Monday, 26 August 2013

Presiden Indonesia Tidak Serius Memberantas Korupsi

Membasmi Korupsi? Segampang Membalikkan Telapak Tangan Posted on May 29, 2013 Koran SINDO, Rabu, 29 Mei 2013, Dengan judul depan IRJEN DJOKO DISEBUT SETOR Rp.4 MILIAR KE ANGGOTA DPR. Membahas bola panas kasus korupsi Simulator SIM. Beberapa hari lalu koran ramai memberitakan tentang AIPTU Labora Sitorus, dan masih banyak lagi kasus-kasus korupsi. Sebenarnya sama sekali tidak sulit untuk membasmi korupsi, ia semudah membalikkan telapak tangan. Yang diperlukan hanya keseriusan pemimpin negara yaitu Presiden dan DPR. Karena sesungguhnya hanya membutukan tiga Dekrit Presiden atau Undang-undang yang isinya diuraikan di bawah, maka Indonesia akan menjadi negara terbersih dari korupsi dan pungli di muka bumi. Dekrit Pertama, Umumkan ­grace period selama setahun bagi siapa saja yang telah melakukan korupsi untuk mengem-balikan separuh (50%), maka sisanya dinyatakan halal atau diberikan grasi dan boleh dinikmati secara terbuka. Sesudah masa satu tahun maka hukuman bagi koruptor yang di atas 10 miliar adalah minimum hukuman mati, yang satu miliar hingga 10 miliar minimum seumur hidup, dan 100 juta hingga satu miliar minimum 20 tahun, yang 10 hingga 100 juta minimum 10 tahun dan yang satu juta hingga sepuluh juta minimum 5 tahun, dan yang seratus ribu hingga satu juta maksimum hingga 5 tahun. Sedangkan yang korupsi di bawah seratus ribu (pungli) dihukum pemecatan. Setelah satu tahun, semua aparat pemerintah akan dinaikkan gaji mereka sekurang-kurangnya satu kali lipat, dan selanjutnya akan naik terus. Dekrit Kedua, barangsiapa yang melaporkan dan kemudian terbukti benar di pengadilan, anak-buahnya melakukan tindakan korupsi, pangkatnya akan dinaikkan satu jenjang. Yang bersangkutan juga akan diberikan hadiah sebesar 10% dari uang yang dihindarkan dari tindakan korupsi. Sedangkan barangsiapa yang melaporkan dan kemudian terbukti di pengadilan, atasannya yang melakukan tindakan korupsi, pangkatnya akan dinaikkan dua jenjang. Yang bersangkutan juga akan diberikan hadiah sebesar 10% dari uang yang dihin-darkan dari tindakan korupsi. Kenaikan jenjang tentu hanya sampai pada tingkat jenjang tertinggi yang dimungkinkan. Dengan dekrit ini maka semua pegawai baik sipil, kepolisian maupun militer semuanya adalah “anggota KPK”. Hasilnya, aparatur Republik Indonesia akan menjadi yang terbersih dari korupsi di muka bumi. Hari ini kita dibuat terheran-heran keti-ka kita mendengar komentar para elit politik tentang ketidakakuran antara kepolisian dan KPK. Kita mendengar komentar seolah-olah mereka harus akur-akur dan tidak boleh saling menangkap. Padahal yang ideal sesungguhnya adalah kalau mereka tidak akur, yaitu polisi takut KPK dan KPK takut polisi. Bahkan lebih bagus lagi kalau atasan takut pada bawahannya dan bawahannya takut pada atasannya, bukannya berkorupsi bersama-sama dan dibagi sama-sama, atau pinjam terminologi para ulama, yaitu “korupsi berjemaah.” Intinya, seluruh aparatur negara harus saling mengawasi. Kalau polisi tidak mau menangkap polisi yang bersalah, maka itu bukan polisi lagi melainkan gerombolan penjahat yang bersenjata. Dekrit ketiga, adalah tentang suap menyuap antara pihak swasta dengan aparatur negara. Pihak swasta yang merasa dipersulit sehingga kalau tidak memberi uang maka urusan tidak bisa beres, atau semacam pemerasan terselubung, silakan melapor lebih dulu maka yang bersangkutan bisa mengambil kembali uangnya 50%, dan sisanya 50% masuk ke kas negara, dan yang bersangkutan tidak bisa dituntut. Sedangkan pihak aparat negara yang merasa disogok padahal tidak senang dengan tindakan tersebut silakan melapor lebih dulu, maka yang bersangkutan akan memperoleh 10% dari uang sogokan, dan sisanya masuk kas negara. Suasana saling takut antara yang memberi dengan yang menerima harus dibangunkan agar tidak ada yang mencoba untuk memulainya. Kasus Ibu Hartati Murdaya yang sekarang (26 September 2012) sedang ditahan oleh KPK, sebenarnya sangat klasik. Karena sejak zaman Orba, hampir tidak ada pejabat yang mau memberi tandatangan tanpa ada uang pelicin. Hal ini bukan rahasia lagi. Di kalangan pengusaha Tionghoa sudah ada pepatah, tidak ada minyak maka gorengan tidak bisa lepas alias akan leng-ket di wajan. Kalau tanpa kasih uang urusan bisa mulus, tidak ada satu pengusaha pun yang rela kasih uang, karena hakekat dari berbisnis itu mencari uang, dan hampir semua pengusaha adalah orang-orang yang cinta uang. Jika Presiden tidak bisa serta-merta mengeluarkan Dekrit, maka dia harus membuat usulan kepada DPR, dan anggota DPR yang menentang program Basmi Total Korupsi, harus diperiksa oleh kepolisian dan kejaksaan. Karena yang menentang sangat mungkin sudah korupsi, atau sedang korupsi, atau berencana untuk korupsi supaya balik modal biaya kampanye. Intinya, tindakan membasmi korupsi itu sesungguhnya gampang, bahkan sangat gampang. Masalahnya hanya, yang jadi presiden itu siapa? Oleh: Dr. Suhento Liauw

53 Orang Kristen Ditangkap oleh Polisi Agama Saudi

53 Orang Kristen Ditangkap oleh Polisi Agama Saudi (sumber: www.wayoflife.org) Berikut ini disadur dari “Saudi Arabia,” AsiaNews.it, 20 Feb. 2013: “Saudi Arabia telah menangkap 53 orang Kristen Etiopia – 46 wanita dan 6 lelaki – karena mereka mengadakan pertemuan doa di sebuah rumah pribadi. Pejabat polisi telah menyegel rumah itu dan menciduk orang-orang percaya itu, sambil menuduh tiga pemimpin rohaninya mencoba menobatkan orang-orang Muslim kepada kekristenan. Insiden ini terjadi di Dammam, ibukota Propinsi Timur di Kerajaan itu, dan bertanggal 8 Februari, tetapi barulah dilaporkan akhir-akhir ini oleh sumber-sumber yang berkaitan dengan World Evangelical Alliances’ Religious Liberty Commission…Saudi Arabia tidak mengakui, atau melindungi, ekspresi religius selain Islam. Para polisi agama (muttawa) mengontrol ketat negara itu untuk menghilangkan semua Alkitab, Salib, dan pertemuan-pertemuan Kristen. Dan bahkan jika keluarga raja mengizinkan praktek agama selain Islam, jika dilakuan secara pribadi, agen-agen muttawa tidak mau tahu perbedaannya.

