Monday, 26 August 2013
Ekumene adalah program Antikristus
Persatuan Yang Mendukung Anti-Kristus
Posted on May 30, 2013
Dalam kitab Daniel pasal 2 tercatat raja Nebukadnezar ber-mimpi, dan ia sangat ingin tahu makna mimpinya. Karena ia takut ditipu oleh orang yang berlagak bisa menafsirkan mimpi, ia meminta mereka memberitahukan tafsirnya sekaligus mimpinya. Tentu tidak ada seorang pun yang bisa tahu mimpinya tanpa diberitahukannya.Gambar Patung Zaman
Patung Sejarah Yang Dimimpikan Nebukadnezar
Setelah Nebukadnezar melakukan permintaan yang meng-gemparkan, akhirnya Allah Jehovah memberitahukan Daniel mimpi Nebukadnezar. Nebukadnezar bermimpi tentang sebuah patung besar yang kepalanya dari emas, dadanya dari perak, pe-rutnya dari tembaga, kakinya dari besi, serta jari kakinya dari besi campur tanah liat. Pada akhirnya sebuah batu besar menghancur-kan patung itu.
Daniel juga memberitahu Nebukadnezar bahwa kepala yang dari emas itu adalah kerajaan Nebukadnezar yang sangat mulia. Sesudah kerajaan Babilon akan muncul kerajaan yang kurang mulia yang digambarkan dari dadanya yang terbuat dari perak. Mungkin baik Nebukadnezar maupun Daniel saat itu belum tahu kerajaan itu, namun sekarang setelah perjalanan sejarah ribuan tahun, maka kita dapat dengan jelas melihat bahwa sesudah Babi-lon dunia diperintah oleh Media-Persia. Kemudian perutnya yang tembaga itu sesungguhnya adalah kerajaan Yunani di bawah Alexander. Dan sesudah kerajaan Yunani hancur, dunia dikuasai oleh kerajaan Romawi yang digambarkan dengan kaki patung yang terbuat dari besi.
Bagian yang tidak dijelaskan oleh Daniel dan yang kurang diperhatikan oleh banyak theolog ialah jari kaki yang terdiri dari besi campur tanah liat. Sesungguhnya ini adalah kerajaan lanjutan campuran antara Romawi dengan tanah liat yang belum tahu menggambarkan kerajaan apa. Tanah liat kelihatannya bisa dunia Islam atau Tiongkok atau bisa juga seluruh Asia. Kerajaan kelima, besi campur tanah liat, adalah kerajaan anti-Kristus yang akan berlangsung singkat yaitu hanya tujuh tahun, atau satu kali tujuh masa, seperti dinyatakan dalam Daniel 9:27. Kerajaan anti-Kristus ini kemudian akan dihancurkan oleh Kerajaan Kristus yang digambarkan dengan batu yang tanpa oleh tangan manusia menghancurkan patung itu.
Kitab Wahyu Menambah Kejelasan
Sebagaimana dinubuatkan dalam kitab Daniel, maupun dalam kitab Wahyu pasal 13:11-18, anti-Kristus akan muncul dan akan berhasil menguasai dunia. Dalam kitab Wahyu dikatakan bahwa ia akan menguasai politik, ekonomi, dan agama. Tidak ada orang yang dapat membeli atau menjual tanpa melalui persetuju-annya. Dan ia akan menguasai semua agama karena ia akan memak-sa semua orang untuk menyembah kepada patung binatang itu. Dan dikatakan bahwa anti-Kristus akan mengenakan tanda 666 (kode komputer?) kepada setiap orang untuk mengontrol semua manusia.
Jadi, pembaca yang bijak, kitab Wahyu menambahkan kejelasan kepada sesuatu yang masih kabur pada patung sejarah Nebukad-nezar. Akhirnya dapat kita rangkumkan bahwa menurut kitab Daniel dan kitab Wahyu, akan ada satu pemerintahan yang bersifat global yang akan dipimpin oleh anti-Kristus. Pemerintahan tersebut di dalam kitab Daniel digambarkan dengan patung yang kakinya terdiri dari besi campur tanah liat. Unsur besi menunjukkan bahwa pemerintahan itu masih ada unsur Eropa sedangkan tanah liat masih belum pasti jati dirinya.
Kita tahu bahwa sejak kerajaan Romawi bubar sekitar tahun 476 AD, belum ada satu pun kerajaan atau pemerintahan yang berkuasa secara global. Tetapi apa yang telah dinubuatkan oleh Alkitab baik yang di kitab Daniel maupun yang di kitab Wahyu, semuanya pasti akan digenapi. Lucifer, si anti-Kristus, akan berusaha menguasai dunia dengan tujuan akhirnya untuk memaksa setiap manusia menyembahnya. Ia pernah meminta Yesus Kristus menyembahnya dengan imbalan seluruh kekayaan dunia. Tetapi Kristus dengan tegas mengusirnya dan menyatakan bahwa hanya boleh menyembah kepada Allah saja (Mat.4:10).
Penyatuan Politik Sedang Berjalan
Pada hari Jumat, 26 April 2013, ketika artikel ini sedang ditulis, Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, menulis sebuah Esai di koran Seputar Indonesia (SINDO), yang berjudul The Logic of One World. Dalam Esai tersebut ia membahas tulisan Kishore Mahbubani yang berjudul The Great Convergence, Asia, The West, and the Logic of One World. Ternyata sudah banyak buku yang telah ditulis oleh ba-nyak penulis membahas tentang manfaat disatukannya pemerintah-pemerintah di muka bumi ini. Ia juga menyinggung tulisan lain yaitu The World is Flat (2005) oleh Tom Friedman, kemudian In Defence of Globalization (2004) oleh Jagdish Baghwati, dan Why Globa-lization Works (2004) oleh Martin Wolf. Buku-buku itu berusaha menjelaskan, dan memacu berbagai gerakan dan usaha untuk gerakan globalisasi.
Tidak dapat dipungkiri, dan hanya orang yang buta pikiran saja yang tidak dapat melihat bahwa gerakan globalisasi sedang bekerja dengan dahsyat. Setelah satu-persatu negara berhasil menumbang-kan diktator, dan menjadi negara demokrasi, maka semua orang akan sampai kepada pikiran yang sama, yaitu mengapa tidak menuju ke satu pemerintahan dunia saja? Demi efisiensi, dan hukum serta peraturan yang sama di seluruh muka bumi, maka semua orang akan sampai kepada kesimpulan bahwa satu pemerintahan dunia adalah sebuah solusi yang tepat bahkan indah.
Penyatuan Ekonomi Sedang Berjalan
Banyak orang tidak mengikuti gerakan penyatuan di bidang moneter, mungkin karena bidang moneter lebih bersifat abstrak. Padahal bidang moneter dengan World Bank, IMF, dan berbagai kebijakan yang bersifat global semakin menuju pada titik penya-tuan mata uang seluruh dunia menjadi satu mata uang tunggal.
