yang pernah berdiskusi dengan saya menyatakannya seperti demikian: “Jika saya dapat memilih untuk menerima atau menolak kasih karunia Allah, maka ketika saya masuk Surga, saya dapat menyombongkan diri, bahwa saya telah memilih untuk menerima.” Untuk memperkuat pandangannya, Kalvinis menyerang orang-orang Alkitabiah. Kalvinis berkata bahwa jika harus percaya dulu, baru selamat, maka berarti manusia menyelamatkan dirinya sendiri. Tetapi benarkah konsep ini? Sepertinya hanya Kalvinis yang berpikir demikian. Coba kita lihat dalam skenario hidup.
Ilustrasi: Ada seorang yang sangat miskin sekali. Dia tidak memiliki apa-apa, bahkan makan pun sulit. Tambahan lagi, dia tidak memiliki keterampilan apapun yang dapat dibanggakan. Suatu hari, seorang yang sangat kaya, memutuskan untuk memberikan kepada si miskin ini, suatu harta yang besar jumlahnya. Si miskin tidak perlu melakukan apapun, selain dari menerima hadiah itu. Hadiah itu gratis! Jika si miskin menerima harta tersebut, dapatkah ia berbangga, bahwa dia kini kaya karena usahanya? Dapatkah ia menyombongkan diri kepada teman-temannya bahwa ia berjasa atas kekayaan yang kini ia nikmati? Bisakah dia berdalih: “Saya hebat, karena saya memilih untuk menerima?” Dapatkah dia berkata bahwa karena dia menerima hadiah itu, dia sendirilah yang telah membuat dirinya kaya? Teman-temannya yang berpikiran waras tentu akan berseru: “Tinggal menerima saja, itu sih bukan hebat! Itu terima bersih namanya!” Tidak seorangpun yang belum terkontaminasi Kalvinisme, akan berpikir bahwa si miskin ini memiliki jasa dalam hal itu. Juga tidak ada yang akan berkata bahwa ia menjadi kaya karena usahanya. Semua akan mengatakan bahwa dia menjadi kaya karena kasih karunia dari sang orang kaya!
Demikian juga, tidak ada satu orangpun yang waras, yang belum terkontaminasi oleh Kalvinisme, akan mengatakan bahwa tindakan percaya/beriman merupakan jasa manusia dalam keselamatan. IMAN BUKANLAH USAHA/JASA! Tetapi Kalvinisme, secara sistematis menuduh bahwa kita yang mengajarkan “iman” sebagai syarat keselamatan, adalah orang-orang yang mengandalkan “usaha sendiri” atau “kehebatan sendiri” untuk masuk Surga. Tidak demikian bung! Secara logis, jika seseorang memberikan hadiah, memang harus diterima, dan tindakan menerima itu bukanlah suatu usaha atau jasa pihak penerima. Kalau ada orang-orang yang menolak hadiah tersebut, bukan berarti ada kehebatan di pihak orang-orang yang menerima, melainkan adanya kebodohan di pihak orang-orang yang menolak.
Jadi kita lihat, bahwa theologi Kalvinis, yang menyamakan iman dengan usaha, tidak sesuai dengan logika. Tetapi, logika bukanlah standar tertinggi kita. Lebih parah lagi, theologi Kalvinis ini menyalahi Alkitab. Alkitab dengan tegas menyatakan bahwa iman berbeda dengan usaha. Salah satu perikop yang jelas sekali dalam hal ini adalah Roma 4:1-6.
“Jadi apakah akan kita katakan tentang Abraham, bapa leluhur jasmani kita? Sebab jikalau Abraham dibenarkan karena perbuatannya, maka ia beroleh dasar untuk bermegah, tetapi tidak di hadapan Allah. Sebab apakah dikatakan nas Kitab Suci? “Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” Kalau ada orang yang bekerja, upahnya tidak diperhitungkan sebagai hadiah, tetapi sebagai haknya. Tetapi kalau ada orang yang tidak bekerja, namun percaya kepada Dia yang membenarkan orang durhaka, imannya diperhitungkan menjadi kebenaran. Seperti juga Daud menyebut berbahagia orang yang dibenarkan Allah bukan berdasarkan perbuatannya:” (Roma 4:1-6)
Dari ayat-ayat di atas, jelas sekali bahwa Alkitab membedakan antara PEKERJAAN atau USAHA dengan IMAN! Iman bukanlah usaha! Alkitab tegas dalam hal ini! Jadi, jika kita mengatakan bahwa “anda perlu percaya Yesus untuk lahir baru,” itu tidaklah mengajarkan keselamatan berdasarkan usaha/jasa sendiri.
Siapapun yang membaca Alkitab tanpa pernah dipengaruhi oleh Kalvinisme sebelumnya, tidak akan berkesimpulan bahwa “lahir baru” mendahului “iman.” TIDAK ADA SATU AYAT PUN YANG MENGAJARKAN LAHIR BARU DULU BARU BERIMAN. Sebaliknya, untuk mempertahankan theologi mereka, Kalvinis membuat berbagai skema yang rumit. Untuk mengakomodasi Roma 4:1-6, sebagian Kalvinis menyatakan bahwa pembenaran adalah setelah percaya, tetapi lahir baru adalah sebelum percaya.
Jadi, urutan keselamatan Kalvinis:
1. Dilahirbarukan secara pasif oleh Tuhan (Regenerasi)
2. Menjadi percaya atau beriman atau menerima
3. Dibenarkan (Justification)
Urutan demikian sungguh tidak masuk akal, karena memisahkan regenerasi dengan pembenaran. Dalam skema Kalvinis, “iman” hanyalah formalitas belaka. “Iman” hanyalah suatu buah dari keselamatan itu sendiri, sama seperti pekerjaan baik adalah buah dari keselamatan. Kalau Kalvinis benar, maka “iman” bukanlah syarat atau alasan pembenaran, karena iman itu sendiri adalah efek dari kelahiran kembali.
Artinya, secara logis Kalvinis mengajarkan:
1. Orang lahir baru dulu, baru beriman
2. Orang menjadi anak Allah dulu (lahir ke dalam keluarga Allah), baru beriman
3. Orang memiliki hidup dulu (lahir baru), baru beriman
Sebaliknya, banyak sekali ayat-ayat Alkitab yang bertentangan dengan urutan tersebut:
1. Yoh. 6:47 berkata “barangsiapa percaya, ia mempunyai hidup yang kekal” BUKAN “barangsiapa memiliki hidup menjadi percaya.”
2. Yoh. 1:12 berkata menyatakan bahwa yang menerima Yesus menjadi anak-anak Allah, BUKAN bahwa anak-anak Allah menjadi menerima Yesus.
3. Kis. 16:31 menyatakan bahwa percaya kepada Tuhan Yesus Kristus akan membawa selamat, BUKAN selamat dulu lalu akan menjadi percaya.
4. Yoh. 20:31 menyatakan “oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya,” BUKAN memperoleh hidup agar bisa beriman. Ayat ini juga menegaskan iman sebagai SYARAT keselamatan.
5. Roma 10:13-14, percaya dulu, kemudian bisa berseru kepada Tuhan (dalam iman), lalu diselamatkan. BUKAN lahir baru dulu baru percaya.
6. 1 Kor. 4:15, orang-orang Korintus lahir baru, melalui percaya INJIL yang diberitakan Paulus. BUKAN lahir baru lalu menjadi percaya INJIL.
Dengan demikian, dapat diambil kesimpulan, bahwa:
1. Kalvinis menganggap bahwa jika iman dijadikan syarat keselamatan, itu sama saja dengan menyelamatkan diri sendiri. Iman dianggap sebagai suatu jasa atau usaha dari pihak manusia.
2. Kalvinis menganggap bahwa orang lahir baru dulu, barulah ia menjadi percaya. Iman adalah buah dari keselamatan/regenerasi.
3. Alkitab menyatakan bahwa iman adalah syarat keselamatan, kasih karunia adalah dasar keselamatan.
4. Alkitab menyatakan bahwa keselamatan oleh iman, bukanlah keselamatan oleh usaha manusia. Iman berbeda dengan usaha. Iman tidak dapat dianggap sebagai suatu jasa.
5. Alkitab menegaskan bahwa iman mendahului keselamatan, mendahului kelahiran kembali, mendahului hidup kekal, mendahului pembenaran, mendahului adopsi menjadi anak Allah.
Endnotes
(1) Saya jadikan ketiganya satu, karena memang ketiganya merujuk kepada hal yang sama. Dalam Alkitab, beriman sama dengan percaya. Keduanya adalah syarat keselamatan. Dalam Yoh. 1:12, menerima Yesus juga adalah syarat keselamatan. Artinya, beriman dan percaya pada Yesus sama dengan menerima Yesus. Dengan kata lain, iman adalah sarana untuk menerima Yesus. Kita menerima Yesus dengan cara beriman kepadaNya. Istilah “bertobat” juga satu paket dengan beriman atau menerima Yesus.
(2) John MacArthur, Faith Works (Dallas, Texas: Word Publishing, 1993), 62.
(3) John MacArthur, The Gospel According to Jesus (Grand Rapids, Michigan: Zondervan Publishing House, 1988), 172-173.
(4) R.C. Sproul, Chosen by God (Wheaton, Illinois: Tyndale Publishing House, 1986), 13.
(5) Kalvinis sering mencoba untuk menjelaskan kesulitan mereka demikian: bahwa orang lahir baru dulu, baru beriman, baru dibenarkan (diselamatkan). Tetapi ini adalah usaha menjaring angin. Adakah orang yang lahir baru, tetapi tidak selamat? Proses kelahiran kembali sudah merupakan proses keselamatan. Jadi, tetap saja menurut Kalvinis: selamat dulu, barulah beriman.
From: http://graphe-ministry.org/
Tuesday, 17 March 2009
Thursday, 5 March 2009
Seorang Imam Yahudi Yang Bertobat.
Seorang Imam Yahudi Yang Bertobat.
Joseph Samuel Christian Frederick dilahirkan di Jerman oleh orang tua Yahudi di tahun 1771. Sebagaimana taat istiadat Yahudi, ia disunat pada hari kedelapan dan menerima nama Joseph Samuel. Ia di didik secara pribadi oleh seorang guru yang mengajarkan Hukum Taurat kepadanya. Ia sangat cepat menyerap pelajaran sehingga pada umur 16 tahun ia telah mampu membaca Pentateuch dalam bahasa Yunani. Ia meneruskan pendidikanya di kantor seorang rabbi dan akhirnya ia menjadi pemimpin Sinagoge pada usianya yang baru 21 tahun.
Karena tidak puas dengan kehidupanya di rumah, dia pun melakukan perjalanan ke berbagai tempat di Jerman. Sekalipun ia diajar untuk membenci kekristenan, ia akhirnya menjadi akrab dengan seorang Kristen. Orang Kristen inilah yang menanamkan konsep-konsep kekristenan di dalam benak Joseph. Ia pun menetap di Weimar dan kerja menjadi pembuat sepatu selama 3 tahun. Di masa inilah ia banyak membaca Perjanjian Baru dan kitab Yahudi. Setelah semuanya ia baca akhirnya ia menarik kesimpulan bahwa Yesus kristus adalah Masias dan ia pun dibaptis menjadi seorang Protestan.
Ia tertarik dengan kelompok Moravia dan menghadiri pertemuan mereka. Suatu hari ketika pulang dari pertemuan Moravia, salah satu temanya menanyakan apakah ia mau menjadi seorang missionary. Joseph pun menjawab mau dan bersedia menjadi missionary. Di Februari 1800, ia masuk ke seminary Saxony yaitu suatu tempat pelatihan bagi orang muda yang menjadi misionari.
Setelah menyelesaikan pendidikanya ia pun diutus untuk pergi ke London Missionary Society. Di sini ia dilatih untuk pergi ke Afrika. Ketika ia menantikan waktu keberangkatanya, ia mengunjungi saudara-saudara yahudinya di Sinagoge-sinagoge, dengan maksud untuk menjelaskan kekristenan epada mereka. London Missionary Society mengetahui hal ini dan mengizinkanya untuk melayani orang-orang Yahudi. Sekalipun ia memberitakan Injil pada banyak orang Yahudi namun tidak banyak yang bertobat.
Tanggal 23 Juli ia meninggalkan keluarganya di New York. Bekerjasama dengan rekan-rekanya ia mendirikan sebuah gereja dan ia ditahbiskan menjadi gembala di sana. Tahun 1825 ia mulai ragu-ragu mengenai cara pemaptisan dan orang yang menerima baptisan. setelah bergumul sekitar 2 tahun, ia menemukan bahwa sebenarnya baptisan yang benar adalah diselam dan bayi tidak memenuhi syarat menerima baptisan. tanggal 28 Agustus 1827, ia dibaptis selam oleh Rev. Maclay di New York dan sejak saat itu ia telah menjdai seorang Baptist.
Selama 43 tahun terakhir dimana masa hidupnya, Joseph melakukan perjalanan tahunan selama 4 hingga 6 bulan dan berkhotbah setiap tahun seabnyak 300 kali. Ia juga menulis buku mengenai pertobatan orang-orang Yahudi, mengenai baptisan dan paskah, termasuk Alkitab Yahudi Vander Hougt’s. Kumpulan surat-suratnya dinamakan Joseph & Benyamin yang isinya mengenai kontroversi antara Yahudi dan Kristen.
Ia menulis, “ Aku telah mengirimkan surat-surat ini untuk Benyamin, saudaraku yang mewakili saudara Yahudiku. Sekarang aku telah menjadi tua dan berjanggut putih dan tidak bisa mengharap memiliki waktu yang banyak untuk melayani Tuhan. Saya telah menyiapkan surat-surat untuk orang-orang dengan segala daya upayaku dan sekarang dengan rendah hati saya serahkan kepada orang-orang, supaya setelah saya mati dan kembali ke Bapa-ku yaitu Abraham, Ishak dan Yakub di kerajaan Surga, maka lewat surat-suratku berita Injil Yesus Kristus dapat diberitakan. Yesus Kristus adalah Mesias yang disalibkan penebus dan Juruslamat orang percaya.”
Joseph Samuel Christian Frederick dilahirkan di Jerman oleh orang tua Yahudi di tahun 1771. Sebagaimana taat istiadat Yahudi, ia disunat pada hari kedelapan dan menerima nama Joseph Samuel. Ia di didik secara pribadi oleh seorang guru yang mengajarkan Hukum Taurat kepadanya. Ia sangat cepat menyerap pelajaran sehingga pada umur 16 tahun ia telah mampu membaca Pentateuch dalam bahasa Yunani. Ia meneruskan pendidikanya di kantor seorang rabbi dan akhirnya ia menjadi pemimpin Sinagoge pada usianya yang baru 21 tahun.
Karena tidak puas dengan kehidupanya di rumah, dia pun melakukan perjalanan ke berbagai tempat di Jerman. Sekalipun ia diajar untuk membenci kekristenan, ia akhirnya menjadi akrab dengan seorang Kristen. Orang Kristen inilah yang menanamkan konsep-konsep kekristenan di dalam benak Joseph. Ia pun menetap di Weimar dan kerja menjadi pembuat sepatu selama 3 tahun. Di masa inilah ia banyak membaca Perjanjian Baru dan kitab Yahudi. Setelah semuanya ia baca akhirnya ia menarik kesimpulan bahwa Yesus kristus adalah Masias dan ia pun dibaptis menjadi seorang Protestan.
Ia tertarik dengan kelompok Moravia dan menghadiri pertemuan mereka. Suatu hari ketika pulang dari pertemuan Moravia, salah satu temanya menanyakan apakah ia mau menjadi seorang missionary. Joseph pun menjawab mau dan bersedia menjadi missionary. Di Februari 1800, ia masuk ke seminary Saxony yaitu suatu tempat pelatihan bagi orang muda yang menjadi misionari.
Setelah menyelesaikan pendidikanya ia pun diutus untuk pergi ke London Missionary Society. Di sini ia dilatih untuk pergi ke Afrika. Ketika ia menantikan waktu keberangkatanya, ia mengunjungi saudara-saudara yahudinya di Sinagoge-sinagoge, dengan maksud untuk menjelaskan kekristenan epada mereka. London Missionary Society mengetahui hal ini dan mengizinkanya untuk melayani orang-orang Yahudi. Sekalipun ia memberitakan Injil pada banyak orang Yahudi namun tidak banyak yang bertobat.
Tanggal 23 Juli ia meninggalkan keluarganya di New York. Bekerjasama dengan rekan-rekanya ia mendirikan sebuah gereja dan ia ditahbiskan menjadi gembala di sana. Tahun 1825 ia mulai ragu-ragu mengenai cara pemaptisan dan orang yang menerima baptisan. setelah bergumul sekitar 2 tahun, ia menemukan bahwa sebenarnya baptisan yang benar adalah diselam dan bayi tidak memenuhi syarat menerima baptisan. tanggal 28 Agustus 1827, ia dibaptis selam oleh Rev. Maclay di New York dan sejak saat itu ia telah menjdai seorang Baptist.
Selama 43 tahun terakhir dimana masa hidupnya, Joseph melakukan perjalanan tahunan selama 4 hingga 6 bulan dan berkhotbah setiap tahun seabnyak 300 kali. Ia juga menulis buku mengenai pertobatan orang-orang Yahudi, mengenai baptisan dan paskah, termasuk Alkitab Yahudi Vander Hougt’s. Kumpulan surat-suratnya dinamakan Joseph & Benyamin yang isinya mengenai kontroversi antara Yahudi dan Kristen.
Ia menulis, “ Aku telah mengirimkan surat-surat ini untuk Benyamin, saudaraku yang mewakili saudara Yahudiku. Sekarang aku telah menjadi tua dan berjanggut putih dan tidak bisa mengharap memiliki waktu yang banyak untuk melayani Tuhan. Saya telah menyiapkan surat-surat untuk orang-orang dengan segala daya upayaku dan sekarang dengan rendah hati saya serahkan kepada orang-orang, supaya setelah saya mati dan kembali ke Bapa-ku yaitu Abraham, Ishak dan Yakub di kerajaan Surga, maka lewat surat-suratku berita Injil Yesus Kristus dapat diberitakan. Yesus Kristus adalah Mesias yang disalibkan penebus dan Juruslamat orang percaya.”
Wanita Baptist Yang Menjawab Panggilan Allah
Wanita Baptist Yang Menjawab Panggilan Allah
Pahlawan iman kita kali ini adalah Lavina Mead, ia dilahirkan di New Lisbon, Wisconsin tanggal 26 April 1859. Sepuluh tahun kemudian ia mendengar jemaat Baptis menyanyikan sebuah lagu, “tangisan dari Macedonia” ia lalu bertanya kepada ibunya apa arti lagu itu. Ketika pesan lagu itu dijelaskan oleh ibunya kepadanya, ia pun menjawab “Aku akan ke Macedonia.” Sejak saat itu ia memusatkan pikiranya untuk pelayanan padahal pada saat itu ia adalah anak gadis yang kecil yang tidak pernah menyangka bahwa kemauannya menjawab panggilan Allah membuat ia keliling dunia di masa yang akan datang.
Lavina sekolah menengah atas di Pillsbury academy di Owatonna, Minnesota. Setelah lulus ia menjagi guru dan mengajar selama sepuluh tahun di daerah barat daya Minnesota. Tahun 1886 ia mengajukan diri untuk menjadi missionary. Lavina terpilih dan januari tahun 1887 ia pun berlayar ke Ingole, India. Namun sayang, panas terik dan iklim dia India membuat ia demam dan kesehatanya terganggu. Dokter bersikeras mengganjurkan Lavina segera pulang ke Amerika untuk berobat, gadis ini pun kecewa dan pulang ke Amerika. Namun ia tidak segera putus asa, setelah kesehatanya pulih Lavina segera mendaftarkan diri ke Training Institue di Minneapolis untuk mempersiapkan diri agar lebih baik sebelum terjun kembali ke palayanan. Selama waktu itulah ia banyak melakukan penginjilan dan berbicara di gereja-gereja dalam kelompok anak remaja perempuan. Ketika ia menyelesaikan pelatihannya dan kesehatanya benar-benar pulih, ia pun ditunjuk pelayanan ke daerah yang lebih sejuk yaitu Jepang.
Tahun 1890, bersama dengan Nellie Fife dan L. Adele Philips, ia memulai pelayanan di Osaka, Jepang. Lavina perlu waktu 15 bulan untuk menguasai bahasa Jepang. Setelah itu ia ditinggal sendiri dalam pelayananya di Jepang. Ia menerapkan penginjilan dari pintu ke pintu dan membentuk suatu kelompok yang bernama “Wanita Alkitab.” Pada masa itu orang asing dilarang untuk melakukan perjalanan ke tempat lain selain dari kota tempat dimana mereka tinggal. Lavina melakukan strategi penginjilan dengan melakukan penggiriman “Wanita Alkitab” untuk ke luar kota, sehingga banyak wanita Jepang bisa mendengar Injil.
Dari usahanya inilah akhirnya Lavina berhasil mendirikan sekolah bagi wanita-wanita muda. Tanggal 29 Januari 1896, sebuah bangunan baru didirikan dan ketika sekolah ini dimulai hanya terdiri dari 15 murid. Namun waktu berlalu sehingga jumlah murid bertambah dan pengaruh Injil meluas. Pendidikan hanyalah alat bagi Lavina untuk memperluas berita Injil dan memenangkan jiwa. Setelah pelayanan di Osaka mulai berkembang, Lavina pergi ke Sendai untuk memperluas berita Injil.
Tahun 1908, ia kembali ke Osaka, kota kedua terbesar di Jepang. Disana ia mendirikan Womens Bible Training School. Kemudian meneruskan pelayanan disana selama 18 tahun. Wanita-wanita muda yang lulus dari sekolah ini ada yang menjadi guru, penginjil maupun istri gembala. Lavina juga membangun asrama baru bagi para missionary sehingga pelayanan di Osaka semakin berkembang. Karena usaha-usahanya dalam pelayanan membuat ia lelah dan fisiknya mulai lemah, tanggal 27 Mei 1926 ia kembali ke Amerika karena tidak mau menjadi beban di sana.
Pahlawan iman kita kali ini adalah Lavina Mead, ia dilahirkan di New Lisbon, Wisconsin tanggal 26 April 1859. Sepuluh tahun kemudian ia mendengar jemaat Baptis menyanyikan sebuah lagu, “tangisan dari Macedonia” ia lalu bertanya kepada ibunya apa arti lagu itu. Ketika pesan lagu itu dijelaskan oleh ibunya kepadanya, ia pun menjawab “Aku akan ke Macedonia.” Sejak saat itu ia memusatkan pikiranya untuk pelayanan padahal pada saat itu ia adalah anak gadis yang kecil yang tidak pernah menyangka bahwa kemauannya menjawab panggilan Allah membuat ia keliling dunia di masa yang akan datang.
Lavina sekolah menengah atas di Pillsbury academy di Owatonna, Minnesota. Setelah lulus ia menjagi guru dan mengajar selama sepuluh tahun di daerah barat daya Minnesota. Tahun 1886 ia mengajukan diri untuk menjadi missionary. Lavina terpilih dan januari tahun 1887 ia pun berlayar ke Ingole, India. Namun sayang, panas terik dan iklim dia India membuat ia demam dan kesehatanya terganggu. Dokter bersikeras mengganjurkan Lavina segera pulang ke Amerika untuk berobat, gadis ini pun kecewa dan pulang ke Amerika. Namun ia tidak segera putus asa, setelah kesehatanya pulih Lavina segera mendaftarkan diri ke Training Institue di Minneapolis untuk mempersiapkan diri agar lebih baik sebelum terjun kembali ke palayanan. Selama waktu itulah ia banyak melakukan penginjilan dan berbicara di gereja-gereja dalam kelompok anak remaja perempuan. Ketika ia menyelesaikan pelatihannya dan kesehatanya benar-benar pulih, ia pun ditunjuk pelayanan ke daerah yang lebih sejuk yaitu Jepang.
Tahun 1890, bersama dengan Nellie Fife dan L. Adele Philips, ia memulai pelayanan di Osaka, Jepang. Lavina perlu waktu 15 bulan untuk menguasai bahasa Jepang. Setelah itu ia ditinggal sendiri dalam pelayananya di Jepang. Ia menerapkan penginjilan dari pintu ke pintu dan membentuk suatu kelompok yang bernama “Wanita Alkitab.” Pada masa itu orang asing dilarang untuk melakukan perjalanan ke tempat lain selain dari kota tempat dimana mereka tinggal. Lavina melakukan strategi penginjilan dengan melakukan penggiriman “Wanita Alkitab” untuk ke luar kota, sehingga banyak wanita Jepang bisa mendengar Injil.
Dari usahanya inilah akhirnya Lavina berhasil mendirikan sekolah bagi wanita-wanita muda. Tanggal 29 Januari 1896, sebuah bangunan baru didirikan dan ketika sekolah ini dimulai hanya terdiri dari 15 murid. Namun waktu berlalu sehingga jumlah murid bertambah dan pengaruh Injil meluas. Pendidikan hanyalah alat bagi Lavina untuk memperluas berita Injil dan memenangkan jiwa. Setelah pelayanan di Osaka mulai berkembang, Lavina pergi ke Sendai untuk memperluas berita Injil.
Tahun 1908, ia kembali ke Osaka, kota kedua terbesar di Jepang. Disana ia mendirikan Womens Bible Training School. Kemudian meneruskan pelayanan disana selama 18 tahun. Wanita-wanita muda yang lulus dari sekolah ini ada yang menjadi guru, penginjil maupun istri gembala. Lavina juga membangun asrama baru bagi para missionary sehingga pelayanan di Osaka semakin berkembang. Karena usaha-usahanya dalam pelayanan membuat ia lelah dan fisiknya mulai lemah, tanggal 27 Mei 1926 ia kembali ke Amerika karena tidak mau menjadi beban di sana.
