Sunday, 22 February 2009
GEMBALA PROTESTAN YANG BERTOBAT MENJADI PENGINJIL BAPTIST
Gottlob akhirnya mengetahui pelayanan William Carey di India dan berpikir bahwa Allah mnghendakinya menjadi missionary. Kebetulan temanya seorang gembala membuka sekolah pelatihan missionary dan Gottlob pun mendaftarkan diri dan belajar selama 18 bulan lalu dikirim ke Belanda untuk mengikuti pelatihan lanjutan. Dan ia belajar di sana selama tiga tahun termasuk mempelajari bahasa Belanda.
Tahun 1811 sebuah kelompok misi di bentuk di Belanda, namun kondisi politik di bawah pemerintahan kaisar Napoleon tidak memungkinkan orang-orang untuk keluar negeri. Namun gottlob kembali ke Jerman dan belajar selama setahun di sana. Akhirnya Gottlob bersama dua orang temanya dikirim ke Inggris hanya dengan membawa satu tas kecil pakaian. Selama kurang lebih satu tahun belajar Gottlob pun ditahbiskan di Inggris.
Perang hampir berakhir, oleh karena Inggris mengambil alih Indonesia dari Belanda di masa perang Napoleon dan peti pakaian Gottlob dikirim melalui kapal untuk menuju Indonesia, namun kapal yang membawa pakaian Gottlob terbakar dan ia pun kehilangan barang-barang duniawinya. Tahun 1814 bulan Januari, Gottlob dan temanya beralayar menuju Indonesia, kapal mereka nyaris tengelam oleh karena badai yang dahsyat. Setelah sampai di Jakarta, Gottlob seorang diri langsung berangkat menuju sebelah utara Jawa. Dua kali kapal mereka diserang bajak laut sehingga membuatnya sedikit letih menghadapi semua itu. Setelah kapal berlabuh, Gottlob harus mendaki gunung yang penuh Harimau dan menuju kota Semarang. Tibalah ia disebuah gereja Belanda yang telah disiapkan sejak zaman dulu. Jemaat gereja tersebut adalah orang Belanda dan Indonesia yang hanya sekedar formalitas datang ke gereja namun tidak disertai pertobatan. Gottlob pun akhirnya berkenalan dengan seorang anak perempuan gembala Belanda dan mereka akhirnya menikah dan dikaruniai 8 orang anak.
Ketika Rev. Gottlob sedang mengunjungi kota-kota lain, ia bertemu sebuah keluarga misionari dari gereja Baptist Inggris mereka adalah Rev. Thomas Trowt. Rev. Gottlob akhirnya berteman baik dengan Rev. Thomas. Suatu saat mereka berdiskusi sangat panjang tentang baptisan yang benar. Namun pada tanggal 31 Maret 1816 Rev. Gottlob mengumumkan pada jemaatnya; “Saya berencana untuk dibaptis, sekarang saya percaya bahwa Alkitab mengajarkan baptisan secara selam dan dilakukan pada orang yang sudah bertobat dan percaya bukan sebelum.” Pada hari minggu setelah pengumuman itu ia pun segera dibaptis selam dan jemaatnya pun memecatnya menjadi gembala mereka. Keputusan yang sulit diterima bagi Rev. Gottlob mengingat ia sudah berkeluarga dan memiliki 8 orang anak. Namun kebenaran tetaplah kebenaran yang harus dijunjung tingi.
Enam bulan kemudian Rev.Thomas Trowt meninggal dunia karena demam dan Belanda mengambil alih Indonesia dari Inggris, hal ini mengakibatkan tidak ada missionary Inggris yang bias masuk Indonesia. Namun karena Rev. Gottlob adalah keturunan Jerman, ia pun dapat tetap tinggal di Indonesia. Rev. Thomas Trowt meninggalkan pekerjaanya yaitu terjemahan kitab PB ke bahasa Jawa dan Rev. Gottlob yang melanjutkanya. Suatu hari ia menerima sepucuk surat dari William Carey yang mengundangnya membawa hasil terjemahanya untuk dikaji ulang. William Word, di tunjuk oleh British Mission Society untuk mencetak Alkitab. Tahun 1828 bersama dengan 2 anak laki-lakinya ia berangkat ke India dan kurang lebih 3 tahun ia berada di India dan satu anaknya meninggal dunia karena demam.
Ketika tugasnya selesai ia pun naik kapal dengan membawa 2000 Alkitab PB dalam bahasa Jawa, 20.000 traktat, kertas-kertas dalam jumlah yang banyak untuk dicetak dan satu set huruf cetak jawa. Kapal mereka hamper tengelam karena badai dan topan, namun mereka terus berdoa dan Tuhan mendengar doa mereka. Setibanya dirumah ia harus menerima kenyataan semua Alkitab dan traktatnya ditahan, hanya disisakan beberapa kitab saja. Namun ia tidak putus asa melainkan berusaha mencetaknya lagi dan mengirimkan sebuah cetakan PB pada raja-raja di Belanda dan Prusia. Hasil yang ia lakukan membuat pemerintah Belanda di Indonesia menyetujui kebebasan beragama.
Hingga akhir hayatnya Rev. Gottlob melihat sedikit saja hasil pelayanannya. Ia meninggal ditahun 1857 dan tidak ada seorang Baptist pun yang membantunya menyebarkan Injil di Indonesia. Namun hari ini kita melihat cukup banyak gereja Baptis tumbuh di pulau Jawa. Seorang Baptist dipakai Allah untuk menyiapkan jalan bagi penginjil-penginjil dimasa mendatang. Jangan pernah menyerah dan kecewa melihat hasil pelayanan Anda, namun tetaplah setia kerjakan sampai kelak Tuhan datang menjemput.
Hal yang paling penting untuk diperhatikan dan dikagumi dari Rev. Gottlob adalah keberaniannya untuk mengikut kebenaran. Walaupun ia harus menderita dipecat dari gerejanya demi kebenaran dan berusaha memelihara keluarganya, tentu ini bukan hal yang mudah. Banyak orang hari ini selalu kuatir akan masalah kehidupan dan tidak berani mengambil keputusan untuk ikut kebenaran. Disatu sisi mereka nampak seolah-olah hamba Tuhan yang terhormat dan memiliki banyak jemaat yang memujanya. Celakanya lagi mereka berusaha membangun gerejanya besar-besar agar kelihatan megah dan jemaatnya mampu dan kaya. Padahal mereka terus menyesatkan banyak orang dengan berkata; “manusia masuk surga kerena dipilih, membaptis bayi, membaptis orang sakit, membaptis percik dll. Sesungguhnya kata Paulus mereka melayani perut mereka.
TOKOH-TOKOH ANABAPTIST
Montanus merupakan seorang Phrygian yang muncul sekitar tahun 156 AD. Mempertahankan kemurnian iman jemaat perjanjian baru, membangun jemaat yang kudus dan disiplin. Oleh karena itu mereka tidak segan-segan untuk mengeluarkan setiap anggota mereka yang hidup tidak kudus. Mereka menuntut setiap orang yang telah menyeleweng dan menyangkal Kristus untuk bertobat dan dibaptis ulang menjadi manusia baru. Sehingga mereka dikenal dengan istilah “Anabaptis.”
Montanus menerima keseluruhan Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru sebagai firman Allah. Montanus menolak keras baptisan bayi, mereka hanya membaptis orang dewasa yang sudah bertobat dan percaya kepada Kristus. Demikian juga Tertulian, tokoh yang terkenal membela Montanus. Bagi Montanus mahkota kehidupan adalah kemartiran.
Novatian 250 AD
Novatian berkembang dibeberapa bagian kerajaan Romawi. Novatian membela kemurnian jemaat Perjanjian Baru sehingga musuh mereka menamai mereka dengan nama “Cathari” yang artinya “Yang murni.” Mereka membaptis ulang setiap orang yang datang kepada mereka untuk mengabungkan diri menjadi jemaat, terutama orang Katolik. Sidang Lateran keempat menetapkan bahwa orang yang dibaptis ulang harus dihukum mati.karena itu salah seorang yang bersemangat dari mereka Albanus dihukum mati.
Kaum Novatian mempertahankan independensi jemaat dan menerapkan separasi antara jemaat mereka dengan gereja Roma. Mereka mengatakan: “Separasi lebih baik daripada korupsi.” Kaum Novatian tidak setuju dengan system kepausan, mereka mengakui persamaan martabat dan otoritas dari semua gembala. Menolak baptisan bayi dan hanya membaptis orang dewasa yang sudah bertobat dan percaya dengan cara selam. Sebagian sejarahwan menyebut mereka “Baptis Trinitarian.”