Eropa adalah yang pertama bergerak menyatukan mata uang mereka. Dan kini mereka sedang sempoyongan untuk mengatasi gejolak ekonomi di beberapa negara anggota. Gejolak ini pasti akan menghantar mereka sampai kepada kesadaran bahwa bersa-tunya mata uang tidak mungkin tidak di bawah satu pemerintah karena kalau pemerintah Yunani bertindak boros dan tidak bijak dalam pembelanjaannya, maka akan mempengaruhi ekonomi seluruh Eropa. Penyatuan ekonomi dan pemerintah sesungguhnya adalah sesuatu yang sifatnya satu paket. Itulah sebabnya para pakar ekonomi seluruh dunia terus mengadakan konferensi untuk menyatukan opini dan menyatukan berbagai peraturan perda-gangan dan moneter.
Penyatuan Agama Sedang Berjalan
Pembaca yang berhikmat, Anda pasti setuju kalau saya kata-kan bahwa Lucifer tidak pernah kekurangan uang. Ia bahkan merasa dirinya adalah pemilik kekayaan dunia ini ketika ia menawarkannya kepada Kristus sebagai ganti untuk menyembah-nya. Dan Lucifer juga tidak kekurangan kekuasaan atau kemam-puan, karena dalam kitab Yudas dikatakan, Mikhael, Penghulu malaikat saja masih segan kepadanya.
Lalu apa tujuan Lucifer mau menyatukan semua pemerin-tahan dan ekonomi dunia? Jawabannya ialah bahwa Lucifer ingin dirinya disembah sebagai allah oleh seisi dunia. Ia bahkan tercatat pernah meminta Yesus Kristus, Allah Jehovah yang sedang datang untuk menyelamatkan manusia, untuk menyembah kepadanya. Ia tidak pernah puas sebelum seisi dunia menyembah kepadanya dan menjadi pengikutnya untuk menentang Allah. Politik dan ekonomi sesungguhnya adalah alat untuk mengendalikan dunia. Sedangkan aspek agama adalah tujuan utamanya.
Keinginan utama Lucifer ialah menyatukan semua agama di dunia menjadi satu agama dunia (One World Religion), yang ter-kendali olehnya. One World Goverment, One World Economy, dan One World Religion untuk menentang Allah dan menyembah Lucifer. Koran Suara Pembaruan 22 Oktober 2007, melaporkan di Napoli, tanggal 21 Oktober 2007, Paus Katolik Benediktus XVI, mengumpulkan pemimpin seluruh agama yang dikenal baik Is-lam, Yahudi, Buddha, Hindu, Anglikan, Orhtodoks, dan berbagai denominasi Kristen untuk berbicara tentang perdamaian. Dave Hunt, menulis sebuah buku yang berjudul A woman Riding the Beast, menafsirkan pelacur yang dimaksudkan di dalam Wahyu pasal 17 itu adalah Gereja Roma Katolik. Salah satu alasannya ialah bahwa hakekat seorang pelacur ialah mengakomodasi banyak laki-laki seperti Katolik yang mengakomodasi berbagai agama dan ajaran. Michael de Semlyen menulis sebuah buku yang berjudul All Roads Lead to Rome menyatakan bahwa semua agama pasti akan disatukan ke dalam Gereja Roma Universal (Katolik/Am). Ignatius dari Loyola pada tanggal 15 Agustus 1534 mendirikan ordo Jesuit dengan tujuan utama untuk mem-bawa kaum Protestan kembali ke Roma Katolik dengan cara apa-pun. Mereka sangat senang mendengar gereja non-Katolik mem-buat pengakuan iman percaya gereja yang Am, karena mereka tahu bahwa kata Am itu sama dengan Universal atau Katolik.
Penyatuan Kekristenan Sedang Berjalan
Sebelum menyatukan berbagai agama yang back-ground-nya sangat bertentangan, Lucifer tentu berusaha menyatukan bagian-bagian dari berbagai agama. Di dalam agama Islam sendiri terdapat banyak Mazhab, dan Buddha juga ada banyak kelompok, demikian juga Kristen.
Untuk mengirit waktu dan ruang lembaran ini maka kita hanya berfokus pada kekristenan saja. Sesungguhnya persatuan yang diingini Tuhan ialah persatuan jemaat lokal. Rasul Paulus tekankan pada jemaat Korintus bahwa mereka harus sehati sepikir (I Kor.1:10). Persatuan antar jemaat lokal, harus didasarkan pada kesamaan doktrin. Sedangkan antara jemaat lokal yang tidak sama doktrin, Tuhan ingin satu sama lainnya saling bersaksi secara penuh kasih. Tuhan tegaskan bahwa jemaat lokallah yang adalah tubuhnya, dan jika ada perbedaan pendapat antara satu jemaat lokal dengan yang lain itu tentu diselesaikan dengan diskusi, argumentasi, bahkan debat. Tuhan tidak menghendaki tindakan tidak terpuji seperti marah, memaki, apalagi berbuat kasar bahkan hingga membunuh. Melalui diskusi, argumentasi, bahkan debat, gereja-gereja Tuhan akan semakin benar di hadapan Tuhan. Tuhan menghendaki agar tiap-tiap gereja lokal yang adalah tubuhNya, bersifat independen (merdeka), dan tidak dikuasai oleh otoritas apapun termasuk kuasa alam maut sekalipun.
Jika iblis ingin menguasai seribu gereja lokal yang indepen-den, ia harus menguasai seribu Gembalanya. Tetapi iblis tahu bahwa cara gampang untuk menguasai seribu gereja adalah dengan mempersatukan mereka ke bawah satu organisasi entah itu persekutuan, sinode, badan koordinator, kepausan atau apa-pun namanya. Nama sesungguhnya tidak penting melainkan sifatnya. Dengan menguasai beberapa orang pimpinan tertinggi sebuah organisasi, iblis akan berhasil menguasai seluruh gereja yang tergabung di dalamnya.
Untuk melawan konsep gereja lokal yang independen, iblis menghembuskan konsep gereja universal, yaitu sebuah konsep yang mengajarkan bahwa tubuh Tuhan itu sesuatu yang abstrak dan terdiri dari seluruh kekristenan seluruh dunia. Karena mereka mengajarkan bahwa tubuh Tuhan itu satu dan meliputi kekris-tenan seluruh dunia, maka mereka akan berjuang untuk menyatu-kan seluruh kekristenan ke dalam satu organisasi.
Adalah sangat sulit untuk menyadarkan orang Kristen bahwa menyatukan kekristenan seluruh dunia yang beraneka ragam doktrin ke bawah sebuah organisasi adalah ide Lucifer, dan usaha itu akan berakhir pada satu kekristenan yang tidak saling bersaksi, dan ujungnya adalah satu agama dunia (One World Religion) yang terkendali anti-Kristus. Hanya orang Kristen lahir baru, dan yang sungguh hati menyelidiki Alkitab yang dapat melihat kebenaran ini.
Dengan penuh kasih kami ingin mengajak orang Kristen melihat bahwa kerajaan anti-Kristus telah dinubuatkan sejak zaman Daniel. Kaki patung yang terbuat dari besi campur tanah liat sesungguhnya adalah kerajaan kelima, yaitu kerajaan anti-Kristus. Di dalam kitab Wahyu pasal 13 diulangi dan ditambahkan peringatan serta tandanya. Tetapi banyak orang Kristen terlalu lamban untuk belajar dan hanya takut pada tanda 666, padahal mereka sudah ikut terlibat mendukung pembentukan One World Religion.