Apakah Islam agama yang cinta damai?

Lebih dari 11.000 Orang Mati di Tangan Teroris Islam pada Tahun 2012 (sumber: www.wayoflife.org) Menurut sebuah wabsite yang mengikuti kekerasan yang disebabkan Islam, lebih dari 11.000 orang mati dari serangan teror pada tahun 2012. Daftar lengkapnya dapat dilihat di www.thereligionofpeace.com. Website itu berkata: “Kami tidak melihat ada gunanya untuk berpura-pura bahwa Islam hanyalah sekedar agama lainnya, yang merupakan asumsi dari orang-orang yang tidak memperhatikan dengan jelas. Apa ada anggota agama lain yang para penganutnya kerasnya membuat video diri mereka sendiri sedang menggorek leher orang sambil menyerukan pujian bagi allah mereka? Agama mana lagi yang memiliki puluhan ribu teroris di seluruh dunia yang bersatu dalam komitmen eksplisit untuk memajukan agama melalui pembunuhan masal? Agama apa lagi yang merayakan serangan 9/11, dan menggambarkan kehancuran yang muncul sebagai ‘salah satu mujizat Quran’ dan memproklamirkannya sebagai ‘karya Allah melawan para penindas.’ Agama apa lagi yang memiliki ayat-ayat di dalam kitab sucinya yang mengingatkan manusia tentang izin ilahi bagi mereka untuk memukul istri mereka dan memperkosa budak-budak mereka? …Faktanya, Islam lebih dari agama. Ia adalah suatu sistem politik dan budaya yang kaku dengan mandat untuk menaklukkan dan memerintah atas hidup orang-orang lain, melalui kekerasan jika diperlukan ‘hingga agama hanyalah untuk allah mereka.’ Kekerasan diperbolehkan dalam Quran karena, sebagaimana dinyatakan dengan jelas oleh Ayatollah Khomeini, ‘manusia tidak bisa dibuat taat kecuali melalui pedang.’”