Donatis 311 AD
Kaum Donatist muncul di Numidia dan menyebar luas di Afrika. Mereka mempertahankan kekudusan jemaat oleh sebab itu mereka tidak bisa menerima seseorang menjadi anggota dengan sembarangan, kecuali orang yang jelas-jelas diketahui sudah bertobat dan percaya dan hidup kudus. Mereka membaptis ulang setiap orang yang mau mengabungkan diri masuk ke dalam jemaat mereka.
Donatus dari Carthage 347 AD menentang kaisar atas kekuasaannya yang mengendalikan gereja. Gembala Donatus dari Petilian menentang tulisan Agustinus.
Ia mengatakan: “Apakah engkau mengira telah melayani Tuhan dengan membunuh kami dengan tanganmu? Engkau salah, jika engkau manusia fana yang berpikir demikian; Tuhan tidak mengantung orang hanya karena orang itu menjadi imam. Kristus mengajar kita untuk menahan diri terhadap kesalahan, bukan dengan membalasnya.”
Kaum Donatist memperjuangkan kebebasan berpikir dan beragama tetapi ditentang greja negara, sehingga mereka dikejar dan dianiaya oleh negara.
PAULICIAN 653 AD
Jemaat Paulician berasal dari masa para rasul dan dimulai di Taron, Armenia pada abad pertama, kemudian menyebar ke Mesopotamia dan Persia melalui Antiokhia dan Palmyra. Para kaisar mengusir mereka dari wilayahnya sehingga mereka melarikan diri ke Gurun pasir yang penuh dengan orang Arab (Islam). Akhirnya orang Arab menyebut mereka “Sabian Baptis.” (Sabian bahasa Arab artinya Baptis).
Pada tahun 690 AD. Salah satu pemimpin mereka Constantine dirajam sampai mati dan penerusnya dibakar hidup-hidup. Kaisar Theodora melakukan penganiayaan dimana disebutkan seratus ribu orang Paulician di Grecian Armenia meninggal. Kaum Paulician menyerukan kebebasan beragama, menjaga jemaat yang kudus, membaptis dengan selam, sehingga mereka dikenal dengan nama Anabaptis.
WALDENSES 1100 Ad.
Peter Waldo demikianlah nama pemimpin kelompok Waldenses. Mereka tinggal di lembah Valleys, Piedmont di barat laut Italia. Semboyan mereka adalah “Terang bersinar dalam kegelapan.” Beberapa dasar iman yang mereka yakini adalah Alkitab adalah satu-satunya firman Tuhan, menentang baptisan bayi dan hanya membaptis orang dewasa, menolak gereja Roma dan yakin bahwa mereka adalah jemaat Kristus, menolak Purgatory, doa kepada santo atau santa dan misa.
Pada masa penganiayaan kaum Waldenses di Merindol dan Provence seorang biarawan ditugaskan oleh uskup dari Cavaillon untuk berdiskusi tentang kebenaran firman Tuhan dengan mereka agar tidak terjadi pertumpahan darah. Sang biarawan menjadi kagum terhadap pengetahuan mereka pada kitab suci sehingga biarawan tersebut menjadi bertobat dan memihak mereka.
ALBIGENSES 1100 AD.
Di kota kecil Albi distrik Albigeois, perancis selatan merupakan pusat penyebaran kelompok ini. Mereka dikenal oleh masyarakat sekitarnya dengan julukan “”orang yang baik.” Mereka membentuk jemaat yang terdiri dari orang-orang yang sudah percaya, membaptis dengan cara selam dan menolak baptisan bayi. Bagi mereka gereja tidak boleh memaksa dan menganiaya orang-orang yang tidak sepaham dengan gereja.
Karena sikap mereka yang tidak setuju dengan gereja negara sehingga membuat Paus marah. Pada tahun 1139 mereka dikutuk oleh sidang Lateran dan sidang Tours pada tahun 1163. Misi-misi Katolik dikirim untuk membujuk mereka kembali ke Katolik. Kardinal Henry tahun 1180 menggunakan kekuatan dan Paus Innocent III mengumumkan perang terhadap mereka.
Mereka di kejar, dibakar hidup-hidup sehingga hidup mereka tidak pernah tenang dan melarikan diri dari satu kota ke kota lainya. “Namun semuanya menjadi ringan bagi kami karena kami bukan dari dunia ini.” Demikian salah satu kalimat yang ditulis Everwin dari Steinfeld.
Peter dari Bruys 1100 AD
Seorang pengkhotbah yang cukup terkenal pada masa itu di Languedoc dan Provence, Perancis. Ia menganggap Injil harus dipahami secara literal dan jemaat adalah tubuh Kristus yang terdiri dari orang-orang yang sudah percaya. Ia menolak anak-anak yang belum mencapai usia dewasa untuk dibaptis, karena baptisan tidak menyelamatkan, melainkan iman orang tersebut yang menyelamatkan.
Kepopuleranya yang sudah meluas tidak dapat membendung orang-orang untuk datang mendengar ia berkhotbah. Selama dua puluh lima tahun melayani ia memiliki banyak pengikut. Pada tahun 1126 ia tangkap oleh yang berkuasa dan dibakar di St. Gilles. Akhirnya kelompok ini dikenal dengan nama Petrobrusian.
Henry Lausanne 1116-1148 AD.
Henry adalah murid Peter dari Bruys. Henry dikenal dengan orang yang sangat pintar meyakinkan pendengarnya. Dengan khotbahnya ia dengan mudah menggerakan hati yang keras menjadi menyesal dan bertobat. Banyak orang keluar dari gereja mereka dan bergabung bersama Henry untuk membentuk jemaat yang kudus.
Hampir sama dengan gurunya, Henry menolak baptisan bayi dan hanya membaptis orang dewasa yang sudah bertobat. Pada tahun 1148 di Toulouse, Paus Eugene III mengirim Bernard dari Clairvaux yang terkenal pemburu bidat untuk berkhotbah menentang Henry.
Henry terpaksa lari menyelamatkan nyawanya dan dalam waktu yang singkat ia tertangkap dan dibawa ke sidang Rheims lalu dipenjarakan dalam penjara yang tertutup. Tidak lama kemudian tahun 1148 ia meninggal dan menghadap Juruslamatnya.
Arnoldist 1100-1148 AD.
Arnold dari Brescia memiliki pengikut yang cukup banyak. Ia sangat terkenal di Lombardy, selama ia di Roma musuh-musuhnya mengatakan, ia mendirikan sebuah sekte bidat. Kepercayaan Arnold hampir sama dengan kaum Waldenses dan Albigeses yaitu menolak baptisan bayi dan baptisan percik.
Arnold menentang keras kekuasaan Paus dan memperjuangkan kebebasan bragama, karena pandangannya ia dihukum oleh sidang Lateran yang dipimpin Paus Innocent II, 1139 AD. Ia dipenjarakan, digantung, tubuhnya dibakar, dan abunya ditebarkan ke dalam sungai Tiber.
Para pengikutnya terkenal dengan kelompok Arnoldist, kira-kira tahun 1130 AD. Para pengikut Peter Bruys, Henry Lousanne dan Arnol bersatu membentuk satu tubuh karena memiliki pandangan dan iman yang sama.
MUNCULNYA KAUM ANABAPTIST
John Sung
Sejak rasul-rasul tiada, sekelompok kecil orang tetap setia mempertahankan kebenaran dan membentuk jemaat lokal yang independen sesuai dengan karakteristik jemaat Kristus di Perjanjian Baru. Mereka dikejar dan dianiaya dan dipaksa oleh gereja negara untuk bersatu tetapi mereka tetap tidak mau bersatu dengan negara. Mereka menjaga kehidupan yang kudus dan membentuk jemaat yang disiplin tinggi di gua-gua, desa-desa terpencil sehingga jauh dari pengaruh kekuasaan Roma. Ketika mereka menjumpai orang-orang yang menganut kepercayaan Katolik, mereka akan mulai menginjili dan menceritakan kebenaran jemaat Kristus. Seandainya orang yang mereka beritakan Injil bertobat maka mereka menuntut orang tersebut untuk dibaptis ulang yaitu dengan cara selam. Karena bagi mereka cara percik tidak berkenan kepada Tuhan Yesus Kristus. Tetapi jika orang tersebut tidak bertobat maka nyawa mereka menjadi taruhanya karena akan dilaporkan pada gereja negara. Di Grecian Armenia tercatat 100.000 orang meninggal karena penganiayaan kaisar Theodora.