Koran Suara Pembaruan 27 Agustus 2008 menurunkan artikel berjudul Katolik-Protestan Tanpa Tembok Pemisah, membahas acara yang diselenggarakan oleh STTRII (Sekolah Tinggi Teologi Reformed Injili Indonesia), bersama Romo Yohanes Indrakusuma dari Katolik. Dalam artikel dijelaskan bahwa STTRII mendukung penyatuan Protestan dengan Katolik. Tentu kami tidak membenci baik orang Katolik maupun Reformed, kami hanya melihat bahwa fenomena ini sesuai dengan nubuatan Alkitab, dan membenarkan analisa Michael de Semlyen bahwa All Roads Lead to Rome.
Satu pemerintahan dunia, satu ekonomi dunia, dan satu agama dunia di bawah kekuasaan anti-Kristus PASTI akan terjadi karena telah dinubuatkan oleh Alkitab. Satu iota pun nubuatan Alkitab tidak akan gagal. Persoalannya sekarang ialah siapa ada di pihak mana. Banyak orang Kristen tidak mengerti bahwa kata anti adalah prepo-sisi bahasa Yunani yang artinya melawan dengan cara menggan-tikan. Jadi, anti-Kristus itu ialah pribadi yang menyatakan dirinya Kristus, namun yang sesungguhnya adalah Kristus palsu. Sedang-kan kata kristus itu adalah bahasa Yunani dari mesias yang bahasa Ibrani yang artinya orang yang diurapi. Tidakkah pembaca menya-dari bahwa semakin hari semakin banyak pihak yang menyatakan diri dan menyebut orang tertentu sebagai orang yang diurapi?
Tentu kami sama sekali tidak anti persatuan. Kami memahami bahwa persatuan yang Tuhan inginkan secara organisasi ialah jema-at lokal. Saking menyatunya, bahkan Tuhan menyebut itu tubuhNya, dan Rasul Paulus tekankan organisme itu harus sehati dan sepikir. Selanjutnya antar jemaat lokal yang berbeda doktrin harus saling bersaksi, berdiskusi dan argumentasi untuk melihat doktrin jemaat lokal mana yang paling logis dan paling harmonis dengan ayat-ayat Alkitab. Tidak ada pihak yang boleh bersikap kasar apalagi melaku-kan tindakan kekerasan kepada pihak yang lain. Pihak manapun yang melakukan tindakan kasar pastilah itu milik iblis karena mengekspresikan watak bapaknya.
Pembaca yang berhikmat, tidak ada satu manusia pun yang sang-gup menghentikan penggenapan nubuatan Alkitab. Koran Suara Pembaruan, 15 Mei 2012 melaporkan acara akbar Umat Lintas Agama Hadiri Doa Akbar Sedunia, di Sentul International Convention Center, yang katanya 9.000 umat dari berbagai negara berkumpul untuk berdoa bersama. Mereka sangat antusias untuk membentuk satu gereja tunggal, yang akhirnya pasti akan menuju ke satu agama tunggal di bawah kendali anti-Kristus.
Kami terperanjat menyaksikan fenomena beberapa tahun terakhir. Sambil memegang Alkitab di tangan, sambil mengamati berita-berita di media cetak maupun elektronik, kami dapatkan bahwa gerakan menuju pemerintahan global besi campur tanah liat sedemikian pesat. Koran Suara Pembaruan, 11 April 2013 melaporkan akan digelar “Celebration of Unity” dikatakan bahwa 323 denominasi gereja yang berbeda-beda akan berkumpul di Gelora Bung Karno pada tanggal 17-18 Mei 2013, untuk mendo-rong penyatuan semua gereja menjadi satu. “Acara yang merupa-kan pre-event Sidang Raya Dewan Gereja Sedunia (World Council of Churches/WCC), yang akan digelar 31 Oktober hingga 8 November 2013 di Busan, Korea Selatan. Celebration of Unity, akan dihadiri juga oleh gereja-gereja se-Asia dan perwakilan gereja dari seluruh dunia.” Mereka menargetkan satu gereja dunia, dan kemudian pasti akan menuju satu agama dunia.
Kaki yang terbuat dari besi campur tanah liat sudah mulai akan kelihatan bentuknya. Besi sedang dipanaskan di peleburan, dan tanah liat sedang diulek-ulek untuk membentuk sebuah pola kaki. Babilonia telah berlalu, Media-Persia telah berlalu, Yunani telah berlalu, demikian juga dengan Romawi. Kini sebuah kerajaan yang terdiri dari unsur besi campur tanah liat sedang muncul. Di dalam mimpi Nebukadnezar, ia melihat kaki patung itu akhirnya dihancurkan oleh sebuah batu besar. Kerajaan Seribu Tahun, yaitu kerajaan Yesus Kristus, yang digambarkan dengan batu besar itu, pasti akan menghancurkan kerajaan anti-Kristus. Maranatha!***
Pembaca dapat mendownload artikel ini dalam bentuk lipatan rapi dan cakep dalam format A3 di Website graphe-ministry.org.
Oleh: Dr. Suhento Liauw,
Presiden Indonesia Tidak Serius Memberantas Korupsi
Membasmi Korupsi? Segampang Membalikkan Telapak Tangan
Posted on May 29, 2013
Koran SINDO, Rabu, 29 Mei 2013, Dengan judul depan IRJEN DJOKO DISEBUT SETOR Rp.4 MILIAR KE ANGGOTA DPR. Membahas bola panas kasus korupsi Simulator SIM. Beberapa hari lalu koran ramai memberitakan tentang AIPTU Labora Sitorus, dan masih banyak lagi kasus-kasus korupsi. Sebenarnya sama sekali tidak sulit untuk membasmi korupsi, ia semudah membalikkan telapak tangan.
Yang diperlukan hanya keseriusan pemimpin negara yaitu Presiden dan DPR. Karena sesungguhnya hanya membutukan tiga Dekrit Presiden atau Undang-undang yang isinya diuraikan di bawah, maka Indonesia akan menjadi negara terbersih dari korupsi dan pungli di muka bumi.
Dekrit Pertama, Umumkan grace period selama setahun bagi siapa saja yang telah melakukan korupsi untuk mengem-balikan separuh (50%), maka sisanya dinyatakan halal atau diberikan grasi dan boleh dinikmati secara terbuka. Sesudah masa satu tahun maka hukuman bagi koruptor yang di atas 10 miliar adalah minimum hukuman mati, yang satu miliar hingga 10 miliar minimum seumur hidup, dan 100 juta hingga satu miliar minimum 20 tahun, yang 10 hingga 100 juta minimum 10 tahun dan yang satu juta hingga sepuluh juta minimum 5 tahun, dan yang seratus ribu hingga satu juta maksimum hingga 5 tahun. Sedangkan yang korupsi di bawah seratus ribu (pungli) dihukum pemecatan. Setelah satu tahun, semua aparat pemerintah akan dinaikkan gaji mereka sekurang-kurangnya satu kali lipat, dan selanjutnya akan naik terus.