George Blaurock 1491-1529 AD.
George Blaurock 1491-1529 AD.
Blaurock terlahir dengan nama Georg Cajacob di desa Bonaduz, Swiss sekitar tahun 1491. tahun 1516 ia menjadi seorang imam Katolik di Trins dan dua tahun kemudian mengundurkan diri. Tahun 1524 ia tertarik mempelajari lebih banyak mengenai reformasi Swiss. Blaurock adalah seorang yang pemberani, dialah yang meminta Grebel untuk membaptiskan dia dan setelah itu ia membaptis orang-orang percaya yang lain di Januari 1525.
Setelah ia bergabung dengan sekelompok orang yang berani membela kebenaran firman Tuhan. Blaurock dan rekan-rekannya yang lain berulang kali dipenjarakan dan disiksa. Tercatat tanggal 30 Januari 1525, Blaurock, Felix Manz dan 24 orang percaya lain yang barusan dibaptis di Zollikon dan satu orang yang belum dibaptis ditangkap dan dipenjara di biara Agustinian di Zurich. Tanggal 16 Maret ditahun yang sama ia ditangkap lagi dan diberi peringatan dan didenda lalu dibebaskan. Pada masa itu Zwingly mengumumkan bahwa ia telah mengalakan kelompok anabaptis, dan pemerintah Zurich mendukungnya.
Bulan Juli 1525 Blaurock dan Manz mendapatkan masalah lagi karena berkhotbah dan membaptis orang di Chur. Manz dikirim paksa ke Zurich dan Blaurock berhasil dibebaskan teman-teman mereka. Setelah itu ia berusaha lagi berkhotbah di sebuah desa di Henwil, seperti biasa ia pun ditangkap dan dipenjarakan lagi. Tahun 1527 di bulan Januari rekan sepelayanannya, Manz dibunuh dengan cara ditengelamkan Zwingly. George Blaurock pun mendapatkan hukuman didera tanpa ada proses pengadilan, ia ditelanjangi sebagian dan dipukul punggungnya hingga berdarah-darah di gerbang Niederdorf.
Tanggal 21 April adalah keempat kalinya ia ditangkap dan diasingkan, akhirnya Blaurock memutuskan untuk meninggalkan Swiss dan tidak kembali lagi. Blaurock menuju Austria dan di sana ia bertemu dengan sebuah gereja anabaptis yang telah kehilangan gembalanya, Michael Kurschner yang dihukum mati dengan cara dibakar tanggal 2 Juni 1529. Blaurock diminta jemaat untuk mengembalakan gereja itu. Blaurock pun menyetujuinya dan di dalam masa pengembalaanya banyak jiwa yang bertobat dan dibaptis.
Namun pemerintah Innsbruck tidak tinggal diam,14 Agustus 1529, Blaurock dan Hans Langegger, seorang pianis gereja dibawa ke pengadilan dan disiksa. Pihak pemerintah meminta nama-nama orang anbaptis dan menghitung jumlah mereka. Tiga minggu kemudian, tanggal 6 September 1529, Blaurock dan Langegger diikat di sebuah tiang dan dibakar hidup-hidup di Klausen, Italy.
Alasan ia dihukum mati adalah karena ia telah dianggap penghianat iman Katolik dan meninggalkan jabatan sebagai seorang imam. Di buku “Martir Mirror” tercatat tuduhan-tuduhan gereja Roma Katolik membakar Blaurock, yaitu:
karena ia telah meninggalkan pelayanannya sebagai imam, tidak meneruskan praktek baptisan bayi danberkhotbah tentang cara pembaptisan selam, karena menentang misa kudus dan pengakuan dosa sebagaimana yang ditentukan imam, karena tidak menizinkan orang menyembah bunda Maria, oleh karena semua itu ia dihukum mati dan menjadi seorang pahlawan iman. Diperjalanannya menuju tempat ia dieksekusi, ia dengan tulus menyapa orang-orang dan memberitakan Injil pada mereka.
Warisan yang ia tinggalkan adalah khotbahnya dan dua lagu yang isinya:
aku ingin menyanyikan puji-pujian di hatiku kepada nama-Mu yang kudus dan untuk selamanya mengumandangkan anugerah yang telah kuterima. Aku mohon kepada-Mu, Allahku demi semua anak-anakMu jagalah mereka semua selamanya dari musuh-musuh jiwa mereka. Aku tidak membangun dengan daging karena itu akan berlalu namum aku meletakan keyakinanku pada firman-Mu… akhir perjalanan telah tiba. Pujilah Tuhan! Mampukan kami untuk memikul salib ke tempat tujuan kami dan berikanlah belas kasihanMu agar kami bisa menyerahkan jiwa-jiwa kami ke dalam tangan-Mu.
Sekalipun Blaurock bukan seorang amper yang terkenal, namun ia memberikan kontribusi yang besar di dalam gerakan Anabaptis di masa reformasi. Dialah yang pertama kali meminta Grebel membaptis dia dan bergabung dengan Manz dan Grebel dalam membawa berita Injil kebenaran di antara saudara-saudarnya di daerah Swiss sampai ke desa-desa yang ada. Blaurock berperan besar atas terbentuknya jemaat Anabaptis di Zollikon. Tidak dapat disangkal lagi, komitmennya yang tak tergoyahkan terhadap iman anabaptis dan semangatnya dalam memberitakan Injil kebenaran
Apakah semangat Anda bertambah hari demi hari dalam memberitakan Injil-Nya ? Atau Anda digoyahkan dan dibutakan dengan berbagai kenikmatan hidup di dunia ini sehingga Anda lupa bahwa kedatangan Tuhan Yesus semakin dekat ?
Blaurock terlahir dengan nama Georg Cajacob di desa Bonaduz, Swiss sekitar tahun 1491. tahun 1516 ia menjadi seorang imam Katolik di Trins dan dua tahun kemudian mengundurkan diri. Tahun 1524 ia tertarik mempelajari lebih banyak mengenai reformasi Swiss. Blaurock adalah seorang yang pemberani, dialah yang meminta Grebel untuk membaptiskan dia dan setelah itu ia membaptis orang-orang percaya yang lain di Januari 1525.
Setelah ia bergabung dengan sekelompok orang yang berani membela kebenaran firman Tuhan. Blaurock dan rekan-rekannya yang lain berulang kali dipenjarakan dan disiksa. Tercatat tanggal 30 Januari 1525, Blaurock, Felix Manz dan 24 orang percaya lain yang barusan dibaptis di Zollikon dan satu orang yang belum dibaptis ditangkap dan dipenjara di biara Agustinian di Zurich. Tanggal 16 Maret ditahun yang sama ia ditangkap lagi dan diberi peringatan dan didenda lalu dibebaskan. Pada masa itu Zwingly mengumumkan bahwa ia telah mengalakan kelompok anabaptis, dan pemerintah Zurich mendukungnya.
Bulan Juli 1525 Blaurock dan Manz mendapatkan masalah lagi karena berkhotbah dan membaptis orang di Chur. Manz dikirim paksa ke Zurich dan Blaurock berhasil dibebaskan teman-teman mereka. Setelah itu ia berusaha lagi berkhotbah di sebuah desa di Henwil, seperti biasa ia pun ditangkap dan dipenjarakan lagi. Tahun 1527 di bulan Januari rekan sepelayanannya, Manz dibunuh dengan cara ditengelamkan Zwingly. George Blaurock pun mendapatkan hukuman didera tanpa ada proses pengadilan, ia ditelanjangi sebagian dan dipukul punggungnya hingga berdarah-darah di gerbang Niederdorf.
Tanggal 21 April adalah keempat kalinya ia ditangkap dan diasingkan, akhirnya Blaurock memutuskan untuk meninggalkan Swiss dan tidak kembali lagi. Blaurock menuju Austria dan di sana ia bertemu dengan sebuah gereja anabaptis yang telah kehilangan gembalanya, Michael Kurschner yang dihukum mati dengan cara dibakar tanggal 2 Juni 1529. Blaurock diminta jemaat untuk mengembalakan gereja itu. Blaurock pun menyetujuinya dan di dalam masa pengembalaanya banyak jiwa yang bertobat dan dibaptis.
Namun pemerintah Innsbruck tidak tinggal diam,14 Agustus 1529, Blaurock dan Hans Langegger, seorang pianis gereja dibawa ke pengadilan dan disiksa. Pihak pemerintah meminta nama-nama orang anbaptis dan menghitung jumlah mereka. Tiga minggu kemudian, tanggal 6 September 1529, Blaurock dan Langegger diikat di sebuah tiang dan dibakar hidup-hidup di Klausen, Italy.
Alasan ia dihukum mati adalah karena ia telah dianggap penghianat iman Katolik dan meninggalkan jabatan sebagai seorang imam. Di buku “Martir Mirror” tercatat tuduhan-tuduhan gereja Roma Katolik membakar Blaurock, yaitu:
karena ia telah meninggalkan pelayanannya sebagai imam, tidak meneruskan praktek baptisan bayi danberkhotbah tentang cara pembaptisan selam, karena menentang misa kudus dan pengakuan dosa sebagaimana yang ditentukan imam, karena tidak menizinkan orang menyembah bunda Maria, oleh karena semua itu ia dihukum mati dan menjadi seorang pahlawan iman. Diperjalanannya menuju tempat ia dieksekusi, ia dengan tulus menyapa orang-orang dan memberitakan Injil pada mereka.
Warisan yang ia tinggalkan adalah khotbahnya dan dua lagu yang isinya:
aku ingin menyanyikan puji-pujian di hatiku kepada nama-Mu yang kudus dan untuk selamanya mengumandangkan anugerah yang telah kuterima. Aku mohon kepada-Mu, Allahku demi semua anak-anakMu jagalah mereka semua selamanya dari musuh-musuh jiwa mereka. Aku tidak membangun dengan daging karena itu akan berlalu namum aku meletakan keyakinanku pada firman-Mu… akhir perjalanan telah tiba. Pujilah Tuhan! Mampukan kami untuk memikul salib ke tempat tujuan kami dan berikanlah belas kasihanMu agar kami bisa menyerahkan jiwa-jiwa kami ke dalam tangan-Mu.
Sekalipun Blaurock bukan seorang amper yang terkenal, namun ia memberikan kontribusi yang besar di dalam gerakan Anabaptis di masa reformasi. Dialah yang pertama kali meminta Grebel membaptis dia dan bergabung dengan Manz dan Grebel dalam membawa berita Injil kebenaran di antara saudara-saudarnya di daerah Swiss sampai ke desa-desa yang ada. Blaurock berperan besar atas terbentuknya jemaat Anabaptis di Zollikon. Tidak dapat disangkal lagi, komitmennya yang tak tergoyahkan terhadap iman anabaptis dan semangatnya dalam memberitakan Injil kebenaran
Apakah semangat Anda bertambah hari demi hari dalam memberitakan Injil-Nya ? Atau Anda digoyahkan dan dibutakan dengan berbagai kenikmatan hidup di dunia ini sehingga Anda lupa bahwa kedatangan Tuhan Yesus semakin dekat ?
Felix Manz 1498-1527 AD.
Felix Manz 1498-1527 AD.
Felix Manz lahir di Zurich kira-kira tahun 1498. Manz merupakan anak luar nikah dari seorang imam Katolik dan terlatih didalam bahasa Latin, Yunani dan Ibrani. Ia bergabung dengan Zwingly pada tahun 1522, bersama dengan Grebel dan teman-temanya yang lain. Namun ia tidak setuju dengan penafsiran Zwingly mengenai sacral society (gereja bersatu dengan negara), baptisan bayi, baptisan percik, dan perjamuan kudus.
Pada tahun 1525, Manz berpisah dengan Zwingly dan membentuk sebuah jemaat anabaptis di rumahnya. Ia menberitakan bahwa baptisan yang benar adalah baptisan orang yang sudah bertobat dan percaya dan dengan cara selam. Manz adalah salah satu orang pada saat itu yang berani menentang Zwingly. Oleh karena keberanianya, ia dikejar-kejar oleh Zwingly dan beberapa kali berhasil ditangkap dan dipenjarakan, namun berhasil kabur dari penjara. Manz bersama dengan Blaurock banyak mendapat pengikut karena kepiawaiannya berkhotbah dan meyakinkan orang berdosa akan kebenaran Alkitab.
Semangat dan keberanian Felix Manz sungguh luar biasa dan ditambah dengan kehidupanya yang baik, pendidikanya yang cukup sehingga membuat banyak pengikutnya menjadi berani memberitakan kebenaran dan terang-terangan menentang Zwingly. Melihat situasi demikian Zwingly merasa kedudukannya terancam dan bisa kehilangan popularitas sebagai seorang Protestan. Akhirnya segala daya upaya dilakukan Zwingly untuk menangkap Felix Manz dan melenyapkan Manz dari dunia ini. Pada tanggal 5 Januari 1527 Felix Manz telah tertangkap dan dijatuhi hukuman mati.
Felix Manz dituduh memiliki pemahaman yang berbeda dengan gereja amper, ia seorang anabaptis yang membaptis ulang orang, ia memisahkan diri dan hanya mau bersekutu dengan orang percaya yang sudah menerima Kristus. Karena doktrinya dianggap menentang pemerintah akhirnya ia pun dijatuhi hukuman mati.
Manz, dibawa dari penjara Wellenberg dan melewati pasar ikan menuju sungai Limmat. Ketika diperjalanan saat ia digiring oleh pengawal, ia memberitakan Injil dan memuji Allah dan menyatakan bahwa baptisan yang benar adalah baptisan orang percaya dan ia rela mati demi membela kebenaran ini. Sesampainya ia di sungai Limmat terdengar suara ibunya dari kejauhan yang memohonya untuk setia saat menghadapi pencobaan ini. Dengan tangan terikat ia ditaruh diperahu kecil, lalu ditaruh tongkat di antara lutut dan lengannya dan segera ia ditekan ke dalam air. Seketika itu ia berseru dengan suara nyaring, “Ke dalam tanganmu Tuhan, kuserahkan rohku.”
Felix Manz merupakan orang Anabaptis yang pertama mati ditengelamkan oleh kaum Protestan. Hari ini banyak pengikut ‘kristus’ yang hanya meminta berkat dan berkat, tidak pernah berani ambil bagian dalam perjuangan memberitakan Injil. Apakah mereka sungguh-sungguh murid Kristus ? Kadangkala mungkin Anda merasa bahwa sudah cukup berkorban demi Injil, sudah cukup menderita untuk Injil. Tetapi sesungguhnya apa yang Anda alami dan miliki saat ini membuktikan apakah Anda cukup berkorban demi Injil.
Felix Manz lahir di Zurich kira-kira tahun 1498. Manz merupakan anak luar nikah dari seorang imam Katolik dan terlatih didalam bahasa Latin, Yunani dan Ibrani. Ia bergabung dengan Zwingly pada tahun 1522, bersama dengan Grebel dan teman-temanya yang lain. Namun ia tidak setuju dengan penafsiran Zwingly mengenai sacral society (gereja bersatu dengan negara), baptisan bayi, baptisan percik, dan perjamuan kudus.
Pada tahun 1525, Manz berpisah dengan Zwingly dan membentuk sebuah jemaat anabaptis di rumahnya. Ia menberitakan bahwa baptisan yang benar adalah baptisan orang yang sudah bertobat dan percaya dan dengan cara selam. Manz adalah salah satu orang pada saat itu yang berani menentang Zwingly. Oleh karena keberanianya, ia dikejar-kejar oleh Zwingly dan beberapa kali berhasil ditangkap dan dipenjarakan, namun berhasil kabur dari penjara. Manz bersama dengan Blaurock banyak mendapat pengikut karena kepiawaiannya berkhotbah dan meyakinkan orang berdosa akan kebenaran Alkitab.
Semangat dan keberanian Felix Manz sungguh luar biasa dan ditambah dengan kehidupanya yang baik, pendidikanya yang cukup sehingga membuat banyak pengikutnya menjadi berani memberitakan kebenaran dan terang-terangan menentang Zwingly. Melihat situasi demikian Zwingly merasa kedudukannya terancam dan bisa kehilangan popularitas sebagai seorang Protestan. Akhirnya segala daya upaya dilakukan Zwingly untuk menangkap Felix Manz dan melenyapkan Manz dari dunia ini. Pada tanggal 5 Januari 1527 Felix Manz telah tertangkap dan dijatuhi hukuman mati.
Felix Manz dituduh memiliki pemahaman yang berbeda dengan gereja amper, ia seorang anabaptis yang membaptis ulang orang, ia memisahkan diri dan hanya mau bersekutu dengan orang percaya yang sudah menerima Kristus. Karena doktrinya dianggap menentang pemerintah akhirnya ia pun dijatuhi hukuman mati.
Manz, dibawa dari penjara Wellenberg dan melewati pasar ikan menuju sungai Limmat. Ketika diperjalanan saat ia digiring oleh pengawal, ia memberitakan Injil dan memuji Allah dan menyatakan bahwa baptisan yang benar adalah baptisan orang percaya dan ia rela mati demi membela kebenaran ini. Sesampainya ia di sungai Limmat terdengar suara ibunya dari kejauhan yang memohonya untuk setia saat menghadapi pencobaan ini. Dengan tangan terikat ia ditaruh diperahu kecil, lalu ditaruh tongkat di antara lutut dan lengannya dan segera ia ditekan ke dalam air. Seketika itu ia berseru dengan suara nyaring, “Ke dalam tanganmu Tuhan, kuserahkan rohku.”
Felix Manz merupakan orang Anabaptis yang pertama mati ditengelamkan oleh kaum Protestan. Hari ini banyak pengikut ‘kristus’ yang hanya meminta berkat dan berkat, tidak pernah berani ambil bagian dalam perjuangan memberitakan Injil. Apakah mereka sungguh-sungguh murid Kristus ? Kadangkala mungkin Anda merasa bahwa sudah cukup berkorban demi Injil, sudah cukup menderita untuk Injil. Tetapi sesungguhnya apa yang Anda alami dan miliki saat ini membuktikan apakah Anda cukup berkorban demi Injil.
Conrad Grebel 1498-1526 AD.
Conrad Grebel 1498-1526 AD.
Conrad adalah anak laki-laki dari Jacob dan Dorothea Fries Grebel. Grebel adalah keluarga yang terpandang di Swiss oleh karena itu Conrad memiliki pendidikan yang cukup tinggi. Conrad belajar di universitas Basel dan Wina dan terpengaruh humanisme Erasmus. Ia banyak mempelajari karya-karya klasik Yunani dan Perjanjian Baru dari Zwingly. Di tahun 1522 Felix Manz bergabung di kelas dan menjadi murid Zwingly bersama dengan Grebel. Pada awalnya mereka belajar bahasa dan tidak begitu membahas masalah rohani. Ini adalah strategi Zwingly untuk menarik anak-anak muda dalam mendukung program reformasinya.
Perselisihan pertama muncul antara Zwingly dan Grebel adalah mengenai masalah Perjamuan Tuhan. Dalam surat Grebel yang ia tulis kepada sepupunya, ia menyatakan ketidak-setujuannya dengan Zwingly yaitu ketika Zwingly bersekutu bersama negara dan membangun gerejanya. Grebel juga menentang baptisan bayi, baptisan percik yang dilakukan Zwingly pada saat itu.
Tidak lama setelah perselisihanya dengan Zwingly, Grebel memutuskan untuk dibaptis dengan cara selam dan berpisah dengan Zwingly. Bersama dengan teman-temanya, George Blaurock dan Felix Manz, mereka menjadi orang-orang yang mengajarkan doktrin Anabaptis. Di rumah Felix Manz, mereka membentuk sebuah jemaat independent dan penginjilan dilakukan dari rumah-kerumah. Grebel akhinya membaptis orang-orang percaya yang mau bergabung menjadi jemaat, Gabriel Gigger, Anna Manz dan Wolfgang Ullimann seorang biarawan katolik yang bertobat. Perjamuan Tuhan pun dilaksanakan untuk mengingat kematian Tuhan Yesus Kristus.
Hal besar terjadi pada bulan April 1525, ketika Grebel membaptis sekitar 500 orang di sungai Sitter. Kejadian ini membuat Zwingly marah dan memutuskan untuk menangkapnya. Grebel melarikan diri dan bersembunyi namun tetap berkomunikasi dengan teman dan jemaatnya secara diam-diam. Ia menulis traktat-traktat penginjilan dan mempertahankan baptisan orang percaya. Pada saat ia dalam masa persembunyian ia diliputi kemiskinan dan sakit penyakit.
Akhirnya, ia pun berhasil ditangkap oleh Zwingly dan dipenjarakan bersama Manz di Puri Gruningen dengan dakwaan membaptis ulang. Di dalam penjara kondisi fisiknya semakin menurun dan penyakit yang mengerogotinya semaikin parah. Pada tahun 1526 bulan Agustus Grebel meninggalkan dunia fana ini untuk menghadap Juruslamatnya di Surga yang mulia.
Kaum Protestan selalu menganggap Calvin, Zwingly sebagai reformator yang luar biasa taat kepada Tuhan. Namun sesungguhnya mereka adalah tokoh-tokoh reformasi yang jauh dari kebenaran Alkitab. Tuhan Yesus tidak pernah mengajarkan pada murid-muridNya untuk memakai kekerasan, intimidasi demi Injil. Injil selalu diberitakan dengan kasih dan selalu mengasihi orang-orang yang bertolak belakang dengan Injil sambil berdoa bagi mereka.
Conrad adalah anak laki-laki dari Jacob dan Dorothea Fries Grebel. Grebel adalah keluarga yang terpandang di Swiss oleh karena itu Conrad memiliki pendidikan yang cukup tinggi. Conrad belajar di universitas Basel dan Wina dan terpengaruh humanisme Erasmus. Ia banyak mempelajari karya-karya klasik Yunani dan Perjanjian Baru dari Zwingly. Di tahun 1522 Felix Manz bergabung di kelas dan menjadi murid Zwingly bersama dengan Grebel. Pada awalnya mereka belajar bahasa dan tidak begitu membahas masalah rohani. Ini adalah strategi Zwingly untuk menarik anak-anak muda dalam mendukung program reformasinya.
Perselisihan pertama muncul antara Zwingly dan Grebel adalah mengenai masalah Perjamuan Tuhan. Dalam surat Grebel yang ia tulis kepada sepupunya, ia menyatakan ketidak-setujuannya dengan Zwingly yaitu ketika Zwingly bersekutu bersama negara dan membangun gerejanya. Grebel juga menentang baptisan bayi, baptisan percik yang dilakukan Zwingly pada saat itu.
Tidak lama setelah perselisihanya dengan Zwingly, Grebel memutuskan untuk dibaptis dengan cara selam dan berpisah dengan Zwingly. Bersama dengan teman-temanya, George Blaurock dan Felix Manz, mereka menjadi orang-orang yang mengajarkan doktrin Anabaptis. Di rumah Felix Manz, mereka membentuk sebuah jemaat independent dan penginjilan dilakukan dari rumah-kerumah. Grebel akhinya membaptis orang-orang percaya yang mau bergabung menjadi jemaat, Gabriel Gigger, Anna Manz dan Wolfgang Ullimann seorang biarawan katolik yang bertobat. Perjamuan Tuhan pun dilaksanakan untuk mengingat kematian Tuhan Yesus Kristus.
Hal besar terjadi pada bulan April 1525, ketika Grebel membaptis sekitar 500 orang di sungai Sitter. Kejadian ini membuat Zwingly marah dan memutuskan untuk menangkapnya. Grebel melarikan diri dan bersembunyi namun tetap berkomunikasi dengan teman dan jemaatnya secara diam-diam. Ia menulis traktat-traktat penginjilan dan mempertahankan baptisan orang percaya. Pada saat ia dalam masa persembunyian ia diliputi kemiskinan dan sakit penyakit.
Akhirnya, ia pun berhasil ditangkap oleh Zwingly dan dipenjarakan bersama Manz di Puri Gruningen dengan dakwaan membaptis ulang. Di dalam penjara kondisi fisiknya semakin menurun dan penyakit yang mengerogotinya semaikin parah. Pada tahun 1526 bulan Agustus Grebel meninggalkan dunia fana ini untuk menghadap Juruslamatnya di Surga yang mulia.
Kaum Protestan selalu menganggap Calvin, Zwingly sebagai reformator yang luar biasa taat kepada Tuhan. Namun sesungguhnya mereka adalah tokoh-tokoh reformasi yang jauh dari kebenaran Alkitab. Tuhan Yesus tidak pernah mengajarkan pada murid-muridNya untuk memakai kekerasan, intimidasi demi Injil. Injil selalu diberitakan dengan kasih dan selalu mengasihi orang-orang yang bertolak belakang dengan Injil sambil berdoa bagi mereka.
Thursday, 26 February 2009
Apakah Cara Baptisanmu Benar ?
Apakah Cara Baptisanmu Benar ?
Pada suatu ketika terjadi perbincangan antara dua sahabat, yaitu Robert Carmichael dan Archibald McLean, di Glasgow tahun 1763. Carmichael bertanya pada McLean, “Bagaimana pandanganmu mengenai Baptisan ?” Kedua pria ini sedang mencari dasar-dasar Alkitab. McLean belum bisa menjawab, tetapi ia berjanji pada temanya untuk memikirkan hal ini. Setelah percakapan mereka, Carmichael pindah ke Edinburg untuk memimpin sebuah kelompok persekutuan independen.