Karena tuntutan mereka kepada setiap orang yang datang dan ingin bergabung dengan jemaat mereka untuk dibaptis ulang. Maka orang-orang gereja negara menyebut mereka ana-baptis (baptis ulang/lagi). Sehingga nama ana-baptis terkenal dan menjadi sebuah sebutan yang umum untuk menunjuk kelompok ini. Beberapa kelompok dari mereka lebih setuju dipanggil “Cathari” (orang yang murni/baik), karena mereka beranggapan baptisan cukup satu kali tetapi dilaksanakan dengan benar.
Pada tahun 1517 Marthin Luther seorang rahib Katolik protes pada gerejanya sendiri dikarenakan gerejanya menjual surat pengampunan dosa. Sedangkan menurut Luther keselamatan hanya dalam iman kepada Tuhan Yesus Kristus. Sebelum Luther protes tercatat John Wycliffe (13291384) di Inggris, John Hus (1373-1415) di Bohemia, dan Girolamo Savonarola (1452-1498) di Italia telah lebih dahulu menentang gereja universal/katolik/am. Namum mereka mati demi kebenaran lebih dahulu.
Pada saat Luther protes sepertinya waktunya cukup tepat untuk membawa perubahan kebebasan beragama. Kelompok anabaptis merasa mendapatkan teman perjuangan dan segera keluar dari persembunyian dan ingin bergabung dengan Luther. Di Swiss John Calvin dan Zwingly juga melakukan hal yang sama dengan Luther sehingga pengaruh para reformator ini segera disambut baik oleh kaum anabaptis. Namun celaka, apa yang dipraktekan di Katolik yaitu baptisan bayi, baptisan percik, baptisan orang sakit, sakramen perjamuan kudus juga dilakukan para “bapak reformator.” Kaum ana-baptis merasa sangat kecewa dan kembali ke persembunyian mereka karena para reformator pun tidak mengerti inti penyebab kesalahan Katolik. Hal yang sangat menyedihkan adalah ketika para reformator juga menggabungkan gereja mereka dengan negara dan menjadi penganiaya, penindas, pembunuh orang-orang yang tidak sepaham dengan mereka.
Kaum anabaptis melihat bahwa sesungguhnya ada kesalahan pada iman para reformator sebab mereka menganiaya orang-orang yang tidak sepaham dengan mereka. Apakah Kristus juga menganiaya orang-orang yang tidak sepaham dengan-Nya?
Penganiayaan dan penindasan yang begitu berat tidak sedikit pun melemahkan semangat para anabaptis. Dimana mereka berada, mereka selalu bersaksi akan Injil Kristus dan membentuk jemaat Kristus. Sampai saat ini kelompok anabaptis tersebar diseluruh dunia memperjuangkan kebebasan beragama dan memberitakan Injil Kristus.
Beberapa karakteristik jemaat dan iman Anabaptis, antara lain sebagai berikut:
1. Alkitab dari kejadian 1:1 sampai Wahyu 22:21 adalah satu-satunya kebenaran firman Tuhan yang mutlak tidak ada kesalahan. Dasar iman dan praktek kehidupan semuanya berdasarkan Alkitab sebagai otoritas tertinggi.
2. Gereja/jemaat besifat lokal dan independen (Ef 1:23). Tidak takluk kepada kuasa apa pun bahkan alam maut pun tidak akan menguasainya. Hanya takluk kepada kepala jemaat yaitu Kristus (Ef 5:23). Jemaat juga adalah “Tiang penopang dan dasar kebenaran.” (I Tim 3:15).
3. Di dalam jemaat ada dua ordinances sebagai simbolis dari Injil Tuhan Yesus Kristus, yaitu: Baptisan dan perjamuan Tuhan. Baptisan yang benar dengan cara selam dan orang yang dibaptis harus sudah sungguh-sungguh bertobat dan percaya. Perjamuan Tuhan hanya merupakan peringatan bukan alat yang menyucikan. ( Mat 28:1919-20, I Kor 11:23-25).
4. Jabatan pertama dalam jemaat lokal adalah Gembala, yang biasa disebut Penatua dan Penilik. Titus I:5-16, Kis 20:17-28. Gembala jemaat haruslah seorang laki-laki, suami dari satu istri dan kepala keluarga yang baik. I Tim 3:1-7. Jabatan lain di dalam jemaat adalah Diaken, Penginjil dan Guru Injil. I Tim 3:8-13, Ef 4:11.
5. Mempercayai ada pemisahan yang jelas antara anggota jemaat dengan orang dunia ( Roma 12:1-2, I Yoh 2:15-17, II Kor 6:17-18). Pemisahan antara jemaat/gereja dengan gereja tidak alkitabiah (II Kor 6:14-17). Pemisahan gereja dengan negara (Mat 22:21).
Demikian beberapa poin dasar iman mereka yang biasanya berbeda dengan gereja-gereja yang kebanyakan yang ada di dunia.
KESESATAN GEREJA SETELAH RASUL-RASUL TIADA
John Sung
Setelah rasul-rasul tiada munculah kesesatan yang mulai mengerogoti kekristenan sejati. Kesalahan-kesalahan kecil dilakukan sehingga timbulah kesalahan yang besar yang mengakibatkan kesesatan yang dahsyat.
Ignatius (30-107 AD.) adalah orang pertama yang memasukan “Katolik” kedalam “jemaat.” Ia mengatakan: “Dimanapun Yesus Kristus ada, di situ ada gereja katolik.” Faham gereja bersifat universal mulai dikembangkan, sampai pada tahun 313 AD Constantine naik tahta dan mengawinkan antara negara dan agama. Setiap orang yang warga negara Roma otomatis menjadi agama Kristen, sehingga menimbulkan banyak orang menjadi Kristen karena terpaksa namun tidak mengerti dan bertobat.
Cyprian (200-258 AD.) mengatakan: “extra nulla salus ecclesian” (“di luar gereja tidak ada keselamatan”). Faham kekatolikan mulai dikembangkan menjadi suatu organisasi yang absolut., sehingga sampai pada kesimpulan barangsiapa tidak berada di dalam katolik maka tidak dapat keselamatan.
Gregorius Agung (590-604 AD.) merupakan paus pertama, bersama dengannya mulailah berkembang system kepausan absolut. Leo I (440-461 AD.) tercatat sebagai pemimpin katolik di Roma yang diresmikan negara dan memiliki kekuasaan.
Bersamaan dengan penyatuan antara negara dan gereja, praktek-praktek di dalam gereja sudah jauh dari kebenaran. Faham mengenai baptisan berkhasiat menghapuskan dosa, baptisan dapat menyembuhkan penyakit, mengusir setan dan bahkan membawa masuk surga sudah popular dalam gereja. Sehingga menyebabkan ibu-ibu beramai-ramai membawa bayinya untuk dibaptis dan karena bayi tidak bisa diselam maka timbulah cara percik. Tertulian (185 AD.) tercatat orang yang paling awal menentang baptisan bayi. Sedangkan Cyprian orang yang pertama mendukung baptisan bayi. Kemudian diteruskan Agustinus (353-430 AD.) yang membela baptisan bayi dengan sangat semangat. Agustinus mengatakan: “Juga, merupakan hal yang menyenangkan bagi para uskup untuk memerintahkan bahwa terkutuklah barangsiapa yang menolak bayi yang baru dilahirkan oleh ibunya untuk dibaptis” (Wall, the history of infant baptism, I, 205).
Praktek lain mengenai baptisan juga dilakukan pada orang yang sakit (baptisan klinis) adalah hal yang lazim karena mereka menganggap baptisan dapat menyembuhkan. Kesalahan demi kesalahan bermunculan sampai pada praktek perjamuan kudus. Sesuai dengan namanya perjamuan yang menguduskan berarti orang yang mengikutinya akan dikuduskan oleh skramen ini. Sehingga gereja penuh dengan orang-orang yang datang hanya karena ingin dikuduskan oleh perjamuan ini, bukan karena ingin bertobat dan percaya pada Kristus.