Dekrit Kedua, barangsiapa yang melaporkan dan kemudian terbukti benar di pengadilan, anak-buahnya melakukan tindakan korupsi, pangkatnya akan dinaikkan satu jenjang. Yang bersangkutan juga akan diberikan hadiah sebesar 10% dari uang yang dihindarkan dari tindakan korupsi. Sedangkan barangsiapa yang melaporkan dan kemudian terbukti di pengadilan, atasannya yang melakukan tindakan korupsi, pangkatnya akan dinaikkan dua jenjang. Yang bersangkutan juga akan diberikan hadiah sebesar 10% dari uang yang dihin-darkan dari tindakan korupsi. Kenaikan jenjang tentu hanya sampai pada tingkat jenjang tertinggi yang dimungkinkan.
Dengan dekrit ini maka semua pegawai baik sipil, kepolisian maupun militer semuanya adalah “anggota KPK”. Hasilnya, aparatur Republik Indonesia akan menjadi yang terbersih dari korupsi di muka bumi.
Hari ini kita dibuat terheran-heran keti-ka kita mendengar komentar para elit politik tentang ketidakakuran antara kepolisian dan KPK. Kita mendengar komentar seolah-olah mereka harus akur-akur dan tidak boleh saling menangkap. Padahal yang ideal sesungguhnya adalah kalau mereka tidak akur, yaitu polisi takut KPK dan KPK takut polisi. Bahkan lebih bagus lagi kalau atasan takut pada bawahannya dan bawahannya takut pada atasannya, bukannya berkorupsi bersama-sama dan dibagi sama-sama, atau pinjam terminologi para ulama, yaitu “korupsi berjemaah.” Intinya, seluruh aparatur negara harus saling mengawasi. Kalau polisi tidak mau menangkap polisi yang bersalah, maka itu bukan polisi lagi melainkan gerombolan penjahat yang bersenjata.
Dekrit ketiga, adalah tentang suap menyuap antara pihak swasta dengan aparatur negara. Pihak swasta yang merasa dipersulit sehingga kalau tidak memberi uang maka urusan tidak bisa beres, atau semacam pemerasan terselubung, silakan melapor lebih dulu maka yang bersangkutan bisa mengambil kembali uangnya 50%, dan sisanya 50% masuk ke kas negara, dan yang bersangkutan tidak bisa dituntut. Sedangkan pihak aparat negara yang merasa disogok padahal tidak senang dengan tindakan tersebut silakan melapor lebih dulu, maka yang bersangkutan akan memperoleh 10% dari uang sogokan, dan sisanya masuk kas negara. Suasana saling takut antara yang memberi dengan yang menerima harus dibangunkan agar tidak ada yang mencoba untuk memulainya.
Kasus Ibu Hartati Murdaya yang sekarang (26 September 2012) sedang ditahan oleh KPK, sebenarnya sangat klasik. Karena sejak zaman Orba, hampir tidak ada pejabat yang mau memberi tandatangan tanpa ada uang pelicin. Hal ini bukan rahasia lagi. Di kalangan pengusaha Tionghoa sudah ada pepatah, tidak ada minyak maka gorengan tidak bisa lepas alias akan leng-ket di wajan. Kalau tanpa kasih uang urusan bisa mulus, tidak ada satu pengusaha pun yang rela kasih uang, karena hakekat dari berbisnis itu mencari uang, dan hampir semua pengusaha adalah orang-orang yang cinta uang.
Jika Presiden tidak bisa serta-merta mengeluarkan Dekrit, maka dia harus membuat usulan kepada DPR, dan anggota DPR yang menentang program Basmi Total Korupsi, harus diperiksa oleh kepolisian dan kejaksaan. Karena yang menentang sangat mungkin sudah korupsi, atau sedang korupsi, atau berencana untuk korupsi supaya balik modal biaya kampanye. Intinya, tindakan membasmi korupsi itu sesungguhnya gampang, bahkan sangat gampang. Masalahnya hanya, yang jadi presiden itu siapa?
Oleh: Dr. Suhento Liauw
53 Orang Kristen Ditangkap oleh Polisi Agama Saudi
53 Orang Kristen Ditangkap oleh Polisi Agama Saudi
(sumber: www.wayoflife.org)
Berikut ini disadur dari “Saudi Arabia,” AsiaNews.it, 20 Feb. 2013: “Saudi Arabia telah menangkap 53 orang Kristen Etiopia – 46 wanita dan 6 lelaki – karena mereka mengadakan pertemuan doa di sebuah rumah pribadi. Pejabat polisi telah menyegel rumah itu dan menciduk orang-orang percaya itu, sambil menuduh tiga pemimpin rohaninya mencoba menobatkan orang-orang Muslim kepada kekristenan. Insiden ini terjadi di Dammam, ibukota Propinsi Timur di Kerajaan itu, dan bertanggal 8 Februari, tetapi barulah dilaporkan akhir-akhir ini oleh sumber-sumber yang berkaitan dengan World Evangelical Alliances’ Religious Liberty Commission…Saudi Arabia tidak mengakui, atau melindungi, ekspresi religius selain Islam. Para polisi agama (muttawa) mengontrol ketat negara itu untuk menghilangkan semua Alkitab, Salib, dan pertemuan-pertemuan Kristen. Dan bahkan jika keluarga raja mengizinkan praktek agama selain Islam, jika dilakuan secara pribadi, agen-agen muttawa tidak mau tahu perbedaannya.
Apakah Islam agama yang cinta damai?
Lebih dari 11.000 Orang Mati di Tangan Teroris Islam pada Tahun 2012
(sumber: www.wayoflife.org)
Menurut sebuah wabsite yang mengikuti kekerasan yang disebabkan Islam, lebih dari 11.000 orang mati dari serangan teror pada tahun 2012. Daftar lengkapnya dapat dilihat di www.thereligionofpeace.com. Website itu berkata: “Kami tidak melihat ada gunanya untuk berpura-pura bahwa Islam hanyalah sekedar agama lainnya, yang merupakan asumsi dari orang-orang yang tidak memperhatikan dengan jelas. Apa ada anggota agama lain yang para penganutnya kerasnya membuat video diri mereka sendiri sedang menggorek leher orang sambil menyerukan pujian bagi allah mereka? Agama mana lagi yang memiliki puluhan ribu teroris di seluruh dunia yang bersatu dalam komitmen eksplisit untuk memajukan agama melalui pembunuhan masal? Agama apa lagi yang merayakan serangan 9/11, dan menggambarkan kehancuran yang muncul sebagai ‘salah satu mujizat Quran’ dan memproklamirkannya sebagai ‘karya Allah melawan para penindas.’ Agama apa lagi yang memiliki ayat-ayat di dalam kitab sucinya yang mengingatkan manusia tentang izin ilahi bagi mereka untuk memukul istri mereka dan memperkosa budak-budak mereka? …Faktanya, Islam lebih dari agama. Ia adalah suatu sistem politik dan budaya yang kaku dengan mandat untuk menaklukkan dan memerintah atas hidup orang-orang lain, melalui kekerasan jika diperlukan ‘hingga agama hanyalah untuk allah mereka.’ Kekerasan diperbolehkan dalam Quran karena, sebagaimana dinyatakan dengan jelas oleh Ayatollah Khomeini, ‘manusia tidak bisa dibuat taat kecuali melalui pedang.’”