Tahun 1764 di bulan Juni Carmichael menulis surat ke McLean dan menanyakan kesimpulan McLean atas pertanyaannya yang telah ia ajukan dulu. Tanggal 2 Juli 1764 , McLean membalas surat Carmichael dan ia telah menyimpulkan bahwa perintah baptisan adalah seharusnya dilakukan pada orang yang percaya dan caranya adalah penyelaman. Dia mengambil kesimpulan ini setelah ia membaca seluruh kitab Perjanjian Baru tanpa ada pengaruh dari orang Baptis.
Setelah Carmichael tahu kebenaran ia mengkhotbahkanya akhirnya terjadi perbedaan-perbedaan doktrinal dalam gerejanya dan ia mengundurkan diri, lalu membuka jemaat baru. Semakin Carmichael memikirkan tentang baptisan maka semakin ia yakin bahwa cara yang benar adalah selam dan ia dengan berani mengkhotbahkanya. Karena usahanya yang begitu semangat, lima orang simpatisan yang datang ke gereja barunya berhasil diyakinkan dan dibaptis dengan selam. Padahal dulu para simpatisan ini adalah orang yang memiliki paham berbeda dengannya.
Hari demi hari orang-orang percaya bertambah digerjanya yang ia beri nama Bristo Place Church- sebuah gereja baptis yang dianggap sebagai pelopor gereja baptis di Skotlandia. Salah satu tunas jemaat Bristo Place Church adalah John Street Baptist Church di Glasgow yang didirikan oleh Archibald McLean, teman Carmichael yang ia baptis dengan cara selam di sungal Clyde.
McLean akhirnya dikenal sebagai “Bapak McLean” dikalangan orang Baptis. Bapak McLean meninggal 21 Desember 1812. Hasil karyanya adalah buku-buku doktrinal yang luar biasa dirangkum dalam 7 Volume di tahun 1805. C.H. Spurgeon berkata bahwa buku McLean “Comentary on Hebrews” adalah salah satu buku yang paling bisa dipercaya (alkitabiah) yang ditulis manusia.
Pada suatu ketika terjadi perbincangan antara dua sahabat, yaitu Robert Carmichael dan Archibald McLean, di Glasgow tahun 1763. Carmichael bertanya pada McLean, “Bagaimana pandanganmu mengenai Baptisan ?” Kedua pria ini sedang mencari dasar-dasar Alkitab. McLean belum bisa menjawab, tetapi ia berjanji pada temanya untuk memikirkan hal ini. Setelah percakapan mereka, Carmichael pindah ke Edinburg untuk memimpin sebuah kelompok persekutuan independen.
Tahun 1764 di bulan Juni Carmichael menulis surat ke McLean dan menanyakan kesimpulan McLean atas pertanyaannya yang telah ia ajukan dulu. Tanggal 2 Juli 1764 , McLean membalas surat Carmichael dan ia telah menyimpulkan bahwa perintah baptisan adalah seharusnya dilakukan pada orang yang percaya dan caranya adalah penyelaman. Dia mengambil kesimpulan ini setelah ia membaca seluruh kitab Perjanjian Baru tanpa ada pengaruh dari orang Baptis.
Setelah Carmichael tahu kebenaran ia mengkhotbahkanya akhirnya terjadi perbedaan-perbedaan doktrinal dalam gerejanya dan ia mengundurkan diri, lalu membuka jemaat baru. Semakin Carmichael memikirkan tentang baptisan maka semakin ia yakin bahwa cara yang benar adalah selam dan ia dengan berani mengkhotbahkanya. Karena usahanya yang begitu semangat, lima orang simpatisan yang datang ke gereja barunya berhasil diyakinkan dan dibaptis dengan selam. Padahal dulu para simpatisan ini adalah orang yang memiliki paham berbeda dengannya.
Hari demi hari orang-orang percaya bertambah digerjanya yang ia beri nama Bristo Place Church- sebuah gereja baptis yang dianggap sebagai pelopor gereja baptis di Skotlandia. Salah satu tunas jemaat Bristo Place Church adalah John Street Baptist Church di Glasgow yang didirikan oleh Archibald McLean, teman Carmichael yang ia baptis dengan cara selam di sungal Clyde.
McLean akhirnya dikenal sebagai “Bapak McLean” dikalangan orang Baptis. Bapak McLean meninggal 21 Desember 1812. Hasil karyanya adalah buku-buku doktrinal yang luar biasa dirangkum dalam 7 Volume di tahun 1805. C.H. Spurgeon berkata bahwa buku McLean “Comentary on Hebrews” adalah salah satu buku yang paling bisa dipercaya (alkitabiah) yang ditulis manusia.
Adakah Kebebasan Beragama di Indonesia ?
Ketika sebuah negara hukumnya tidak jelas maka akan terjadi banyak permasalahan dan kesewenang-wenangan terhadap sebagian masyarakat. Sejak Indonesia merdeka sudah tidak terkatakan banyaknya pelanggaran HAM (Hak Asasi Manusia) yang terjadi pada kaum kristen. Tindakan sewenang-wenang dari pemerintah orde lama, orde baru bahkan masa reformasi, membuat dunia bertanya adakah hukum di Indonesia? Setiap orang terlepas dari apa agamanya, kepercayaannya, warna kulitnya, jenis kelaminnya, dan bahasanya memiliki hak asasi yang bersifat kodrati. Karena hak manusia itu melekat pada dirinya bukan merupakan pemberian negara atau pemerintah melainkan pemberian Allah ketika manusia diciptakan. Sejak dibentuknya negara Indonesia dalam sidang BPUPKI 1945, Mohamad Hatta telah menganjurkan agar dibuatnya undang-undang yang tegas menjamin hak asasi manusia dan melindungi manusia dari berbagai pelanggaran. Namun usulan itu mendapat tantangan dari Soekarno dan Soepomo karena mereka menganggap hak asasi manusia itu bersifat individualitas sedangkan negara yang mau dibentuk bersifat gotong royong. Akhirnya UUD 1945 dibuat dan menghasilkan pasal-pasal kompromi. Pasal itu antara lain pasal 27,28,29,30, dan 31. Barulah ketika 31 tahun kemudian melalui sidang umum MPR tahun 1998 Tap no.25 disepakati PIAGAM HAK ASASI MANUSIA dan tahun 1999 dibuatnya UUD No.39 tentang hak asasi manusia. UUD sudah dibuat dengan sedemikian rupa tetapi penerapannya dan kenyataannya, pelanggaran hak asasi manusia terus terjadi. Hak manusia yang paling Hakiki adalah beragama/mempercayai penciptanya. Namun kenyataannya agama mayoritas terus saja menindas agama minoritas. Sedangkan negara tidak berbuat banyak. Pada hakekatnya agama atau keyakinan seseorang pada penciptanya tidak perlu diatur oleh negara. Sebagai contoh : dikeluarkanya SKB Menteri yang melanggar UUD 1945 pasal 29 ayat 2. Sangat tidak masuk akal ketika si A dirumahnya melakukan kegiatan kerohanian dan ia perlu mendapat izin dari tetangga-tetangganya. Sedangkan ketika ada kegiatan karaoke, sunatan massal, pernikahan yang memblokir jalan umum, tidak pernah ada izin dari yang bersangkutan pada tetangga yang lain. Semua gereja kristen ketika hendak membangun sebuah gereja pasti sangat sulit mendapat izin, padahal tidak memakai uang negara. Sedangkan mesjid didirikan dimana-mana dengan memakain uang negara yang merupakan hasil pajak dari semua pemeluk agama. Bahkan hampir disetiap komplek perumahan diharuskan membangun Surau/mesjid. Tetapi ketika dirumah pribadi komplek tersebut memulai aktivitas kerohanian yang berbau Kristen, RT-nya akan segera datang dan memperingatkan. Ada apa dengan Indonesia ? Sudah tidak terhitung banyaknya gereja dirusak, dibakar dan para pengikut kristen mendapat intimidasi. UUD dibuat hanya untuk mengelabui negara-negara demokrasi yang berkuasa agar di mata International, Indonesia memiliki nama baik dan mendapat dukungan dari berbagai bidang. Pemerintah lupa dalam sejarah Indonesia banyak tokoh-tokoh kristen yang memberikan sumbangsih pada pembagunan mesjid dan institusi islam di Indonesia. Contoh kongkrit yaitu pembangunan Pusat kegiatan Islam di Ujung Pandang, dimana para konglomerat dari golongan masyarakat minoritas yang dikoordinir oleh mantan Pangab Jendral (Purn) M.Yusuf, turut berpartisipasi mengumpulkan dana yang cukup besar sampai mencapai jumlah milyar-an rupiah. Ir. Silaban, seorang arsitektur yang sederhana juga mempunyai andil dan berpartisipasi sebagai seorang perancang bangunan Masjid Istiqal di Jakarta. Pembangunan Masjid Agung di Surabaya yang pernah tertunda karena kesulitan dana, atas inisiatif Wakil Presiden RI dengan cara mengerahkan serta mengumpulkan dana dari para konglomerat yang berasal dari golongan masyarakat minoritas, telah terkumpul uang sejumlah milyar-an rupiah. Dana tersebut dikumpulkan dari para konglomerat antara lain; Ir. NN menyumbang sebesar 1 milyar rupiah, juga konglomerat - konglomerat yang lain yang menyetor antara 0,5 sampai 1 milyar rupiah. Kelompok Jimbaran yang mayoritas terdiri dari kelompok masyarakat golongan minoritas yang di koordinir oleh Menteri Kependudukan dan Keluarga Berencana Prof.Dr. Hayono Suyono telah menyumbangkan 2 % dari penghasilan masing-masing sehingga telah terkumpul sekitar satu trilyun rupiah untuk pembangunan desa-desa miskin, maupun meningkatkan usaha golongan ekonomi lemah. Apakah patut golongan masyarakat minoritas yang tidak berdaya tersebut , terus-menerus menjadi obyek pemerasan dan intimidasi serta tidak mempunyai harkat hidup di Negara Republik Indonesia?
Penutupan, Perusakan, Pembakaran 374 Gereja Di Indonesia dari tahun 1945 s/d 1964 terdapat 2 buah rumah ibadah / Gereja yang dirusak. Sejak 1965 sampai 1 Juli 1997 dalam setiap tahunnya terjadi peningkatan jumlah Gereja yang ditutup, dirusak atau dibakar. Lebih-lebih sejak diberlakukannya SKB 2 Menteri (Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri) SKB 2 Menteri ini sebenarnya bertentangan dengan : UUD 1945 Pasal 29 ayat 2, Pancasila, Tap MPRS nomor XX tahun 1966, Dasar-dasar Hak Asasi Manusia. Peristiwa pengrusakan Rumah Ibadah atau Gereja yang tercatat dengan baik. Berikut data yang berhasil dihimpun dari sebuah sumber mengenai kejadian pengrusakan dan kekerasan terhadap umat kristen:
1.Peristiwa Siantan - Kalimantan Barat, 30 Maret 1996, dimana Gereja Misi Injili di desa Peniti, Kecamatan Siantan Kabupaten Pontianak dirusak dan dibakar. 2.Peristiwa Surabaya (Minggu Kelabu), 9 Juni 1996, dimana 10 gedung Gereja dihancurkan di daerah Sidotopo oleh massa sebanyak 3000 orang disertai perampokan dan pelecehan sexual. Gereja yang dirusak adalah:
1.Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) , Jl.Sidotopo Indah WetanII/26. 2.Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) "Pogot", Jl. Sidotopo WetanIndahII/62-64. 3.Pos Pelayanan "Siloam" GPIB "Cahaya Kasih", Jl. Bulak Jaya. 4.Gereja Bethel Indonesia (GBI) Firman Hayat, Jl. TenggumungBaruSelatan 51. 5.Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI), Jl. Jatisrono Tengah 11. 6.Gereja Kemah Injil Indonesia Kalvari, Jl. Bulak Banteng Madya 4. 7.Gereja Pantekosta Tabernakel (GPT), Jl. Wonosari Wetan Baru Gg.Sekolahan 22. 8.Persekutuan Doa Gereja Bethel Indonesia (GBI), Jl. Bulak Banteng Wetan IV/2-4. 9.Gereja Sidang Jemaat Pentakosta Di Indonesia, Jl. Tenggumung Karya III/54. 10.Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI), Jl. Sidotopo Wetan Indah. 3.Peristiwa Wates, Kediri-Jawa Timur, 14 Juni 1996, dimana Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) diserang dan dirusak massa 2.500 orang oknum pada jam 02:00 dini hari.
4.Peristiwa Pare, Kediri-Jawa Timur, 25 Juni 1996, dimana Gereja Pentakosta di Indonesia (GPdI) pada jam 12:00 siang dirusak dan perabotannya dikeluarkan dari gereja serta dibakar dihalaman gereja oleh massa 200 orang oknum.
5.Peristiwa Bekasi - Jawa Barat, 17 Juli 1996 di mana gereja katolik dibakar oleh masa yang tidak dikenal.
6.Peristiwa Situbondo-Jawa Timur (Kamis Hitam), 10 Oktober 1996, dimana 24 gedung Gereja dirusak dan dibakar oleh massa sebanyak 3000 orang. peristiwa ini sangat luar biasa menyedihkan karena seorang Pendeta dari Gereja Pentakosta meninggal dunia terbakar didalam gedung Gereja beserta keluarga dan seorang Penginjil. Terdapat 5 orang meninggal dunia, yaitu Pdt. Ishak Christian, Ribka Lena Christian (istri), Elizabeth Christian (anak), Nova Samuel (keponakan) dan Rita (Penginjil).
Penutupan, Perusakan, Pembakaran 374 Gereja Di Indonesia dari tahun 1945 s/d 1964 terdapat 2 buah rumah ibadah / Gereja yang dirusak. Sejak 1965 sampai 1 Juli 1997 dalam setiap tahunnya terjadi peningkatan jumlah Gereja yang ditutup, dirusak atau dibakar. Lebih-lebih sejak diberlakukannya SKB 2 Menteri (Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri) SKB 2 Menteri ini sebenarnya bertentangan dengan : UUD 1945 Pasal 29 ayat 2, Pancasila, Tap MPRS nomor XX tahun 1966, Dasar-dasar Hak Asasi Manusia. Peristiwa pengrusakan Rumah Ibadah atau Gereja yang tercatat dengan baik. Berikut data yang berhasil dihimpun dari sebuah sumber mengenai kejadian pengrusakan dan kekerasan terhadap umat kristen:
1.Peristiwa Siantan - Kalimantan Barat, 30 Maret 1996, dimana Gereja Misi Injili di desa Peniti, Kecamatan Siantan Kabupaten Pontianak dirusak dan dibakar. 2.Peristiwa Surabaya (Minggu Kelabu), 9 Juni 1996, dimana 10 gedung Gereja dihancurkan di daerah Sidotopo oleh massa sebanyak 3000 orang disertai perampokan dan pelecehan sexual. Gereja yang dirusak adalah:
1.Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) , Jl.Sidotopo Indah WetanII/26. 2.Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) "Pogot", Jl. Sidotopo WetanIndahII/62-64. 3.Pos Pelayanan "Siloam" GPIB "Cahaya Kasih", Jl. Bulak Jaya. 4.Gereja Bethel Indonesia (GBI) Firman Hayat, Jl. TenggumungBaruSelatan 51. 5.Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI), Jl. Jatisrono Tengah 11. 6.Gereja Kemah Injil Indonesia Kalvari, Jl. Bulak Banteng Madya 4. 7.Gereja Pantekosta Tabernakel (GPT), Jl. Wonosari Wetan Baru Gg.Sekolahan 22. 8.Persekutuan Doa Gereja Bethel Indonesia (GBI), Jl. Bulak Banteng Wetan IV/2-4. 9.Gereja Sidang Jemaat Pentakosta Di Indonesia, Jl. Tenggumung Karya III/54. 10.Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI), Jl. Sidotopo Wetan Indah. 3.Peristiwa Wates, Kediri-Jawa Timur, 14 Juni 1996, dimana Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) diserang dan dirusak massa 2.500 orang oknum pada jam 02:00 dini hari.
4.Peristiwa Pare, Kediri-Jawa Timur, 25 Juni 1996, dimana Gereja Pentakosta di Indonesia (GPdI) pada jam 12:00 siang dirusak dan perabotannya dikeluarkan dari gereja serta dibakar dihalaman gereja oleh massa 200 orang oknum.
5.Peristiwa Bekasi - Jawa Barat, 17 Juli 1996 di mana gereja katolik dibakar oleh masa yang tidak dikenal.
6.Peristiwa Situbondo-Jawa Timur (Kamis Hitam), 10 Oktober 1996, dimana 24 gedung Gereja dirusak dan dibakar oleh massa sebanyak 3000 orang. peristiwa ini sangat luar biasa menyedihkan karena seorang Pendeta dari Gereja Pentakosta meninggal dunia terbakar didalam gedung Gereja beserta keluarga dan seorang Penginjil. Terdapat 5 orang meninggal dunia, yaitu Pdt. Ishak Christian, Ribka Lena Christian (istri), Elizabeth Christian (anak), Nova Samuel (keponakan) dan Rita (Penginjil).
Sunday, 22 February 2009
Wanita Anabaptist yang Mengasihi Tuhan
15 Januari 1549, ada seorang martir Baptis yang bernama Elizabeth, dulu ia adalah seorang biarawati Katolik. Ia ditahan karena memiliki Alkitab Perjanjian Baru dan menyangkal bahwa ia adalah istri Menno Simons. Ia dikawal untuk diadili dan untungnya, interogasi terhadap Elizabeth tercatat dan inilah percakapanya dengan pejabat pemerintah.
Dewan : Apakah pendapatmu dengan misa?
Elizabeth : Saya tidak setuju dengan misa yang anda
lakukan namun apa yang sesuai dengan firman
Tuhan akan saya junjung tinggi.
Dewan : Apa pendapatmu tentang sakramen suci?
Elizabeth : Saya tidak pernah temukan di Alkitab kata
sakramen suci dalam namun saya baca tentang
perjamuan Tuhan.
Dewan : Apa yang Alllah katakan ketika Ia mengadakan
Perjamuan dengan murid-muridNya ?
Elizabeth : Apa yang Ia katakan ? Daging atau Roti ?
Dewan : Dia memberikan mereka roti.
Elizabeth : Apakah Allah terus-menerus duduk di sana dan
siapakah yang dapat makan daging Allah ?
Dewan : (Langsung mengubah topik pertanyaan).
Mengapa anda menentang baptisan bayi ?
Mengapa anda dibaptis ulang ?
Elizabeth : Anda salah, saya tidak dibaptis ulang. Saya
dibaptis ketika saya mengakui iman saya sebab
ada tertulis baptisan adalah milik orang
percaya.
Dewan : Apakah maksud anda anak kecil yang dibaptis
sejak bayi pasti tersesat ?
Elizabeth : Tidak. Saya tidak boleh menghakimi anak-
anak.
Dewan : Apakah anda tdak mengharapkan keselamatan
ketika anda dibaptis ?
Elizabeth : Tidak tuan-tuan, semua air di sungai tidak
dapat menyelamatkan saya tetapi keselamatan
hanya pada Kristus dan Ia telah memerintahkan
saya untuk mengasihiNya lebih dari segala-
galanya dan mengasihi sesamaku seperti
mengasihi diriku sendiri.
Dewan : Apakah imam-imam punya kuasa untuk
mengampuni ?
Elizabeth : Tidak tuan-tuan, bagaimana mungkin saya
mempercayai hal ini, hanya melalui Kristus
satu-satunya imam kita maka kita akan
diampuni (mengutip Ibrani 7:21).
Setelah ia disidang dan beberapa hari kemudian ia disiksa. Hans, pelaku penyiksaan memakukan sekrup ke dalam jari-jari Elizabeth dan darh pun segera menucur deras. Elizabeth berseru agar Allah menolongnya dan secara ajaib tiba-tiba rasa sakit yang ia alami pun hilang. Pada saat itu Dewan meminta Elizabeth menyebutkan orang-orang yang seiman dengn Elizabeth, namun ia menolak untuk mengatakanya.
Akhirnya keputusan dewan pun mengumumkan bahwa penghukuman Elizabeth jatuh pada tanggal 27 Maret 1549. Elizabeth akan dihukum dengan cara dimasukan ke dalam karung dan ditengelamkan. Elizabeth pun hanya bisa menangis dan bersedih dengan ketidak adilan yang menimpanya dan ia hanya bisa pasrah kepada Allahnya. Elizabeth tahu bahwa air di laut akan membunuh tubuhnya tetapi ketika ia ia ditengelamkan beberapa saat kemudian ia akan bangun dengan tubuh yang kekal di surga.
Tertullian di abad ke dua mengatakan, “kita menjadi semakin banyak dan berlipat ganda ketika kita menabur, dan darah Kristus adalah benih.” Pernyataan ini sering diartikan bahwa darah para martir adalah benih gereja.” Kiranya Allah memberikan kita anugerah untuk menderita dengan penuh sukacita demi iman kita.
Dewan : Apakah pendapatmu dengan misa?
Elizabeth : Saya tidak setuju dengan misa yang anda
lakukan namun apa yang sesuai dengan firman
Tuhan akan saya junjung tinggi.
Dewan : Apa pendapatmu tentang sakramen suci?
Elizabeth : Saya tidak pernah temukan di Alkitab kata
sakramen suci dalam namun saya baca tentang
perjamuan Tuhan.
Dewan : Apa yang Alllah katakan ketika Ia mengadakan
Perjamuan dengan murid-muridNya ?
Elizabeth : Apa yang Ia katakan ? Daging atau Roti ?
Dewan : Dia memberikan mereka roti.
Elizabeth : Apakah Allah terus-menerus duduk di sana dan
siapakah yang dapat makan daging Allah ?
Dewan : (Langsung mengubah topik pertanyaan).
Mengapa anda menentang baptisan bayi ?
Mengapa anda dibaptis ulang ?
Elizabeth : Anda salah, saya tidak dibaptis ulang. Saya
dibaptis ketika saya mengakui iman saya sebab
ada tertulis baptisan adalah milik orang
percaya.
Dewan : Apakah maksud anda anak kecil yang dibaptis
sejak bayi pasti tersesat ?
Elizabeth : Tidak. Saya tidak boleh menghakimi anak-
anak.
Dewan : Apakah anda tdak mengharapkan keselamatan
ketika anda dibaptis ?
Elizabeth : Tidak tuan-tuan, semua air di sungai tidak
dapat menyelamatkan saya tetapi keselamatan
hanya pada Kristus dan Ia telah memerintahkan
saya untuk mengasihiNya lebih dari segala-
galanya dan mengasihi sesamaku seperti
mengasihi diriku sendiri.
Dewan : Apakah imam-imam punya kuasa untuk
mengampuni ?
Elizabeth : Tidak tuan-tuan, bagaimana mungkin saya
mempercayai hal ini, hanya melalui Kristus
satu-satunya imam kita maka kita akan
diampuni (mengutip Ibrani 7:21).
Setelah ia disidang dan beberapa hari kemudian ia disiksa. Hans, pelaku penyiksaan memakukan sekrup ke dalam jari-jari Elizabeth dan darh pun segera menucur deras. Elizabeth berseru agar Allah menolongnya dan secara ajaib tiba-tiba rasa sakit yang ia alami pun hilang. Pada saat itu Dewan meminta Elizabeth menyebutkan orang-orang yang seiman dengn Elizabeth, namun ia menolak untuk mengatakanya.
Akhirnya keputusan dewan pun mengumumkan bahwa penghukuman Elizabeth jatuh pada tanggal 27 Maret 1549. Elizabeth akan dihukum dengan cara dimasukan ke dalam karung dan ditengelamkan. Elizabeth pun hanya bisa menangis dan bersedih dengan ketidak adilan yang menimpanya dan ia hanya bisa pasrah kepada Allahnya. Elizabeth tahu bahwa air di laut akan membunuh tubuhnya tetapi ketika ia ia ditengelamkan beberapa saat kemudian ia akan bangun dengan tubuh yang kekal di surga.
Tertullian di abad ke dua mengatakan, “kita menjadi semakin banyak dan berlipat ganda ketika kita menabur, dan darah Kristus adalah benih.” Pernyataan ini sering diartikan bahwa darah para martir adalah benih gereja.” Kiranya Allah memberikan kita anugerah untuk menderita dengan penuh sukacita demi iman kita.
Rahasia Kepastian Masuk Surga
KAPAN SAJA SAYA MATI
SAYA PASTI MASUK SURGA
PENDAHULUAN
“Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut,” Ams 14:12.
Ayat ini merupakan sebuah peringatan dan sekaligus nasehat. Di dalamnya tersirat peringatan
agar berhati-hati karena ada banyak jalan ciptaan manusia yang sesungguhnya akan membawa bahaya
maut. Kita diperingatkan agar berhati-hati, jangan sampai sesudah kita tiba di ujung jalan kehidupan
kita barulah kita berpikir. Itu pasti sudah terlambat.
Dan ayat ini juga mengandung nasehat supaya kita berpikir dan berpikir di dalam menentukan
apa yang akan kita percayai sebelum kita sampai ke ujung jalan kehidupan kita. Tiap-tiap agama di
dunia ini menyatakan bahwa ajarannya adalah yang paling benar, itu menyebabkan timbul persaingan
yang bagaikan persaingan dalam dunia bisnis. Bukan hanya antar agama bersaingan, bahkan aliranaliran
dalam suatu agama pun saling bersaing di dalam hal definisi tafsiran mereka terhadap kitab suci
yang sama.