Kesalahan Calvinis Memahami Alkitab

Apakah Iman Pemberian Allah atau Tanggung Jawab Manusia? Orang Kristen yang percaya Alkitab mempercayai apa yang Paulus katakan dan ajarkan, bahwa “keselamatan” adalah “oleh iman kepada Kristus Yesus” (2 Tim. 3:15). Kebenaran ini bukan hanya satu dua kali diserukan, tetapi berulang kali diajarkan dan ditekankan oleh penulis-penulis yang terinspirasi. Jadi, iman adalah komponen yang sangat penting dalam keselamatan, yaitu menjadi syarat keselamatan. Oleh karena pentingnya iman dalam keselamatan, sangatlah penting bagi orang percaya untuk memahami secara persis tentang iman itu sendiri. Dalam artikel pendek ini, isu yang dibahas adalah mengenai asal usul iman. Apakah iman berasal dari Allah sebagai suatu pemberian, ataukah iman adalah respons manusia, suatu tanggung jawab individu? Isu ini adalah sesuatu yang memisahkan antara Kalvinis dan non-Kalvinis. Kalvinisme mengusung konsep bahwa keselamatan seseorang sebenarnya ditentukan oleh Allah dalam kekekalan melalui dekrit rahasia. Penentuan Allah atas keselamatan seseorang ini bersifat tidak bersyarat (unconditional election). Jadi, dalam Kalvinisme, seseorang yang dipilih untuk diselamatkan, akan dilahirbarukan (tanpa dapat ditolak, irresistible grace), dan kemudian pasti akan menjadi percaya, atau dengan kata lain dibuat menjadi percaya. Dengan demikian, posisi Kalvinis secara alami adalah bahwa iman, atau percayanya seseorang, itu sebenarnya tergantung kepada Allah. Kalau Allah memilih seseorang, maka Allah akan melahirbarukannya, dan ia akan percaya. Percaya atau iman adalah salah satu dari mata rantai tindakan Allah pada diri orang pilihan. Oleh karena itu, Kalvinis mengatakan bahwa iman adalah karunia atau pemberian Allah G. J. Baan adalah tipikal Kalvinis ketika ia menulis: “Iman ini dikerjakan oleh Roh Kudus, yang adalah Pekerja dan Penanam iman. Melalui Panggilan dan kelahiran kembali, Roh Kudus telah menanamkan iman di dalam hati.”1 Perhatikan kata “menanamkan” yang dipakai. Dalam skema Kalvinis, manusia sama sekali pasif, tidak bertanggung jawab untuk ada atau tidak adanya iman di dalam dirinya. Roh Kuduslah yang “menanam,” yang mengerjakan melalui “panggilan” dan “kelahiran kembali.” Sebaliknya, non-Kalvinis melihat bahwa iman adalah tanggung jawab dan respons manusia terhadap Injil keselamatan. Iman adalah sikap percaya dan menerima karya keselamatan yang lengkap diselesaikan oleh Yesus Kristus. Ada banyak ayat Alkitab yang mengajarkan hal ini, yang akan dipaparkan nanti, tetapi artikel ini ingin mengemukakan bahwa sebenarnya non-Kalvinis (yang Alkitabiah) tidak menentang konsep bahwa iman adalah karunia Allah. Ini mungkin mengejutkan, tetapi dapat ditegaskan bahwa non-Kalvinis juga bisa melihat iman sebagai karunia atau pemberian Allah! Tentu paham “karunia” atau “pemberian” di sini berbeda dengan paham Kalvinis. Non-Kalvinis percaya bahwa iman adalah karunia atau pemberian Allah, tetapi dalam pengertian yang tidak bertentangan dengan konsep bahwa iman adalah tanggung jawab atau respons manusia. Artinya, non-Kalvinis dapat mengakui kedua kebenaran ini: iman adalah karunia/pemberian Allah, sekaligus juga adalah tanggung jawab manusia. Secara lebih mendetil, bisa dikatakan bahwa iman adalah karunia Allah bagi manusia karena beberapa hal. Pertama, manusia tidak mungkin bisa beriman kepada Allah tanpa dimampukan oleh Roh Kudus. Sebagian Kalvinis mengira bahwa non-Kalvinis percaya manusia bisa percaya kepada Yesus dengan kemampuannya sendiri. Hal ini sama sekali tidak benar untuk non-Kalvinis yang Alkitabiah.2 Alkitab tegas mengatakan bahwa “Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku.” Ayat ini tidak perlu dibaca dengan pengertian Kalvinistik, tetapi ayat ini menegaskan bahwa kemampuan untuk datang kepada Yesus adalah suatu karunia.3 Tanpa tindakan Allah menarik manusia, ia tidak mungkin beriman. Kedua, iman adalah karunia Allah karena Allah memberikan kesempatan kepada manusia untuk beriman. Allah bisa saja memusnahkan manusia sebelum ada kesempatan untuk beriman. Tetapi setiap orang percaya haruslah mengucap syukur bahwa Allah memberikannya waktu dan kesempatan untuk beriman. Itu adalah suatu karunia. Selain itu, iman juga bisa dikatakan karunia Tuhan karena Tuhan-lah yang menyediakan objek iman, yaitu Yesus Kristus. Jika Yesus Kristus tidak datang ke dalam dunia, tidak ada yang dapat kita imani untuk keselamatan kita. Dari ini semua, cukup jelas bahwa iman adalah karunia Allah. Tetapi, penjelasan tentang karunia iman di atas tidaklah bertentangan dengan konsep alkitabiah bahwa iman adalah tanggung jawab manusia. Artinya, walaupun Allah memampukan seseorang untuk beriman (melalui kerja Roh Kudus dalam hatinya), dan memberikan kesempatan dia untuk beriman, dan menunjukkan kepadanya Yesus Kristus sebagai objek iman, orang yang bersangkutan itu sendirilah yang harus beriman. Tidak mungkin juga Tuhan yang beriman untuk orang tersebut. Dan ada kemungkinan bahwa walaupun Roh Kudus sudah bekerja dalam hati seseorang untuk menarik dia kepada Yesus, orang itu tetap menolak untuk beriman. Keputusan untuk beiman atau tidak beriman tetap merupakan tanggung jawab individu. Jadi, iman adalah karunia, karena Allah memampukan manusia beriman (dan hal-hal lain), tetapi iman juga tanggung jawab karena keputusan untuk beriman atau tidak tetap adalah respons individu, bukan ditentukan oleh Allah. Konsep karunia seperti ini cocok dengan konsep karunia pada umumnya. Jikalau seseorang memberikan kepada temannya suatu karunia, atau hadiah, orang itu tetap dapat merespon, menerima atau menolak hadiah tersebut. Sekalipun seseorang tidak perlu membayar, atau bekerja, tetap saja ia harus memilih untuk menerima suatu hadiah. Kalau ia tidak menerimanya, maka hadiah yang sudah disediakan baginya itu tidak akan dapat ia nikmati. Ini paralel dengan keselamatan atau iman yang adalah karunia, namun tanpa menghilangkan adanya tanggung jawab untuk menerima karunia itu. Jika demikian, apakah konsep non-Kalvinis ini menjadi sama dengan Kalvinis? Bukankah keduanya mengakui bahwa iman adalah karunia Allah? Tidak juga. Pertama, Kalvinis tidak mau menegaskan bahwa iman adalah tanggung jawab atau respons manusia. Dan, mereka memiliki konsep yang berbeda tentang iman sebagai “karunia Allah.” Konsep Kalvinis adalah bahwa kalau seseorang dipilih, maka ia pasti beriman. Iman dalam Kalvinisme adalah salah satu hasil pemilihan. Dengan demikian, sebenarnya posisi Kalvinis adalah bahwa iman adalah karunia yang tidak dapat ditolak, selaras dengan pengajaran mereka tentang irresistible grace. Terkadang, dalam perdebatan antara Kalvinis dengan non-Kalvinis, ada non-Kalvinis yang menentang konsep “iman adalah pemberian Allah.” Tetapi, yang ditentang sebenarnya adalah “karunia” dalam pengertian “tidak dapat ditolak.” Non-Kalvinis tidak menentang konsep iman sebagai karunia yang tetap harus diterima, tetapi bisa juga ditolak, oleh manusia. Jadi, non-Kalvinis percaya bahwa iman adalah tanggung jawab manusia, dan JUGA karunia Allah. Tanpa kerja Roh Kudus, kesempatan yang Allah berikan, dan objek iman Yesus Kristus, manusia berdosa tidak mungkin bisa beriman. Namun, setiap individu tetap harus bertanggung jawab untuk beriman. Ia bisa menolak tarikan Allah. Sebaliknya, Kalvinis mengajarkan iman sebagai suatu pemberian/karunia yang tidak dapat ditolak. Pembaca sekalian bisa memutuskan, apakah sesuatu cocok untuk disebut karunia jika tidak dapat ditolak, ataukah suatu karunia tetap harus diterima. Bagian berikut artikel ini akan membahas yang mana dari kedua model ini yang benar, berdasarkan ayat-ayat Alkitab, dan argumentasi lainnya. A. Iman Adalah Karunia Allah Kalvinis terkadang menunjuk kepada ayat-ayat Alkitab yang mengindikasikan bahwa iman adalah suatu karunia, dan mereka berpikir bahwa hal ini membenarkan Kalvinisme. Tetapi, sebenarnya, seperti yang sudah dibahas di atas, non-Kalvinis yang alkitabiah juga percaya bahwa iman adalah karunia, jadi ayat-ayat ini tidaklah mendukung