Kesalahan Calvinis Memahami Alkitab
Apakah Iman Pemberian Allah atau Tanggung Jawab Manusia?
Orang Kristen yang percaya Alkitab mempercayai apa yang Paulus katakan dan ajarkan, bahwa “keselamatan” adalah “oleh iman kepada Kristus Yesus” (2 Tim. 3:15). Kebenaran ini bukan hanya satu dua kali diserukan, tetapi berulang kali diajarkan dan ditekankan oleh penulis-penulis yang terinspirasi. Jadi, iman adalah komponen yang sangat penting dalam keselamatan, yaitu menjadi syarat keselamatan. Oleh karena pentingnya iman dalam keselamatan, sangatlah penting bagi orang percaya untuk memahami secara persis tentang iman itu sendiri.
Dalam artikel pendek ini, isu yang dibahas adalah mengenai asal usul iman. Apakah iman berasal dari Allah sebagai suatu pemberian, ataukah iman adalah respons manusia, suatu tanggung jawab individu? Isu ini adalah sesuatu yang memisahkan antara Kalvinis dan non-Kalvinis.
Kalvinisme mengusung konsep bahwa keselamatan seseorang sebenarnya ditentukan oleh Allah dalam kekekalan melalui dekrit rahasia. Penentuan Allah atas keselamatan seseorang ini bersifat tidak bersyarat (unconditional election). Jadi, dalam Kalvinisme, seseorang yang dipilih untuk diselamatkan, akan dilahirbarukan (tanpa dapat ditolak, irresistible grace), dan kemudian pasti akan menjadi percaya, atau dengan kata lain dibuat menjadi percaya. Dengan demikian, posisi Kalvinis secara alami adalah bahwa iman, atau percayanya seseorang, itu sebenarnya tergantung kepada Allah. Kalau Allah memilih seseorang, maka Allah akan melahirbarukannya, dan ia akan percaya. Percaya atau iman adalah salah satu dari mata rantai tindakan Allah pada diri orang pilihan. Oleh karena itu, Kalvinis mengatakan bahwa iman adalah karunia atau pemberian Allah
G. J. Baan adalah tipikal Kalvinis ketika ia menulis: “Iman ini dikerjakan oleh Roh Kudus, yang adalah Pekerja dan Penanam iman. Melalui Panggilan dan kelahiran kembali, Roh Kudus telah menanamkan iman di dalam hati.”1 Perhatikan kata “menanamkan” yang dipakai. Dalam skema Kalvinis, manusia sama sekali pasif, tidak bertanggung jawab untuk ada atau tidak adanya iman di dalam dirinya. Roh Kuduslah yang “menanam,” yang mengerjakan melalui “panggilan” dan “kelahiran kembali.”
Sebaliknya, non-Kalvinis melihat bahwa iman adalah tanggung jawab dan respons manusia terhadap Injil keselamatan. Iman adalah sikap percaya dan menerima karya keselamatan yang lengkap diselesaikan oleh Yesus Kristus. Ada banyak ayat Alkitab yang mengajarkan hal ini, yang akan dipaparkan nanti, tetapi artikel ini ingin mengemukakan bahwa sebenarnya non-Kalvinis (yang Alkitabiah) tidak menentang konsep bahwa iman adalah karunia Allah. Ini mungkin mengejutkan, tetapi dapat ditegaskan bahwa non-Kalvinis juga bisa melihat iman sebagai karunia atau pemberian Allah! Tentu paham “karunia” atau “pemberian” di sini berbeda dengan paham Kalvinis.
Non-Kalvinis percaya bahwa iman adalah karunia atau pemberian Allah, tetapi dalam pengertian yang tidak bertentangan dengan konsep bahwa iman adalah tanggung jawab atau respons manusia. Artinya, non-Kalvinis dapat mengakui kedua kebenaran ini: iman adalah karunia/pemberian Allah, sekaligus juga adalah tanggung jawab manusia.
Secara lebih mendetil, bisa dikatakan bahwa iman adalah karunia Allah bagi manusia karena beberapa hal. Pertama, manusia tidak mungkin bisa beriman kepada Allah tanpa dimampukan oleh Roh Kudus. Sebagian Kalvinis mengira bahwa non-Kalvinis percaya manusia bisa percaya kepada Yesus dengan kemampuannya sendiri. Hal ini sama sekali tidak benar untuk non-Kalvinis yang Alkitabiah.2 Alkitab tegas mengatakan bahwa “Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku.” Ayat ini tidak perlu dibaca dengan pengertian Kalvinistik, tetapi ayat ini menegaskan bahwa kemampuan untuk datang kepada Yesus adalah suatu karunia.3 Tanpa tindakan Allah menarik manusia, ia tidak mungkin beriman. Kedua, iman adalah karunia Allah karena Allah memberikan kesempatan kepada manusia untuk beriman. Allah bisa saja memusnahkan manusia sebelum ada kesempatan untuk beriman. Tetapi setiap orang percaya haruslah mengucap syukur bahwa Allah memberikannya waktu dan kesempatan untuk beriman. Itu adalah suatu karunia. Selain itu, iman juga bisa dikatakan karunia Tuhan karena Tuhan-lah yang menyediakan objek iman, yaitu Yesus Kristus. Jika Yesus Kristus tidak datang ke dalam dunia, tidak ada yang dapat kita imani untuk keselamatan kita. Dari ini semua, cukup jelas bahwa iman adalah karunia Allah.
Tetapi, penjelasan tentang karunia iman di atas tidaklah bertentangan dengan konsep alkitabiah bahwa iman adalah tanggung jawab manusia. Artinya, walaupun Allah memampukan seseorang untuk beriman (melalui kerja Roh Kudus dalam hatinya), dan memberikan kesempatan dia untuk beriman, dan menunjukkan kepadanya Yesus Kristus sebagai objek iman, orang yang bersangkutan itu sendirilah yang harus beriman. Tidak mungkin juga Tuhan yang beriman untuk orang tersebut. Dan ada kemungkinan bahwa walaupun Roh Kudus sudah bekerja dalam hati seseorang untuk menarik dia kepada Yesus, orang itu tetap menolak untuk beriman. Keputusan untuk beiman atau tidak beriman tetap merupakan tanggung jawab individu.
Jadi, iman adalah karunia, karena Allah memampukan manusia beriman (dan hal-hal lain), tetapi iman juga tanggung jawab karena keputusan untuk beriman atau tidak tetap adalah respons individu, bukan ditentukan oleh Allah. Konsep karunia seperti ini cocok dengan konsep karunia pada umumnya. Jikalau seseorang memberikan kepada temannya suatu karunia, atau hadiah, orang itu tetap dapat merespon, menerima atau menolak hadiah tersebut. Sekalipun seseorang tidak perlu membayar, atau bekerja, tetap saja ia harus memilih untuk menerima suatu hadiah. Kalau ia tidak menerimanya, maka hadiah yang sudah disediakan baginya itu tidak akan dapat ia nikmati. Ini paralel dengan keselamatan atau iman yang adalah karunia, namun tanpa menghilangkan adanya tanggung jawab untuk menerima karunia itu.