Kalau dalam dunia bisnis, persaingan yang sehat akan sangat menguntungkan konsumen
karena akan memungkinkan konsumen mendapatkan barang yang murah dan baik. Bagi pemilik
product yang baik dan bermutu, ia sama sekali tidak kuatir terhadap persaingan, namun sebaliknya
bagi pemilik product yang tidak bermutu. Sering kali terjadi, pemilik product yang kurang bermutu
menghendaki sistem proteksi, monopoli bahkan memakai kekerasan atau kuasa pemerintah untuk
melindungi atau memihak kepadanya sambil menindas yang lain.
Dalam dunia kerohanian juga terdapat hal yang hampir sama, yaitu adanya pihak tertentu yang
menyadari bahwa kebenaran agamanya kurang dapat dipertahankan, sehingga pemimpinnya
mendorong penganutnya untuk memakai cara-cara yang tidak terpuji, bahkan menyerang yang lain.
Mereka tidak berani berargumentasi melainkan memilih cara kekerasan atau mempergunakan kuasa
pemerintahan untuk melarang bahkan menindas yang lain. Hal demikian dapat kita amati sepanjang
sejarah sejak adanya berbagai agama atau aliran agama di muka bumi.
Pemerintah yang baik, sebagaimana ia memberikan kebebasan kepada dunia bisnis untuk
bersaing agar rakyat mendapatkan yang baik/bermutu dan murah, seharusnya juga memberi kebebasan
kepada dunia kerohanian untuk berargumentasi agar rakyat dapat memilih yang mereka anggap/yakin
benar. Kalau pemerintah ingin berdiri di pihak yang netral, maka pemerintah tidak boleh
mempermasalahkan rakyatnya yang masuk agama yang mereka yakini sejauh mereka tidak melakukan
tindakan kriminil. Tidak ada hal yang salah jikalau pengikut suatu agama atau aliran dalam satu agama
mengajar, bernyanyi, dan berargumentasi untuk membenarkan ajaran mereka sejauh mereka tidak
mencelakai orang lain dan merusak harta-benda milik orang lain.
2
Karena ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut, maka marilah kita
berargumentasi tanpa kekerasan dan intimidasi. Agama atau denominasi sebuah agama yang memakai
kekerasan atau kekuasaan itu sudah membuktikan keraguan penganutnya atas kebenaran yang
diyakininya.
Buku kecil ini ditulis kepada orang yang cinta kebenaran agar melaluinya jalan kebenaran yang
membawa kepada hidup dapat difahami dan dimiliki. Berpikirlah dan sadarlah; jangan setelah tiba di
ujung jalan baru bertindak, karena itu telah terlambat.
Jakarta, 10 September 1996
Dr.Suhento Liauw
3
1
MAKNA
KESELAMATAN YANG SEJATI
Pada dasarnya semua manusia senang mendengar dan menerima ucapan selamat. Ketika seseorang
menghadapi peristiwa-peristiwa besar dalam hidupnya, ia merasa sangat bahagia dengan ucapanucapan
selamat dari keluarga, teman-teman, dan
semua kenalannya. Sekalipun semua ucapan selamat
itu biasanya sekedar bersifat basa-basi, namun toh itu
cukup membuatnya bahagia juga.
Ketika seseorang terhindar dari suatu
malapetaka, ia akan diucapkan selamat oleh orangorang
di sekelilingnya walaupun keselamatan yang
diperolehnya adalah keselamatan yang semu dan
sangat sementara sifatnya. Mengapa dikatakan semu
dan sementara? Karena pada hakekatnya ketika
seseorang terhindar dari suatu malapetaka, sangat
mungkin malapetaka lain sedang menantinya.
Tidak ada satu manusia pun yang dapat
memiliki keselamatan yang sejati dalam hidupnya
sebelum ia terhindar atau dijamin pasti akan terhindar
dari malapetaka yang terakhir. Karena sekalipun ia
terhindar dari satu malapetaka, sesungguhnya masih
ada banyak malapetaka lain sedang menantinya. Keselamatan yang sejati itu diperoleh seseorang
jikalau ia sudah sungguh-sungguh terlepas dari malapetaka penghabisan yang sesudahnya tidak ada
lagi malapetaka lain.
Semestinya tidak ada seorang pun yang tidak mendambakan keselamatan yang sejati itu karena
terhadap keselamatan yang semu saja manusia sudah sedemikian mendambakannya sehingga ketika
pada hari-hari tertentu ia ingin sekali diucapkan selamat sekalipun itu hanya sekedar penghiburan saja,
4
bayangkan kalau ia bisa mendapatkan keselamatan yang sejati itu. Ada sebagian manusia yang
kelihatannya seperti tidak mempedulikan keselamatan yang sejati, namun sebenarnya ia sedang dihasut
untuk tidak mempedulikannya. Sebagian lagi mungkin karena tidak mengetahui dengan jelas
malapetaka apakah yang akan dihadapinya. Ia tidak pernah mendengar bahwa manusia yang sudah
mati akan menghadap Penciptanya untuk dihakimi. Ia menyangka kehidupan manusia itu sama dengan
kehidupan ayam yang dipotong tiap hari. Namun sekalipun ia beranggapan demikian ia tetap tidak
mau dianggap atau disamakan dengan ayam melainkan tetap percaya bahwa manusia itu lebih khusus.
Memang manusia itu makhluk khusus yang Tuhan hembusi roh ketika diciptakanNya. Oleh sebab itu
manusia bisa berpikir, memiliki kesadaran diri serta mempunyai nilai moral.
Malapetaka yang terakhir dan yang terbesar yang akan dihadapi manusia ialah ketika ia mati
ia akan dikumpulkan bersama dengan sekelompok malaikat yang membangkang terhadap Allah
beserta setiap orang yang mengikuti jejaknya. Penderitaan yang akan mereka alami di situ itu setimpal
dengan perbuatan jahat yang telah mereka perbuat di dunia ini. Di sana tidak ada lagi kasih karena
yang terkumpul di sana adalah orang-orang yang telah tidak mengenal kasih. Di sanalah Allah
membiarkan mereka melampiaskan kebejatan moral mereka dan kebusukan hati mereka. Bukan hanya
itu, kita baca di dalam Alkitab, yaitu di dalam kitab nabi Yesaya 66:23-24 bahwa tempat itu adalah
tempat penghukuman bagi setiap manusia yang tidak mempedulikan Allah. Di situ ulat-ulatnya tidak
akan mati, dan apinya tidak akan padam, mereka semuanya akan menjadi kengerian bagi segala yang
hidup.
Suatu tempat penghukuman terakhir bagi orang-orang yang membangkang terhadap Allah
yang oleh manusia disebut Neraka. Tentang tempat itu dijelaskan dengan lebih lengkap lagi di bagian
lain dari Alkitab. Hampir setiap bangsa di dunia ini mempunyai dongengnya tersendiri tentang tempat
yang mengerikan itu. Mengapa demikian? Karena sesungguhnya di dalam lubuk hati manusia yang
paling dalam ia menyadari dan mengakui adanya ketidakberesan dalam hidupnya dan itu akan
menyulitkannya untuk mempertanggungjawabkan hidupnya di hadapan Penciptanya. Manusia tahu
tentang apa yang diperbuatnya, dan tahu juga bahwa semua itu akan menyebabkan ia tidak bisa
menghampiri Allah yang maha suci, yang tidak dapat membiarkan kejahatan yang sekecil apapun
menghampiriNya, apalagi tinggal bersamaNya. Hati yang sudah pernah melakukan kejahatan dan yang
selalu cenderung melakukan kejahatan itulah hati manusia berdosa yang menyadari bahwa akan
dihukum.
Dosa yang diperbuat manusia menyebabkan ia tidak bisa menghampiri Allah karena Allah
adalah Pribadi yang maha-suci. Tempat bagi manusia berdosa ialah Neraka. Di situ ia akan bersama
iblis, yaitu penghasut manusia dan pemberontak terhadap Allah. Alkitab menyatakan bahwa tidak ada
seorang pun di dunia ini yang tidak pernah berbuat dosa, karena sejak manusia dilahirkan ia telah
dilahirkan di dalam dosa. Sifat dosa nenek moyangnya diturunkan kepadanya bagaikan penyakit
turunan. Selain itu ia sendiri juga berbuat dosa, terus dan terus berbuat dosa. Seperti ada tertulis,
tidak ada yang benar, seorang pun tidak (Roma 3:10).
Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23).
Lalu bagaimanakah manusia yang berdosa itu mungkin kembali ke hadirat Allah untuk
menikmati kemuliaan dan kebahagiaan bersamaNya? Tidak ada cara lain kecuali dosa, yaitu
5
penyebab malapetaka itu disingkirkan. Dosa inilah penyebab kecelakaan terbesar yang harus
dialami manusia, yaitu mati dan dihakimi.
Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu
dihakimi (Ibrani 9:27).
Terhindar dari malapetaka yang terbesar inilah yang kita sebut memperoleh keselamatan yang
sejati karena sesudah malapetaka yang satu ini selanjutnya tidak ada malapetaka lain lagi. Selanjutnya
bagaimanakah cara untuk memperolehnya? Masalahnya bukan mau atau tidak mau melainkan cara
memperolehnya. Kerinduan manusia terhadap keselamatan yang sejati itu pada umumnya sudah
sangat nyata. Ada yang pergi bertapa, ada yang berusaha dengan berpuasa, bahkan ada yang berusaha
mendapatkannya dengan amal. Seandainya ada patokan harga yang ditetapkan untuk dibayar agar bisa
masuk Surga, tentu banyak orang akan berusaha keras untuk membayarnya. Namun akal sehat kita
memberitahukan kita bahwa manusia masuk Surga dengan uang itu hal yang tidak mungkin. Hal ini
juga berarti bahwa Surga itu tidak bisa dicapai dengan usaha manusia.
Keselamatan yang sejati itu bisa diperoleh kalau penyebab malapetaka terbesar itu bisa diatasi
atau dibereskan. Penyebab malapetaka terbesar itu ialah dosa manusia. Karena dosa itulah maka
manusia tidak mungkin menghampiri Allah. Itu sama sekali bukan karena Allah sangat jahat sehingga
Ia tidak memperbolehkan manusia berdosa menghampiriNya, melainkan karena sifatNya yang mahasuci
itu tidak memungkinkanNya dihampiri oleh manusia yang berdosa.
Sesungguhnya Allah sangat ingin agar semua manusia yang telah diciptakanNya itu bisa
kembali kehadiratNya untuk menikmati kemuliaan dan kebahagiaanNya.
Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai
kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang
binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat (II Pet 3:9).
Ayat tersebut di atas membuktikan bahwa Allah sangat menghendaki agar manusia bisa
kembali kehadiratNya. Apapun akan dilakukanNya demi untuk menyelamatkan manusia. Namun Allah
tidak bisa melakukan hal yang bertentangan dengan sifatNya. Ia tidak mungkin mencuri harta orang
kaya untuk diberikan kepada orang miskin karena mencuri itu bertentangan dengan sifatNya.
Kalau Allah sangat rindu menyelamatkan manusia, pertanyaan yang layak untuk dipertanyakan
ialah, apakah manusia yang bersangkutan merindukan keselamatan dirinya? Adakah manusia
memikirkan keselamatan jiwanya? Bagaimana dengan anda?
6
2
USAHA MANUSIA UNTUK MENGHAPUSKAN DOSA
eandainya ada semacam alat atau bahan pencuci dosa, maka suasana di dunia ini pasti menjadi lain.
Pastilah bahan atau alat itu akan laku keras dan ia merupakan komoditi pendatang devisa yang paling
dominan, seperti yang pernah dibuat zaman dulu, yaitu surat pengampunan dosa yang diperjual
belikan Gereja Roma Katolik. Kalau alat atau bahan itu mahal maka yang akan selamat adalah orang
kaya, dan pasti orang kaya akan semakin sombong sehingga sangat dibenci, sementara yang
membenci menambahi dosa mereka sehingga semakin sulit mengatasinya. Tetapi seandainya alat atau
bahan itu murah sekali, maka orang akan semakin berani berbuat dosa karena alat pencucinya murah
serta gampang diperoleh di mana-mana. Keadaan itu akan menyebabkan orang-orang di dunia ini
semakin jahat sehingga kita semua tidak tahan hidup di dunia ini. Atau dunia ini akan langsung
berubah menjadi Neraka.
Kalau seandainya anda yang diberi wewenang untuk menentukan harga dari alat atau bahan
penghapus dosa itu, maka mau dijual dengan harga yang mahal atau murah? Pada waktu itu anda akan
stress karena tidak tahu harus dijual dengan harga mahal atau murah. Seandainya seluruh
keuntungannya adalah milik anda, pasti anda akan cenderung menjualnya dengan harga yang mahal,
sedangkan kalau keuntungannya bukan milik anda pasti anda akan menjualnya dengan harga yang
murah supaya keluarga dan teman-teman anda sanggup membelinya. Kalau begitu, yang paling
membutuhkan alat atau bahan itu adalah anda sendiri, karena keegoisan anda itu langsung terbukti.
Adakah cara, bahan, atau alat untuk menghapuskan dosa manusia sehingga memungkinkannya
masuk ke Surga untuk menikmati kebahagiaan Allah? Pertanyaan ini sudah dipertanyakan sejak
dahulu kala, bahkan kelihatannya sebagian manusia telah lelah mempertanyakannya sehingga tidak
mau bertanya lagi melainkan mempersiapkan diri untuk masuk ke Neraka saja.
Ada yang berusaha memperbaiki suasana di Neraka agar orang yang dikasihinya tidak terlalu
menderita di sana. Mereka mengirim televisi, dan ada yang mengirim kulkas, bahkan ada yang
mengirim pembantu untuk dinikmati orang yang dicintai mereka. Untung boneka pembantu itu tidak
ditulisi nama, kalau ditulisi nama, maka dapat kita bayangkan kalau kebetulan namanya persis dengan
nama salah seorang pengunjung/ pelayat.
7
Bersiap-siap masuk Neraka itu sebuah cerminan keputusasaan sebagian manusia karena tidak
mendapatkan cara untuk masuk Surga. Berbagai cara telah diusahakan manusia sejak zaman dahulu
kala. Ada yang berusaha masuk Surga dengan bertapa. Usaha semacam ini dimaksudkan agar hati
nurani yang bersangkutan dapat dimurnikan dengan banyak merenung dan berdiam diri. Andai kata
pada saat seseorang sedang bertapa itu ia tidak berbuat dosa, namun bagaimana dengan dosanya yang
sudah pernah dibuat? Dan, setelah ia keluar dari pertapaan, apakah ia tidak akan berbuat dosa lagi?
Siapapun yang berakal sehat akan menjawab, selagi kita hidup di dunia ini kita tetap mempunyai
kemungkinan melakukan dosa.
Kalau dengan bertapa manusia dapat menghapuskan dosanya, maka semest inya sejak
lahir ia sudah mulai bertapa hingga ia mati. Atau kalau pertapaan s e t a h u n
dapat menghapuskan dosa yang dibuat selama setahun, maka seseorang
yang ingin masuk Surga harus bertapa lebih dari lima p u l u h
persen waktu hidupnya.
Sebagian lagi mengajarkan bahwa dosa dapat di
hapuskan dengan mengikuti rituil upacara-upacara yang k
husyuk atau berpuasa. Banyak orang yakin usaha ini akan b
erhasil sebab hati nurani mereka sedikit terobati oleh rituil u p
acara yang dibuat sedemikian rupa, atau usaha menahan lapar yang
sangat berat sehingga hal-hal itu membawa kesan secara ps ik
ologis bahwa itu tidak mungkin sia-sia. Namun, pasti tidak a d a
seorangpun yang akan setuju jikalau anggota keluarganya dibun
uh oleh seseorang dan pembunuh itu hanya diperintahkan untuk
melakukan sejumlah upacara, atau berpuasa dalam suatu ja ng
ka waktu, dan sesudah itu habis perkara. Kita yang bodoh saja t ahu
bahwa tidak adil kalau seseorang yang telah membunuh itu hanya d imi n t a u n t u k
melaksanakan upacara tertentu atau hanya disuruh untuk berpuasa apalagi Allah, betul?
Mungkinkah keselamatan itu diperoleh dengan melakukan kewajiban agama atau upacaraupacara?
Dapatkah dosa dihapuskan dengan upacara? Jawablah sendiri dengan akal sehat anda! Kalau
bisa maka pemerintah kita tidak memerlukan penjara lagi.
Ada lagi sebagian orang yang memberikan pandangan dari sudut pandang perdagangan.
Mereka mengatakan bahwa Allah akan mempertimbangkan jumlah dosa dan jumlah amal yang telah
dilakukan seseorang di dunia. Kalau ternyata dosa seseorang itu lebih banyak dari amalnya orang
tersebut tidak dapat masuk Surga, sedangkan kalau ternyata amalnya lebih banyak dari dosanya orang
tersebut boleh masuk Surga, maka itu berarti manusia yang ingin masuk Surga harus rajin berbuat
amal.
Namun anehnya mereka tidak mengetahui tentang patokan yang dipakai untuk mengukur amal
dan dosa, yaitu per-kilogram, per-meter kubik atau per-liter. Mereka juga tidak dapat mengetahui
dosa jenis tertentu itu sekian beratnya dan amal jenis tertentu itu sekian beratnya. Kalau manusia
dapat masuk Surga dengan amal yang lebih banyak daripada dosa, mestinya ada tabel dosa dengan
ukurannya, barulah manusia dapat memastikan, apakah ia sudah pasti masuk Surga atau masih
memerlukan tambahan amal?
Tidak heran kalau ada penganut faham ini yang merasa amalnya sudah cukup banyak sehingga
Kepada perawat saya mohon m 1 aaf. Ini hanya cerita perumpamaan.
8
ia berani membelanjakan amalnya dengan jajan ke tempat-tempat mesum. Seorang konglomerat yang
sudah sering menyumbang aktivitas sosial pasti akan merasa tidak menjadi masalah untuk memiliki
“simpanan” di perumahan. Lihatkah anda bahwa sistem amal itu bukan mengurangi dosa melainkan
menambah? Tuhan yang bijak tidak mungkin memakai cara yang terkesan bodoh dan konyol.
Dan lagi seandainya manusia dapat masuk Surga dengan keberhasilannya dalam berbuat
amal, maka itu berarti Surga adalah hasil prestasi manusia. Hal itu juga berarti di antara semua kesuksesan
seorang manusia, kesuksesan yang terbesar dan yang terpenting dalam hidupnya adalah
keberhasilannya untuk masuk Surga. Kalau begitu, orang-orang yang masuk Surga itu pasti akan
sangat sombong karena keberadaan mereka di Surga adalah bukti kehebatan mereka. Mungkinkah
Allah mengijinkan seseorang masuk Surga dengan cara yang dapat membuatnya menjadi sangat
sombong?
Seandainya manusia diijinkan masuk Surga karena amalnya lebih banyak daripada dosanya,
maka di Surga akan ada banyak orang yang berkata demikian, “saya sungguh beruntung sekali, sebab
sebelum saya dibawa ke rumah sakit menjelang kematian saya, amal saya itu seimbang dengan dosa
saya. Namun ketika saya didorong masuk oleh perawat, saya berusaha tersenyum dengan setiap orang
yang lewat di samping saya. Dan perawat yang melayani saya pun tak luput dari senyuman saya.
Akhirnya saking lelahnya saya memaksakan diri untuk tersenyum, saat itulah saya mati. Namun
ternyata perbuatan saya itu menghasilkan amal yang lumayan sehingga menyebabkan jumlah amal
saya melonjak menjadi lebih banyak dari dosa saya.” Ha..ha.. ia masuk Surga karena senyuman.
Seandainya dimasukkan ke Neraka itu karena kekurangan amal, maka di Neraka akan banyak
orang yang berkata demikian, “saya sungguh sial, sebab ketika saya mendapat serangan jantung, amal
dan dosa saya itu seimbang. Tetapi karena waktu saya sampai di rumah sakit, ternyata perawat yang
bertugas malam itu ada kemungkinan yang belum lulus, sehingga ketika ia berusaha mencari pembulu
darah untuk meng-infus saya, ia tusuk sini salah dan tusuk sana salah lagi sehingga saya menjadi emosi
dan saya marah sekali kepadanya, dan celaka sekali karena justru pada saat saya marah itulah napas
saya putus. Itulah yang menyebabkan dosa saya melonjak sehingga saya dimasukkan ke sini. Padahal
sebelumnya amal saya sedikit lebih banyak daripada dosa saya.” Kasihan, ia masuk ke Neraka karena
kesalahan perawat.1
Mungkinkah dengan mengandalkan prestasi manusia Surga itu dicapai? Kalau mungkin, itu
berarti sebuah prestasi manusia yang gilang gemilang dan sangat patut dibanggakan. Setiap orang
yang memiliki pikiran yang sehat pasti tidak akan setuju jikalau ada seorang penjahat yang telah
membunuh seseorang kemudian dinyatakan tidak perlu dihukum melainkan cukup diwajibkan berbuat
amal secukupnya. Mengapa tidak setuju? Pasti orang kaya akan lebih leluasa membunuh orang yang
tidak disukainya dan kemudian mendirikan panti asuhan atau panti werda atau bahkan membagibagikan
harta mereka di tepi jalan.
Sesungguhnya amal hanya dapat membantu menjadikan kehidupan ini tidak terlalu
menyeramkan. Memang tidak dapat disangkal bahwa amal akan membuat seseorang kelihatan seperti
orang baik, namun itu hanya pada aspek luar saja. Sebab ketika seseorang mengambil uang yang tidak
menjadi haknya biasanya dilakukannya secara sembunyi-sembunyi. Tetapi giliran saat ia menyumbang
kepada suatu korban bencana alam atau pada fakir miskin, pada umumnya dilakukan dengan terbuka
9
atau bahkan mengundang wartawan agar diberitakan. Ketahuilah amal tidak dapat menghapuskan
dosa, ia cuma membuat dosa kelihatan kurang jelas.
Jika sebuah gelas yang kita umpamakan sebagai kehidupan manusia itu kita isi cairan racun
nyamuk baygon seperempat gelas, dan baygon itu kita umpamakan dosa, apakah dengan menambahkan
air tawar yang kita umpamakan amal itu baygonnya akan hilang? Tidak mungkin! Air tawar itu
hanya membuat racunnya agak tawar dan menjadi kurang jelas, namun tetap masih ada di dalam gelas.
Demikian juga dengan kehidupan kita. Dapatkah dosa dihilangkan dengan menambahkan amal? Tidak
mungkin! Itu hanya sekedar membuat kejahatan manusia menjadi kurang jelas, namun kejahatan yang
pernah dibuatnya tetap masih ada. Cairan baygon masih tetap ada di dalam gelas, namun tidak
terlihat jelas karena tercampur dengan air tawar. Jika gelas itu dibawa ke laboratorium, maka akan
sangat gampang bagi seorang ahli kimia untuk memisahkan racun baygon itu dari air tawar.
Hal ini sama persis dengan keadaan manusia yang mencoba menyelesaikan masalah dosanya
dengan amal. Kehidupannya dianggap baik oleh orang-orang di sekelilingnya karena telah
dicampurkan dengan amalnya. Ia dapat membagikan hadiah dan pada momen-momen tertentu ikut
aksi sosial. Pokoknya semua orang akan mengatakan bahwa ia benar-benar orang baik yang amalnya
berlimpah-ruah. Namun tentu ia tidak dapat mengelabui Allah yang maha suci dan maha tahu. Betul,
amalnya banyak, tetapi itu sama sekali tidak menghilangkan dosanya. Bahkan Allah tahu bagaimana
cara ia mendapatkan uang yang telah memungkinkan ia melakukan action munafiknya.
Ada juga orang yang tidak bergiat berbuat amal namun ia yakin bahwa ia telah menghidupi
kehidupan yang baik. Ia tidak membunuh, tidak merampok, tidak mencuri, oleh sebab itu ia yakin
bahwa dirinya pasti akan masuk Surga. Orang demikian lupa bahwa yang menyebabkan manusia tidak
masuk Surga itu bukan karena jumlah dosanya yang terlalu banyak, melainkan hanya karena ada dosa.
Bukan karena banyak-sedikitnya tetapi karena ada-tidaknya. Ketika engkau disebut ‘orang berdosa’
maka engkau tidak diperbolehkan masuk Surga. Untuk menyandang nama itu tidak diperlukan dosa
yang lebih banyak dari amal, melainkan satu dosa saja cukup untuk menyandang predikat ‘orang
berdosa.’
Manusia masuk Neraka itu karena tidak bisa masuk Surga karena memang hanya ada dua
tempat bagi manusia ketika ia meninggal dunia. Oleh sebab itu kalau ia tidak bisa kembali ke Surga
menikmati kebahagiaan dan kemuliaan Allah, maka tidak ada tempat lain lagi selain Neraka. Alkitab
memberitahukan kita bahwa sesungguhnya hanya ada dua kelompok manusia saja, yaitu yang
mempedulikan Allah dan yang mengabaikan Allah, atau yang di luar Allah dan yang di dalam Allah.
Agar berada di dalam Allah tentu perlu didahului sikap mempedulikan Allah. Kepedulian
terhadap Allah Pencipta akan menuntun seseorang menghargai jalan yang ditawarkanNya, apalagi
jalan itu adalah jalan yang justru untuk menyelamatkan manusia. Bagaimana dengan anda?