Kalvinisme. Kalvinisme baru akan terbukti benar jika ada ayat yang mengajarkan bahwa iman adalah karunia yang tidak dapat ditolak. Tetapi tidak ada ayat yang mengajarkan bahwa iman adalah karunia yang tidak dapat ditolak. Berikut adalah beberapa ayat yang terkadang disalahgunakan. Filipi 1:29 “Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia” Ayat ini sering dipakai untuk membuktikan bahwa “iman adalah karunia.” Tetapi sekali lagi, konsep demikian tidaklah membahayakan bagi non-Kalvinis. Sebaliknya, kita bertanya, apakah ayat ini membicarakan karunia yang tidak dapat ditolak, ataukah suatu karunia dalam pengertian normal, yaitu sesuatu yang bisa ditolak dan bisa diterima? Poin ayat ini sebenarnya adalah untuk menegarkan orang percaya terhadap penderitaan yang akan datang dalam perjuangan hidup Kristiani. Karunia untuk percaya diparalelkan dengan karunia untuk menderita bagi Kristus. Bagaimanakah “menderita bagi Kristus” bisa dianggap karunia? Apakah hal itu terjadi tanpa tanggung jawab manusia. Apakah seseorang ditentukan untuk menderita bagi Kristus secara sepihak oleh Tuhan, ataukah ada respons manusia yang dituntut? Ada banyak ayat yang menegaskan tanggung jawab manusia untuk ikut menderita dalam perjuangan Kristiani. Misalnya, Paulus berkata “Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus” (2 Tim. 2:3). Penderitaan bukanlah sesuatu tanpa tanggung jawab manusia. Ada ajakan untuk ikut menderita, ada respons manusia yang diminta oleh Tuhan.Namun demikian, menderita juga disebut karunia karena kemuliaan Tuhan janjikan menyertai penderitaan itu. Jadi, ayat ini sama sekali tidak mendukung konsep iman sebagai karunia yang tidak dapat ditolak, tetapi cocok dengan konsep iman sebagai karunia dalam pengertian non-Kalvinis, yaitu karunia yang tetap menuntut respons manusia. Efesus 2:8 “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah” Kalvinis terkadang memakai ayat ini untuk mengatakan bahwa “iman” adalah pemberian Allah, dan lebih lanjut lagi, bukanlah “hasil usahamu,” sehingga bukanlah tanggung jawab manusia. Tetapi pengertian seperti ini sangatlah salah dan asing bagi ayat ini. Pertama, iman memang bukan usaha atau pekerjaan, melainkan suatu sikap menerima pemberian Allah. Jadi, iman bisa saja memang “bukan usaha” tetapi adalah “tanggung jawab” manusia. Tidak semua “tanggung jawab” adalah “usaha.” Kedua, Kalvinis salah menafsirkan frase “itu bukan hasil usahamu.” Mereka melihat kata “itu” mengacu kepada iman. Gill, berkomentar tentang Efesus 2:8 dengan berkata, “…dan iman ini bukanlah hasil kehendak bebas dan kuasa manusia, tetapi adalah pemberian bebas dari Allah.”4 Padahal, frase “itu bukan hasil usahamu” tidak mungkin mengacu kepada iman jika ditilik dari bahasa aslinya. Dalam bahasa Yunani, “iman” berasal dari kata pistis, suatu kata benda feminim. Sedangkan, kata “itu” dalam ayat ini adalah kata touto, suatu kata penunjuk netral. Jadi, secara grammatis, tidak mungkin suatu kata penunjuk netral mengacu kepada kata benda feminim. Sebenarnya, “itu” yang dimaksud adalah konsep keselamatan yang dibahas Paulus dalam perikop ini. “Keselamatan” bukan hasil usaha manusia, tetapi pemberian Allah. Tentu non-Kalvinis sangat setuju bahwa keselamatan adalah pemberian Allah. Justru hal ini membuat kita kembali kepada pertanyaan, bukankah suatu “pemberian” seharusnya bisa ditolak dan bisa diterima? Ayat ini sama sekali tidak mendukung iman sebagai karunia yang tidak bisa ditolak. 2 Tesalonika 3:2 “dan supaya kami terlepas dari para pengacau dan orang-orang jahat, sebab bukan semua orang beroleh iman.” Ayat ini sekilas tampak mengajarkan bahwa orang-orang jahat adalah orang-orang yang tidak “beroleh” iman. Jadi, mereka tidak diberikan iman (oleh Tuhan), sehingga mereka tetap orang jahat. Tetapi penafsiran seperti in tentu sangat berbahaya, karena ujung-ujungnya mempersalahkan si pemberi iman (kenapa tidak memberikan iman kepada mereka). Selain itu, penafsiran ini didasarkan kepada penerjemahan yang salah. LAI melakukan kesalahan besar dalam penerjemahan ayat ini dengan memakai kata “beroleh.” Pengertian sebenarnya ayat ini tercermin dalam terjemahan yang lebih baik. KJV misalnya, berbunyi, “And that we may be delivered from unreasonable and wicked men: for all men have not faith.” Jadi, “tidak semua orang memilikiiman.” Itulah sebabnya mereka jahat, karena mereka tidak memiliki iman. Ayat ini sama sekali tidak berbicara mengenai asal usul iman itu, tetapi mempersalahkan orang-orang itu sendiri, mereka jahat karena tidak beriman. Roma 12:3 “… tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.” Ayat ini berbicara mengenai iman yang dikaruniakan Allah. Tetapi, ada beberapa alasan mengapa ayat ini sama sekali tidak mendukung konsep Kalvinis tentang iman sebagai karunia yang tidak dapat ditolak. Terutama adalah fakta bahwa perikop ini sama sekali bukan berbicara mengenai iman keselamatan. Perikop ini berbicara mengenai iman sebagai salah satu karunia rohani, yang diberikan kepada seseorang yang sudah percaya Yesus. Karunia rohani yang sama disinggung Paulus dalam 1 Korintus 12:9, “Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan.” Tidak mungkin ini mengacu kepada iman keselamatan, karena tidak semua orang yang selamat mendapatkan karunia ini. Karunia rohani ini mengacu kepada kemampuan yang Tuhan berikan kepada orang-orang tertentu untuk melakukan hal-hal besar bagi Tuhan berdasarkan iman. Iman dalam Roma 12:3 dan 1 Korintus12:9 berkenaan dengan iman dalam pelayanan khusus. 2 Petrus 1:1 “Dari Simon Petrus, hamba dan rasul Yesus Kristus, kepada mereka yang bersama-sama dengan kami memperoleh iman oleh karena keadilan Allah dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.” Ayat ini juga terkadang dipakai Kalvinis untuk mengajarkan bahwa iman adalah karunia atau pemberian Allah. Tetapi, sekali lagi perlu ditekankan, sistem non-Kalvinis tidaklah anti dengan konsep iman sebagai karunia, bahkan non-Kalvinis mengajarkan bahwa iman adalah karunia sekaligus tanggung jawab. Yang tidak dipercayai non-Kalvinis, adalah implikasi Kalvinisme bahwa iman adalah karunia yang tidak dapat ditolak, dan yang tidak melibatkan tanggung jawab manusia. Ayat ini sama sekali tidak mengatakan bahwa iman adalah karunia yang tidak dapat ditolak, itu harus dibaca oleh Kalvinis ke dalam teks. Orang percaya memperoleh iman dari Tuhan, itu benar! Apakah ini menghilangkan tanggung jawab manusia? Sama sekali tidak! Jika seseorang berkata bahwa ia memperoleh ilmu dari gurunya, apakah itu berarti ia tidak bertanggung jawab untuk belajar? Iman adalah karunia Tuhan, tetapi manusia bertanggung jawab untuk menerima karunia itu. Bagian berikut akan mempertegas hal ini. Apakah Iman itu Usaha atau Jasa? Kalvinis sering mengatakan, bahwa jika iman itu bukan kasih karunia (yang tidak dapat ditolak), melainkan respons manusia, maka iman menjadi semacam jasa yang dapat dibanggakan oleh manusia. Dengan kata lain, mereka menuduh iman versi non-Kalvinis sebagai “usaha manusia” atau “jasa.” Tetapi, ini adalah logika mereka sendiri. Iman itu tidak lain dari sikap menerima. Apakah menerima suatu hadiah bisa dikatakan suatu jasa? Apakah menerima hadiah berarti ikut bekerja untuk hadiah itu? Sama sekali tidak! Untuk pembahasan lebih lanjut mengenai tuduhan Kalvinis bahwa iman (non-Kalvinis) adalah jasa/usaha, silakan llihat artikel lain di http://www.graphe-ministry.org/downloads/Perbedaan_Kalvinis_dengan_non-Kalvinis(1).pdf. B. Iman Adalah Tanggung Jawab Manusia Manusia diperintahkan untuk percaya! Ketika kepala penjara Filipi bertanya tentang apa yang harus ia lakukan untuk diselamatkan, Paulus tidak berkata, “Tidak ada apa-apa yang bisa kamu lakukan. Silakan menantikan pemberian iman, jika memang engkau orang pilihan.” Tidak, sebaliknya, Paulus berkata, “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu” (Kis. 16:31). Ada sesuatu yang harus ia lakukan, bukan dalam pengertian suatu usaha atau pekerjaan, atau jasa, tetapi ada tanggung jawab untuk