Pemujaan terhadap Maria, konsep kesucian maria (Immaculate Conception), patung-patung berhala, kesempurnaan Paus yang tidak mungkin salah sebagai wakil Kristus, berkembang menjadi sebuah dogma dan kebenaran absolut.
Pada tahun 500- 1500 AD. Merupakan masa kejayaan gereja negara yang biasanya disebut kerajaan setan dalam mengontrol, menindas bahkan membunuh setiap orang yang bertentangan dengan iman mereka di atas.
Ketika agama bersatu dengan negara pasti terjadi penganiayaan agama minoritas. Ini juga yang dilakukan bapak-bapak reformator menggabungkan gereja mereka dengan negara. Martin Luther 1517 memprotes katolik dan keluar dari katolik dan pergi ke Jerman dan mendirikan gereja negara. John Calvin dan Zwingli mendirikan gereja negara di Swiss. Tercatat dalam sejarah para bapak reformator juga menganiaya, menindas orang-orang yang tidak setuju dengan mereka.
Baik Katolik maupun kaum Protestan sama-sama melakukan kesalahan yaitu menganiaya setiap orang yang tidak setuju dengan mereka. Begitu juga praktek dalam gereja menggenai baptisan, perjamuan kudus, tidak banyak perbedaan dengan Katolik. Lalu masih adakah jemaat Kristus bertahan sampai zaman ini ?
Ingatlah! Janji Tuhan Yesus pada orang percaya:
“KepadaKu telah diberikan segala kuasa di Surga dan di Bumi, karena itu pergilah jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa, Anak dan Roh kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilahAku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman.” Mat 28:18-20
TOKOH-TOKOH PERJANJIAN BARU YANG MEMBAPTIST
John the Baptist
John The Baptist
“Pada waktu itu tampilah Yohanes Pembaptis di padang gurun Yudea dan memberitakan: “Bertobatlah, sebab kerajaan Sorga sudah dekat!” Sesungguhnya dialah yang dimaksud nabi Yesaya ketika ia berkata:
“Ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya.”
Yohanes memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit dan makananya belalang dan madu hutan. Maka datanglah kepadanya penduduk dari Yerusalem, dari seluruh Yudea dan dari seluruh daerah sekitar Yordan. Lalu sambil mengaku dosanya mereka dibaptis oleh Yohanes di sungai Yordan”(Mat 3:1-6).
“Sesudah dibaptis Yesus segera keluar dari air…” (Mat 3:16). “Yohanes pun membaptis juga di Ainon, dekat Salim, sebab di situ banyak air dan orang-orang pun datang ke situ untuk dibaptis.” (Yoh 3:23). Yohanes pernah menegor Herodes, katanya: “Tidak halal engkau mengambil istri saudaramu!” (Mrk 6:18). Ada beberapa hal yang ditekankan Yohanes pembaptis kepada setiap orang yang mau dibaptis pada zamannya;
1. Menyerukan bertobat dan percaya lebih dahulu sebelum melakukan baptisan. Sudah pasti yang dibaptis orang dewasa bukan anak bayi, karena anak bayi tidak bisa bertobat dan percaya.
2. Membaptis dengan cara selam. Yohanes membaptis di sungai Yordan dan di Ainon tempat yang banyak air. Ketika Yesus dibaptis, “Ia masuk ke dalam air dan keluar dari air.”
3. Keberanian Yohanes dalam menegor dan menyatakan kesalahan.
Kondisi kekristenan hari ini sangat jauh berbeda dengan semangat Yohanes, bahkan sampai pada tingkat dimana ada slogan “jangan mengatakan orang lain salah”, “kalau dia mau percik silakan, kalau mau selam silakan.”
Keberanian menyatakan kebenaran kepada setiap orang dan menegur Herodes mengakibatkan kepala Yohanes dipenggal. Ada harga yang mahal harus dibayar bagi setiap pemberita kebenaran. Bagaimana dengan Anda ?
Petrus dan Rasul-rasul
Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia
Rasul Petrus
“Maka bangkitalah Petrus berdiri dengan kesebelas rasul itu, dengan suara nyaring berkata kepada mereka…” (Kis 2:14-36). “Ketika mereka mendengar hal itu hati mereka sangat terharu, lalu mereka bertanya kepada Petrus dan rasul-rasul yang lain:”Apakah yang harus kami perbuat saudara-saudara?” Jawab Petrus kepada mereka: “Bertobatlah…” (Kis 2:37). “Orang-orang yang menerima perkataanya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa.” (Kis 2:41).
Apa yang ditekankan Yohanes pembaptis juga diberitakan dengan tegas oleh Petrus dan rasul-rasul yaitu:
1.Bertobat dan percaya lebih dahulu sebelum menerima baptisan. Sudah pasti yang dibaptis orang dewasa bukan anak bayi, karena anak bayi tidak bisa terharu dan bertobat.
2.Mengenai tempat baptisan yang digunakan para rasul ada beberapa tempat yang mungkin bisa dipakai untuk menyelamkan, antara lain:
1.Kolam Bethesda, panjang 360kaki, lebar 130 kaki dan dalam 75
kaki.
2.Kolam Siloam, panjang 56kaki, lebar 18kaki dan dalam 19kaki.
3.Kolam Salomo, panjang 582kaki, lebar 148-275kaki dan
35-42kaki (Lower Pool) dan masih banyak tempat lain.
3.Yang membaptis tiga ribu orang tentu bukan hanya Petrus sendiri melainkan dibantu sebelas rasul lainnya. Sangat mungkin pembaptisan dilakukan dua belas rasul, karena rasul-rasul sudah pernah membaptis ketika bersama dengan Tuhan Yesus. Injil Yohanes 4:2 berbunyi, “Membaptis murid lebih banyak dari Yohanes…Meskipun Yesus sendiri tidak membaptis melainkan murid-murid-Nya.” Jumlah jiwa yang memberi diri dibaptis 3000 : 12 rasul = 250, sulitkah jika satu rasul membaptis 250 orang ? Lagi pula murid Kristus bukan hanya 12 rasul tersebut melainkan ada 120 murid lain, kemungkinan besar mereka juga ikut membaptis orang-orang tersebut.
Akhir hidup dari Petrus menurut catatan sejarah tradisi Yahudi, Ia disalib terbalik dengan kepala dibawah. Semua rasul-rasul mati karena membela kebenaran Injil hanya rasul Yohanes yang mati tua di pulau Patmos. Tetapi bukan berarti Yohanes tidak pernah disiksa karena membela kebenaran. Yohanes pernah direbus dengan minyak yang mendidih namun tidak mati. Apakah Anda menderita karena membela kebenaraan ? atau Anda seorang penakut yang tidak berani menyatakan kebenaran ?
FILIPUS
Kebenaran tidak membuat engkau menjadi kaya tetapi kebenaran membuat engkau bahagia
John Sung
“…Lalu kata Roh kepada Filipus: “pergilah kesitu dan dekatilah kereta itu!” Filipus segera ke situ dan mendengar sida-sida itu sedang membaca kitab nabi Yesaya. Kata Filipus: “mengertikah tuan apa yang tuan baca?” …maka mulailah Filipus berbicara dan bertolak dari nas itu ia memberitakan Injil Yesus kepadanya…lalu kata sida-sida itu: “Lihat, di situ ada air; apakah halanganya jika aku dibaptis? Sahut Filipu: “Jika tuan percaya dengan segenap hati, boleh.” Jawabnya: “Aku percaya bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah.”… Dan keduanya turun kedalam air, baik Filipus maupun sida-sida itu, dan Filipus membaptis dia ( Kis 8:26-38).”
Apa yang ditekankan Yohanes pembaptis juga ditegaskan oleh Filipus ketika ia membaptis sida-sida Etiopia, antara lain:
1. Seseorang yang mau dibaptis harus sungguh-sungguh mengerti dan percaya akan Injil Yesus. Bayi atau anak kecil tidak mungkin bisa mengerti Injil.
2. Filipus memberikan syarat baptisan yaitu orang yang bersangkutan harus sudah percaya. Apakah anak anak bayi bisa percaya?
3. Membaptis dengan cara selam, “mencari tempat yang ada air dan keduanya turun ke dalam air.” Kalau boleh dengan cara percik maka tidak perlu cari tempat ada air dan keduanya turun ke dalam air, karena sida-sida pasti membawa bekal air. Berapa banyakah air yang diperlukan untuk memercik? Beberapa tetes sudah cukup.