10
3
CARA MENGHAPUS DOSA
YANG MENURUT ALLAH
Semua pemerintahan di dunia memiliki hukum pidana yang dipakai untuk menentukan berbagai
hukuman terhadap orang yang melanggar hukum. Dari manakah manusia tahu bahwa orang yang
bersalah harus dijatuhkan hukuman? Jawabannya ialah karena manusia adalah makhluk bermoral yang
diciptakan oleh Allah yang bermoral, bahkan yang maha-suci, maka Allahlah yang menanamkan sense
of justice di dalam diri manusia. Di dalam sebuah negara hukum semua bentuk pelanggaran hukum
itu dibereskan dengan menjalankan penghukuman yang telah diputuskan pengadilan.
Jika ada orang yang bersalah karena mencuri ayam, maka ia akan diajukan ke pengadilan, dan
pengadilan akan menjatuhkan hukuman terhadapnya, misalnya masuk penjara selama tiga bulan dari
tanggal 1 Januari sampai 31 Maret. Tidak ada cara lain bagi si pencuri ayam itu untuk menebus
kesalahannya selain menjalankan hukuman yang telah ditentukan oleh hukum baginya. Mau tidak mau
ia harus meringkuk di dalam penjara dari tanggal 1 Januari sampai tanggal 31 Maret untuk menebus
kesalahannya. Tentu ia tidak boleh pergi melaksanakan rituil penyembahan, bertapa, atau berpuasa,
atau melakukan amal bakti untuk menggantikan penghukuman yang telah ditentukan oleh hukum.
Chun Do Wan, mantan presiden Korea Selatan yang pernah memerintah dengan kejam, ketika
turun tahta ingin menghapus kesalahannya dengan menjadi biksu. Namun rakyatnya tidak mau
menerima cara jitunya untuk menghindar dari tanggung jawab itu. Akhirnya mereka tetap
menyeretnya ke pengadilan. Perkara ini sedang disidangkan ketika buku ini ditulis. Ia dituntut dengan
hukuman mati.
Alkitab mengatakan bahwa setiap manusia yang telah berdosa itu harus mati dan kemudian
akan dihakimi Allah. Tidak ada jalan lain bagi manusia kecuali mati dan menerima penghakiman
(Ibrani 9:27).
Setelah pencuri ayam yang kita jadikan perumpamaan itu meringkuk di dalam penjara selama
tiga bulan, kemudian tibalah hari yang dinanti-nantikannya yaitu tanggal 1 April. Pada hari itu ia akan
dibebaskan. Dan pada saat ia dibebaskan ia bukan narapidana lagi karena ia telah menjalani
penghukuman atas dosa yang dilakukannya.
11
Karena tidak ada jalan untuk membereskan dosa selain menjalani penghukuman yang telah
ditetapkan, maka Allah yang Maha Suci, yang Maha Adil akan menjatuhkan penghukuman terhadap
setiap manusia yang berdosa. Namun karena kasihNya yang amat besar, yang sama besar dengan sifat
keadilanNya itu menuntutNya bertindak untuk melakukan sesuatu, maka Ia merencanakan jalan
keselamatan yang tidak mungkin bertentangan dengan sifat kemaha-adilanNya dan kemahasucianNya.
Ia merencanakan untuk menjadi manusia yang tidak berdosa untuk menerima hukuman yang telah
ditentukan, bahkan turun ke Neraka. KemanusiaanNya telah mati ketika Ia menjalankan penghukuman
di atas kayu salib, namun keilahianNya membangkitkanNya dari kematian dan Ia kembali ke Surga.
Jauh sebelum apa yang direncanakan ini dilaksanakanNya, Ia memerintahkan manusia yang
ingin diselamatkan untuk mempersembahkan korban, yaitu mengambil seekor domba, sambil
memegang kepala domba itu dombanya disembelih. Maksudnya ialah dosa orang yang bersangkutan
ditanggungkan ke atas domba itu. Hal ini diperintahkan demi mengajarkan konsep penghukuman
terhadap dosa yang digantikan oleh domba. Domba itu hanya sekedar g a mb a r a n
saja, ia tidak mungkin dapat menggantikan manusia menanggung d o s a ,
karena apalah kehebatan domba sehingga ia layak mena
nggung dosa manusia?
Namun Allah lakukan semua itu hanya sekedar b a
han pelajaran bagi manusia agar manusia memahami fungsi Jur
uselamat sebagai pengganti manusia berdosa menerima p e
nghukuman yang bagaikan domba di atas mezbah. Dalam k i t
ab Ibrani 10:1 dan seterusnya dituliskan dengan jelas
sekali bahwa semua itu hanya sekedar bayangan saja,
itu tidak dapat menyelamatkan melainkan sekedar u n t u k
mengingatkan manusia bahwa ia berdosa.
Ayat 4 mengatakan:
“Sebab tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapuskan dosa.”
Janganlah ada orang menyangka bahwa dosanya dapat disucikan dengan mengorbankan
seekor domba. Dan hendaknya setiap orang memahami bahwa semua itu hanya sekedar gambaran
saja. Ketika Yohanes Pembaptis melihat Allah yang menjelma menjadi manusia, yaitu Yesus, yang
sedang lewat di depannya berkatalah ia:
“Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia.”
Jadi, jelas sekali domba yang selalu disebut di dalam kitab Perjanjian Lama, atau yang
dipersembahkan oleh Abraham, Musa, dan lain lain itu sebenarnya hanya untuk menggambarkan
Yesus. Tidak mungkin salah lagi bahwa domba yang dijadikan korban di dalam zaman Musa itu
menggambarkan Yesus yang mati tersalib karena dosa manusia.
Yesus, yang digambarkan dengan domba pada zaman Musa adalah Juruselamat yang
ditentukan Allah bagi setiap manusia di segala zaman, termasuk mereka yang hidup sebelum
kelahiranNya karena setiap orang yang percaya kepada darah domba yang dipersembahkan, berarti
12
ia telah percaya juga kepada Domba Allah yang dijanjikan walaupun masih dalam penggambaran.
Dosanya telah ditanggung bukan oleh domba yang dipersembahkannya pada waktu itu, melainkan
oleh Domba Allah yang sedang dijanjikan, yaitu Yesus Kristus yang akan datang.
Walaupun pada waktu itu orang-orang yang hidup pada zaman Musa kurang memahami
kebenaran ini karena fasilitas untuk menjelaskannya sangat terbatas, namun mereka tetap bisa
diselamatkan. Karena tindakan mempersembahkan korban itu sudah menandakan bahwa mereka
percaya dan taat kepada Allah yang akan mengirim Anak DombaNya.
Kita yang hidup pada zaman sekarang, yaitu zaman dimana Domba Allah telah diutus dan
telah mati bagi kita di atas kayu salib untuk mengorbankan diriNya yang tidak berdosa demi
menggantikan kita, kita diselamatkan dengan percaya kepadaNya tanpa perlu melakukan
bayanganNya, yaitu mempersembahkan domba.
Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuatNya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia
kita dibenarkan oleh Allah (II Kor 5:21).
Jelas sekali bagi kita bahwa posisi domba dalam Perjanjian Lama (masa sebelum Yesus
dilahirkan) yang menjadi pengganti orang berdosa menerima penghukuman itu hanya menggambarkan
Yesus yang akan datang. Ketika Ia tergantung di atas kayu salib posisiNya adalah posisi manusia
yang paling berdosa yang sedang memikul dosa seisi dunia. Itulah sebabnya Allah Bapa yang maha
suci tidak bersamaNya, maka Ia berseru:
“Eli, Eli, Lama Sabakhtani,” yang berarti:”AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau
meninggalkan Aku?” (Mat 27:46).
Yesus bukan tidak tahu mengapa Allah meninggalkanNya. Pertanyaan itu dipertanyakanNya
agar kita tahu bahwa pada saat itu Ia menempati posisi orang yang paling berdosa sehingga Allah
Bapa meninggalkanNya. Dosa yang ditanggungNya bukanlah dosa yang dilakukanNya, juga bukan
hanya dosa umat pilihanNya, melainkan dosa seisi dunia (Ibr 2:9 I Yoh 2:2), termasuk dosa anda dan
dosa saya.
Sama seperti orang-orang yang hidup pada zaman Musa yang dibenarkan karena percaya
kepada pengorbanan domba biasa yang menggambarkan Domba Allah, maka setiap orang yang
percaya kepada Yesus Kristus akan dibenarkan dihadapan Allah karena pada saat ia percaya dan
mengucap syukur atas pengorbanan Anak Domba Allah di kayu Salib itulah Allah memperhitungkan
penghukuman yang sepatutnya ia terima ke atas tubuh Tuhan Yesus. Sejak saat ia beriman kepada
Tuhan Yesus dengan sepenuh hati itulah ia dibenarkan oleh kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus
di hadapan Allah.
Alkitab menyatakan kebenaran ini dengan jelas sekali yaitu bahwa Yesus diserahkan untuk
menerima penghukuman karena pelanggaran manusia, dan dibangkitkan untuk membenarkan manusia
yang percaya.
“..... Yesus, yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitkan karena
pembenaran kita” (Roma 4:25).
13
Maksudnya, Ia telah dihukumkan untuk menggantikan manusia dan dibangkitkan serta
menghadap Allah Bapa untuk menyatakan bahwa Ia telah menanggung hukuman yang dicanangkan
bagi manusia. Orang yang telah percaya kepadaNya telah menjadi orang benar di hadapan Allah.
Benar karena apa? Karena dosanya telah dibereskan melalui penghukuman yang telah diterima Yesus
baginya.
Jadi, seseorang dibenarkan di hadapan Allah itu bukan karena ia hebat, melainkan karena ia
percaya kepada Tuhan Yesus yang telah menggantikannya menerima penghukuman, dan yang pergi
menghadap Allah Bapa untuk menyatakan bahwa ia tidak berdosa lagi, melainkan telah
dikuduskanNya.
“....Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita” (I kor l:30)
Dosa manusia yang tidak mungkin diselesaikan dengan amal, pertapaan, rituil upacara agama,
puasa dan lain sebagainya itu diselesaikan melalui percaya kepada Yesus Kristus. Karena ketika
seseorang percaya, maka hal itu sama dengan menyerahkan semua dosanya kepada Yesus yang telah
menjalani penghukuman atas dosa-dosa itu.
“Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan dan dengan mulut orang mengaku dan
diselamatkan” (Roma 10:10).
Yang terpenting adalah percaya di dalam hati, karena tanpa dibenarkan terlebih dulu tidak
mungkin seseorang bisa masuk Surga yang mulia. Walaupun ada orang yang telah mengaku sejuta
kali, namun jika hatinya tidak percaya, maka ia tidak dapat masuk Surga karena ia belum dibenarkan.
Ingat, Surga hanya dapat dimasuki oleh orang-orang benar saja.
Namun bagi yang mulutnya masih berfungsi, artinya yang masih dapat berbicara, Tuhan
merindukan pengakuannya yang bersumber dari hatinya sebagai kesaksian bagi manusia lain. Pada
saat kita percaya di hati, kita dibenarkan. Tentu yang dimaksudkan di sini adalah percaya yang seratus
persen, bukan percaya yang hanya lima puluh persen kepada Tuhan Yesus dan lima puluh persen lagi
percaya kepada dewa-dewa lain, atau hal-hal lain.
Kalau seseorang yang menambahkan hal lain atau oknum lain selain percaya kepada Tuhan
Yesus itu membuktikan bahwa ia tidak sungguh-sungguh percaya kepada Yesus karena itu
menandakan bahwa ia masih ragu akan kesanggupan Tuhan Yesus untuk menghapuskan semua
dosanya. Menambahkan siapapun atau apapun, baik itu Maria, Kong Fu Tsu, amal, baptisan dan lain
sebagainya itu membuktikan bahwa sebenarnya yang bersangkutan tidak percaya seratus persen
kepada Tuhan Yesus.
Jalan menuju ke Surga yang telah diselesaikan Tuhan Yesus itu benar-benar telah selesai,
karena sebelum Ia menyerahkan nyawaNya, Ia berseru;
“Sudah selesai” (Yoh 19: 30).
Artinya, tidak perlu ditambah dengan berbuat baik atau dengan hal-hal lain lagi karena sudah selesai!
Jangan ada orang yang berpikir bahwa selain percaya kepada Tuhan Yesus ia perlu rajin berbuat baik
agar dapat masuk Surga. Orang yang berpikir demikian itu pasti karena terpengaruh oleh berbagai
14
pengajaran yang salah.
Memang benar bahwa orang kristen diperintahkan untuk berbuat baik, tetapi bukan untuk
mendapatkan keselamatan, melainkan untuk membuktikan diri sebagai orang yang telah mengenal
Allah. Tidak ada manusia yang boleh menjadikan hasil perbuatan baiknya sebagai alasan untuk masuk
Surga karena karya keselamatan itu telah diselesaikan Tuhan Yesus. Jalan keselamatan yang Allah
sediakan itu sifatnya murni KASIH KARUNIA atau ANUGERAH, sama sekali tidak memerlukan
andil dari pihak manusia. Kalau ada andil dari pihak manusia, walaupun 0,00000001 persen, maka itu
sudah berarti bukan lagi murni KASIH KARUNIA, melainkan ada andil dari pihak manusia, dan
manusia dapat membanggakannya walaupun hanya yang sedikit itu.
Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi
pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri
(Ef 2:8-9).
Orang kristen diperintahkan untuk berbuat baik karena setelah ia diselamatkan, ia
menyandang predikat baru yaitu anak-anak Allah, orang kudus, orang benar, warga negara Surga dll.
Predikat itulah yang mendorongnya untuk hidup kudus, hidup benar, yaitu untuk menjaga nama baik
Bapanya yang di Surga, dan otomatis juga nama bapa jasmaninya.
Namun demikian ada pihak tertentu yang mengajarkan bahwa selain percaya kepada Tuhan
Yesus, seseorang harus menjalankan hukum Taurat agar dapat masuk Surga. Mereka harus
menyunatkan diri, tidak boleh makan daging tertentu dan lain sebagainya agar dapat masuk Surga.
Jemaat Galatia pada abad pertama pernah melakukan kesalahan yang serupa, yaitu setelah ada
orang Yahudi yang datang dari Yerusalem mempengaruhi mereka. Terhadap hal itu Paulus tulis surat
kepada mereka dan menegur mereka, katanya, “sekali lagi aku katakan kepada setiap orang yang
menyunatkan dirinya, bahwa ia wajib melakukan seluruh hukum Taurat. Kamu lepas dari Kristus,
jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia.” (Gal
5:3-4).
Orang-orang demikian adalah orang-orang yang ingin masuk Surga dengan andil mereka
sendiri, yang berarti menolak KASIH KARUNIA. Padahal, sudah sangat jelas dikatakan di dalam
Alkitab bahwa kita diselamatkan oleh KASIH KARUNIA melalui iman, bukan melalui hukum Taurat!
Kalau perlu ditambah dengan keberhasilan melakukan hukum taurat, maka itu berarti Tuhan tidak
menyelesaikan jalan keselamatan sampai tuntas, melainkan hanya sekian persen dan yang sisanya
harap diselesaikan masing-masing. Jelas sekali ajaran demikian tidak cocok dengan kebenaran Alkitab,
karena Alkitab memberitahukan kita bahwa jalan keselamatan telah diselesaikan oleh Tuhan Yesus.
Tindakan menambah apapun selain bertobat dan percaya kepada Tuhan Yesus adalah salah, dan
perbuatan demikian berarti tidak percaya kepada Tuhan Yesus dengan sepenuh hati.
Kematian Tuhan Yesus di atas kayu salib itu untuk menanggung dosa yang terbesar, yaitu
dosa isi dunia (I Yoh 2:2). Artinya hukuman yang ditanggungNya adalah hukuman yang diperuntukan
bagi seluruh manusia berdosa yang pernah dilahirkan. Hal ini juga berarti bahwa seluruh dosa kita,
yaitu dosa kita yang lampau, yang sekarang, bahkan yang akan datang telah ditanggungNya. Ia telah
menanggung dosa semua manusia.
Yang perlu dilakukan oleh manusia hanyalah mengakui keadaannya yang berdosa dan tidak
berpengharapan serta menerima anugerah yang telah disediakanNya. Sekalipun Ia telah menanggung
15
dosa semua manusia, itu tidak berarti orang yang memusuhiNya dan yang menolakNya akan
mendapat implementasinya. Alkitab memberitahukan kita bahwa orang yang tidak akan dihukumkan
lagi itu adalah orang yang ada di dalam Yesus Kristus (Rom 8:1, Wah 14:13). Berarti orang yang
berada di luar Dia tetap akan dihukum. Memang anugerah keselamatan telah tersedia bagi mereka dan
bagi semua orang. Mereka hanya perlu melangkah masuk ke dalam anugerah Allah, yaitu dengan
mengakui kondisi mereka dan menerimaNya sebagai Juruselamat pribadi mereka.
Proses pengakuan kondisi mereka yang berdosa dan penyambutan terhadap Sang Juruselamt
itu dapat dikatakan sebagai proses transaksi dosa dan keselamatan. Orang berdosa mengaku dan
menyerahkan dosa mereka kepada Kristus, kemudian Kristus menyerahkan kepada mereka
keselamatan yang mereka sangat perlukan. Sejak saat itu seluruh dosa mereka telah tertanggung ke
atas Dia. Ingat, seluruh adalah benar-benar seluruh bukan separuh. Seluruh dosa orang yang percaya
kepadaNya, yaitu mulai dari sifat dosa yang diwariskan Adam, sampai dosa yang terakhir yang belum
dibuatnya telah ditanggung Yesus Kristus di kayu salib. Jadi, sesungguhnya hanya melalui percaya
kepada Tuhan Yesus maka jaminan keselamatan itu sudah pasti bagi kita. Tindakan menambahkan
seseorang atau sesuatu sebagai obyek iman tambahan misalnya Maria, Budha, Kong Fu Tsu dan lain
sebagainya adalah suatu penghinaan terhadap Tuhan Yesus karena hal itu merupakan sebuah
pernyataan bahwa kematian Tuhan Yesus belum cukup untuk menyelesaikan dosanya.
Sejak seseorang percaya kepada Tuhan Yesus, maka seluruh dosanya telah terselesaikan oleh
Tuhan Yesus di kayu Salib. Sejak saat itu ia memiliki status sebagai orang kudus. Selanjutnya orangorang
yang telah dikuduskan Tuhan Yesus itu tidak membutuhkan sacrament untuk menguduskan
diri mereka. Sacrament itu diperlukan oleh orang yang belum dikuduskan Tuhan Yesus. Dalam gereja
yang benar-benar melaksanakan kebenaran Alkitab tidak akan diadakan perjamuan kudus karena
kalau jemaatnya telah dikuduskan oleh Tuhan Yesus, maka mereka tidak perlu dikuduskan lagi
dengan perjamuan.
Gereja yang memahami kebenaran akan melaksanakan PERJAMUAN TUHAN yang bertujuan
untuk mengenang kematian Tuhan (I Kor 10:21 dan 11:20). Perjamuan Tuhan adalah perjamuan yang
diperintahkan Tuhan untuk mengingat akan kematianNya (1 Kor 11:24-25). Jangan sampai ada orang
Kristen yang terpengaruh oleh konsep yang salah yang berasal dari gereja yang salah pengajarannya.
Sebab ada gereja yang mengajarkan bahwa keselamatan itu diperoleh bukan dengan hanya percaya
kepada Tuhan Yesus saja melainkan perlu dilengkapi dengan sacrament-sacrament.
Mereka mengajarkan kalau seseorang telah percaya namun belum dibaptiskan maka ia tidak
dapat masuk Surga. Jadi, bagi mereka baptisan itu sangat menentukan kepastian seseorang untuk
masuk Surga. Padahal jelas sekali penjahat yang disalibkan di sebelah Tuhan Yesus yang percaya
kepadaNya namun tidak dibaptis itu ternyata dinyatakan Tuhan Yesus sendiri bahwa ia masuk Surga.
Tuhan Yesus sengaja melakukan hal ini agar orang-orang tidak menjadikan baptisan sebagai
unsur penentu kepastian keselamatan. Baptisan adalah karya manusia, sedangkan keselamatan itu
murni Kasih Karunia Allah yang tidak membutuhkan perbuatan atau andil pihak manusia. Pembaptisan
adalah salah satu upacara yang Tuhan perintahkan untuk dilakukan oleh gereja, artinya bukan
dilakukan oleh perorangan, namun dilakukan di bawah otoritas gereja terhadap orang yang telah
percaya atau yang telah menjadi murid untuk menggambarkan Injil yang telah menyelamatkannya,
yaitu kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus. Sungguhpun Tuhan sudah mendemonstrasikan
dengan tegas dan nyata bahwa baptisan itu tidak menjadi faktor penentu keselamatan, namun toh
masih banyak orang yang tetap mau memasukannya sebagai syarat untuk masuk Surga.
Kalau mau tahu tentang baptisan alkitabiah, silakan membaca buku yang saya 2 tulis yang berjudul Baptisan Alkitabiah
16
Ketahuilah Tuhan telah terhukum di kayu Salib serta telah menyatakan sudah selesai, maka
jangan ada orang yang berlagak lebih berkuasa daripadaNya yang mencoba mempersulit orang-orang
yang mau mendapatkan kepastian keselamatan dengan menambahkannya dengan syarat baptisan.
Ada begitu banyak agama dan pengajaran di dunia ini yang mengajarkan bahwa untuk masuk
Surga diperlukan usaha atau andil dari pihak manusia, sehingga hal ini mempengaruhi sebagian orang
Kristen yang kurang memahami kebenaran Alkitab. Siapa saja yang menambahkan apa saja untuk
masuk Surga selain hanya bertobat dan percaya kepada Tuhan Yesus itu berarti menghina KASIH
KARUNIA yang disediakan Allah melalui Tuhan Yesus.
Kalau ada orang yang sedang sakit keras di rumah sakit mau bertobat dan percaya Tuhan,
perlukah ia terburu-buru dibaptiskan? Kalau ia telah bersungguh-sungguh hati bertobat dan percaya
kepada Tuhan Yesus, maka tanpa dibaptis pun ia pasti masuk Surga (Rom 3:21-25, 5:1-11, 8:1 dan
10:10 Ef 1:13, 2:8-9).
Namun ada banyak simpatisan kekristenan yang belum mengerti, yang kadang-kadang
beranggapan bahwa seseorang itu benar-benar jadi kristen pada saat ia dibaptis. Hal itu terlihat jelas
dari jumlah orang yang sedang sakit yang meminta agar ia segera dibaptis. Anggapan mereka kalau
mereka dibaptiskan maka resmilah mereka sebagai orang Kristen. Padahal seseorang itu resmi
mendapatkan keselamatan atau menjadi Kristen itu bukan pada saat ia dibaptis, melainkan pada saat
ia mengakui dirinya orang berdosa dan menyambut Yesus ke dalam hatinya sebagai Juruselamat.
Situasi bertambah menjadi semakin ruwet setelah orang Kristen, bahkan sebagian pendeta
tidak berusaha mencari tahu motivasi permintaan orang itu. Padahal sangat mungkin motivasi yang
mendorongnya meminta dibaptis itu adalah konsepnya yang salah. Ia merasa belum pasti masuk Surga
karena belum dibaptis.
Kalau orang demikian dibaptiskan dan kemudian ia meninggal, maka ia membawa mati iman
yang salah. Karena seharusnya ia diberi penjelasan tentang jalan keselamatan yang benar seperti yang
telah diuraikan di atas, yaitu cukup dengan bertobat dan percaya kepada Tuhan Yesus. Orang kristen
yang sudah mengerti, apalagi seorang pendeta, harus menegaskan kepada orang sakit yang minta
dibaptis bahwa kondisinya tidak memungkinkannya dibaptis dengan baptisan alkitabiah.2
Orang yang sedang sekarat sangat ingin tahu, apakah ada keselamatan bagi orang yang tidak
dapat berbuat amal dan tidak dapat bertapa? Ia sedang sekarat, ia tidak dapat berbuat amal, juga tidak
dapat pergi bertapa lagi, yang sangat dibutuhkannya ialah kabar baik bahwa Yesus telah menanggung
semua dosanya di kayu salib. Bertobat dan menyambut Yesus Kristus sebagai Juruselamatnya adalah
hal terutama di saat yang sangat kritis itu. Ia sangat membutuhkan kepastian keselamatan. Ia perlu
tahu bahwa Kristus telah mati di kayu salib untuk menanggung semua dosanya. Setelah ia mendengar
kabar baik itu selanjutnya adalah tanggung jawabnya, apakah ia akan menyambut berita itu dan
mengucap syukur kepada Tuhan Yesus yang rela menanggung dosanya atau sebaliknya yaitu
menolakNya. Tentu kita mengharapkan ia akan menerimaNya, bahkan bukan hanya dia, melainkan
semua manusia bisa menerima Yesus, Juruselamat mereka, tentu termasuk anda.
17
4
BUKTI TERHAPUSNYA DOSA
Resapilah di dalam hatimu dan katakanlah dengan mulutmu kalimat-kalimat berikut:
“Saya menyadari bahwa saya seorang berdosa yang seharusnya menerima penghukuman. Namun
Allah sangat mengasihi saya sehingga Ia mengutus Yesus Kristus untuk menerima
hukuman itu dengan mati di kayu Salib dan turun ke dalam a l a m m a u t
untuk menggantikan saya. Pada hari ke tiga, Ia telah dibangkitkan
serta menghadap Allah untuk mengatakan kepadaNya bahwa Ia telah
menanggung semua dosa saya. Sekarang saya percaya k e p a d aNy a ,
bahkan berhutang kepadaNya. Oleh sebab itu saya sangat bersyukur kepadaNya,
bahkan akan bersyukur terus kepadaNya dalam sepanjang hidup
saya. Tuhan Yesus, Engkaulah Juruselamat saya”
Setiap manusia yang sudah bisa berbicara akan sanggup mengucapkan kalimat di atas. Namun
apakah ucapan itu hanya sekedar di mulut saja atau betul-betul keluar dari dalam hati itu hanya dirinya
dan Allah saja yang tahu. Bahkan bisa terjadi kadang-kadang ada orang yang meragukan keseriusan
diri sendiri. Oleh sebab itu sepatutnya setiap orang bertanya, “apakah saya sudah sungguh-sungguh
diselamatkan?”