beriman. Perintah untuk beriman kepada Yesus merupakan inti dari Injil, dan sudah dikumandangkan sejak semula. Tuhan Yesus sendiri memulai pelayananNya dengan menekankan tanggung jawab ini: “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” (Mar. 1:15). Belakangan Ia juga berkata, “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.” Ini adalah perintah.5 Manusia diperintahkan untuk percaya! Jelas ini menunjuk kepada suatu tanggung jawab! Jika iman adalah suatu pemberian yang tidak dapat ditolak, maka sama sekali tidak ada gunanya untuk memerintahkan hal ini. Lebih masuk akal untuk meminta Allah memberikan iman, daripada memerintahkan manusia untuk percaya! Posisi Kalvinis bagaikan seorang guru yang secara rahasia menyelipkan pita-pita biru ke dalam tas sebagian murid-muridnya pada saat mereka beristirahat. Lalu guru ini memberikan perintah kepada semua murid untuk memiliki pita biru, padahal tidak ada cara untuk memperoleh pita biru itu kecuali melalui “pemberian” guru tadi. Apakah tanggapan kita tentang perintah guru demikian? Tentunya ini adalah suatu perintah yang aneh. Guru itu tahu bahwa yang tidak dia berikan pita biru tidak mungkin memiliki pita biru. Lebih lagi, yang sudah dia berikan pita biru (secara rahasia) tidak perlu diperintah. Perintah ini menjadi sesuatu yang sama sekali tidak berguna, dan boleh dikategorikan sebagai suatu sandiwara. Demikian juga jika iman dikonsepkan sebagai suatu pemberianyang tidak dapat ditolak, maka semua perintah Tuhan agar manusia percaya dan bertobat kepadaNya menjadi tidak berguna, dan tidak lebih dari suatu sandiwara. Ketidakpercayaan adalah pilihan manusia Ibrani 3:12 berbunyi, “Waspadalah, hai saudara-saudara, supaya di antara kamu jangan terdapat seorang yang hatinya jahat dan yang tidak percaya oleh karena ia murtad dari Allah yang hidup.” Ayat ini dengan jelas mengajarkan bahwa sikap tidak percaya adalah pilihan manusia, dan suatu pilihan yang dapat dihindari. Oleh sebab itu, penulis menghimbau audiensnya untuk jangan menjadi tidak percaya. Tetapi ini berarti audiens kitab Ibrani bisa memilih untuk percaya! Itu berarti percaya adalah tanggung jawab manusia yang bisa ia pilih. Manusia dipuji Tuhan berdasarkan imannya Ada beberapa perikop yang memperlihatkan pujian Tuhan (atau sejenisnya) atas iman manusia. Matius mencatat: “Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya: “Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki.” Dan seketika itu juga anaknya sembuh” (Mat. 15:28). Lukas mencatat, “Setelah Yesus mendengar perkataan itu, Ia heran akan dia, dan sambil berpaling kepada orang banyak yang mengikuti Dia, Ia berkata: ‘Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!’” (Luk. 7:9). Jika memang iman adalah pemberian yang tidak dapat ditolak, untuk apa Yesus heran akan iman perwira yang dicatat dalam Lukas pasal 7? Bukankah iman itu diberikan oleh Yesus sendiri (oleh Allah) secara tidak dapat ditolak? Jika saya memberikan sebuah rumah besar kepada seseorang, lalu mengunjungi rumah orang tersebut, akankah saya heran bahwa rumahnya besar? Ini hal yang sangat konyol. Tetapi, jika iman tetap menyertakan porsi tanggung jawab manusia, maka pujian Tuhan terhadap iman ibu di Matius, atau perwira di Lukas, adalah pujian yang tulus, bukan sandiwara murahan. Manusia dituntut tanggung jawabnya untuk percaya Pertanyaan mendasar adalah: jika iman bukan tanggung jawab manusia, bagaimana bisa Tuhan menuntut pertanggungan jawab manusia untuk percaya? Tetapi jelas Allah menuntut tanggung jawab dari manusia yang tidak percaya! “Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah” (Yoh. 3:18). “supaya dihukum semua orang yang tidak percaya akan kebenaran dan yang suka kejahatan” (2 Tes. 2:12). Markus mencatat bagaimana Tuhan Yesus mencela ketidakpercayaan sebagian muridNya, “Akhirnya Ia menampakkan diri kepada kesebelas orang itu ketika mereka sedang makan, dan Ia mencela ketidakpercayaan dan kedegilan hati mereka, oleh karena mereka tidak percaya kepada orang-orang yang telah melihat Dia sesudah kebangkitan-Nya” (Mar. 16:14). Masih banyak lagi ayat lain yang memperlihatkan bagaimana Tuhan akan menuntut pertanggungan jawab dari orang yang tidak percaya! Dalam konsep Kalvinis, iman bukanlah tanggung jawab manusia. Tetapi bagaimana mungkin Allah menuntut manusia bertanggung jawab untuk percaya kalau begitu? Bagaimana Tuhan bisa mencela ketidakpercayaan seseorang jika orang itu tidak bisa percaya tanpa disetel untuik percaya oleh Tuhan? Lebih lanjut lagi, dalam Kalvinisme, jika seseorang tidak beriman, apakah sebabnya? Tidak lain dan tidak bukan, karena Allah tidak memberikan dia iman. Jadi, jika ditarik kepada kesimpulan logisnya, Kalvinisme secara tidak langsung membuat Allah bertanggung jawab atas ketidakberimanan seseorang. Betapa berbahayanya konsep Kalvinisme ini. Coba kita ganti Yohanes 3:18 menjadi berikut: “Barangsiapa percaya kepadaNya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak memperoleh iman dalam nama Tunggal Allah.” Tentu saya yakin semua orang Kristen akan protes dengan bunyi ayat yang demikian! Tetapi dalam Kalvinisme, tidak memiliki imansama dengan tidak dikaruniakan iman oleh Tuhan. Sebaliknya, konsep non-Kalvinis adalah bahwa Allah memberikan kasih karunia, memampukan seseorang beriman, dan menarik dia, tetapi orang itu bisa menolak atau menerima kasih karunia Allah. Jadi, jika seseorang beriman, itu adalah kasih karunia Allah dan respons manusia. Jika seseorang tidak beriman, itu adalah tanggung jawab dia yang telah menolak karunia Allah. Ini adalah model yang alkitabiah. Manusia Dituntut untuk Tetap Percaya Hal lain lagi yang dengan tegas menggarisbawahi tanggung jawab manusia dalam hal iman/percaya adalah fakta bahwa manusia dituntut Tuhan untuk “tetap percaya.” Jika “tetap percaya” adalah tanggung jawab manusia, maka dapat dipastikan bahwa iman/percaya itu memang sejak awalnya adalah tanggung jawab manusia. Banyak ayat yang menyatakan tanggung jawab manusia untuk “tetap percaya.” “Sebab itu janganlah kamu melepaskan kepercayaanmu, karena besar upah yang menantinya” (Ibr. 10:35). “Dan sekarang, saudara-saudara, aku mau mengingatkan kamu kepada Injil yang aku beritakan kepadamu dan yang kamu terima, dan yang di dalamnya kamu teguh berdiri. Oleh Injil itu kamu diselamatkan, asal kamu teguh berpegang padanya, seperti yang telah kuberitakan kepadamu kecuali kalau kamu telah sia-sia saja menjadi percaya” (1 Kor. 15:1-2). Masih banyak lagi yang lain. Intinya adalah bahwa hal ini menegaskan iman sebagai tanggung jawab manusia. C. Kesimpulan Kalvinis mengatakan bahwa iman adalah karunia atau pemberian. Ini adalah deskripsi yang kurang lengkap. Non-Kalvinis juga bisa mengatakan bahwa iman adalah karunia dan pemberian. Gambaran yang lebih tepat adalah bahwa Kalvinis mengajarkan iman sebagai karunia yang tidak dapat ditolak. Non-Kalvinis melihat iman sebagai karunia sekaligus tanggung jawab manusia. Dengan kata lain, iman bisa dilihat sebagai karunia, namun manusia tetap punya tanggung jawab untuk menerima atau menolak suatu karunia. Iman bisa disebut karunia dalam beberapa pengertian, misalnya: Allah memungkinkan manusia untuk beriman; Allah memberi manusia kesempatan untuk beriman; Allah memberikan objek iman (Yesus Kristus) kepada manusia. Pada umumnya manusia mengerti bahwa suatu karunia bisa ditolak dan bisa juga diterima. Ayat-ayat Alkitab yang diteliti memperlihatkan bahwa memang Allah mengaruniakan iman, tetapi tidak ada ayat yang mengatakan bahwa iman adalah kasih karunia yang tidak dapat ditolak, atau mengindikasikan hal tersebut. Sebaliknya, banyak ayat Alkitab lain yang menegaskan bahwa iman adalah tanggung jawab manusia. Sebagai kesimpulan, posisi Non-Kalvinis, bahwa iman adalah karunia (yang bisa diterima/ditolak) sekaligus tanggung jawab manusia, adalah posisi yang Alkitabiah, sedangkan posisi Kalvinis tidak Alkitabiah, tidak logis, dan pada ujungnya mempersalahkan Allah atas ketidakpercayaan manusia. Posted on April 27, 2013 by Dr. Steven