Filipus adalah seorang penginjil Baptis fundamental yang tidak memakai faham “tidak ada rotan akar pun jadi.” Walaupun di padang gurun sulit mencari air tetaplah kebenaran harus dilaksanakan dengan setepat-tepatnya. Sikap kompromi bisa saja ia ambil tetapi ia memilih taat pada perkataan Tuhan Yesus, “setialah dalam perkara-perkara kecil.”
Hari ini setiap gembala yang melaksanakan baptis percik seharusnya malu pada Filpus, bukan malahan menambah dosa fitnah dengan mengatakan, “Filipus melaksanakan baptisan percik, karena di padang gurun tidak ada air.” Saudara bertobatlah!
Paulus
Jika kita hidup, kita hidup untuk TUHAN dan jika kita mati, kita mati untuk TUHAN. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik TUHAN
Rasul Paulus
“Ketika Apolos masih di Korintus, Paulus sudah menjelajah daerah-daerah pedalaman dan tiba di Efesus. Di situ didapatinya beberapa orang murid. Katanya kepada mereka:”Sudahkah kamu menerima Roh Kudus ketika kamu menjadi percaya?” Akan tetapi mereka menjawab dia: “Belum bahkan kami belum pernah mendengar bahwa ada Roh Kudus.” Lalu kata Paulus kepada mereka:”Kalau begitu dengan baptisan manakah kamu telah dibaptis?” Jawab mereka: “Dengan baptisan Yohanes.” Kata Paulus: “Baptisan Yohanes adalah pembaptisan orang yang telah bertobat, dan ia berkata kepada orang banyak itu bahwa mereka harus percaya kepada Dia yang akan datang kemudian daripadanya yaitu Yesus. Ketika mereka mendengar hal itu, mereka memberi diri dibaptis…” (Kis 19:1-5)
Apa yang ditekankan Yohanes pembaptis yaitu orang yang menerima baptisan harus sudah bertobat lebih dahulu juga ditekankan Paulus, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.
1. Ketika bertemu dengan beberapa murid ia langsung bertanya, “sudahkah kamu menerima Roh Kudus ketika kamu menjadi percaya?” ini konsisten dengan Efesus 1:13 “ketika seseorang percaya dimeteraikan dengan Roh Kudus.” Paulus mendapati ternyata mereka belum sungguh bertobat, walaupun sudah dibaptis. Ada kemungkinan mereka ikut-ikutan orang banyak ketika dibaptis Yohanes (Bagaimana pun Yohanes tidak tahu isi hati manusia). Akhirnya Paulus menjelaskan Injil kepada mereka dan mereka bertobat sehingga Paulus membaptis ulang mereka.
2. Paulus membaptis orang yang bertobat dan mereka memberi diri dibaptis, ini pasti orang sehat bukan orang sakit dan tentu bukan anak kecil.
3. Paulus membaptis ulang, ini menunjukan baptisan pertama yang mereka lakukan ketika belum mengerti, tidak sah dihadapan Allah. Seharusnya orang yang dibaptis sudah bertobat dan mengerti Injil lebih dahulu.
Banyak orang mengatakan, “Baptisan ulang sesat” itu sama saja dengan mengatakan “Paulus sesat.” Silakan baca perikop di atas dengan baik dan teliti. Paulus adalah seorang rasul sekaligus penginjil yang mengorbankan segala-galanya untuk Juruslamatnya, tidak terhitung penderitaan yang ia alami demi Injil. Akhir hidup rasul Paulus menurut sejarah, ia mati dipenggal kepalanya oleh kaisar Nero.
Para Profesor ahli sejarah dan ahli bahasa memberikan komentar mengenai baptisan dalam Perjanjian Baru:
Dean Stanley berkata, “John the Baptist seharusnya diterjemahkan John the Immerser.”
Conant, the great philologist and translator, mencari arti kata Baptizein dengan mengumpulkan literature Yunani dari 500 B.C. sampai abad kesebelas A.D. dengan 168 contoh literature Yunani dan mendapatkan bahwa kata Baptizein memiliki makna, ‘ To immerse, immerge, submerge, to dip, to plunge, to imbathe, to whelm’ (membenamkan, menyelam, mencelup, semua kata tersebut memiliki arti memasukan sesuatu ke dalam air).
Dollinger, seorang ahli Katolik, professor dibidang sejarah gereja di Universitas Munich mengatakan; “Tidak ada bukti atau tanda-tanda di dalam Perjanjian Baru bahwa para rasul membaptis bayi atau memerintahkan bayi-bayi dibaptis.” (John Joseph Ignatius Dollinger, The first age of the church,11,184).
“Encyclopedia of Religion and Ethic” yang diedit oleh Profesor James Hastings dan Profesor Kirsopp Lake dari Universitas Leyden, mengatakan; “ Tidak ada indikasi baptisan bayi dalam Perjanjian Baru.”
DR. Dosker, Profesor sejarah gereja dari Presbyterian Theological Seminary Louisville mengatakan; “Setiap sejarahwan yang tulus akan mengakui bahwa kaum Baptis memiliki argumentasi lebih bagus, baik secara ketatabahasaan maupun mengenai sejarah bentuk baptisan yang berlaku. Kata baptiso berarti menyelam, baik dalam kesusastraan Yunani maupun Alkitab bahasa Yunani, kecuali secara nyata menunjukan pemakaian yang berubah makna.” (Dosker, The Dutch Anabaptists, 176,Philadelphia 1921.).
Jemaat Kristus Perjanjian Baru
Setelah Yohanes selesai melakukan tugasnya dan mati dipenggal kepalanya oleh Herodes, tugas pengembalaan dilakukan Tuhan Yesus. Penjelasan pada Matius 16:18 sebagai beriikut:
“Dan Akupun berkata kepadamu, engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaatKu dan alam maut pun tidak akan menguasainya.” Siapakah batu karang itu ? Disini terjadi permainan kata Petrus yang adalah rasul Petrus dan Petra adalah Batu karang. Paulus memberitahukan bahwa batu karang itu ialah Kristus
(I Kor 10:3-4) dan Petrus sendiri pun mengakui bahwa batu karang itu ialah Kristus ( I Petrus 2:4-8).
Pernyataan “Aku akan mendirikan jemaatKu” (Oikodemeso mou ten ekklesian), memiliki makna membangun jemaat atau orang percaya yang sudah ada. Akar kata Oikodomein juga dipakai di Efesus 4:12, “…bagi pembangunan tubuh Kristus.” Tuhan tidak mengatakan Ia akan memulai, menciptakan melainkan membangun, memperkuat tubuh Kristus.
Kristus membangun jemaat dengan:
1. Disiplin gereja. “Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali, jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan. Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau mendengarkan jemaat, pandanglah ia sebagai orang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai.” (Mat 18:14-17). Kekudusan jemaat dijaga dengan sungguh-sungguh.
2. Perjamuan Tuhan. “Tuhan Yesus pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata:’inilah tubuhKu yang diserahkan bagi kamu perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku” (I Kor 11:23). Perjamuan Tuhan adalah suatu peringatan akan kematian Tuhan Yesus Kristus di kayu salib demi menebus dosa kita. Ini bukan sakramen perjamuan kudus yang menguduskan, yang menghapuskan dosa, mengusir setan atau menyembuhkan penyakit.
3. Baptisan. “Karena itu pergilah jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa, Anak dan Roh kudus”(Mat 28:19). Setiap orang yang ingin bergabung menjadi murid Tuhan harus memberi diri dibaptis. Apakah bayi bisa jadi murid ? Baptisan melambangkan Injil yaitu kematian, penguburan dan kebangkitan, oleh sebab itu caranya harus selam (Kol 2:12, Roma 6:3-4).
4. Roh kudus. “…RohKu akan kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat engkau hidup menurut segala ketetapanKu dan tetap berpegang pada peraturan-peraturanKu dan melakukannya (Yeh 3625-27). Kapankah Roh kudus masuk ke dalam hati seseorang ? Paulus berkata: “… karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu, di dalam Dia kamu juga ketika kamu percaya dimeteraikan dengan Roh kudus yang dijanjikanNya itu” (Efesus 1:13).