Bukti seseorang telah memiliki jaminan kepastian masuk Surga, atau telah dilahirkan kembali
di dalam Kristus Yesus, atau telah sungguh-sungguh dengan sepenuh hati percaya kepada Tuhan
Yesus adalah adanya ucapan syukur yang dinyatakan dalam kata-kata maupun dalam
kehidupan. Ucapan syukur yang tulus itu adalah reaksi dari rasa tertolong atau reaksi dari menerima
sesuatu.
Kalau kita telusuri proses seseorang dilahirbarukan, kita akan dapatkan bahwa yang pertama
adalah kesadaran orang yang bersangkutan akan dosa dan akibatnya. Tanpa kesadaran akan dosa
18
dan akibatnya maka tidak akan timbul rasa membutuhkan Juru selamat.
Dalam Yoh 16:8 Tuhan memberitahukan kita bahwa Roh Kudus mempunyai tiga tugas; yaitu
menyadarkan manusia akan DOSA, menyadarkan manusia akan KEBENARAN, dan menyadarkan
manusia akan PENGHAKIMAN. Berkat usaha Roh Kudus melalui firman Tuhan itulah maka
manusia berdosa disadarkan. Kesadaran akan dosa kemudian mendorong orang tersebut merenungkan
upah dosa yang adalah maut/binasa. Selanjutnya manusia itu memikirkan jalan keluar dari akibat
dosa yang tentu sangat menakutkannya. Kebenaran firman Tuhan memberitahukan kepadanya bahwa
tidak ada jalan keluar yang dapat dikerjakan oleh manusia karena Allah yang maha suci tidak mungkin
dihampiri manusia yang memiliki dosa yang sekecil apapun.
Firman Allah memberitahukan kepada manusia bahwa hanya Allah sendiri yang dapat
menyelamatkan manusia. Jalan keselamatan yang dikerjakan oleh Allah melalui kematian Tuhan Yesus
telah tersedia dan telah diuraikan di atas.
Rasa syukur akan muncul di hati orang yang menyadari akan posisi asalnya serta menyadari
tentang kebinasaan yang akan dihadapinya seandainya ia tidak memperoleh Kasih Karunia yang Allah
sediakan melalui Tuhan Yesus Kristus. Orang yang tidak menyadari posisi serta kemalangan yang
akan dituainya tidak akan menerima pertolongan Tuhan Yesus, apalagi mengucap syukur kepadaNya.
Kalau hanya menyadari posisi serta kemalangan yang akan dihadapi, namun belum menerima
pertolongan Tuhan Yesus, orang demikian pun tidak bisa bersyukur, karena syukur atas apakah yang
dapat diucapkan oleh seorang yang belum tertolong?
Kesadaran akan dosa adalah awal dari kerinduan akan keselamatan yang akan memimpin
seseorang kepada penerimaan Tuhan Yesus. Kalau oleh kesadaran akan akibat dosa seseorang telah
menerima Tuhan Yesus, maka orang tersebut akan merasa sangat tertolong. Dan rasa tertolong inilah
yang kemudian menimbulkan rasa syukur. Jelas sekali bahwa mengucap syukur itu adalah reaksi dari
rasa tertolong, dan rasa tertolong itu membuktikan orang tersebut sudah menyadari keadaannya dan
sudah tertolong oleh Kasih Karunia Tuhan Yesus.
Ucapan syukur dapat dinyatakan dengan kata-kata dan sikap hidup sehari-hari. Ucapan syukur
yang hanya diucapkan dengan kata-kata namun tidak diikuti dengan sikap hidup itu pasti bukan yang
dihasilkan dari dalam hati. Ucapan syukur dengan kata-kata juga penting karena selain didengar Allah
ucapan itu juga didengar manusia serta dapat menguatkannya. Namun yang lebih penting adalah
ucapan syukur yang bersumber dari dalam hati karena itu merupakan bukti bahwa orang itu telah
menerima pertolongan, atau telah mendapat bagian di dalam Kasih Karunia Tuhan Yesus.
Kapankah seseorang mengucapkan terima kasih kepada orang lain? Umumnya ialah pada saat
orang tersebut menerima sesuatu dari orang lain, entah itu sebuah hadiah, entah itu bantuan atau
pertolongan. Kadar rasa syukur seseorang sangat tergantung pada nilai hadiah atau pertolongan yang
diterimanya. Kalau hadiah yang diterimanya hanya sebuah pen yang harganya tidak mahal atau
ditolong menyeberang jalan saja, tentu hal itu tidak sampai mempengaruhi seluruh kehidupannya.
Namun jika hadiah yang diterima adalah sesuatu yang sangat bernilai, atau pertolongan yang
diterimanya adalah yang menyangkut keselamatan nyawa, maka rasa syukur akan terus bertumbuh
dalam hati sang penerima. Rasa syukur yang timbul atas penghayatan terhadap pertolongan yang telah
diterima itu harus bersifat otomatis jangan seperti diprogramkan atau perlu dihimbau-himbau.
Ucapan syukur akan terus mengalir di dalam hidup seseorang yang telah mengenal siapa
dirinya serta yang merasa mendapat pertolongan keselamatan dari Tuhan Yesus. Semakin menghayati
besarnya Anugrah Tuhan yang rela mati tersalib untuk menggantikannya, maka ucapan syukur akan
19
lebih melimpah lagi. Ucapan syukur yang dihasilkan dari kesadaran dalam hati bukanlah ucapan
syukur yang sekedar di mulut saja. Kalau ada ucapan syukur yang bukan hanya di mulut saja namun
yang betul-betul berasal dari dalam hati, tentu itu akan merubah sikap hidup bahkan seluruh aspek
kehidupan kita, yaitu akan ada kerinduan untuk mentaatiNya, kerinduan untuk berbuat hal-hal yang
menyenangkan hati Sang Penolong, yaitu Tuhan Yesus yang telah mati bagi kita di kayu Salib. Adalah
hal yang sangat wajar kalau yang merasa tertolong berusaha mengenal Penolongnya. Oleh sebab itu
membaca firman Tuhan dan mempelajarinya adalah kesukaan orang yang telah dilahirbarukan karena
ia ingin selalu menghayati jasa Penolongnya.
Datang ke gereja untuk berbakti, memuji nama Tuhan dengan pujian yang merdu dari mulut
dan hati, mendengarkan khotbah dari Alkitab serta mempelajarinya adalah kesukaan orang yang telah
dilahirbarukan di dalam Kristus Yesus. Semua itu akan diusahakan dan disenangi dengan tidak perlu
didorong, dihimbau dan lain sebagainya. Setiap kali kita mengikuti Perjamuan Tuhan, kita diingatkan
lagi akan kasih Tuhan yang melampaui akal itu, sehingga rasa syukur kita semakin bertumbuh dan
berlimpah.
Semakin berlimpahnya rasa syukur di dalam diri seseorang itu akan mengobarkan semangatnya
untuk berbuat sesuatu bagi Tuhan yang sangat mengasihinya, sehingga mendorongnya membantu
pelayanan Tuhan. Ada yang melayani dengan mengajar sekolah Minggu dan ada yang bahkan
mempersembahkan seluruh hidupnya untuk pekerjaan Tuhan. Rasa syukur yang muncul dalam diri
seseorang akan membawa pengaruh dalam kehidupan sehari-harinya. Seab rasa syukur seseorang itu
dipengaruhi oleh rasa tertolongnya. Semakin seseorang merasa tertolong serta merasa pertolongan
itu sangat berarti, maka semakin mengucap syukurlah ia.
Jika dalam kehidupan sehari-hari orang percaya selalu bersyukur, mustahil ia dapat hidup di
dalam dosa. Mungkinkah seseorang yang telah menyadari bahwa upah dosa yang harus diterimanya
itu telah ditanggung oleh Tuhan Yesus di kayu Salib akan dapat tetap tinggal di dalam dosa itu tanpa
merasa bersalah kepada Juruselamat yang telah menderita bagi dosa itu? Kalau memang ada rasa
syukur, maka berarti telah menyadari tentang dosa serta kebenaran dan juga telah mengerti tentang
penghakiman. Rasa syukur itu akan mendorong seseorang untuk berbuat sesuatu bagi Pribadi yang
memberi rasa syukur, yaitu Tuhan yang telah berkorban untuk menanggung dosanya.
Kehidupan yang dipenuhi dengan ucapan syukur selain membuktikan bahwa seseorang telah
mendapatkan kasih karunia Tuhan Yesus yang berlimpah, atau telah dilahirbarukan, juga merupakan
jalan yang menghantarnya menuju hidup kudus di hadapan Tuhan, yaitu hidup yang menyenangkan
hati Tuhan. Namun demikian, selama kita masih hidup di dalam daging, kita tetap bisa jatuh ke dalam
dosa.
Tetapi jatuh ke dalam dosa itu bukan hidup di dalam dosa! Ini harus dapat dibedakan. Hidup
di dalam dosa itu berarti selalu berdosa, tidak merasa bersalah kepada siapapun dan tidak berusaha
keluar dari dosa itu. Sedangkan jatuh ke dalam dosa ialah tanpa sengaja melakukan dosa serta merasa
sangat bersalah, sedih, dan malu terhadap Tuhan dan diri sendiri, serta berusaha menjauhinya dan
bertekad untuk tidak mengulanginya lagi.
Bagaimana dengan dosa yang dilakukan seseorang setelah dilahirbarukan? Di bagian depan
telah kita bahas bahwa pada saat seseorang bertobat dan percaya kepada Tuhan Yesus, maka semua
dosa, yaitu dosa dari dalam kandungan hingga dosa terakhir menjelang kematiannya itu telah
tertanggung oleh Tuhan Yesus di kayu Salib. Berarti dosa yang dilakukannya sesudah kelahiran
20
barunya juga sudah tertanggung oleh Tuhan Yesus di kayu Salib.
Terhadap dosa yang dilakukan oleh orang yang telah lahir baru, firman Tuhan memerintahkan
agar ia mengakuinya di hadapan Tuhan, bukan di hadapan manusia. Bukankah Tuhan itu maha tahu
dan Ia telah tahu segala yang kita perbuat? Betul, semua dosa yang kita akan akui itu sebenarnya telah
diketahuiNya. Pertanyaan yang sering kali muncul ialah, untuk apa diakui kalau sudah diketahui?
Adapun maksud Tuhan memerintahkan kita mengakui setiap dosa yang kita perbuat (1 Yoh
1:8-9) adalah agar kita malu pada diri kita sendiri dan juga pada Tuhan yang telah menanggung dosa
itu di kayu Salib.
Oleh sebab itu pengakuan dosa yang Tuhan inginkan ialah pengakuan yang secara satu persatu
dan diucapkan dengan hati yang penuh penyesalan serta rasa malu kepada Tuhan dan diri sendiri.
Pengakuan dosa yang disertai rasa malu kepada Tuhan dan diri sendiri itu diharapkan akan
menimbulkan rasa segan dan takut untuk mengulanginya.
Akhirnya, menghidupi kehidupan yang selalu mengucap syukur atas dosa yang telah diampuni
sambil mengingat akan kematian Tuhan Yesus di kayu salib karena menggantikan kita menerima
penghukuman itu adalah kehidupan orang yang telah diselamatkan, yaitu yang telah memiliki
kepastian masuk Surga.
Setelah saya bertobat dan percaya dengan segenap hati kepada Tuhan Yesus, maka kapan saja
saya mati saya pasti akan masuk Surga karena semua dosa saya telah dijatuhi hukuman, dan hukuman
itu telah ditanggung Yesus ketika Ia dihukum di kayu salib. Sesungguhnya dosa anda juga telah
ditanggungNya (I Yoh 2:2). Oleh sebab itu anda juga akan mendapatkan kepastian masuk Surga jika
anda bertobat dan percaya kepadaNya dengan segenap hati anda.
SAYA PASTI MASUK SURGA
PENDAHULUAN
“Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut,” Ams 14:12.
Ayat ini merupakan sebuah peringatan dan sekaligus nasehat. Di dalamnya tersirat peringatan
agar berhati-hati karena ada banyak jalan ciptaan manusia yang sesungguhnya akan membawa bahaya
maut. Kita diperingatkan agar berhati-hati, jangan sampai sesudah kita tiba di ujung jalan kehidupan
kita barulah kita berpikir. Itu pasti sudah terlambat.
Dan ayat ini juga mengandung nasehat supaya kita berpikir dan berpikir di dalam menentukan
apa yang akan kita percayai sebelum kita sampai ke ujung jalan kehidupan kita. Tiap-tiap agama di
dunia ini menyatakan bahwa ajarannya adalah yang paling benar, itu menyebabkan timbul persaingan
yang bagaikan persaingan dalam dunia bisnis. Bukan hanya antar agama bersaingan, bahkan aliranaliran
dalam suatu agama pun saling bersaing di dalam hal definisi tafsiran mereka terhadap kitab suci
yang sama.
Kalau dalam dunia bisnis, persaingan yang sehat akan sangat menguntungkan konsumen
karena akan memungkinkan konsumen mendapatkan barang yang murah dan baik. Bagi pemilik
product yang baik dan bermutu, ia sama sekali tidak kuatir terhadap persaingan, namun sebaliknya
bagi pemilik product yang tidak bermutu. Sering kali terjadi, pemilik product yang kurang bermutu
menghendaki sistem proteksi, monopoli bahkan memakai kekerasan atau kuasa pemerintah untuk
melindungi atau memihak kepadanya sambil menindas yang lain.
Dalam dunia kerohanian juga terdapat hal yang hampir sama, yaitu adanya pihak tertentu yang
menyadari bahwa kebenaran agamanya kurang dapat dipertahankan, sehingga pemimpinnya
mendorong penganutnya untuk memakai cara-cara yang tidak terpuji, bahkan menyerang yang lain.
Mereka tidak berani berargumentasi melainkan memilih cara kekerasan atau mempergunakan kuasa
pemerintahan untuk melarang bahkan menindas yang lain. Hal demikian dapat kita amati sepanjang
sejarah sejak adanya berbagai agama atau aliran agama di muka bumi.
Pemerintah yang baik, sebagaimana ia memberikan kebebasan kepada dunia bisnis untuk
bersaing agar rakyat mendapatkan yang baik/bermutu dan murah, seharusnya juga memberi kebebasan
kepada dunia kerohanian untuk berargumentasi agar rakyat dapat memilih yang mereka anggap/yakin
benar. Kalau pemerintah ingin berdiri di pihak yang netral, maka pemerintah tidak boleh
mempermasalahkan rakyatnya yang masuk agama yang mereka yakini sejauh mereka tidak melakukan
tindakan kriminil. Tidak ada hal yang salah jikalau pengikut suatu agama atau aliran dalam satu agama
mengajar, bernyanyi, dan berargumentasi untuk membenarkan ajaran mereka sejauh mereka tidak
mencelakai orang lain dan merusak harta-benda milik orang lain.
2
Karena ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut, maka marilah kita
berargumentasi tanpa kekerasan dan intimidasi. Agama atau denominasi sebuah agama yang memakai
kekerasan atau kekuasaan itu sudah membuktikan keraguan penganutnya atas kebenaran yang
diyakininya.
Buku kecil ini ditulis kepada orang yang cinta kebenaran agar melaluinya jalan kebenaran yang
membawa kepada hidup dapat difahami dan dimiliki. Berpikirlah dan sadarlah; jangan setelah tiba di
ujung jalan baru bertindak, karena itu telah terlambat.
Jakarta, 10 September 1996
Dr.Suhento Liauw
3
1
MAKNA
KESELAMATAN YANG SEJATI
Pada dasarnya semua manusia senang mendengar dan menerima ucapan selamat. Ketika seseorang
menghadapi peristiwa-peristiwa besar dalam hidupnya, ia merasa sangat bahagia dengan ucapanucapan
selamat dari keluarga, teman-teman, dan
semua kenalannya. Sekalipun semua ucapan selamat
itu biasanya sekedar bersifat basa-basi, namun toh itu
cukup membuatnya bahagia juga.
Ketika seseorang terhindar dari suatu
malapetaka, ia akan diucapkan selamat oleh orangorang
di sekelilingnya walaupun keselamatan yang
diperolehnya adalah keselamatan yang semu dan
sangat sementara sifatnya. Mengapa dikatakan semu
dan sementara? Karena pada hakekatnya ketika
seseorang terhindar dari suatu malapetaka, sangat
mungkin malapetaka lain sedang menantinya.
Tidak ada satu manusia pun yang dapat
memiliki keselamatan yang sejati dalam hidupnya
sebelum ia terhindar atau dijamin pasti akan terhindar
dari malapetaka yang terakhir. Karena sekalipun ia
terhindar dari satu malapetaka, sesungguhnya masih
ada banyak malapetaka lain sedang menantinya. Keselamatan yang sejati itu diperoleh seseorang
jikalau ia sudah sungguh-sungguh terlepas dari malapetaka penghabisan yang sesudahnya tidak ada
lagi malapetaka lain.
Semestinya tidak ada seorang pun yang tidak mendambakan keselamatan yang sejati itu karena
terhadap keselamatan yang semu saja manusia sudah sedemikian mendambakannya sehingga ketika
pada hari-hari tertentu ia ingin sekali diucapkan selamat sekalipun itu hanya sekedar penghiburan saja,
4
bayangkan kalau ia bisa mendapatkan keselamatan yang sejati itu. Ada sebagian manusia yang
kelihatannya seperti tidak mempedulikan keselamatan yang sejati, namun sebenarnya ia sedang dihasut
untuk tidak mempedulikannya. Sebagian lagi mungkin karena tidak mengetahui dengan jelas
malapetaka apakah yang akan dihadapinya. Ia tidak pernah mendengar bahwa manusia yang sudah
mati akan menghadap Penciptanya untuk dihakimi. Ia menyangka kehidupan manusia itu sama dengan
kehidupan ayam yang dipotong tiap hari. Namun sekalipun ia beranggapan demikian ia tetap tidak
mau dianggap atau disamakan dengan ayam melainkan tetap percaya bahwa manusia itu lebih khusus.
Memang manusia itu makhluk khusus yang Tuhan hembusi roh ketika diciptakanNya. Oleh sebab itu
manusia bisa berpikir, memiliki kesadaran diri serta mempunyai nilai moral.
Malapetaka yang terakhir dan yang terbesar yang akan dihadapi manusia ialah ketika ia mati
ia akan dikumpulkan bersama dengan sekelompok malaikat yang membangkang terhadap Allah
beserta setiap orang yang mengikuti jejaknya. Penderitaan yang akan mereka alami di situ itu setimpal
dengan perbuatan jahat yang telah mereka perbuat di dunia ini. Di sana tidak ada lagi kasih karena
yang terkumpul di sana adalah orang-orang yang telah tidak mengenal kasih. Di sanalah Allah
membiarkan mereka melampiaskan kebejatan moral mereka dan kebusukan hati mereka. Bukan hanya
itu, kita baca di dalam Alkitab, yaitu di dalam kitab nabi Yesaya 66:23-24 bahwa tempat itu adalah
tempat penghukuman bagi setiap manusia yang tidak mempedulikan Allah. Di situ ulat-ulatnya tidak
akan mati, dan apinya tidak akan padam, mereka semuanya akan menjadi kengerian bagi segala yang
hidup.
Suatu tempat penghukuman terakhir bagi orang-orang yang membangkang terhadap Allah
yang oleh manusia disebut Neraka. Tentang tempat itu dijelaskan dengan lebih lengkap lagi di bagian
lain dari Alkitab. Hampir setiap bangsa di dunia ini mempunyai dongengnya tersendiri tentang tempat
yang mengerikan itu. Mengapa demikian? Karena sesungguhnya di dalam lubuk hati manusia yang
paling dalam ia menyadari dan mengakui adanya ketidakberesan dalam hidupnya dan itu akan
menyulitkannya untuk mempertanggungjawabkan hidupnya di hadapan Penciptanya. Manusia tahu
tentang apa yang diperbuatnya, dan tahu juga bahwa semua itu akan menyebabkan ia tidak bisa
menghampiri Allah yang maha suci, yang tidak dapat membiarkan kejahatan yang sekecil apapun
menghampiriNya, apalagi tinggal bersamaNya. Hati yang sudah pernah melakukan kejahatan dan yang
selalu cenderung melakukan kejahatan itulah hati manusia berdosa yang menyadari bahwa akan
dihukum.
Dosa yang diperbuat manusia menyebabkan ia tidak bisa menghampiri Allah karena Allah
adalah Pribadi yang maha-suci. Tempat bagi manusia berdosa ialah Neraka. Di situ ia akan bersama
iblis, yaitu penghasut manusia dan pemberontak terhadap Allah. Alkitab menyatakan bahwa tidak ada
seorang pun di dunia ini yang tidak pernah berbuat dosa, karena sejak manusia dilahirkan ia telah
dilahirkan di dalam dosa. Sifat dosa nenek moyangnya diturunkan kepadanya bagaikan penyakit
turunan. Selain itu ia sendiri juga berbuat dosa, terus dan terus berbuat dosa. Seperti ada tertulis,
tidak ada yang benar, seorang pun tidak (Roma 3:10).
Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23).
Lalu bagaimanakah manusia yang berdosa itu mungkin kembali ke hadirat Allah untuk
menikmati kemuliaan dan kebahagiaan bersamaNya? Tidak ada cara lain kecuali dosa, yaitu
5
penyebab malapetaka itu disingkirkan. Dosa inilah penyebab kecelakaan terbesar yang harus
dialami manusia, yaitu mati dan dihakimi.
Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu
dihakimi (Ibrani 9:27).
Terhindar dari malapetaka yang terbesar inilah yang kita sebut memperoleh keselamatan yang
sejati karena sesudah malapetaka yang satu ini selanjutnya tidak ada malapetaka lain lagi. Selanjutnya
bagaimanakah cara untuk memperolehnya? Masalahnya bukan mau atau tidak mau melainkan cara
memperolehnya. Kerinduan manusia terhadap keselamatan yang sejati itu pada umumnya sudah
sangat nyata. Ada yang pergi bertapa, ada yang berusaha dengan berpuasa, bahkan ada yang berusaha
mendapatkannya dengan amal. Seandainya ada patokan harga yang ditetapkan untuk dibayar agar bisa
masuk Surga, tentu banyak orang akan berusaha keras untuk membayarnya. Namun akal sehat kita
memberitahukan kita bahwa manusia masuk Surga dengan uang itu hal yang tidak mungkin. Hal ini
juga berarti bahwa Surga itu tidak bisa dicapai dengan usaha manusia.
Keselamatan yang sejati itu bisa diperoleh kalau penyebab malapetaka terbesar itu bisa diatasi
atau dibereskan. Penyebab malapetaka terbesar itu ialah dosa manusia. Karena dosa itulah maka
manusia tidak mungkin menghampiri Allah. Itu sama sekali bukan karena Allah sangat jahat sehingga
Ia tidak memperbolehkan manusia berdosa menghampiriNya, melainkan karena sifatNya yang mahasuci
itu tidak memungkinkanNya dihampiri oleh manusia yang berdosa.
Sesungguhnya Allah sangat ingin agar semua manusia yang telah diciptakanNya itu bisa
kembali kehadiratNya untuk menikmati kemuliaan dan kebahagiaanNya.
Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai
kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang
binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat (II Pet 3:9).
Ayat tersebut di atas membuktikan bahwa Allah sangat menghendaki agar manusia bisa
kembali kehadiratNya. Apapun akan dilakukanNya demi untuk menyelamatkan manusia. Namun Allah
tidak bisa melakukan hal yang bertentangan dengan sifatNya. Ia tidak mungkin mencuri harta orang
kaya untuk diberikan kepada orang miskin karena mencuri itu bertentangan dengan sifatNya.
Kalau Allah sangat rindu menyelamatkan manusia, pertanyaan yang layak untuk dipertanyakan
ialah, apakah manusia yang bersangkutan merindukan keselamatan dirinya? Adakah manusia
memikirkan keselamatan jiwanya? Bagaimana dengan anda?
6
2
USAHA MANUSIA UNTUK MENGHAPUSKAN DOSA
eandainya ada semacam alat atau bahan pencuci dosa, maka suasana di dunia ini pasti menjadi lain.
Pastilah bahan atau alat itu akan laku keras dan ia merupakan komoditi pendatang devisa yang paling
dominan, seperti yang pernah dibuat zaman dulu, yaitu surat pengampunan dosa yang diperjual
belikan Gereja Roma Katolik. Kalau alat atau bahan itu mahal maka yang akan selamat adalah orang
kaya, dan pasti orang kaya akan semakin sombong sehingga sangat dibenci, sementara yang
membenci menambahi dosa mereka sehingga semakin sulit mengatasinya. Tetapi seandainya alat atau
bahan itu murah sekali, maka orang akan semakin berani berbuat dosa karena alat pencucinya murah
serta gampang diperoleh di mana-mana. Keadaan itu akan menyebabkan orang-orang di dunia ini
semakin jahat sehingga kita semua tidak tahan hidup di dunia ini. Atau dunia ini akan langsung
berubah menjadi Neraka.