Tuesday, 26 April 2011

KESESATAN DI AKHIR ZAMAN

Di zaman kita ini, kejahatan berkuasa, kesesatan sangat agresif, dan kompromi ada di mana-mana di udara. Kita berada di dunia yang jahat ini dan di zaman yang sesat ini entah kita suka atau tidak, dan kita harus mengalahkannya atau hal-hal itu akan mengalahkan kita. Kesesatan akhir zaman adalah seperti sungai besar yang deras menyapu segala sesuatu di dalam arusnya, dan gereja-gereja Perjanjian Baru yang Alkitabiah adalah seperti sebuah perahu. Jika kita tidak dengan usaha keras mendayung ke hulu – melalui hal-hal seperti pertobatan yang sejati, hidup Kristiani yang serius dan terpisah dari dunia, dan khotbah-khotbah yang tidak berkompromi – kita akan terbawa oleh arus. Tidak ada netralitas, tidak ada relaksasi, tidak ada pensiun. Jika kamu capek bekerja dan menurunkan dayung separasi dan nasihat-nasihat saleh, kamu akan segera bergerak sesuai dengan arus. Selama 20 tahun terakhir, banyak gereja-gereja Baptis fundamental telah berhenti mendayung. Ketika hal itu terjadi pertama kali, semua orang senang. Tentu ada beberapa jiwa yang khawatir tentang perubahan yang terjadi dan mereka membuat semua orang tidak nyaman pada awalnya dengan keluhan-keluhan mereka, tetapi karena gembala sidang tidak khawatir dan menekankan bahwa “tidak ada yang berubah,” semua orang rileks dan orang-orang kuno yang masih mau mendayung diperingatkan agar tidak memiliki “mata yang kritis” atau untuk tidak “menembaki” pelayan Tuhan. Jika mereka tidak menenangkan diri dan menikmati perjalanan mengikuti arus, mereka segera mendapatkan bahwa mereka tidak lagi diterima dan mereka pergi untuk mencari perahu kecil lain di suatu tempat yang masih mendayung ke arah hulu…Dengan “para pengeluh” hilang, akhirnya gereja tersebut dapat menikmati suasana baru. Sepertinya ini adalah solusi win-win. Daripada mendayung dengan sekuat tenaga dan menjadikan diri sangat capek, mereka dapat rileks dan menikmati pemandangan, dan tidak ada lagi seorang pengkhotbah yang akan meneriaki mereka untuk mendayung lebih kuat. Mereka sangat senang dan merasa ingin nge-rock. Mereka tidak lagi tanggung-tanggung dan main-main dengan sekedar “mengadaptasi” CCM. Mereka mengeluarkan rock band, menyetel gitar bass, mengencangkan peralatan drum, meningkatkan amplitudo loud speaker, menyajikan tim penyembahan (memastikan bahwa minimal satu dari anggotanya adalah seorang wanita atraktif yang berbusana sesensual yang diperbolehkan oleh gembala), dan membiarkan pujian meledak agar mereka semua dapat “merasakan Allah” melalui penyembahan yang sejati. Kini mereka dapat menikmati hidup daripada diikat oleh aturan dan dibatasi oleh separasi. Mereka memperhatikan bahwa ke arah manapun mereka memandang ada banyak perahu lain yang dengan senang mengikuti arus. Tentunya semua orang itu tidak mungkin salah. Ya, di situ ada perahunya Rick Warren yang besar. Wow, mereka nge-rock hebat! Dan ada perahu Franklin Graham. Dia terlihat bahagia! Bayangkan pengkhotbah-pengkhotbah dulu yang suka mendayung sering memperingatkan tentang ayahnya, Billy Graham. Sungguh menggelikan. Akhirnya, orang-orang di perahu itu mendapatkan bahwa mereka adalah bagian dari mayoritas dan tidak lagi menjadi bahan tertawaan perahu-perahu lain. Lalu mereka memperhatikan bahwa ada banyak cabang-cabang di sungai itu, dan mereka semua terlihat menarik, walaupun hutan belantara di tepi-tepi sungai itu terlihat gelap dan menakutkan; dan untuk sesaat – tetapi pasti itu hanyalah tipuan imajinasi – sepertinya ada monster-monster yang bergerak di bawah air yang gelap itu. Tetapi tidak, gembala baru kita (anak dari pendiri) memberitahu kita bahwa semua cabang-cabang itu baik-baik saja dan kita memiliki banyak sekali kebebasan. Allah berpikiran luas dan mengasihi semua cabang itu. Ada cabang emerging dan cabang meditasi dan cabang hedonisme Kristen dan cabang Bapa-Bapa Gereja dan banyak lagi yang pernah mereka lihat sebagai sesuatu yang berbahaya tetapi kini mereka dapat melihat bahwa semua itu cabang Kristiani yang baik-baik saja. Satu hal yang selalu diulangi oleh orang-orang adalah kini hidup terasa begitu menyenangkan dan mereka tidak perlu mendayung. Sungguh enak akhirnya dapat membuat keputusan sendiri dan tidak perlu dibatasi oleh teriakan-teriakan pengkhotbah yang fanatik. Mereka kini begitu bersemangat karena rock band, begitu tenggelam dalam “penyembahan,” begitu sibuk menyelidiki cabang-cabang yang berbeda-beda, sehingga mereka tidak menyadai bahwa sungai itu kini mengalir lebih cepat dan pemandangan mulai berubah. Kini ada bagian jeram yang berbatu-batu. Mereka mulai merasa sedikit tidak nyaman, dan ada yang menyarankan bahwa mungkin mereka kini perlu mendayung sedikit lagi, tetapi hal ini dianggap sebagai sikap Farisi. Bahkan ada yang berkomentar, “Apa berikutnya kamu mau mengundang David Cloud, si hyper-legalis dan penyerang pengkhotbah lain itu?” Semua orang tertawa. Tetapi, bagaimanapun juga kini sudah terlambat. Mereka sudah melaju terlalu kencang. Sungai itu kini menguasai mereka. Tidak ada tempat berbalik. Lalu mereka mendengar sesuatu di kejauhan, semacam bunyi deru, dan semakin lama semakin nyaring. Semakin nyaring. Dan akhirnya mereka melihatnya. Air itu bergejolak dan berbuih-buih menuruni air terjun yang besar. Mereka kini tidak berdaya, dalam genggaman sesuatu yang terlalu kuat untuk dilawan. Waktu untuk berbalik sudah lewat, dan mereka meluncur menuruni air terjun dan hancur di bebatuan di bawahnya. Tetapi sebelum mereka terjun, gembala sidang mereka yang cool itu berteriak, “Tetapi yang kita lakukan hanyalah berhenti mendayung!!!” Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng (2 Timotius 4:3-4).
EDITOR: Dr. David Cloud dalam artikel ini memperingatkan tentang bahaya kompromi yang dihadapi oleh setiap gereja Baptis Independen yang Alkitabiah. Hal ini terutama dimulai dalam bidang musik. Kompromi hampir tidak pernah terjadi sekaligus, tetapi perlahan. Berhenti menyerang kesesatan secara aktif sudah merupakan suatu kompromi. Setiap orang Kristen perlu memastikan dirinya berada di gereja yang Alkitabiah. Lalu, setelah berada di gereja yang Alkitabiah, dia perlu memastikan gerejanya tidak berkompromi. Ini adalah pekerjaan yang melelahkan memang dan ibarat mendayung. “Karena itu harus lebih teliti kita memperhatikan apa yang telah kita dengar, supaya kita jangan hanyut dibawa arus” (Ibrani 2:1).