Apakah yang dimaksud dengan, “alam maut tidak akan menguasainya?” Jemaat Kristus harus bersifat independen/lokal artinya jemaat tidak berada di bawah kuasa siapa pun, baik organisasi, sinode, yayasan, pemerintah-pemerintah, penguasa-penguasa, roh-roh di udara dan alam maut sekalipun. Tubuh Kristus itu bersifat lokal bukan universal/am/katolik, karena pada akhir zaman antikristus (Lucifer) akan menyatukan semua gereja dalam satu organisasi dan menguasainya (Why 13:8-10). Paulus menegaskan jemaat adalah tubuh Kristus. “Jemaat yang adalah tubuh-Nya, yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dan segala sesuatu” (Efesus 1:23). Jemaat juga adalah “Tiang penopang dan dasar kebenaran” (I Tim 3:15).
Jemaat Kristus dalam Perjanjian Baru sangat mengetahui bahwa pemisahan sebuah negara dengan gereja adalah hal yang penting. Tuhan Yesus menegaskan “Berikanlah kepada kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Alla” (Mat 22:21). Negara tidak berhak ikut campur, masalah keyakinan setiap pribadi apalagi memaksa, menganiaya sekelompok orang yang melakukan ibadah, karena iman adalah urusan pribadi dan hak asasi manusia.
Jabatan pertama dalam jemaat lokal adalah Gembala, yang biasa disebut Penatua dan Penilik. Titus I:5-16, Kis 20:17-28. Gembala jemaat haruslah seorang laki-laki, suami dari satu istri dan kepala keluarga yang baik. I Tim 3:1-7. Jabatan lain di dalam jemaat adalah Diaken, Penginjil dan Guru Injil. I Tim 3:8-13, Ef 4:11. Tidak ditemukan ada seorang wanita yang menjadi gembala di dalam jemaat Perjanjian Baru. Syarat menjadi seorang gembala sangat jelas ditulis oleh rasul Paulus. Jika pada zaman ini ada wanita yang menjadi gembala dengan berbagai macam alasan maka jemaat Kristus tidak memiliki kebiasaan seperti itu. Memang ada beberapa wanita yang disebut sebagai pelayan tetapi tidak dikatakan sebagai gembala. Demikian juga tidak ditemukan jabatan majelis di dalam jemaat Perjanjian Baru yang ditemukan adalah Diaken.
Sebuah jemaat dikatakan milik Kristus apabila jemaat tersebut memiliki karakteristik dan ketaatan pada perintah Kristus.
Saturday, 21 February 2009
KESALAHAN POINT 2 CALVINIS / UNCONDITIONAL ELECTION
Benarkah manusia tidak bisa merespon, tidak bisa percaya dan tidak bisa berbuat yang baik? Pertanyaan ini menentukan kebenaran poin kedua dari Kalvinisme. Bila Total Depravity yang Kalvinis jabarkan salah atau tidak Alkitabiah, maka point kedua ini perlu diragukan. Karena TULIP yang Kalvinis ajarkan adalah doktrin yang saling kait-mengkait satu dengan yang lain. Bila satu salah, maka yang lain juga salah.
Dalam pemahaman Kalvinis, Election (pemilihan) sama dengan Decree of God. Di mana mereka menjabarkan keputusan Allah sebagai keputusan yang Allah buat dalam kekekalan berdasarkan kedaulatanNya yang bebas, dimana Ia memilih bagi diriNya suatu umat yang akan Ia kasihi dan Ia tebus dari dosa dan maut melalui Yesus Kristus ke dalam kemuliaan kekal.
Bila hanya kepada orang yang Ia kasihi dan yang Ia pilih masuk ke Surga, bagaimana dengan mereka yang tidak Allah pilih masuk Surga? Bila ini ditanya kepada mereka yang percaya Unconditional Election mereka akan berkata bahwa itu berdasarkan foreknowledge of God ( pengetahuan Allah sebelumnya)
Menurut Kalvinis, Decree Of God bersifat:
1. Singular (Allah hanya memiliki satu dekret saja)
2. Eternal (kekal)
3. Sovereign (berdaulat)
4. All-Compassing (mencakup, melingkupi segalanya)
Komentar Kalvinis: keputusan Allah itu tunggal, tetapi banyak manifestasi. Segala sesuatu yang terjadi di dunia ini sudah Allah tentukan.
Berikut ini beberapa komentar tokoh Kalvinis mengenai keputusan Allah:
Buswell “Keputusan Allah tidak akan berubah dari kekal hingga kekal dan menyangkut segala sesuatu yang kompleks. ”Allah menentukan segala sesuatu termasuk di dalamnya:
1. Pikiran manusia
2. Tindakan manusia
3. Setiap kejadian
Melanthon “Segala sesuatu terjadi atas keputusan ilahi termasuk apa yang ada di dalam dan di luar pikiran manusia.”
Arthur Pink “Adalah kehendak Allah dosa masuk ke dalam dunia, kalau tidak demikian dosa tidak akan masuk ke dalam dunia, ini suatu keputusan Allah.”
Palmer “adalah Alkitabiah untuk mengatakan, bahwa Allah menetapkan lebih dahulu dosa masuk ke dalam dunia.”
Boettner “ketika kita berhenti merenung, untuk mengamati di antara non-Kristen misalnya agama Muhammad ada sejumlah agama yang percaya takdir dan dipegang oleh negara non-kristen. Perlu kita pelajari dan tidak perlu menolaknya.”
Dari beberapa hal di atas, saya mengajak kita untuk menganalisa
Benarkah bahwa keputusan Allah itu tunggal?
Benarkah bahwa keputusan Allah tidak berubah?
Decree Of God (keputusan Allah) dalam KJV ada 56 decree. Di mana 46 kali berhubungan dengan manusia. Artinya bukan berhubungan dengan Allah. 8 kali berhubungan dengan keputusan Allah, yakni:
1. Ayub 28:26 “ketetapan Allah atas hujan, angin dan alam”
2. Ayub 38:10 “Allah menetapkan batas laut”
3. Amsal 28:29 “Allah menetapkan batas laut”
4. Mazmur 2:7 “Menceriterakan ketetapan Yesus Kristus”
5. Mazmur 148:6 “ketetapan untuk tidak dapat dilanggar”
6. Yesaya 10:22 “ketetapan Allah akan datangnya kebinasaan”
7. Yeremia 5:22 “membuat ketetapan batas laut”
8. Daniel 4:24 “Inilah keputusan yang Mahatinggi”
Dari hal ini kita dapat menyimpulkan:
Ternyata keputusan Allah tidak tunggal (singular) seperti yang terdapat dalam contoh di atas.
Ternyata keputusan Allah dapat berubah. Karena dunia ciptaan Tuhan akan berlalu.
Apakah Kedaulatan Allah mutlak? Ya! Saya mengimani Allah berdaulat penuh atas apapun (akan di bahas dalam postingan berikut), tetapi ada beberapa hal yang harus diperhatikan
Tidak ada keputusan Allah agar dosa masuk ke dalam dunia.
Tidak ada keputusan Allah agar manusia masuk Surga dan Neraka.
Tidak ada keputusan Allah, bahwa manusia tidak bisa percaya.
Kalvinis selalu berkelit dengan berkata: Manusia itu tidak bisa berkehendak bebas, tetapi manusia harus mempertanggungjawabkan segala sesuatu yang ia lakukan.
Ini adalah doktrin yang sangat berbahaya yang dibangun untuk menghancurkan iman kekristenan. Kalvinis cenderung tidak konsisten terhadap doktrin-doktrinnya.
Kalvinis sangat mengagumi sifat kedaulatan Allah, sehingga Allah hanya berdaulat kalau Ia menetapkan segala sesuatu terlebih dahulu. Konsep ini sangat menghina Allah karena Allah akan berdaulat bila menetapkan sesuatu. Konsekuensi dari itu adalah Allah tidak akan berdaulat bila Ia tidak menetapkannya terlebih dahulu. Pengertian lain dari itu adalah Allah Mahatahu karena Ia sudah tetapkan. Akibatnya, bila Allah tidak menetapkannya lebih dahulu, maka Allah itu tidak tahu atau tidak akan pernah mengetahuinya.
Kembali kaum Kalvinisme berkomentar:
Gunn “Ide bahwa Allah mengetahui masa depan tanpa merencanakannya itu tidak ada dalam Alkitab”
David West “Jika Allah tidak menetapkan segala sesuatu, maka Ia tidak mengetahui masa depan. Allah lebih dahulu tahu karena Ia sudah tetapkan.”
Arthur Pink “Pengetahuan lebih dahulu ini dilandaskan kepada ketetapan-ketetapan Allah lebih dahulu.”