Jika demikian, apakah konsep non-Kalvinis ini menjadi sama dengan Kalvinis? Bukankah keduanya mengakui bahwa iman adalah karunia Allah? Tidak juga. Pertama, Kalvinis tidak mau menegaskan bahwa iman adalah tanggung jawab atau respons manusia. Dan, mereka memiliki konsep yang berbeda tentang iman sebagai “karunia Allah.” Konsep Kalvinis adalah bahwa kalau seseorang dipilih, maka ia pasti beriman. Iman dalam Kalvinisme adalah salah satu hasil pemilihan. Dengan demikian, sebenarnya posisi Kalvinis adalah bahwa iman adalah karunia yang tidak dapat ditolak, selaras dengan pengajaran mereka tentang irresistible grace. Terkadang, dalam perdebatan antara Kalvinis dengan non-Kalvinis, ada non-Kalvinis yang menentang konsep “iman adalah pemberian Allah.” Tetapi, yang ditentang sebenarnya adalah “karunia” dalam pengertian “tidak dapat ditolak.” Non-Kalvinis tidak menentang konsep iman sebagai karunia yang tetap harus diterima, tetapi bisa juga ditolak, oleh manusia.
Jadi, non-Kalvinis percaya bahwa iman adalah tanggung jawab manusia, dan JUGA karunia Allah. Tanpa kerja Roh Kudus, kesempatan yang Allah berikan, dan objek iman Yesus Kristus, manusia berdosa tidak mungkin bisa beriman. Namun, setiap individu tetap harus bertanggung jawab untuk beriman. Ia bisa menolak tarikan Allah. Sebaliknya, Kalvinis mengajarkan iman sebagai suatu pemberian/karunia yang tidak dapat ditolak. Pembaca sekalian bisa memutuskan, apakah sesuatu cocok untuk disebut karunia jika tidak dapat ditolak, ataukah suatu karunia tetap harus diterima. Bagian berikut artikel ini akan membahas yang mana dari kedua model ini yang benar, berdasarkan ayat-ayat Alkitab, dan argumentasi lainnya.
A. Iman Adalah Karunia Allah
Kalvinis terkadang menunjuk kepada ayat-ayat Alkitab yang mengindikasikan bahwa iman adalah suatu karunia, dan mereka berpikir bahwa hal ini membenarkan Kalvinisme. Tetapi, sebenarnya, seperti yang sudah dibahas di atas, non-Kalvinis yang alkitabiah juga percaya bahwa iman adalah karunia, jadi ayat-ayat ini tidaklah mendukung Kalvinisme. Kalvinisme baru akan terbukti benar jika ada ayat yang mengajarkan bahwa iman adalah karunia yang tidak dapat ditolak. Tetapi tidak ada ayat yang mengajarkan bahwa iman adalah karunia yang tidak dapat ditolak. Berikut adalah beberapa ayat yang terkadang disalahgunakan.
Filipi 1:29 “Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia”
Ayat ini sering dipakai untuk membuktikan bahwa “iman adalah karunia.” Tetapi sekali lagi, konsep demikian tidaklah membahayakan bagi non-Kalvinis. Sebaliknya, kita bertanya, apakah ayat ini membicarakan karunia yang tidak dapat ditolak, ataukah suatu karunia dalam pengertian normal, yaitu sesuatu yang bisa ditolak dan bisa diterima?
Poin ayat ini sebenarnya adalah untuk menegarkan orang percaya terhadap penderitaan yang akan datang dalam perjuangan hidup Kristiani. Karunia untuk percaya diparalelkan dengan karunia untuk menderita bagi Kristus. Bagaimanakah “menderita bagi Kristus” bisa dianggap karunia? Apakah hal itu terjadi tanpa tanggung jawab manusia. Apakah seseorang ditentukan untuk menderita bagi Kristus secara sepihak oleh Tuhan, ataukah ada respons manusia yang dituntut?
Ada banyak ayat yang menegaskan tanggung jawab manusia untuk ikut menderita dalam perjuangan Kristiani. Misalnya, Paulus berkata “Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus” (2 Tim. 2:3). Penderitaan bukanlah sesuatu tanpa tanggung jawab manusia. Ada ajakan untuk ikut menderita, ada respons manusia yang diminta oleh Tuhan.Namun demikian, menderita juga disebut karunia karena kemuliaan Tuhan janjikan menyertai penderitaan itu. Jadi, ayat ini sama sekali tidak mendukung konsep iman sebagai karunia yang tidak dapat ditolak, tetapi cocok dengan konsep iman sebagai karunia dalam pengertian non-Kalvinis, yaitu karunia yang tetap menuntut respons manusia.
Efesus 2:8 “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah”
Kalvinis terkadang memakai ayat ini untuk mengatakan bahwa “iman” adalah pemberian Allah, dan lebih lanjut lagi, bukanlah “hasil usahamu,” sehingga bukanlah tanggung jawab manusia. Tetapi pengertian seperti ini sangatlah salah dan asing bagi ayat ini. Pertama, iman memang bukan usaha atau pekerjaan, melainkan suatu sikap menerima pemberian Allah. Jadi, iman bisa saja memang “bukan usaha” tetapi adalah “tanggung jawab” manusia. Tidak semua “tanggung jawab” adalah “usaha.”
Kedua, Kalvinis salah menafsirkan frase “itu bukan hasil usahamu.” Mereka melihat kata “itu” mengacu kepada iman. Gill, berkomentar tentang Efesus 2:8 dengan berkata, “…dan iman ini bukanlah hasil kehendak bebas dan kuasa manusia, tetapi adalah pemberian bebas dari Allah.”4 Padahal, frase “itu bukan hasil usahamu” tidak mungkin mengacu kepada iman jika ditilik dari bahasa aslinya. Dalam bahasa Yunani, “iman” berasal dari kata pistis, suatu kata benda feminim. Sedangkan, kata “itu” dalam ayat ini adalah kata touto, suatu kata penunjuk netral. Jadi, secara grammatis, tidak mungkin suatu kata penunjuk netral mengacu kepada kata benda feminim. Sebenarnya, “itu” yang dimaksud adalah konsep keselamatan yang dibahas Paulus dalam perikop ini. “Keselamatan” bukan hasil usaha manusia, tetapi pemberian Allah. Tentu non-Kalvinis sangat setuju bahwa keselamatan adalah pemberian Allah. Justru hal ini membuat kita kembali kepada pertanyaan, bukankah suatu “pemberian” seharusnya bisa ditolak dan bisa diterima? Ayat ini sama sekali tidak mendukung iman sebagai karunia yang tidak bisa ditolak.
2 Tesalonika 3:2 “dan supaya kami terlepas dari para pengacau dan orang-orang jahat, sebab bukan semua orang beroleh iman.”