Wednesday, 20 October 2010

Penganiayaan Terhadap Jemaat Baptis

Penganiayaan Terhadap Kaum Baptis

Gereja Orthodoks Rusia telah memiliki sejarah yang panjang dalam penganiayaan terhadap kaum Baptist di Rusia. Sejak 20 Agustus 1867 ketika seorang Baptist Jerman yang bernama Martin Kalweit membaptis selam Nikita Voroin di sebuah sungai kecil dekat sungai Kura di Kaukasus sebelah selatan Rusia. Penganiayaan gereja Orthodok Rusia terhadap kaum Baptis semakin nyata.
Akhirnya pada tahun 1879 ‘sekte’ Baptis diakui secara hukum namun toleransi sebenarnya tidak terjadi, karena gereja Orhodoks takut dengan penginjilan yang agresif dan misi yang dilakukan kaum Baptis. Sebelum 1917 ketika sebagian besar kekaisaran jatuh ke tangan Komunis, gereja Orthodok adalah gereja negara dan mereka memakai kepolisian untuk menganiaya kaum Baptis. Ada seorang pemimpin Baptis menulis hal ini mengenai hari-hari penganiayaan pada masa itu. “ini adalah masa-masa yang sulit, mengerikan, dianiaya, diusir, dipenjara, dipukul adalah hal-hal yang dialami orang-orang percaya yang terus menerus terjadi bagi mereka yang sungguh-sungguh percaya. Di dalam rasa takut yang terus menerus ditangkap polisi mereka tetap mengadakan pertemuan jemaat di hutan, di bawah tanah, di kuburan, di rumah-rumah.
Tulisan mengenai penderitaan saudara Baptis kita di rezim Komunis semakin banyak dikumpulkan. Tempat penyimpanan arsip KGB (agen rahasia Rusia) dibuka oleh Georgi Vins tahun 1995 dan ia pun menyelidiki rahasia yang selama ini disimpan ayahnya Rev. Peter Yakuvlech Vins. Ia menemukan file ayahnya yang terdiri dari 450 halaman, ia dapatkan bahwa ayahnya ditembak mati pada tanggal 26 Agust 1937.
Pada tahun 1996 David L. Cummins mendapat kehormatan untuk bertemu dengan Rev. Vladimir Zinchenko, gembala dari gereja Baptis yang tidak terdaftar di Moskow. Ia menceritakan pengalamanya dipenjarakan dua kali baru-baru ini. Vladimir Zinchenko lahir pada tanggal 13 Juni 1950 dari keluarga Kristen Baptis yang taat. Di awal tahun 1960, ayahnya P.S. Zinchenko adalah salah seorang pemimpin Baptis yang mewakili kaum Baptis dan Georgi Vins bertemu dengan Nikita Khrushchev, pemimpin Uni Soviet. Namun usaha mereka tidak berhasil untuk memperjuangkan kebebasan beragama di negara tersebut.
Ibu Vladimir, Vera adalah seorang wanita Kristen yang taat dan luar biasa. Dalam bimbingan rohani yang baik akhirnya pada tanggal 20 Juni 1963, Vladimir mengakui imanya di depan publik dengan dibaptis selam. Enam tahun kemudia Vladimir ditangkap dan dipenjara karena memimpin pujian disebuah kebaktian di dalam hutan. Ia dituduh bersalah dan dikirim ke camp pengasingan Ukraina, tidak jauh dari perbatasan Rumania. KGB berusaha mencuci otaknya namun tidak berhasil. Saudara Vladimir, Paul juga dipenjarakan karena imannya. Pada tamggal 2 september 1972, Vladimir pun dibebaskan.
Setelah dibebaskan ia pun semakin giat melayani Tuhan dan menikah lalu melanjutkan studinya. Pada tangaal 10 Agustus 1980, ia ditahbiskan menjadi gembala disebuah gereja local tempat ia dulu melayani. Namun pencaobaan kembali datang, tanggal 24 Februari 1984 ia ditangkap KGB dan dipenjarakan. Ia dibawa ke penjara Matroska disebelah utara Moskow. Istrinya yang setia dan 2 anak perempuanya yang masih kecil diberi kesempatan mengunjungi setahun satu kali. Pada tahun 1987, Valdimir dibebaskan, namun ia diberitahu bahwa ia tidak boleh tinggal di Moskow lagi. Dalam waktu 72 jam ia harus segera meninggalkan Moskow.
Oleh karena kesulitan ekonomi, Uni Soviet, Mikhail Gorbachev dalam pertemuanya dengan presiden George Bush meminta bantuan, namun Bush menolak. Bush meminta Uni Soviet terbuka dan mengijinkan kebebasan beragama di negara tersebut. Oleh karena kesulitan ekonomi akhirnya pemimpin Komunis tersebut menyerah pada permintaan Bush. Akhinrnya Vladimir Zinchenko bebas untuk kembali pada kawanan dombanya dan mengembalakan mereka. Kedua anak mereka sekarang sedang belajar dan melayani di Amerika dan Tuhan memberkati mereka dengan anak ketiga.
Pada saat ini kebebasan beragama sedang dalam keadaan buruk. Di Indonesia diskriminasi terhadap kaum Baptis semakin meningkat, oleh sebab itu kita harus terus berdoa agar Tuhan memberi kekuatan kepada kita untuk berjuang. Tunas jemaat yang terus didirikan di seluruh daerah kiranya semakin bertumbuh dan semangat, mumpung kesempatan kita melayani masih ada.