Timbul pertanyaan. Kalau Allah sudah mengetahui sebelum penciptaan, mengapa Ia menciptakan mereka? Bukankah lebih baik jika mereka tidak diciptakan sehingga tidak ada yang binasa? Menurut manusia memang baiknya begitu. Tetapi Ia adalah Allah yang Mahakuasa yang berhak menciptakan apa saja. Sekalipun manusia itu akan jatuh ke dalam dosa yang mengakibatkan kebinasaan, Allah berhak menciptakannya dan Allah memiliki cara bagaimana supaya manusia itu selamat..
Para penganut Covenat Theology berpendapat, bahwa tujuan akhir Allah atas manusia adalah untuk Keselamatan. Tetapi bagaimana setelah manusia itu diselamatkan berhentikah sampai di sana? Pandangan Dispenzationalism Keselamatan adalah fase awal bagi manusia untuk melihat kemuliaan Allah yang akan Ia nyatakan kepada manusia.
Jadi tujuan akhir Allah bagi manusia adalah untuk menyatakan kemuliaanNya.
Kedaulatan AllahIni adalah konsep Alkitab, karena memang Allah itu berdaulat penuh atas apapun. Kedaulatan Allah juga harus dilihat dari sudut pandang Alkitab karena konsep kedaulatan Kalvinis berbeda dengan konsep Alkitab dan nalar logis manusia. Kalvinis terlalu menekankan kedaulatan tanpa melihat sifat Allah yang lain (Mahakasih, Mahaadil, Mahabenar dan Mahakudus). Bahkan di dalam Alkitab Kekudusan Allah dan Kasih Allah lebih ditekankan daripada Kedaulatan Allah. Kalvinis sering memakai analogi kedaulatan seorang raja yang berkuasa atas negaranya sendiri secara otoriter seperti Saddam Husein atau Hitler. Tetapi harus diingat, bahwa Saddam dan Hitler memakai kedaulatannya untuk hal-hal yang jahat.
Dari sisi kedaulatan Allah, bahwa Ia berdaulat melakukan dan memutuskan apa saja, tetapi selalu disertai Kasih dan KeadilanNya. Kalvinis tidak melihat sifat-sifat Allah yang lain, yang tidak mungkin saling bertentangan. Karena Allah tidak akan melakukan sesuatu hal yang bertentangan dengan diriNya sendiri. Allah tidak akan meminta pertanggunganjawab dari manusia atas dosa-dosanya jika Allah sendirilah yang menjadi sumber dosa atau yang membuat manusia itu berdosa. Bila Allah yang memasukkan dosa ke dalam dunia, maka hal ini akan bertentangan dengan sifat Kekudusan dan kasihNya. Sifat kasih, kekudusan dan keadilan Allah tidak akan memakai kedaulatanNya untuk membuat manusia jatuh dalam dosa. Jadi kedaulatan Allah yang terdapat dalam Alkitab tidak akan bertentangan dengan Kasih, keadilan dan kekudusan Allah. Allah mengijinkan manusia melakukan segala sesuatu, karena manusia diciptakan dengan kehendak bebas yang sejati.
Kaum Kalvinis akan berdalih dan mengatakan bahwa itu adalah hak Allah untuk berbuat ini dan itu menurut kedaulatanNya. Namun yang harus diperhatikan, pokok permasalahannya bukanlah pada Allah berhak atau tidak berhak, tetapi apakah Allah akan seperti itu? Apakah Natur Allah yang Mahakudus, Mahaadil, dan Mahakasih akan berbuat seperti itu? Dengan demikian Allah bukanlah Pribadi yang menyebakan dosa masuk ke dalam dunia. Hanya kelompok Kalvinislah yang berani mengatakan demikian.
Ketetapan Allah (God’s Decree)
Allah Mahatahu karena Allah sudah menetapkannya. Ini adalah konsep Kalvinis yang sangat merendahkan Allah. Dimana Allah menjadi Pribadi yang tidak Mahatahu. Mengapa? Karena Allah harus menetapkan dahulu baru Ia tahu!
Apakah Alkitab mencatat, bahwa Allah mempengaruhi manusia? Ya! Allah bisa mempengaruhi, mencegah, dan menuntun manusia untuk melakukan sesuatu, tetapi Allah tidak memaksa atau menetapkan. Kej 20:6 “Aku tahu juga, engkau telah melakukan itu dengan hati yang tulus, maka Akupun mencegah engkau untuk berbuat dosa terhadap Aku; sebab itu Aku tidak membiarkan engkau menjamah dia (Sara)” ; Mazmur 73:24 “dengan nasehatMu, Engkau menuntun aku dan kemudian Engkau mengangkat aku ke dalam kemuliaan” Sekalipun Allah berdaulat mempengaruhi manusia, tetapi manusia itu berhak menolak atau menerima pengaruh dari Allah.
Ayat-ayat yang dipakai Kalvinis, bahwa Allah telah menetapkan segala sesuatu:
1. Amsal 16:1 “Manusia menimbang-nimbang dalam hati, tetapi jawaban lidah berasal dari Allah”
2. Amsal 16:9 “hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah jalannya”
3. Amsal 19:21 “banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan TUHANlah yang terlaksana.”
4. Amsal 20:24 “Langkah orang ditentukan oleh TUHAN, tetapi bagaimanakah manusia dapat mengerti jalan hidupnya?”
5. Amsal 21:1 “hati raja seperti batang air di dalam tangan TUHAN dialirkanNya ke mana Ia ingin.”
Tetapi timbul satu pertanyaan, apakah ayat-ayat di atas menyatakan bahwa Allah menentukan segala sesuatu?
Amsal 6:1 Apakah Allah menetapkan segala perkataan manusia? Bila demikian Allahkah yang menetapkan manusia berbohong, menipu, memfitnah, menyumpah serapah orang lain? Kalau demikian Allah adalah sumber perkataan yang kotor dan najis. Maka Allah juga yang menetapkan nabi palsu bernubuat dan penyangkalan Petrus, Allah yang tetapkan? Apakah Allah yang Alkitab mengajarkan demikian?
Hati manusia menimbang-nimbang justru membuktikan hatinya bebas untuk memikirkan apa yang mau ia omongkan atau yang mau ia katakan. Allah yang Mahakudus tidak akan mengeluarkan yang najis dan kotor dari dalam diriNya. Ia tidak akan menghasut atau mempengaruhi manusia untuk mengatakan hal yang tidak benar atau tidak patut.
Amsal 16:9 “hal ini juga membuktikan, bahwa manusia bebas berfikir apa saja, tetapi Allah dapat mengintervensi atau mengubah rancangan manusia itu. Misalnya A mau membunuh X, tetapi Allah dapat membelokkan atau membatasi atau mencegah pembunuhan itu terjadi. Dengan cara apa? Tuhan punya berbagai cara untuk menyelamatkan manusia dari rancangan manusia yang tidak bertanggungjawab ataupun dari Iblis.
Amsal 19:21, Ya. Manusia bisa merancang apa saja dalam hatinya, tetapi Allah dapat mencegah rancangan manusia, bila bertentangan dengan kehendakNya. Hal ini juga membuktikan, bahwa manusia memiliki kehendak bebas yang sejati. Dan ini bukan TAKDIR.
Amsal 20:21, dalam ajaran ayat ini juga membuktikan, bahwa raja bukanlah robot, tetapi hati raja bisa Tuhan pakai untuk melakukan kehendakNya tanpa memaksa atau memperkosa kebebasan si raja. Hal ini dapat ditemukan dalam Ezra 1:1-2 ”Allah menggerakkan hati Koresy” Koresy sadar, bahwa ia mendapat kasih karunia dari Allah, sehingga ia menjadi raja yang berkuasa. Allah menggerakkan hati Koresy melalui kesaksian Daniel dan kawan-kawan tentang Yehova Israel. Allah juga dapat menciptakan suatu “sikon” untuk tujuanNya. Allah membuat Ahasyweros tidak bisa tidur, sehingga ia pergi membaca, dan di sana ia melihat catatan tentang Mordekhai, dan maksud Allah terlaksana.
Ayat-ayat yang juga sering dipakai oleh Kalvinis:
Kisah Para rasul 2:23 “Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencanaNya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka.” Kalvinis akan berkata, bukankah semua terjadi sesuai dengan maksud dan rencana Allah? Dalam bahasa Yunani maksud dan rencana adalah boule dan prognosei , dimana prognosei berasal dari kata pro=sebelum dan gnowsis=pengetahuan, yang dalam KJV diterjemahkan foreknowledge. Artinya Allah tahu karena manusia itu berencana seperti itu. Dengan kata lain, Allah menetapkan karena kemahatahuanNya akan apa yang dilakukan manusia, bukan Allah mengetahui karena Allah telah menetapkan manusia untuk berbuat demikian.