Ayat ini sekilas tampak mengajarkan bahwa orang-orang jahat adalah orang-orang yang tidak “beroleh” iman. Jadi, mereka tidak diberikan iman (oleh Tuhan), sehingga mereka tetap orang jahat. Tetapi penafsiran seperti in tentu sangat berbahaya, karena ujung-ujungnya mempersalahkan si pemberi iman (kenapa tidak memberikan iman kepada mereka). Selain itu, penafsiran ini didasarkan kepada penerjemahan yang salah. LAI melakukan kesalahan besar dalam penerjemahan ayat ini dengan memakai kata “beroleh.”
Pengertian sebenarnya ayat ini tercermin dalam terjemahan yang lebih baik. KJV misalnya, berbunyi, “And that we may be delivered from unreasonable and wicked men: for all men have not faith.” Jadi, “tidak semua orang memilikiiman.” Itulah sebabnya mereka jahat, karena mereka tidak memiliki iman. Ayat ini sama sekali tidak berbicara mengenai asal usul iman itu, tetapi mempersalahkan orang-orang itu sendiri, mereka jahat karena tidak beriman.
Roma 12:3 “… tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.”
Ayat ini berbicara mengenai iman yang dikaruniakan Allah. Tetapi, ada beberapa alasan mengapa ayat ini sama sekali tidak mendukung konsep Kalvinis tentang iman sebagai karunia yang tidak dapat ditolak. Terutama adalah fakta bahwa perikop ini sama sekali bukan berbicara mengenai iman keselamatan. Perikop ini berbicara mengenai iman sebagai salah satu karunia rohani, yang diberikan kepada seseorang yang sudah percaya Yesus. Karunia rohani yang sama disinggung Paulus dalam 1 Korintus 12:9, “Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan.” Tidak mungkin ini mengacu kepada iman keselamatan, karena tidak semua orang yang selamat mendapatkan karunia ini. Karunia rohani ini mengacu kepada kemampuan yang Tuhan berikan kepada orang-orang tertentu untuk melakukan hal-hal besar bagi Tuhan berdasarkan iman. Iman dalam Roma 12:3 dan 1 Korintus12:9 berkenaan dengan iman dalam pelayanan khusus.
2 Petrus 1:1 “Dari Simon Petrus, hamba dan rasul Yesus Kristus, kepada mereka yang bersama-sama dengan kami memperoleh iman oleh karena keadilan Allah dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.”
Ayat ini juga terkadang dipakai Kalvinis untuk mengajarkan bahwa iman adalah karunia atau pemberian Allah. Tetapi, sekali lagi perlu ditekankan, sistem non-Kalvinis tidaklah anti dengan konsep iman sebagai karunia, bahkan non-Kalvinis mengajarkan bahwa iman adalah karunia sekaligus tanggung jawab. Yang tidak dipercayai non-Kalvinis, adalah implikasi Kalvinisme bahwa iman adalah karunia yang tidak dapat ditolak, dan yang tidak melibatkan tanggung jawab manusia.
Ayat ini sama sekali tidak mengatakan bahwa iman adalah karunia yang tidak dapat ditolak, itu harus dibaca oleh Kalvinis ke dalam teks. Orang percaya memperoleh iman dari Tuhan, itu benar! Apakah ini menghilangkan tanggung jawab manusia? Sama sekali tidak! Jika seseorang berkata bahwa ia memperoleh ilmu dari gurunya, apakah itu berarti ia tidak bertanggung jawab untuk belajar? Iman adalah karunia Tuhan, tetapi manusia bertanggung jawab untuk menerima karunia itu. Bagian berikut akan mempertegas hal ini.
Apakah Iman itu Usaha atau Jasa?
Kalvinis sering mengatakan, bahwa jika iman itu bukan kasih karunia (yang tidak dapat ditolak), melainkan respons manusia, maka iman menjadi semacam jasa yang dapat dibanggakan oleh manusia. Dengan kata lain, mereka menuduh iman versi non-Kalvinis sebagai “usaha manusia” atau “jasa.” Tetapi, ini adalah logika mereka sendiri. Iman itu tidak lain dari sikap menerima. Apakah menerima suatu hadiah bisa dikatakan suatu jasa? Apakah menerima hadiah berarti ikut bekerja untuk hadiah itu? Sama sekali tidak! Untuk pembahasan lebih lanjut mengenai tuduhan Kalvinis bahwa iman (non-Kalvinis) adalah jasa/usaha, silakan llihat artikel lain di http://www.graphe-ministry.org/downloads/Perbedaan_Kalvinis_dengan_non-Kalvinis(1).pdf.
B. Iman Adalah Tanggung Jawab Manusia
Manusia diperintahkan untuk percaya!
Ketika kepala penjara Filipi bertanya tentang apa yang harus ia lakukan untuk diselamatkan, Paulus tidak berkata, “Tidak ada apa-apa yang bisa kamu lakukan. Silakan menantikan pemberian iman, jika memang engkau orang pilihan.” Tidak, sebaliknya, Paulus berkata, “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu” (Kis. 16:31). Ada sesuatu yang harus ia lakukan, bukan dalam pengertian suatu usaha atau pekerjaan, atau jasa, tetapi ada tanggung jawab untuk beriman.
Perintah untuk beriman kepada Yesus merupakan inti dari Injil, dan sudah dikumandangkan sejak semula. Tuhan Yesus sendiri memulai pelayananNya dengan menekankan tanggung jawab ini: “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” (Mar. 1:15). Belakangan Ia juga berkata, “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.” Ini adalah perintah.5 Manusia diperintahkan untuk percaya! Jelas ini menunjuk kepada suatu tanggung jawab! Jika iman adalah suatu pemberian yang tidak dapat ditolak, maka sama sekali tidak ada gunanya untuk memerintahkan hal ini. Lebih masuk akal untuk meminta Allah memberikan iman, daripada memerintahkan manusia untuk percaya!
Posisi Kalvinis bagaikan seorang guru yang secara rahasia menyelipkan pita-pita biru ke dalam tas sebagian murid-muridnya pada saat mereka beristirahat. Lalu guru ini memberikan perintah kepada semua murid untuk memiliki pita biru, padahal tidak ada cara untuk memperoleh pita biru itu kecuali melalui “pemberian” guru tadi. Apakah tanggapan kita tentang perintah guru demikian? Tentunya ini adalah suatu perintah yang aneh. Guru itu tahu bahwa yang tidak dia berikan pita biru tidak mungkin memiliki pita biru. Lebih lagi, yang sudah dia berikan pita biru (secara rahasia) tidak perlu diperintah. Perintah ini menjadi sesuatu yang sama sekali tidak berguna, dan boleh dikategorikan sebagai suatu sandiwara.
Demikian juga jika iman dikonsepkan sebagai suatu pemberianyang tidak dapat ditolak, maka semua perintah Tuhan agar manusia percaya dan bertobat kepadaNya menjadi tidak berguna, dan tidak lebih dari suatu sandiwara.
Ketidakpercayaan adalah pilihan manusia
Ibrani 3:12 berbunyi, “Waspadalah, hai saudara-saudara, supaya di antara kamu jangan terdapat seorang yang hatinya jahat dan yang tidak percaya oleh karena ia murtad dari Allah yang hidup.” Ayat ini dengan jelas mengajarkan bahwa sikap tidak percaya adalah pilihan manusia, dan suatu pilihan yang dapat dihindari. Oleh sebab itu, penulis menghimbau audiensnya untuk jangan menjadi tidak percaya. Tetapi ini berarti audiens kitab Ibrani bisa memilih untuk percaya! Itu berarti percaya adalah tanggung jawab manusia yang bisa ia pilih.