Kalau seandainya anda yang diberi wewenang untuk menentukan harga dari alat atau bahan
penghapus dosa itu, maka mau dijual dengan harga yang mahal atau murah? Pada waktu itu anda akan
stress karena tidak tahu harus dijual dengan harga mahal atau murah. Seandainya seluruh
keuntungannya adalah milik anda, pasti anda akan cenderung menjualnya dengan harga yang mahal,
sedangkan kalau keuntungannya bukan milik anda pasti anda akan menjualnya dengan harga yang
murah supaya keluarga dan teman-teman anda sanggup membelinya. Kalau begitu, yang paling
membutuhkan alat atau bahan itu adalah anda sendiri, karena keegoisan anda itu langsung terbukti.
Adakah cara, bahan, atau alat untuk menghapuskan dosa manusia sehingga memungkinkannya
masuk ke Surga untuk menikmati kebahagiaan Allah? Pertanyaan ini sudah dipertanyakan sejak
dahulu kala, bahkan kelihatannya sebagian manusia telah lelah mempertanyakannya sehingga tidak
mau bertanya lagi melainkan mempersiapkan diri untuk masuk ke Neraka saja.
Ada yang berusaha memperbaiki suasana di Neraka agar orang yang dikasihinya tidak terlalu
menderita di sana. Mereka mengirim televisi, dan ada yang mengirim kulkas, bahkan ada yang
mengirim pembantu untuk dinikmati orang yang dicintai mereka. Untung boneka pembantu itu tidak
ditulisi nama, kalau ditulisi nama, maka dapat kita bayangkan kalau kebetulan namanya persis dengan
nama salah seorang pengunjung/ pelayat.
7
Bersiap-siap masuk Neraka itu sebuah cerminan keputusasaan sebagian manusia karena tidak
mendapatkan cara untuk masuk Surga. Berbagai cara telah diusahakan manusia sejak zaman dahulu
kala. Ada yang berusaha masuk Surga dengan bertapa. Usaha semacam ini dimaksudkan agar hati
nurani yang bersangkutan dapat dimurnikan dengan banyak merenung dan berdiam diri. Andai kata
pada saat seseorang sedang bertapa itu ia tidak berbuat dosa, namun bagaimana dengan dosanya yang
sudah pernah dibuat? Dan, setelah ia keluar dari pertapaan, apakah ia tidak akan berbuat dosa lagi?
Siapapun yang berakal sehat akan menjawab, selagi kita hidup di dunia ini kita tetap mempunyai
kemungkinan melakukan dosa.
Kalau dengan bertapa manusia dapat menghapuskan dosanya, maka semest inya sejak
lahir ia sudah mulai bertapa hingga ia mati. Atau kalau pertapaan s e t a h u n
dapat menghapuskan dosa yang dibuat selama setahun, maka seseorang
yang ingin masuk Surga harus bertapa lebih dari lima p u l u h
persen waktu hidupnya.
Sebagian lagi mengajarkan bahwa dosa dapat di
hapuskan dengan mengikuti rituil upacara-upacara yang k
husyuk atau berpuasa. Banyak orang yakin usaha ini akan b
erhasil sebab hati nurani mereka sedikit terobati oleh rituil u p
acara yang dibuat sedemikian rupa, atau usaha menahan lapar yang
sangat berat sehingga hal-hal itu membawa kesan secara ps ik
ologis bahwa itu tidak mungkin sia-sia. Namun, pasti tidak a d a
seorangpun yang akan setuju jikalau anggota keluarganya dibun
uh oleh seseorang dan pembunuh itu hanya diperintahkan untuk
melakukan sejumlah upacara, atau berpuasa dalam suatu ja ng
ka waktu, dan sesudah itu habis perkara. Kita yang bodoh saja t ahu
bahwa tidak adil kalau seseorang yang telah membunuh itu hanya d imi n t a u n t u k
melaksanakan upacara tertentu atau hanya disuruh untuk berpuasa apalagi Allah, betul?
Mungkinkah keselamatan itu diperoleh dengan melakukan kewajiban agama atau upacaraupacara?
Dapatkah dosa dihapuskan dengan upacara? Jawablah sendiri dengan akal sehat anda! Kalau
bisa maka pemerintah kita tidak memerlukan penjara lagi.
Ada lagi sebagian orang yang memberikan pandangan dari sudut pandang perdagangan.
Mereka mengatakan bahwa Allah akan mempertimbangkan jumlah dosa dan jumlah amal yang telah
dilakukan seseorang di dunia. Kalau ternyata dosa seseorang itu lebih banyak dari amalnya orang
tersebut tidak dapat masuk Surga, sedangkan kalau ternyata amalnya lebih banyak dari dosanya orang
tersebut boleh masuk Surga, maka itu berarti manusia yang ingin masuk Surga harus rajin berbuat
amal.
Namun anehnya mereka tidak mengetahui tentang patokan yang dipakai untuk mengukur amal
dan dosa, yaitu per-kilogram, per-meter kubik atau per-liter. Mereka juga tidak dapat mengetahui
dosa jenis tertentu itu sekian beratnya dan amal jenis tertentu itu sekian beratnya. Kalau manusia
dapat masuk Surga dengan amal yang lebih banyak daripada dosa, mestinya ada tabel dosa dengan
ukurannya, barulah manusia dapat memastikan, apakah ia sudah pasti masuk Surga atau masih
memerlukan tambahan amal?
Tidak heran kalau ada penganut faham ini yang merasa amalnya sudah cukup banyak sehingga
Kepada perawat saya mohon m 1 aaf. Ini hanya cerita perumpamaan.
8
ia berani membelanjakan amalnya dengan jajan ke tempat-tempat mesum. Seorang konglomerat yang
sudah sering menyumbang aktivitas sosial pasti akan merasa tidak menjadi masalah untuk memiliki
“simpanan” di perumahan. Lihatkah anda bahwa sistem amal itu bukan mengurangi dosa melainkan
menambah? Tuhan yang bijak tidak mungkin memakai cara yang terkesan bodoh dan konyol.
Dan lagi seandainya manusia dapat masuk Surga dengan keberhasilannya dalam berbuat
amal, maka itu berarti Surga adalah hasil prestasi manusia. Hal itu juga berarti di antara semua kesuksesan
seorang manusia, kesuksesan yang terbesar dan yang terpenting dalam hidupnya adalah
keberhasilannya untuk masuk Surga. Kalau begitu, orang-orang yang masuk Surga itu pasti akan
sangat sombong karena keberadaan mereka di Surga adalah bukti kehebatan mereka. Mungkinkah
Allah mengijinkan seseorang masuk Surga dengan cara yang dapat membuatnya menjadi sangat
sombong?
Seandainya manusia diijinkan masuk Surga karena amalnya lebih banyak daripada dosanya,
maka di Surga akan ada banyak orang yang berkata demikian, “saya sungguh beruntung sekali, sebab
sebelum saya dibawa ke rumah sakit menjelang kematian saya, amal saya itu seimbang dengan dosa
saya. Namun ketika saya didorong masuk oleh perawat, saya berusaha tersenyum dengan setiap orang
yang lewat di samping saya. Dan perawat yang melayani saya pun tak luput dari senyuman saya.
Akhirnya saking lelahnya saya memaksakan diri untuk tersenyum, saat itulah saya mati. Namun
ternyata perbuatan saya itu menghasilkan amal yang lumayan sehingga menyebabkan jumlah amal
saya melonjak menjadi lebih banyak dari dosa saya.” Ha..ha.. ia masuk Surga karena senyuman.
Seandainya dimasukkan ke Neraka itu karena kekurangan amal, maka di Neraka akan banyak
orang yang berkata demikian, “saya sungguh sial, sebab ketika saya mendapat serangan jantung, amal
dan dosa saya itu seimbang. Tetapi karena waktu saya sampai di rumah sakit, ternyata perawat yang
bertugas malam itu ada kemungkinan yang belum lulus, sehingga ketika ia berusaha mencari pembulu
darah untuk meng-infus saya, ia tusuk sini salah dan tusuk sana salah lagi sehingga saya menjadi emosi
dan saya marah sekali kepadanya, dan celaka sekali karena justru pada saat saya marah itulah napas
saya putus. Itulah yang menyebabkan dosa saya melonjak sehingga saya dimasukkan ke sini. Padahal
sebelumnya amal saya sedikit lebih banyak daripada dosa saya.” Kasihan, ia masuk ke Neraka karena
kesalahan perawat.1
Mungkinkah dengan mengandalkan prestasi manusia Surga itu dicapai? Kalau mungkin, itu
berarti sebuah prestasi manusia yang gilang gemilang dan sangat patut dibanggakan. Setiap orang
yang memiliki pikiran yang sehat pasti tidak akan setuju jikalau ada seorang penjahat yang telah
membunuh seseorang kemudian dinyatakan tidak perlu dihukum melainkan cukup diwajibkan berbuat
amal secukupnya. Mengapa tidak setuju? Pasti orang kaya akan lebih leluasa membunuh orang yang
tidak disukainya dan kemudian mendirikan panti asuhan atau panti werda atau bahkan membagibagikan
harta mereka di tepi jalan.
Sesungguhnya amal hanya dapat membantu menjadikan kehidupan ini tidak terlalu
menyeramkan. Memang tidak dapat disangkal bahwa amal akan membuat seseorang kelihatan seperti
orang baik, namun itu hanya pada aspek luar saja. Sebab ketika seseorang mengambil uang yang tidak
menjadi haknya biasanya dilakukannya secara sembunyi-sembunyi. Tetapi giliran saat ia menyumbang
kepada suatu korban bencana alam atau pada fakir miskin, pada umumnya dilakukan dengan terbuka
9
atau bahkan mengundang wartawan agar diberitakan. Ketahuilah amal tidak dapat menghapuskan
dosa, ia cuma membuat dosa kelihatan kurang jelas.
Jika sebuah gelas yang kita umpamakan sebagai kehidupan manusia itu kita isi cairan racun
nyamuk baygon seperempat gelas, dan baygon itu kita umpamakan dosa, apakah dengan menambahkan
air tawar yang kita umpamakan amal itu baygonnya akan hilang? Tidak mungkin! Air tawar itu
hanya membuat racunnya agak tawar dan menjadi kurang jelas, namun tetap masih ada di dalam gelas.
Demikian juga dengan kehidupan kita. Dapatkah dosa dihilangkan dengan menambahkan amal? Tidak
mungkin! Itu hanya sekedar membuat kejahatan manusia menjadi kurang jelas, namun kejahatan yang
pernah dibuatnya tetap masih ada. Cairan baygon masih tetap ada di dalam gelas, namun tidak
terlihat jelas karena tercampur dengan air tawar. Jika gelas itu dibawa ke laboratorium, maka akan
sangat gampang bagi seorang ahli kimia untuk memisahkan racun baygon itu dari air tawar.
Hal ini sama persis dengan keadaan manusia yang mencoba menyelesaikan masalah dosanya
dengan amal. Kehidupannya dianggap baik oleh orang-orang di sekelilingnya karena telah
dicampurkan dengan amalnya. Ia dapat membagikan hadiah dan pada momen-momen tertentu ikut
aksi sosial. Pokoknya semua orang akan mengatakan bahwa ia benar-benar orang baik yang amalnya
berlimpah-ruah. Namun tentu ia tidak dapat mengelabui Allah yang maha suci dan maha tahu. Betul,
amalnya banyak, tetapi itu sama sekali tidak menghilangkan dosanya. Bahkan Allah tahu bagaimana
cara ia mendapatkan uang yang telah memungkinkan ia melakukan action munafiknya.
Ada juga orang yang tidak bergiat berbuat amal namun ia yakin bahwa ia telah menghidupi
kehidupan yang baik. Ia tidak membunuh, tidak merampok, tidak mencuri, oleh sebab itu ia yakin
bahwa dirinya pasti akan masuk Surga. Orang demikian lupa bahwa yang menyebabkan manusia tidak
masuk Surga itu bukan karena jumlah dosanya yang terlalu banyak, melainkan hanya karena ada dosa.
Bukan karena banyak-sedikitnya tetapi karena ada-tidaknya. Ketika engkau disebut ‘orang berdosa’
maka engkau tidak diperbolehkan masuk Surga. Untuk menyandang nama itu tidak diperlukan dosa
yang lebih banyak dari amal, melainkan satu dosa saja cukup untuk menyandang predikat ‘orang
berdosa.’
Manusia masuk Neraka itu karena tidak bisa masuk Surga karena memang hanya ada dua
tempat bagi manusia ketika ia meninggal dunia. Oleh sebab itu kalau ia tidak bisa kembali ke Surga
menikmati kebahagiaan dan kemuliaan Allah, maka tidak ada tempat lain lagi selain Neraka. Alkitab
memberitahukan kita bahwa sesungguhnya hanya ada dua kelompok manusia saja, yaitu yang
mempedulikan Allah dan yang mengabaikan Allah, atau yang di luar Allah dan yang di dalam Allah.
Agar berada di dalam Allah tentu perlu didahului sikap mempedulikan Allah. Kepedulian
terhadap Allah Pencipta akan menuntun seseorang menghargai jalan yang ditawarkanNya, apalagi
jalan itu adalah jalan yang justru untuk menyelamatkan manusia. Bagaimana dengan anda?
10
3
CARA MENGHAPUS DOSA
YANG MENURUT ALLAH
Semua pemerintahan di dunia memiliki hukum pidana yang dipakai untuk menentukan berbagai
hukuman terhadap orang yang melanggar hukum. Dari manakah manusia tahu bahwa orang yang
bersalah harus dijatuhkan hukuman? Jawabannya ialah karena manusia adalah makhluk bermoral yang
diciptakan oleh Allah yang bermoral, bahkan yang maha-suci, maka Allahlah yang menanamkan sense
of justice di dalam diri manusia. Di dalam sebuah negara hukum semua bentuk pelanggaran hukum
itu dibereskan dengan menjalankan penghukuman yang telah diputuskan pengadilan.
Jika ada orang yang bersalah karena mencuri ayam, maka ia akan diajukan ke pengadilan, dan
pengadilan akan menjatuhkan hukuman terhadapnya, misalnya masuk penjara selama tiga bulan dari
tanggal 1 Januari sampai 31 Maret. Tidak ada cara lain bagi si pencuri ayam itu untuk menebus
kesalahannya selain menjalankan hukuman yang telah ditentukan oleh hukum baginya. Mau tidak mau
ia harus meringkuk di dalam penjara dari tanggal 1 Januari sampai tanggal 31 Maret untuk menebus
kesalahannya. Tentu ia tidak boleh pergi melaksanakan rituil penyembahan, bertapa, atau berpuasa,
atau melakukan amal bakti untuk menggantikan penghukuman yang telah ditentukan oleh hukum.
Chun Do Wan, mantan presiden Korea Selatan yang pernah memerintah dengan kejam, ketika
turun tahta ingin menghapus kesalahannya dengan menjadi biksu. Namun rakyatnya tidak mau
menerima cara jitunya untuk menghindar dari tanggung jawab itu. Akhirnya mereka tetap
menyeretnya ke pengadilan. Perkara ini sedang disidangkan ketika buku ini ditulis. Ia dituntut dengan
hukuman mati.
Alkitab mengatakan bahwa setiap manusia yang telah berdosa itu harus mati dan kemudian
akan dihakimi Allah. Tidak ada jalan lain bagi manusia kecuali mati dan menerima penghakiman
(Ibrani 9:27).
Setelah pencuri ayam yang kita jadikan perumpamaan itu meringkuk di dalam penjara selama
tiga bulan, kemudian tibalah hari yang dinanti-nantikannya yaitu tanggal 1 April. Pada hari itu ia akan
dibebaskan. Dan pada saat ia dibebaskan ia bukan narapidana lagi karena ia telah menjalani
penghukuman atas dosa yang dilakukannya.
11
Karena tidak ada jalan untuk membereskan dosa selain menjalani penghukuman yang telah
ditetapkan, maka Allah yang Maha Suci, yang Maha Adil akan menjatuhkan penghukuman terhadap
setiap manusia yang berdosa. Namun karena kasihNya yang amat besar, yang sama besar dengan sifat
keadilanNya itu menuntutNya bertindak untuk melakukan sesuatu, maka Ia merencanakan jalan
keselamatan yang tidak mungkin bertentangan dengan sifat kemaha-adilanNya dan kemahasucianNya.
Ia merencanakan untuk menjadi manusia yang tidak berdosa untuk menerima hukuman yang telah
ditentukan, bahkan turun ke Neraka. KemanusiaanNya telah mati ketika Ia menjalankan penghukuman
di atas kayu salib, namun keilahianNya membangkitkanNya dari kematian dan Ia kembali ke Surga.
Jauh sebelum apa yang direncanakan ini dilaksanakanNya, Ia memerintahkan manusia yang
ingin diselamatkan untuk mempersembahkan korban, yaitu mengambil seekor domba, sambil
memegang kepala domba itu dombanya disembelih. Maksudnya ialah dosa orang yang bersangkutan
ditanggungkan ke atas domba itu. Hal ini diperintahkan demi mengajarkan konsep penghukuman
terhadap dosa yang digantikan oleh domba. Domba itu hanya sekedar g a mb a r a n
saja, ia tidak mungkin dapat menggantikan manusia menanggung d o s a ,
karena apalah kehebatan domba sehingga ia layak mena
nggung dosa manusia?
Namun Allah lakukan semua itu hanya sekedar b a
han pelajaran bagi manusia agar manusia memahami fungsi Jur
uselamat sebagai pengganti manusia berdosa menerima p e
nghukuman yang bagaikan domba di atas mezbah. Dalam k i t
ab Ibrani 10:1 dan seterusnya dituliskan dengan jelas
sekali bahwa semua itu hanya sekedar bayangan saja,
itu tidak dapat menyelamatkan melainkan sekedar u n t u k
mengingatkan manusia bahwa ia berdosa.
Ayat 4 mengatakan:
“Sebab tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapuskan dosa.”
Janganlah ada orang menyangka bahwa dosanya dapat disucikan dengan mengorbankan
seekor domba. Dan hendaknya setiap orang memahami bahwa semua itu hanya sekedar gambaran
saja. Ketika Yohanes Pembaptis melihat Allah yang menjelma menjadi manusia, yaitu Yesus, yang
sedang lewat di depannya berkatalah ia:
“Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia.”
Jadi, jelas sekali domba yang selalu disebut di dalam kitab Perjanjian Lama, atau yang
dipersembahkan oleh Abraham, Musa, dan lain lain itu sebenarnya hanya untuk menggambarkan
Yesus. Tidak mungkin salah lagi bahwa domba yang dijadikan korban di dalam zaman Musa itu
menggambarkan Yesus yang mati tersalib karena dosa manusia.
Yesus, yang digambarkan dengan domba pada zaman Musa adalah Juruselamat yang
ditentukan Allah bagi setiap manusia di segala zaman, termasuk mereka yang hidup sebelum
kelahiranNya karena setiap orang yang percaya kepada darah domba yang dipersembahkan, berarti
12
ia telah percaya juga kepada Domba Allah yang dijanjikan walaupun masih dalam penggambaran.
Dosanya telah ditanggung bukan oleh domba yang dipersembahkannya pada waktu itu, melainkan
oleh Domba Allah yang sedang dijanjikan, yaitu Yesus Kristus yang akan datang.
Walaupun pada waktu itu orang-orang yang hidup pada zaman Musa kurang memahami
kebenaran ini karena fasilitas untuk menjelaskannya sangat terbatas, namun mereka tetap bisa
diselamatkan. Karena tindakan mempersembahkan korban itu sudah menandakan bahwa mereka
percaya dan taat kepada Allah yang akan mengirim Anak DombaNya.
Kita yang hidup pada zaman sekarang, yaitu zaman dimana Domba Allah telah diutus dan
telah mati bagi kita di atas kayu salib untuk mengorbankan diriNya yang tidak berdosa demi
menggantikan kita, kita diselamatkan dengan percaya kepadaNya tanpa perlu melakukan
bayanganNya, yaitu mempersembahkan domba.
Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuatNya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia
kita dibenarkan oleh Allah (II Kor 5:21).
Jelas sekali bagi kita bahwa posisi domba dalam Perjanjian Lama (masa sebelum Yesus
dilahirkan) yang menjadi pengganti orang berdosa menerima penghukuman itu hanya menggambarkan
Yesus yang akan datang. Ketika Ia tergantung di atas kayu salib posisiNya adalah posisi manusia
yang paling berdosa yang sedang memikul dosa seisi dunia. Itulah sebabnya Allah Bapa yang maha
suci tidak bersamaNya, maka Ia berseru:
“Eli, Eli, Lama Sabakhtani,” yang berarti:”AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau
meninggalkan Aku?” (Mat 27:46).
Yesus bukan tidak tahu mengapa Allah meninggalkanNya. Pertanyaan itu dipertanyakanNya
agar kita tahu bahwa pada saat itu Ia menempati posisi orang yang paling berdosa sehingga Allah
Bapa meninggalkanNya. Dosa yang ditanggungNya bukanlah dosa yang dilakukanNya, juga bukan
hanya dosa umat pilihanNya, melainkan dosa seisi dunia (Ibr 2:9 I Yoh 2:2), termasuk dosa anda dan
dosa saya.
Sama seperti orang-orang yang hidup pada zaman Musa yang dibenarkan karena percaya
kepada pengorbanan domba biasa yang menggambarkan Domba Allah, maka setiap orang yang
percaya kepada Yesus Kristus akan dibenarkan dihadapan Allah karena pada saat ia percaya dan
mengucap syukur atas pengorbanan Anak Domba Allah di kayu Salib itulah Allah memperhitungkan
penghukuman yang sepatutnya ia terima ke atas tubuh Tuhan Yesus. Sejak saat ia beriman kepada
Tuhan Yesus dengan sepenuh hati itulah ia dibenarkan oleh kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus
di hadapan Allah.
Alkitab menyatakan kebenaran ini dengan jelas sekali yaitu bahwa Yesus diserahkan untuk
menerima penghukuman karena pelanggaran manusia, dan dibangkitkan untuk membenarkan manusia
yang percaya.
“..... Yesus, yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitkan karena
pembenaran kita” (Roma 4:25).
13
Maksudnya, Ia telah dihukumkan untuk menggantikan manusia dan dibangkitkan serta
menghadap Allah Bapa untuk menyatakan bahwa Ia telah menanggung hukuman yang dicanangkan
bagi manusia. Orang yang telah percaya kepadaNya telah menjadi orang benar di hadapan Allah.
Benar karena apa? Karena dosanya telah dibereskan melalui penghukuman yang telah diterima Yesus
baginya.
Jadi, seseorang dibenarkan di hadapan Allah itu bukan karena ia hebat, melainkan karena ia
percaya kepada Tuhan Yesus yang telah menggantikannya menerima penghukuman, dan yang pergi
menghadap Allah Bapa untuk menyatakan bahwa ia tidak berdosa lagi, melainkan telah
dikuduskanNya.
“....Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita” (I kor l:30)
Dosa manusia yang tidak mungkin diselesaikan dengan amal, pertapaan, rituil upacara agama,
puasa dan lain sebagainya itu diselesaikan melalui percaya kepada Yesus Kristus. Karena ketika
seseorang percaya, maka hal itu sama dengan menyerahkan semua dosanya kepada Yesus yang telah
menjalani penghukuman atas dosa-dosa itu.
“Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan dan dengan mulut orang mengaku dan
diselamatkan” (Roma 10:10).
Yang terpenting adalah percaya di dalam hati, karena tanpa dibenarkan terlebih dulu tidak
mungkin seseorang bisa masuk Surga yang mulia. Walaupun ada orang yang telah mengaku sejuta
kali, namun jika hatinya tidak percaya, maka ia tidak dapat masuk Surga karena ia belum dibenarkan.
Ingat, Surga hanya dapat dimasuki oleh orang-orang benar saja.
Namun bagi yang mulutnya masih berfungsi, artinya yang masih dapat berbicara, Tuhan
merindukan pengakuannya yang bersumber dari hatinya sebagai kesaksian bagi manusia lain. Pada
saat kita percaya di hati, kita dibenarkan. Tentu yang dimaksudkan di sini adalah percaya yang seratus
persen, bukan percaya yang hanya lima puluh persen kepada Tuhan Yesus dan lima puluh persen lagi
percaya kepada dewa-dewa lain, atau hal-hal lain.
Kalau seseorang yang menambahkan hal lain atau oknum lain selain percaya kepada Tuhan
Yesus itu membuktikan bahwa ia tidak sungguh-sungguh percaya kepada Yesus karena itu
menandakan bahwa ia masih ragu akan kesanggupan Tuhan Yesus untuk menghapuskan semua
dosanya. Menambahkan siapapun atau apapun, baik itu Maria, Kong Fu Tsu, amal, baptisan dan lain
sebagainya itu membuktikan bahwa sebenarnya yang bersangkutan tidak percaya seratus persen
kepada Tuhan Yesus.
Jalan menuju ke Surga yang telah diselesaikan Tuhan Yesus itu benar-benar telah selesai,
karena sebelum Ia menyerahkan nyawaNya, Ia berseru;
“Sudah selesai” (Yoh 19: 30).
Artinya, tidak perlu ditambah dengan berbuat baik atau dengan hal-hal lain lagi karena sudah selesai!
Jangan ada orang yang berpikir bahwa selain percaya kepada Tuhan Yesus ia perlu rajin berbuat baik
agar dapat masuk Surga. Orang yang berpikir demikian itu pasti karena terpengaruh oleh berbagai
14
pengajaran yang salah.