Argumen Kalvinis: mana lebih dahulu boule atau prognosei. Memang dalam kalimat ini boule lebih dahulu. Sepertinya ayat ini mendukung Kalvinis, bahwa Penentuan dulu baru Allah tahu. Tetapi dalam hal ini tidak selalu seperti itu. Contoh ayat lain dalam 2 Timotius 1:9 “Dia yang telah menyelamatkan kita dan yang telah memanggil kita” Mana lebih dahulu, diselamatkan atau dipanggil? Kalau sudah diselamatkan untuk apa Allah memanggil dengan panggilan kudus? Kata “dan” dalam ayat ini memisahkan diselamatkan dan dipanggil, tetapi dalam hal ini diselamatkan dan dipanggil harus sama-sama benar untuk mendapatkan hal yang tetap atau sama. Atau dengan kata lain kata “dan” tidak harus selalu menyatakan urutan kejadian ataupun proses.
Kis 4:28 “untuk melaksanakan segala sesuatu yang telah Engkau tentukan dari semula oleh kuasa dan kehendakMu.”
Menurut Kalvinis ayat ini menyimpulkan, bahwa:
1. Yesus telah ditetapkan untuk dibunuh.
2. Allah telah menetapkan siapa yang akan membunuh Yesus
Dalam fakta benar bahwa Yesus telah mereka bunuh, tetapi Allah tidak pernah memaksa atau menentukan mereka untuk membunuh Yesus Kristus. Itu terjadi karena manusia itu sendiri memang akan melakukan hal demikian kepada Yesus. Yesus memang harus mati, tetapi tidak harus mereka yang menggenapi nubuatan itu. Seperti halnya kasus Yudas yang menjual Kristus. Kristus berkata, “Anak Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan.” Apakah yang dimaksud oleh ayat ini? Mengapa Yesus berkata bahwa lebih baik dia tidak dilahirkan? Jadi, hal ini sangat jelas mengindikasikan adanya tanggung jawab manusia. Logikanya, kalau Allah yang telah menentukan, harusnya mereka dapat reward karena telah melakukan program Allah?
I Petrus 1:20 “Ia telah dipilih sebelum dunia dijadikan” Ya. Benar bahwa Allah telah memilih Yesus sebelum dunia dijadikan dan bukan manusia yang dipilih sebelum dunia dijadikan.
Wahyu 13:8 “Kristus telah disembelih sebelum dunia dijadikan” Yesus memang telah ditetapkan menjadi penebus yang akan menanggung dosa manusia. Manusia belum tercipta, lalu mengapa Allah sudah menyediakan penebusan? Ya, benar bahwa Allah menyediakan penebusan melalui Kristus sebelum dunia dijadikan karena Allah tahu bahwa manusia yang diciptakanNya itu akan jatuh ke dalam dosa. Sama sekali tidak berarti Allah menetapkan manusia jatuh dalam dosa, tetapi manusia itulah yang memilih untuk menentang Allah dengan mengikuti Iblis dari pada laranganNya. Allah sudah mengetahui hal ini sebelum manusia diciptakan dan secara otomatis sebelum manusia jatuh ke dalam dosa.
Kaum Kalvinis terlalu mengabaikan tanggungjawab manusia atas penyaliban Yesus. Dalam Kisah Para Rasul 2:36 Rasul Petrus menuduh bangsa Israel menyalibkan Yesus dan Allah menuntut tanggungjawab dari bangsa Israel. Dalam Kis 4:10; 7:52 Petrus menyalahkan orang-orang Yahudi yang telah menyalibkan Yesus.
Yesaya 45:7 “Yang menjadikan terang dan menciptakan gelap, yang menjadikan nasib mujur dan menciptakan nasib malang; Akulah TUHAN yang membuat semua ini”
Kalvinis sering memakai ayat ini untuk membuktikan, bahwa Allah telah menentukan segala sesuatu termasuk yang baik dan yang jahat terhadap seseorang. “Malang” “Evil” (KJV), artinya “jahat” bila diperhatikan sekilas tanpa melihat atau bertanya, maka kita akan mengambil kesimpulan bahwa Allahlah yang merancangkan hal yang jahat. Yang harus kita pertanyakanlah adalah, mengapa Allah mendatangkan kemalangan kepada seseorang?
Karena Allah tidak pernah menciptakan atau menjadikan hati manusia jahat. Maka ketika manusia kena musibah itu karena dosa yang telah masuk ke dalam dunia. Ini adalah konsekuensi dari dosa yang telah masuk ke dunia.
Ratapan 3:38 “Bukankah dari mulut Yang Mahatinggi keluar yang buruk dan yang baik?” Dalam ayat ini seolah-olah Tuhan adalah sumber yang buruk dan yang baik. Ayat ini sama sekali tidak salah karena Allah akan mendatangkan hal yang buruk atau hukuman bagi yang melanggar kesucian Allah. Dan Allah akan mendatangkan hal yang baik atau berkat kepada mereka yang percaya dan melakukan perintahNya. Ini adalah konsekuensi dari melakukan dan tidak melakukan kehendak Allah. Hal ini dapat dibandingkan dengan ayat-ayat dalam Kitab yang yang lain. Karena Alkitab tidak akan mengajarkan hal-hal yang bertentangan dengan sifat-sifat Allah. Allah yang Mahakudus tidak akan tercemari dengan dosa atau kenajisan. Karena itu, tidaklah mungkin Allah menjadi sumber kejahatan sekaligus sumber kebaikan. Baik itu adalah sifat Allah, sementara buruk itu adalah sikap Allah kepada mereka yang tidak melakukan atau mengikuti kehendakNya. Hal ini dapat dilihat dalam ayat-ayat sebagai berikut:
1. Ayub 34:10 “Oleh sebab itu, kamu orang-orang yang berakal budi dengarkanlah aku: Jauhlah dari pada Allah untuk melakukan kefasikan dan dari pada Yang Mahakuasa untuk berbuat curang”
2. Mazmur 5:5 “Sebab Engkau bukanlah Allah yang berkenan kepada kefasikan; orang jahat takkan menumpang padaMu”
3. Habakuk 1:13 “MataMu terlalu suci untuk melihat kejahatan dan Engkau tidak dapat memandang kelaliman. Mengapa Engkau memandangi orang-orang yang berbuat khianat itu dan Engkau berdiam diri, apabila orang fasik menelan orang yang lebih benar dari dia?”
4. Yeremia 19:5 “mereka telah mendirikan bukit-bukit pengorbanan bagi Baal untuk membakar anak-anak mereka sebagai korban bakaran kepada Baal, suatu hal yang tidak pernah Aku perintahkan atau Kukatakan dan yang tidak pernah timbul dalam hatiKu.”
Ia adalah TUHAN, Allah yang Maha Suci dan tidak pernah timbul sesuatu yang buruk dari dalam diriNya. Kemalangan yang manusia alami itu disebabkan oleh dosa manusia itu sendiri. Sekali lagi ini adalah konsekuensi dari dosa yang telah masuk ke dalam dunia.
Kalvinis melihat Efesus 1:11 “kami dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendakNya”
Allah bekerja dalam segala sesuatu adalah benar, tetapi Allah tidak menetapkan segala sesutau bila bertentangan dengan sifa-sifatNya. Allah bisa memakai siapa dan apa saja, termasuk memakai Iblis untuk malaksanakan kehendakNya (kasus Ayub, Allah menguji Ayub).
Ada keputusan Allah, itu benar. Tetapi Allah tidak menetapkan segala sesuatu yang bertentangan dengan sifat-sifatNya. Berbeda dengan konsep Kalvinis yang percaya, bahwa Allah telah menetapkan segala sesuatu termasuk:
2. Malapetaka
4. Dusta dan lain-lain
Dalam konsep Alkitab mengajarkan bahwa Allah mengijinkan segala sesuatu terjadi, tetapi setiap hal yang terjadi pasti ada konsekuensinya. (Postingan berikut akan membahas topik 9 hal yang membuktikan bahwa Allah tidak menetapkan segala sesuatu.
sumber: http://gbiasemarang.blogspot.com