Gembala Protestan jadi Penginjil Baptis

Gembala Protestan Jadi Penginjil Baptist

Dilahirkan di tahun 1783, Gottlob Bruckner menjadi seorang missionary Baptis yang luar biasa. Kisah ini akan memberikan pelajaran bagi siapapun yang membacanya. Gottlob dilahirkan diwilayah pertanian di selatan kota Berlin, Jerman. Gottlob dibesarkan di keluarga yang rajin membaca Alkitab dan setiap hari renungan harian menjadi aktivitas keluarga. Pada usia 20 tahun anak muda ini meninggalkan rumah untuk mencari nafkah ke kota Berlin. Di kota Jerman ini ia bertemu dengan seorang pengkhotbah dan membawanya kepada hal-hal yang ingin Allah lakukan dalam hidupnya. Di kota inilah akhirnya ia bertobat dan percaya pada Juruslamat.
Gottlob akhirnya mengetahui pelayanan William Carey di India dan berpikir bahwa Allah mnghendakinya menjadi missionary. Kebetulan temanya seorang gembala membuka sekolah pelatihan missionary dan Gottlob pun mendaftarkan diri dan belajar selama 18 bulan lalu dikirim ke Belanda untuk mengikuti pelatihan lanjutan. Dan ia belajar di sana selama tiga tahun termasuk mempelajari bahasa Belanda.
Tahun 1811 sebuah kelompok misi di bentuk di Belanda, namun kondisi politik di bawah pemerintahan kaisar Napoleon tidak memungkinkan orang-orang untuk keluar negeri. Namun gottlob kembali ke Jerman dan belajar selama setahun di sana. Akhirnya Gottlob bersama dua orang temanya dikirim ke Inggris hanya dengan membawa satu tas kecil pakaian. Selama kurang lebih satu tahun belajar Gottlob pun ditahbiskan di Inggris.
Perang hampir berakhir, oleh karena Inggris mengambil alih Indonesia dari Belanda di masa perang Napoleon dan peti pakaian Gottlob dikirim melalui kapal untuk menuju Indonesia, namun kapal yang membawa pakaian Gottlob terbakar dan ia pun kehilangan barang-barang duniawinya. Tahun 1814 bulan Januari, Gottlob dan temanya beralayar menuju Indonesia, kapal mereka nyaris tengelam oleh karena badai yang dahsyat. Setelah sampai di Jakarta, Gottlob seorang diri langsung berangkat menuju sebelah utara Jawa. Dua kali kapal mereka diserang bajak laut sehingga membuatnya sedikit letih menghadapi semua itu. Setelah kapal berlabuh, Gottlob harus mendaki gunung yang penuh Harimau dan menuju kota Semarang. Tibalah ia disebuah gereja Belanda yang telah disiapkan sejak zaman dulu. Jemaat gereja tersebut adalah orang Belanda dan Indonesia yang hanya sekedar formalitas datang ke gereja namun tidak disertai pertobatan. Gottlob pun akhirnya berkenalan dengan seorang anak perempuan gembala Belanda dan mereka akhirnya menikah dan dikaruniai 8 orang anak.
Ketika Rev. Gottlob sedang mengunjungi kota-kota lain, ia bertemu sebuah keluarga misionari dari gereja Baptist Inggris mereka adalah Rev. Thomas Trowt. Rev. Gottlob akhirnya berteman baik dengan Rev. Thomas. Suatu saat mereka berdiskusi sangat panjang tentang baptisan yang benar. Namun pada tanggal 31 Maret 1816 Rev. Gottlob mengumumkan pada jemaatnya; “Saya berencana untuk dibaptis, sekarang saya percaya bahwa Alkitab mengajarkan baptisan secara selam dan dilakukan pada orang yang sudah bertobat dan percaya bukan sebelum.” Pada hari minggu setelah pengumuman itu ia pun segera dibaptis selam dan jemaatnya pun memecatnya menjadi gembala mereka. Keputusan yang sulit diterima bagi Rev. Gottlob mengingat ia sudah berkeluarga dan memiliki 8 orang anak. Namun kebenaran tetaplah kebenaran yang harus dijunjung tingi.
Enam bulan kemudian Rev.Thomas Trowt meninggal dunia karena demam dan Belanda mengambil alih Indonesia dari Inggris, hal ini mengakibatkan tidak ada missionary Inggris yang bias masuk Indonesia. Namun karena Rev. Gottlob adalah keturunan Jerman, ia pun dapat tetap tinggal di Indonesia. Rev. Thomas Trowt meninggalkan pekerjaanya yaitu terjemahan kitab PB ke bahasa Jawa dan Rev. Gottlob yang melanjutkanya. Suatu hari ia menerima sepucuk surat dari William Carey yang mengundangnya membawa hasil terjemahanya untuk dikaji ulang. William Word, di tunjuk oleh British Mission Society untuk mencetak Alkitab. Tahun 1828 bersama dengan 2 anak laki-lakinya ia berangkat ke India dan kurang lebih 3 tahun ia berada di India dan satu anaknya meninggal dunia karena demam.
Ketika tugasnya selesai ia pun naik kapal dengan membawa 2000 Alkitab PB dalam bahasa Jawa, 20.000 traktat, kertas-kertas dalam jumlah yang banyak untuk dicetak dan satu set huruf cetak jawa. Kapal mereka hamper tengelam karena badai dan topan, namun mereka terus berdoa dan Tuhan mendengar doa mereka. Setibanya dirumah ia harus menerima kenyataan semua Alkitab dan traktatnya ditahan, hanya disisakan beberapa kitab saja. Namun ia tidak putus asa melainkan berusaha mencetaknya lagi dan mengirimkan sebuah cetakan PB pada raja-raja di Belanda dan Prusia. Hasil yang ia lakukan membuat pemerintah Belanda di Indonesia menyetujui kebebasan beragama.
Hingga akhir hayatnya Rev. Gottlob melihat sedikit saja hasil pelayanannya. Ia meninggal ditahun 1857 dan tidak ada seorang Baptist pun yang membantunya menyebarkan Injil di Indonesia. Namun hari ini kita melihat cukup banyak gereja Baptis tumbuh di pulau Jawa. Seorang Baptist dipakai Allah untuk menyiapkan jalan bagi penginjil-penginjil dimasa mendatang. Jangan pernah menyerah dan kecewa melihat hasil pelayanan Anda, namun tetaplah setia kerjakan sampai kelak Tuhan datang menjemput.
Hal yang paling penting untuk diperhatikan dan dikagumi dari Rev. Gottlob adalah keberaniannya untuk mengikut kebenaran. Walaupun ia harus menderita dipecat dari gerejanya demi kebenaran dan berusaha memelihara keluarganya, tentu ini bukan hal yang mudah. Banyak orang hari ini selalu kuatir akan masalah kehidupan dan tidak berani mengambil keputusan untuk ikut kebenaran. Disatu sisi mereka nampak seolah-olah hamba Tuhan yang terhormat dan memiliki banyak jemaat yang memujanya. Celakanya lagi mereka berusaha membangun gerejanya besar-besar agar kelihatan megah dan jemaatnya mampu dan kaya. Padahal mereka terus menyesatkan banyak orang dengan berkata; “manusia masuk surga kerena dipilih, membaptis bayi, membaptis orang sakit, membaptis percik dll. Sesungguhnya kata Paulus mereka melayani perut mereka.