Memang benar bahwa orang kristen diperintahkan untuk berbuat baik, tetapi bukan untuk
mendapatkan keselamatan, melainkan untuk membuktikan diri sebagai orang yang telah mengenal
Allah. Tidak ada manusia yang boleh menjadikan hasil perbuatan baiknya sebagai alasan untuk masuk
Surga karena karya keselamatan itu telah diselesaikan Tuhan Yesus. Jalan keselamatan yang Allah
sediakan itu sifatnya murni KASIH KARUNIA atau ANUGERAH, sama sekali tidak memerlukan
andil dari pihak manusia. Kalau ada andil dari pihak manusia, walaupun 0,00000001 persen, maka itu
sudah berarti bukan lagi murni KASIH KARUNIA, melainkan ada andil dari pihak manusia, dan
manusia dapat membanggakannya walaupun hanya yang sedikit itu.
Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi
pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri
(Ef 2:8-9).
Orang kristen diperintahkan untuk berbuat baik karena setelah ia diselamatkan, ia
menyandang predikat baru yaitu anak-anak Allah, orang kudus, orang benar, warga negara Surga dll.
Predikat itulah yang mendorongnya untuk hidup kudus, hidup benar, yaitu untuk menjaga nama baik
Bapanya yang di Surga, dan otomatis juga nama bapa jasmaninya.
Namun demikian ada pihak tertentu yang mengajarkan bahwa selain percaya kepada Tuhan
Yesus, seseorang harus menjalankan hukum Taurat agar dapat masuk Surga. Mereka harus
menyunatkan diri, tidak boleh makan daging tertentu dan lain sebagainya agar dapat masuk Surga.
Jemaat Galatia pada abad pertama pernah melakukan kesalahan yang serupa, yaitu setelah ada
orang Yahudi yang datang dari Yerusalem mempengaruhi mereka. Terhadap hal itu Paulus tulis surat
kepada mereka dan menegur mereka, katanya, “sekali lagi aku katakan kepada setiap orang yang
menyunatkan dirinya, bahwa ia wajib melakukan seluruh hukum Taurat. Kamu lepas dari Kristus,
jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia.” (Gal
5:3-4).
Orang-orang demikian adalah orang-orang yang ingin masuk Surga dengan andil mereka
sendiri, yang berarti menolak KASIH KARUNIA. Padahal, sudah sangat jelas dikatakan di dalam
Alkitab bahwa kita diselamatkan oleh KASIH KARUNIA melalui iman, bukan melalui hukum Taurat!
Kalau perlu ditambah dengan keberhasilan melakukan hukum taurat, maka itu berarti Tuhan tidak
menyelesaikan jalan keselamatan sampai tuntas, melainkan hanya sekian persen dan yang sisanya
harap diselesaikan masing-masing. Jelas sekali ajaran demikian tidak cocok dengan kebenaran Alkitab,
karena Alkitab memberitahukan kita bahwa jalan keselamatan telah diselesaikan oleh Tuhan Yesus.
Tindakan menambah apapun selain bertobat dan percaya kepada Tuhan Yesus adalah salah, dan
perbuatan demikian berarti tidak percaya kepada Tuhan Yesus dengan sepenuh hati.
Kematian Tuhan Yesus di atas kayu salib itu untuk menanggung dosa yang terbesar, yaitu
dosa isi dunia (I Yoh 2:2). Artinya hukuman yang ditanggungNya adalah hukuman yang diperuntukan
bagi seluruh manusia berdosa yang pernah dilahirkan. Hal ini juga berarti bahwa seluruh dosa kita,
yaitu dosa kita yang lampau, yang sekarang, bahkan yang akan datang telah ditanggungNya. Ia telah
menanggung dosa semua manusia.
Yang perlu dilakukan oleh manusia hanyalah mengakui keadaannya yang berdosa dan tidak
berpengharapan serta menerima anugerah yang telah disediakanNya. Sekalipun Ia telah menanggung
15
dosa semua manusia, itu tidak berarti orang yang memusuhiNya dan yang menolakNya akan
mendapat implementasinya. Alkitab memberitahukan kita bahwa orang yang tidak akan dihukumkan
lagi itu adalah orang yang ada di dalam Yesus Kristus (Rom 8:1, Wah 14:13). Berarti orang yang
berada di luar Dia tetap akan dihukum. Memang anugerah keselamatan telah tersedia bagi mereka dan
bagi semua orang. Mereka hanya perlu melangkah masuk ke dalam anugerah Allah, yaitu dengan
mengakui kondisi mereka dan menerimaNya sebagai Juruselamat pribadi mereka.
Proses pengakuan kondisi mereka yang berdosa dan penyambutan terhadap Sang Juruselamt
itu dapat dikatakan sebagai proses transaksi dosa dan keselamatan. Orang berdosa mengaku dan
menyerahkan dosa mereka kepada Kristus, kemudian Kristus menyerahkan kepada mereka
keselamatan yang mereka sangat perlukan. Sejak saat itu seluruh dosa mereka telah tertanggung ke
atas Dia. Ingat, seluruh adalah benar-benar seluruh bukan separuh. Seluruh dosa orang yang percaya
kepadaNya, yaitu mulai dari sifat dosa yang diwariskan Adam, sampai dosa yang terakhir yang belum
dibuatnya telah ditanggung Yesus Kristus di kayu salib. Jadi, sesungguhnya hanya melalui percaya
kepada Tuhan Yesus maka jaminan keselamatan itu sudah pasti bagi kita. Tindakan menambahkan
seseorang atau sesuatu sebagai obyek iman tambahan misalnya Maria, Budha, Kong Fu Tsu dan lain
sebagainya adalah suatu penghinaan terhadap Tuhan Yesus karena hal itu merupakan sebuah
pernyataan bahwa kematian Tuhan Yesus belum cukup untuk menyelesaikan dosanya.
Sejak seseorang percaya kepada Tuhan Yesus, maka seluruh dosanya telah terselesaikan oleh
Tuhan Yesus di kayu Salib. Sejak saat itu ia memiliki status sebagai orang kudus. Selanjutnya orangorang
yang telah dikuduskan Tuhan Yesus itu tidak membutuhkan sacrament untuk menguduskan
diri mereka. Sacrament itu diperlukan oleh orang yang belum dikuduskan Tuhan Yesus. Dalam gereja
yang benar-benar melaksanakan kebenaran Alkitab tidak akan diadakan perjamuan kudus karena
kalau jemaatnya telah dikuduskan oleh Tuhan Yesus, maka mereka tidak perlu dikuduskan lagi
dengan perjamuan.
Gereja yang memahami kebenaran akan melaksanakan PERJAMUAN TUHAN yang bertujuan
untuk mengenang kematian Tuhan (I Kor 10:21 dan 11:20). Perjamuan Tuhan adalah perjamuan yang
diperintahkan Tuhan untuk mengingat akan kematianNya (1 Kor 11:24-25). Jangan sampai ada orang
Kristen yang terpengaruh oleh konsep yang salah yang berasal dari gereja yang salah pengajarannya.
Sebab ada gereja yang mengajarkan bahwa keselamatan itu diperoleh bukan dengan hanya percaya
kepada Tuhan Yesus saja melainkan perlu dilengkapi dengan sacrament-sacrament.
Mereka mengajarkan kalau seseorang telah percaya namun belum dibaptiskan maka ia tidak
dapat masuk Surga. Jadi, bagi mereka baptisan itu sangat menentukan kepastian seseorang untuk
masuk Surga. Padahal jelas sekali penjahat yang disalibkan di sebelah Tuhan Yesus yang percaya
kepadaNya namun tidak dibaptis itu ternyata dinyatakan Tuhan Yesus sendiri bahwa ia masuk Surga.
Tuhan Yesus sengaja melakukan hal ini agar orang-orang tidak menjadikan baptisan sebagai
unsur penentu kepastian keselamatan. Baptisan adalah karya manusia, sedangkan keselamatan itu
murni Kasih Karunia Allah yang tidak membutuhkan perbuatan atau andil pihak manusia. Pembaptisan
adalah salah satu upacara yang Tuhan perintahkan untuk dilakukan oleh gereja, artinya bukan
dilakukan oleh perorangan, namun dilakukan di bawah otoritas gereja terhadap orang yang telah
percaya atau yang telah menjadi murid untuk menggambarkan Injil yang telah menyelamatkannya,
yaitu kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus. Sungguhpun Tuhan sudah mendemonstrasikan
dengan tegas dan nyata bahwa baptisan itu tidak menjadi faktor penentu keselamatan, namun toh
masih banyak orang yang tetap mau memasukannya sebagai syarat untuk masuk Surga.
Kalau mau tahu tentang baptisan alkitabiah, silakan membaca buku yang saya 2 tulis yang berjudul Baptisan Alkitabiah
16
Ketahuilah Tuhan telah terhukum di kayu Salib serta telah menyatakan sudah selesai, maka
jangan ada orang yang berlagak lebih berkuasa daripadaNya yang mencoba mempersulit orang-orang
yang mau mendapatkan kepastian keselamatan dengan menambahkannya dengan syarat baptisan.
Ada begitu banyak agama dan pengajaran di dunia ini yang mengajarkan bahwa untuk masuk
Surga diperlukan usaha atau andil dari pihak manusia, sehingga hal ini mempengaruhi sebagian orang
Kristen yang kurang memahami kebenaran Alkitab. Siapa saja yang menambahkan apa saja untuk
masuk Surga selain hanya bertobat dan percaya kepada Tuhan Yesus itu berarti menghina KASIH
KARUNIA yang disediakan Allah melalui Tuhan Yesus.
Kalau ada orang yang sedang sakit keras di rumah sakit mau bertobat dan percaya Tuhan,
perlukah ia terburu-buru dibaptiskan? Kalau ia telah bersungguh-sungguh hati bertobat dan percaya
kepada Tuhan Yesus, maka tanpa dibaptis pun ia pasti masuk Surga (Rom 3:21-25, 5:1-11, 8:1 dan
10:10 Ef 1:13, 2:8-9).
Namun ada banyak simpatisan kekristenan yang belum mengerti, yang kadang-kadang
beranggapan bahwa seseorang itu benar-benar jadi kristen pada saat ia dibaptis. Hal itu terlihat jelas
dari jumlah orang yang sedang sakit yang meminta agar ia segera dibaptis. Anggapan mereka kalau
mereka dibaptiskan maka resmilah mereka sebagai orang Kristen. Padahal seseorang itu resmi
mendapatkan keselamatan atau menjadi Kristen itu bukan pada saat ia dibaptis, melainkan pada saat
ia mengakui dirinya orang berdosa dan menyambut Yesus ke dalam hatinya sebagai Juruselamat.
Situasi bertambah menjadi semakin ruwet setelah orang Kristen, bahkan sebagian pendeta
tidak berusaha mencari tahu motivasi permintaan orang itu. Padahal sangat mungkin motivasi yang
mendorongnya meminta dibaptis itu adalah konsepnya yang salah. Ia merasa belum pasti masuk Surga
karena belum dibaptis.
Kalau orang demikian dibaptiskan dan kemudian ia meninggal, maka ia membawa mati iman
yang salah. Karena seharusnya ia diberi penjelasan tentang jalan keselamatan yang benar seperti yang
telah diuraikan di atas, yaitu cukup dengan bertobat dan percaya kepada Tuhan Yesus. Orang kristen
yang sudah mengerti, apalagi seorang pendeta, harus menegaskan kepada orang sakit yang minta
dibaptis bahwa kondisinya tidak memungkinkannya dibaptis dengan baptisan alkitabiah.2
Orang yang sedang sekarat sangat ingin tahu, apakah ada keselamatan bagi orang yang tidak
dapat berbuat amal dan tidak dapat bertapa? Ia sedang sekarat, ia tidak dapat berbuat amal, juga tidak
dapat pergi bertapa lagi, yang sangat dibutuhkannya ialah kabar baik bahwa Yesus telah menanggung
semua dosanya di kayu salib. Bertobat dan menyambut Yesus Kristus sebagai Juruselamatnya adalah
hal terutama di saat yang sangat kritis itu. Ia sangat membutuhkan kepastian keselamatan. Ia perlu
tahu bahwa Kristus telah mati di kayu salib untuk menanggung semua dosanya. Setelah ia mendengar
kabar baik itu selanjutnya adalah tanggung jawabnya, apakah ia akan menyambut berita itu dan
mengucap syukur kepada Tuhan Yesus yang rela menanggung dosanya atau sebaliknya yaitu
menolakNya. Tentu kita mengharapkan ia akan menerimaNya, bahkan bukan hanya dia, melainkan
semua manusia bisa menerima Yesus, Juruselamat mereka, tentu termasuk anda.
17
4
BUKTI TERHAPUSNYA DOSA
Resapilah di dalam hatimu dan katakanlah dengan mulutmu kalimat-kalimat berikut:
“Saya menyadari bahwa saya seorang berdosa yang seharusnya menerima penghukuman. Namun
Allah sangat mengasihi saya sehingga Ia mengutus Yesus Kristus untuk menerima
hukuman itu dengan mati di kayu Salib dan turun ke dalam a l a m m a u t
untuk menggantikan saya. Pada hari ke tiga, Ia telah dibangkitkan
serta menghadap Allah untuk mengatakan kepadaNya bahwa Ia telah
menanggung semua dosa saya. Sekarang saya percaya k e p a d aNy a ,
bahkan berhutang kepadaNya. Oleh sebab itu saya sangat bersyukur kepadaNya,
bahkan akan bersyukur terus kepadaNya dalam sepanjang hidup
saya. Tuhan Yesus, Engkaulah Juruselamat saya”
Setiap manusia yang sudah bisa berbicara akan sanggup mengucapkan kalimat di atas. Namun
apakah ucapan itu hanya sekedar di mulut saja atau betul-betul keluar dari dalam hati itu hanya dirinya
dan Allah saja yang tahu. Bahkan bisa terjadi kadang-kadang ada orang yang meragukan keseriusan
diri sendiri. Oleh sebab itu sepatutnya setiap orang bertanya, “apakah saya sudah sungguh-sungguh
diselamatkan?”
Bukti seseorang telah memiliki jaminan kepastian masuk Surga, atau telah dilahirkan kembali
di dalam Kristus Yesus, atau telah sungguh-sungguh dengan sepenuh hati percaya kepada Tuhan
Yesus adalah adanya ucapan syukur yang dinyatakan dalam kata-kata maupun dalam
kehidupan. Ucapan syukur yang tulus itu adalah reaksi dari rasa tertolong atau reaksi dari menerima
sesuatu.
Kalau kita telusuri proses seseorang dilahirbarukan, kita akan dapatkan bahwa yang pertama
adalah kesadaran orang yang bersangkutan akan dosa dan akibatnya. Tanpa kesadaran akan dosa
18
dan akibatnya maka tidak akan timbul rasa membutuhkan Juru selamat.
Dalam Yoh 16:8 Tuhan memberitahukan kita bahwa Roh Kudus mempunyai tiga tugas; yaitu
menyadarkan manusia akan DOSA, menyadarkan manusia akan KEBENARAN, dan menyadarkan
manusia akan PENGHAKIMAN. Berkat usaha Roh Kudus melalui firman Tuhan itulah maka
manusia berdosa disadarkan. Kesadaran akan dosa kemudian mendorong orang tersebut merenungkan
upah dosa yang adalah maut/binasa. Selanjutnya manusia itu memikirkan jalan keluar dari akibat
dosa yang tentu sangat menakutkannya. Kebenaran firman Tuhan memberitahukan kepadanya bahwa
tidak ada jalan keluar yang dapat dikerjakan oleh manusia karena Allah yang maha suci tidak mungkin
dihampiri manusia yang memiliki dosa yang sekecil apapun.
Firman Allah memberitahukan kepada manusia bahwa hanya Allah sendiri yang dapat
menyelamatkan manusia. Jalan keselamatan yang dikerjakan oleh Allah melalui kematian Tuhan Yesus
telah tersedia dan telah diuraikan di atas.
Rasa syukur akan muncul di hati orang yang menyadari akan posisi asalnya serta menyadari
tentang kebinasaan yang akan dihadapinya seandainya ia tidak memperoleh Kasih Karunia yang Allah
sediakan melalui Tuhan Yesus Kristus. Orang yang tidak menyadari posisi serta kemalangan yang
akan dituainya tidak akan menerima pertolongan Tuhan Yesus, apalagi mengucap syukur kepadaNya.
Kalau hanya menyadari posisi serta kemalangan yang akan dihadapi, namun belum menerima
pertolongan Tuhan Yesus, orang demikian pun tidak bisa bersyukur, karena syukur atas apakah yang
dapat diucapkan oleh seorang yang belum tertolong?
Kesadaran akan dosa adalah awal dari kerinduan akan keselamatan yang akan memimpin
seseorang kepada penerimaan Tuhan Yesus. Kalau oleh kesadaran akan akibat dosa seseorang telah
menerima Tuhan Yesus, maka orang tersebut akan merasa sangat tertolong. Dan rasa tertolong inilah
yang kemudian menimbulkan rasa syukur. Jelas sekali bahwa mengucap syukur itu adalah reaksi dari
rasa tertolong, dan rasa tertolong itu membuktikan orang tersebut sudah menyadari keadaannya dan
sudah tertolong oleh Kasih Karunia Tuhan Yesus.
Ucapan syukur dapat dinyatakan dengan kata-kata dan sikap hidup sehari-hari. Ucapan syukur
yang hanya diucapkan dengan kata-kata namun tidak diikuti dengan sikap hidup itu pasti bukan yang
dihasilkan dari dalam hati. Ucapan syukur dengan kata-kata juga penting karena selain didengar Allah
ucapan itu juga didengar manusia serta dapat menguatkannya. Namun yang lebih penting adalah
ucapan syukur yang bersumber dari dalam hati karena itu merupakan bukti bahwa orang itu telah
menerima pertolongan, atau telah mendapat bagian di dalam Kasih Karunia Tuhan Yesus.
Kapankah seseorang mengucapkan terima kasih kepada orang lain? Umumnya ialah pada saat
orang tersebut menerima sesuatu dari orang lain, entah itu sebuah hadiah, entah itu bantuan atau
pertolongan. Kadar rasa syukur seseorang sangat tergantung pada nilai hadiah atau pertolongan yang
diterimanya. Kalau hadiah yang diterimanya hanya sebuah pen yang harganya tidak mahal atau
ditolong menyeberang jalan saja, tentu hal itu tidak sampai mempengaruhi seluruh kehidupannya.
Namun jika hadiah yang diterima adalah sesuatu yang sangat bernilai, atau pertolongan yang
diterimanya adalah yang menyangkut keselamatan nyawa, maka rasa syukur akan terus bertumbuh
dalam hati sang penerima. Rasa syukur yang timbul atas penghayatan terhadap pertolongan yang telah
diterima itu harus bersifat otomatis jangan seperti diprogramkan atau perlu dihimbau-himbau.
Ucapan syukur akan terus mengalir di dalam hidup seseorang yang telah mengenal siapa
dirinya serta yang merasa mendapat pertolongan keselamatan dari Tuhan Yesus. Semakin menghayati
besarnya Anugrah Tuhan yang rela mati tersalib untuk menggantikannya, maka ucapan syukur akan
19
lebih melimpah lagi. Ucapan syukur yang dihasilkan dari kesadaran dalam hati bukanlah ucapan
syukur yang sekedar di mulut saja. Kalau ada ucapan syukur yang bukan hanya di mulut saja namun
yang betul-betul berasal dari dalam hati, tentu itu akan merubah sikap hidup bahkan seluruh aspek
kehidupan kita, yaitu akan ada kerinduan untuk mentaatiNya, kerinduan untuk berbuat hal-hal yang
menyenangkan hati Sang Penolong, yaitu Tuhan Yesus yang telah mati bagi kita di kayu Salib. Adalah
hal yang sangat wajar kalau yang merasa tertolong berusaha mengenal Penolongnya. Oleh sebab itu
membaca firman Tuhan dan mempelajarinya adalah kesukaan orang yang telah dilahirbarukan karena
ia ingin selalu menghayati jasa Penolongnya.
Datang ke gereja untuk berbakti, memuji nama Tuhan dengan pujian yang merdu dari mulut
dan hati, mendengarkan khotbah dari Alkitab serta mempelajarinya adalah kesukaan orang yang telah
dilahirbarukan di dalam Kristus Yesus. Semua itu akan diusahakan dan disenangi dengan tidak perlu
didorong, dihimbau dan lain sebagainya. Setiap kali kita mengikuti Perjamuan Tuhan, kita diingatkan
lagi akan kasih Tuhan yang melampaui akal itu, sehingga rasa syukur kita semakin bertumbuh dan
berlimpah.
Semakin berlimpahnya rasa syukur di dalam diri seseorang itu akan mengobarkan semangatnya
untuk berbuat sesuatu bagi Tuhan yang sangat mengasihinya, sehingga mendorongnya membantu
pelayanan Tuhan. Ada yang melayani dengan mengajar sekolah Minggu dan ada yang bahkan
mempersembahkan seluruh hidupnya untuk pekerjaan Tuhan. Rasa syukur yang muncul dalam diri
seseorang akan membawa pengaruh dalam kehidupan sehari-harinya. Seab rasa syukur seseorang itu
dipengaruhi oleh rasa tertolongnya. Semakin seseorang merasa tertolong serta merasa pertolongan
itu sangat berarti, maka semakin mengucap syukurlah ia.
Jika dalam kehidupan sehari-hari orang percaya selalu bersyukur, mustahil ia dapat hidup di
dalam dosa. Mungkinkah seseorang yang telah menyadari bahwa upah dosa yang harus diterimanya
itu telah ditanggung oleh Tuhan Yesus di kayu Salib akan dapat tetap tinggal di dalam dosa itu tanpa
merasa bersalah kepada Juruselamat yang telah menderita bagi dosa itu? Kalau memang ada rasa
syukur, maka berarti telah menyadari tentang dosa serta kebenaran dan juga telah mengerti tentang
penghakiman. Rasa syukur itu akan mendorong seseorang untuk berbuat sesuatu bagi Pribadi yang
memberi rasa syukur, yaitu Tuhan yang telah berkorban untuk menanggung dosanya.
Kehidupan yang dipenuhi dengan ucapan syukur selain membuktikan bahwa seseorang telah
mendapatkan kasih karunia Tuhan Yesus yang berlimpah, atau telah dilahirbarukan, juga merupakan
jalan yang menghantarnya menuju hidup kudus di hadapan Tuhan, yaitu hidup yang menyenangkan
hati Tuhan. Namun demikian, selama kita masih hidup di dalam daging, kita tetap bisa jatuh ke dalam
dosa.
Tetapi jatuh ke dalam dosa itu bukan hidup di dalam dosa! Ini harus dapat dibedakan. Hidup
di dalam dosa itu berarti selalu berdosa, tidak merasa bersalah kepada siapapun dan tidak berusaha
keluar dari dosa itu. Sedangkan jatuh ke dalam dosa ialah tanpa sengaja melakukan dosa serta merasa
sangat bersalah, sedih, dan malu terhadap Tuhan dan diri sendiri, serta berusaha menjauhinya dan
bertekad untuk tidak mengulanginya lagi.
Bagaimana dengan dosa yang dilakukan seseorang setelah dilahirbarukan? Di bagian depan
telah kita bahas bahwa pada saat seseorang bertobat dan percaya kepada Tuhan Yesus, maka semua
dosa, yaitu dosa dari dalam kandungan hingga dosa terakhir menjelang kematiannya itu telah
tertanggung oleh Tuhan Yesus di kayu Salib. Berarti dosa yang dilakukannya sesudah kelahiran
20
barunya juga sudah tertanggung oleh Tuhan Yesus di kayu Salib.
Terhadap dosa yang dilakukan oleh orang yang telah lahir baru, firman Tuhan memerintahkan
agar ia mengakuinya di hadapan Tuhan, bukan di hadapan manusia. Bukankah Tuhan itu maha tahu
dan Ia telah tahu segala yang kita perbuat? Betul, semua dosa yang kita akan akui itu sebenarnya telah
diketahuiNya. Pertanyaan yang sering kali muncul ialah, untuk apa diakui kalau sudah diketahui?
Adapun maksud Tuhan memerintahkan kita mengakui setiap dosa yang kita perbuat (1 Yoh
1:8-9) adalah agar kita malu pada diri kita sendiri dan juga pada Tuhan yang telah menanggung dosa
itu di kayu Salib.
Oleh sebab itu pengakuan dosa yang Tuhan inginkan ialah pengakuan yang secara satu persatu
dan diucapkan dengan hati yang penuh penyesalan serta rasa malu kepada Tuhan dan diri sendiri.
Pengakuan dosa yang disertai rasa malu kepada Tuhan dan diri sendiri itu diharapkan akan
menimbulkan rasa segan dan takut untuk mengulanginya.
Akhirnya, menghidupi kehidupan yang selalu mengucap syukur atas dosa yang telah diampuni
sambil mengingat akan kematian Tuhan Yesus di kayu salib karena menggantikan kita menerima
penghukuman itu adalah kehidupan orang yang telah diselamatkan, yaitu yang telah memiliki
kepastian masuk Surga.
Setelah saya bertobat dan percaya dengan segenap hati kepada Tuhan Yesus, maka kapan saja
saya mati saya pasti akan masuk Surga karena semua dosa saya telah dijatuhi hukuman, dan hukuman
itu telah ditanggung Yesus ketika Ia dihukum di kayu salib. Sesungguhnya dosa anda juga telah
ditanggungNya (I Yoh 2:2). Oleh sebab itu anda juga akan mendapatkan kepastian masuk Surga jika
anda bertobat dan percaya kepadaNya dengan segenap hati anda.
Subscribe to:
Comments (Atom)