Manusia dipuji Tuhan berdasarkan imannya
Ada beberapa perikop yang memperlihatkan pujian Tuhan (atau sejenisnya) atas iman manusia. Matius mencatat: “Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya: “Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki.” Dan seketika itu juga anaknya sembuh” (Mat. 15:28). Lukas mencatat, “Setelah Yesus mendengar perkataan itu, Ia heran akan dia, dan sambil berpaling kepada orang banyak yang mengikuti Dia, Ia berkata: ‘Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!’” (Luk. 7:9). Jika memang iman adalah pemberian yang tidak dapat ditolak, untuk apa Yesus heran akan iman perwira yang dicatat dalam Lukas pasal 7? Bukankah iman itu diberikan oleh Yesus sendiri (oleh Allah) secara tidak dapat ditolak? Jika saya memberikan sebuah rumah besar kepada seseorang, lalu mengunjungi rumah orang tersebut, akankah saya heran bahwa rumahnya besar? Ini hal yang sangat konyol. Tetapi, jika iman tetap menyertakan porsi tanggung jawab manusia, maka pujian Tuhan terhadap iman ibu di Matius, atau perwira di Lukas, adalah pujian yang tulus, bukan sandiwara murahan.
Manusia dituntut tanggung jawabnya untuk percaya
Pertanyaan mendasar adalah: jika iman bukan tanggung jawab manusia, bagaimana bisa Tuhan menuntut pertanggungan jawab manusia untuk percaya? Tetapi jelas Allah menuntut tanggung jawab dari manusia yang tidak percaya! “Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah” (Yoh. 3:18). “supaya dihukum semua orang yang tidak percaya akan kebenaran dan yang suka kejahatan” (2 Tes. 2:12). Markus mencatat bagaimana Tuhan Yesus mencela ketidakpercayaan sebagian muridNya, “Akhirnya Ia menampakkan diri kepada kesebelas orang itu ketika mereka sedang makan, dan Ia mencela ketidakpercayaan dan kedegilan hati mereka, oleh karena mereka tidak percaya kepada orang-orang yang telah melihat Dia sesudah kebangkitan-Nya” (Mar. 16:14). Masih banyak lagi ayat lain yang memperlihatkan bagaimana Tuhan akan menuntut pertanggungan jawab dari orang yang tidak percaya!
Dalam konsep Kalvinis, iman bukanlah tanggung jawab manusia. Tetapi bagaimana mungkin Allah menuntut manusia bertanggung jawab untuk percaya kalau begitu? Bagaimana Tuhan bisa mencela ketidakpercayaan seseorang jika orang itu tidak bisa percaya tanpa disetel untuik percaya oleh Tuhan? Lebih lanjut lagi, dalam Kalvinisme, jika seseorang tidak beriman, apakah sebabnya? Tidak lain dan tidak bukan, karena Allah tidak memberikan dia iman. Jadi, jika ditarik kepada kesimpulan logisnya, Kalvinisme secara tidak langsung membuat Allah bertanggung jawab atas ketidakberimanan seseorang. Betapa berbahayanya konsep Kalvinisme ini.
Coba kita ganti Yohanes 3:18 menjadi berikut: “Barangsiapa percaya kepadaNya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak memperoleh iman dalam nama Tunggal Allah.” Tentu saya yakin semua orang Kristen akan protes dengan bunyi ayat yang demikian! Tetapi dalam Kalvinisme, tidak memiliki imansama dengan tidak dikaruniakan iman oleh Tuhan. Sebaliknya, konsep non-Kalvinis adalah bahwa Allah memberikan kasih karunia, memampukan seseorang beriman, dan menarik dia, tetapi orang itu bisa menolak atau menerima kasih karunia Allah. Jadi, jika seseorang beriman, itu adalah kasih karunia Allah dan respons manusia. Jika seseorang tidak beriman, itu adalah tanggung jawab dia yang telah menolak karunia Allah. Ini adalah model yang alkitabiah.
Manusia Dituntut untuk Tetap Percaya
Hal lain lagi yang dengan tegas menggarisbawahi tanggung jawab manusia dalam hal iman/percaya adalah fakta bahwa manusia dituntut Tuhan untuk “tetap percaya.” Jika “tetap percaya” adalah tanggung jawab manusia, maka dapat dipastikan bahwa iman/percaya itu memang sejak awalnya adalah tanggung jawab manusia.
Banyak ayat yang menyatakan tanggung jawab manusia untuk “tetap percaya.” “Sebab itu janganlah kamu melepaskan kepercayaanmu, karena besar upah yang menantinya” (Ibr. 10:35). “Dan sekarang, saudara-saudara, aku mau mengingatkan kamu kepada Injil yang aku beritakan kepadamu dan yang kamu terima, dan yang di dalamnya kamu teguh berdiri. Oleh Injil itu kamu diselamatkan, asal kamu teguh berpegang padanya, seperti yang telah kuberitakan kepadamu kecuali kalau kamu telah sia-sia saja menjadi percaya” (1 Kor. 15:1-2). Masih banyak lagi yang lain. Intinya adalah bahwa hal ini menegaskan iman sebagai tanggung jawab manusia.
C. Kesimpulan
Kalvinis mengatakan bahwa iman adalah karunia atau pemberian. Ini adalah deskripsi yang kurang lengkap. Non-Kalvinis juga bisa mengatakan bahwa iman adalah karunia dan pemberian. Gambaran yang lebih tepat adalah bahwa Kalvinis mengajarkan iman sebagai karunia yang tidak dapat ditolak. Non-Kalvinis melihat iman sebagai karunia sekaligus tanggung jawab manusia. Dengan kata lain, iman bisa dilihat sebagai karunia, namun manusia tetap punya tanggung jawab untuk menerima atau menolak suatu karunia. Iman bisa disebut karunia dalam beberapa pengertian, misalnya: Allah memungkinkan manusia untuk beriman; Allah memberi manusia kesempatan untuk beriman; Allah memberikan objek iman (Yesus Kristus) kepada manusia. Pada umumnya manusia mengerti bahwa suatu karunia bisa ditolak dan bisa juga diterima.
Ayat-ayat Alkitab yang diteliti memperlihatkan bahwa memang Allah mengaruniakan iman, tetapi tidak ada ayat yang mengatakan bahwa iman adalah kasih karunia yang tidak dapat ditolak, atau mengindikasikan hal tersebut. Sebaliknya, banyak ayat Alkitab lain yang menegaskan bahwa iman adalah tanggung jawab manusia. Sebagai kesimpulan, posisi Non-Kalvinis, bahwa iman adalah karunia (yang bisa diterima/ditolak) sekaligus tanggung jawab manusia, adalah posisi yang Alkitabiah, sedangkan posisi Kalvinis tidak Alkitabiah, tidak logis, dan pada ujungnya mempersalahkan Allah atas ketidakpercayaan manusia.
Posted on April 27, 2013 by Dr. Steven
Subscribe to:
Comments (Atom)

